Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Terdiam


__ADS_3

Masih dengan Rania yang baru pulang makan malam bersama Fadlan dan anak-anaknya. Rania pun masuk rumah setelah Fadlan mengantarkannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna sudah tersenyum melihat kedatangan putrinya itu. Rania pun sedari tadi sudah tersenyum-senyum bahagia bukan main.


"Ibuuuuu."


Rania langsung memeluk Dokter Husna. Dokter Husna dapat merasakan kebahagiaan putrinya itu.


"Wah sepertinya kau sedang bahagia?"


"Hmmm, sangat Bu, aku sangat, sangat bahagia. Akhirnya aku bisa kencan juga sama si mas Duda itu meskipun ditemani anak-anaknya. Pokoknya makan malamnya romantis banget, meskipun tidak ada lilin juga tidak ada bunga, meskipun tadi ada drama kepedesan sedikit, tapi tidak mengurangi suasana membahagiakan itu." Ujar Rania yang kini sudah berputar-putar mengelilingi Dokter Husna dengan begitu antusias.


"Coba ibu ingin dengar cerita saat kau makan malam tadi. Tapi sebelum itu, ibu sangat suka dengan penampilanmu yang sekarang. Kau terlihat anggun dan mempesona, pertahankan ya, ibu do'akan semoga kau Istiqomah." Ujar Dokter Husna.


"Aamiin."


Rania pun tersenyum.


"Bukan cuma ibu yang terpesona melihat penampilan ku ini Bu, si mas Duda tadi hampir tidak berkedip menatapku. Dia bahkan berkeringat, terlihat sekali jika mas Duda itu gerogi melihatku."


Rania dan Dokter Husna sudah duduk di sofa dan bercerita tentang makan malam romantis tadi. Tentunya Dokter Husna ikut senang mendengarnya.


"Kau benar-benar jatuh hati pada mas Fadlan?" Tanya Dokter Husna meyakinkan.


Rania langsung mengangguk ngangguk.


"Tentu saja Bu, apa aku terlihat sedang bercanda?. Awalnya aku memang gemas saja menggodanya, namun lama kelamaan, aku mulai jatuh hati Bu dengan si mas Duda pemalu itu. Mungkin ibu benar jika aku kualat karena sering menggodanya, tapi aku tidak menyesal Bu, justru aku merasa bahagia bisa menyukai si mas Duda." Tutur Rania. Dokter Husna kembali tersenyum.

__ADS_1


"Kalau kau benar-benar suka pada mas Fadlan, kau pun harus terima setatus dia yang duda, kau pun harus terima kalau dia punya dua anak, tentunya kau harus menyayangi mereka. Tapi harus kau cari tau dulu, itu Abinya si Pipit, suka tidak padamu?. Takutnya nanti kau ge'er sendiri."


Rania pun terdiam.


"Sepertinya sih suka Bu, sayangnya si mas Duda masih malu-malu, tapi meskipun dia tidak suka, akan kupaksa dia biar menyukaiku. Kalau perlu aku ancam dia pake senjata tajam biar dia suka padaku" Rania malah tertawa tawa hingga Dokter Husna langsung mencubitnya.


"Akhir-akhir ini hobby mu suka maksa." Gerutu Dokter Husna. Tiba-tiba Dokter Husna terdiam.


"Kenapa Bu?"


"Kalau kalian berdua jatuh cinta, lalu bagaimana dengan hutangmu pada pak Beno, apakah mas Fadlan mau menerima calon istri yang punya banyak hutang?" Tanya Dokter Husna. Kini Rania lah yang terdiam, ia sendiri bingung.


"Bu, hari ini aku sedang bahagia, jadi untuk hari ini jangan bahas masalah hutang ku dulu ya, aku ingin menikmati kebahagiaan ku saat ini, bicarakan masalah pak Beno, lain waktu saja." Ujar Rania yang kini sudah izin untuk beristirahat.


"Ya Allah, hamba tidak akan sampai hati jika pak Beno memaksa Rania untuk jadi istrinya, ketika Rania belum juga membayar hutangnya. Tidak mungkin Rania meminta bantuan pada Fadlan untuk membayar semua hutangnya." Batin Dokter Husna.


Kini Rania dan Dokter Husna sudah gelisah, meskipun tidak dipikirkan, tentu saja masalah itu pasti cepat atau lambat harus dibahas dan diselesaikan. Kalau tidak selesai maka, mau tidak mau Rania harus pasrah untuk dinikahi Pak Beno.


***


"Apakah barusan itu aku kencan dengan Rania????"


Entah kenapa Fadlan mulai senang jika dirinya memikirkan Rania, apakah dia sudah mulai jatuh hati pada putrinya Dokter Husna itu, apa kali ini ia baru sadar jika dirinya mulai menyukai Rania.


Semalaman ia tidak bisa tidur, ia mulai mengingat-ingat tentang pertama kali ia bertemu dengan Rania, mengingat bagaimana Rania yang selalu menggodanya tanpa rasa malu. Kembali Fadlan tersenyum-senyum.


"Kenapa aku selalu mengingat Rania, apakah aku jatuh hati padanya???."


Jujur saja Fadlan merasa terpesona dengan penampilan Rania saat datang ke restoran, Fadlan juga tau jika akhir akhir ini Rania sedang belajar agama pada Ustadzah Ulfi. Fadlan juga sangat senang karena Rania sangat baik pada anak-anaknya, belum lagi Zidan dan Pipit sangat menyukai Rania. Butuh alasan apalagi untuk Fadlan tidak menerima Rania sebagai calon istrinya. Usia Rania memang masih muda jika dibanding dengannya, namun sepertinya Rania bisa mengimbangi sikapnya, atau Fadlan sendiri yang mengalah hingga ia bisa mengimbangi sikapnya Rania.


Fadlan sudah mengusap-usap wajahnya, karena sedari tadi ia terus memikirkan perempuan.

__ADS_1


***


Keesokan harinya. Rania sudah berdiri di jembatan, menatap air sungai yang mengalir tenang. Pikirannya sedang terbagi, yang satu sedang memikirkan kebahagiaannya nya, dan yang satu sedang memikirkan hutangnya. Sebenarnya Dokter Husna sudah menyarankan untuk meminjam uang pada Ustadz Usman, namun Rania melarangnya, tentunya ia malu karena ustadz Usman adalah om nya Fadlan, Rania juga tidak mau sampai merepotkan dan membebani ibunya. Rania hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban datang.


Setelah puas menatap aliran sungai, Rania pun beranjak pergi, namun tak disangka ia bertemu dengan Fadlan. Rania langsung tersenyum begitu juga dengan Fadlan, mereka saling menunduk malu-malu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam."


Fadlan sudah salah tingkah, apalagi melihat perubahan Rania yang kini sudah mau menggunakan gamis seperti yang lain, itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Fadlan.


"Mas Duda dari mana?" Tanya Rania.


"Dari kebun." Jawab Fadlan yang kini sudah menunduk. Dadanya kembali bergetar (dag Dig dug). Hingga Fadlan langsung memegangi dadanya itu.


"Dada mas Duda kenapa?" Tanya Rania. Fadlan langsung menggeleng, tidak mau sampai Rania tau jika dirinya kini sedang deg-degan gak karuan, namun bukan putrinya Dokter Husna jika dia tidak tau apa yang terjadi dengan si Duda pemalu itu. Rania langsung tersenyum senyum.


"Pasti nih si mas Duda sedang deg degan bertemu dengan ku, dadanya sedang kembang kempis merangkai butir cinta seperti lagunya Meli Goeslaw ketika cinta bertasbih. Pasti tuh dia mendadak gerogi. Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, dia lagi malu-malu kucing anggora, atau malu-malu kucing Persia ya?" Batin Rania.


"Mas Duda, boleh aku tanya sesuatu?"


"Hmmm, tentu. Kau mau tanya apa?"


"Apakah sudah ada namaku disitu?" Tanya Rania sambil menunjuk ke dadanya Fadlan. Fadlan malah tersenyum dan memilih kabur, ia bingung dan malu harus menjawab apa, jadi ia lebih memilih kabur untuk menghindarinya.


"Aku pulang dulu ya, sepertinya Pipit sudah menungguku di rumah, assalamualaikum." Pamit Fadlan yang segera mempercepat langkahnya.


"Waalaikumussalam." Rania sudah tersenyum senyum melihat kepergiannya Fadlan.


"Ciiieee ada yang malu ditanya seperti itu. Aku yakin pasti namaku sudah tertera dihatinya, bahkan lebih dari satu. Pasti ada 1000 nama Rania yang sudah mulai terukir di hatinya, hanya saja si mas Duda lagi malu-malu kucing anggora, jadi dia tidak mau menjawab pertanyaan ku." Batin Rania.

__ADS_1


"Aku tunggu kata I love you darimu mas Duda, aku akan selalu sabar menunggu kata itu terucap dari bibirmu." Gumam Rania.


Fadlan memang pernah mengucapkan kata i love you untuk Rania, tapi itu karena Pipit yang memaksanya. Kali ini Rania mendambakan kata cinta itu terucap oleh Fadlan tanpa ada paksaan dari orang lain, tentunya karena ucapan yang tulus dari hati yang paling dalam.


__ADS_2