
Keesokan harinya. Rania sudah berdandan cantik seperti biasa. Meskipun tanpa make up, tapi sudah jelas terlihat cantiknya. Rania sudah berputar-putar didepan cermin.
"Kalau si mas Suami tidak tergoda padaku sekarang, itu artinya matanya Rabun pake Ayam."
Badan Rania sekarang sudah merasa lebih baik, tidak lagi terkena 5L, tulang-tulang yang berasa retak pun seolah sudah kembali seperti semula.
"Malam ini akan terjadi sesuatu antara diriku dan si mas Suami. Malam pengantin ke-11. Mungkin malam ini cuma satu episode, gak ada rapelan sekarang mah. Si mas Suami memang pemalu pake banget, tapi kalau dia sudah kerasukan Nafsu bin syahwat, si mas Suami mendadak ME NGE RI KAN, tulang-tulang ku sampai dibuat retak" batin Rania.
Tiba-tiba terdengar suara dari depan rumah.
"PAKEEEEET."
Rania tersenyum dan bergegas keluar dari kamar, nyatanya Fadlan sudah lebih dulu menemui si kurir.
"Apa mas yang bernama Rania Manfredo Roberto Nandor?" tanya si kurir. Tentunya Fadlan langsung mengernyit.
"Rania itu nama perempuan, dia itu istriku," ujar Fadlan.
"Oh maaf mas, ini ada paket COD atas nama Rania, jumlah pembayarannya 137.000, tolong dibayar dulu mas," pinta si kurir.
Fadlan pun membayarnya meskipun ia tidak tau Rania memesan apa.
"Terima kasih, itu kata seller nya udah dikasih bonus segi tiga sama kaca mata fenomenal, katanya biar suami nempel kaya perangko." Kurir pun pergi. Fadlan masih tidak mengerti ucapan si kurir barusan.
Rania pun mendekatinya bersama Pipit.
"Paket ku sudah datang ya mas?"
"Hmmm. Ini isinya apa?" tanya Fadlan kepo.
Rania pun berbisik sambil tersenyum-senyum.
"Isinya baju porno," Rania mengambil paket itu dari tangan suaminya. Mendengar kalau isinya itu baju porno, Fadlan langsung menunduk malu hingga kini Rania merasa aneh.
"Harusnya kan aku yang malu, tapi kenapa si mas Suami yang malu-malu begitu."
"Umi itu umi cantik pesan apa?" Pipit mulai ikut kepo.
"Umi pesan sesuatu yang bisa membuat Pipit segera menjadi kakak." Rania langsung pergi ke kamarnya, tak ingin membuat anaknya tambah penasaran. Setelah menyimpannya, Rania kembali menemui Fadlan dan Pipit didepan rumah.
"Ayo mas, katanya kita mau main ke klinik,"
Dan akhirnya mereka bertiga pergi ke klinik sambil berjalan kaki. Tidak sengaja bertemu dengan Sarah.
"Assalamualaikum Umi mertua."
"Waalaikumussalam. Mau pada kemana?" tanya Sarah.
"Mau ke klinik Mi, mau konsultasi pada ibu mertua biar Pipit segera punya adik," jawab Fadlan. Mendengar itu Sarah tersenyum.
__ADS_1
"Semoga kalian segera dikasih momongan ya, biar Pipit bisa jadi kakak,"
"Aamiin."
"Umi pulang dulu ya, assalamualaikum," pamit Sarah.
"Waalaikumussalam."
Mereka bertiga sudah melanjutkan perjalanan kembali sambil mengobrol.
"Mas Suami pengen punya anak berapa dariku?" tanya Rania.
"Sedikasihnya saja."
"Kalau aku pengen punya lima mas, biar rumah terasa rame. Soalnya aku ini anak tunggal, gak punya adik gak punya kakak, jadi aku merasa kesepian, jadi aku juga gak mau kalau anak kita nanti kesepian. Kalau lima kan seru ditambah Pipit sama Zidan jadi tujuh, komplit deh. Yang satu panggil Umi, yang satu panggil Ibu, yang satu panggil Bunda, yang satu panggil Mommy, yang satunya panggil Bibu, yang satunya panggil Mimi, dan yang satunya lagi panggil Mami. Kan seru kalau dipanggil beraneka ragam begitu. Berasa sempurna jadi ibu." tutur Rania sambil tersenyum senyum membayangkan. Fadlan sudah menelan ludahnya, tak bisa dibayangkan jika ia punya anak tujuh.
"Umi Cantik, aku mau dikasih adem lima ya?" tanya Pipit.
"Rencananya sih begitu sayang."
Sebelum sampai di klinik, kali ini mereka bertemu dengan Zahira dan Yura.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Kalian mau kemana?" tanya Zahira.
"Mau ke klinik, mau memeriksakan sesuatu yang bergerak dalam perut." jawab Rania sengaja ingin membuat Zahira penasaran.
Rania sudah berbisik pada Fadlan.
"Fadlan kau pake resep apa hingga si Rania langsung hamil tiga Minggu padahal kalian menikah baru dua Minggu." ujar Zahira. Fadlan hanya mengernyit tidak mengerti.
"Maksud Tante?"
"Istrimu lagi isi kan?"
"Isi apaan?"
Fadlan sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan Zahira. Tiba-tiba Pipit mendekati Yura.
"Yura, kata umi cantik, aku mau dikasih adik lima." Pipit kembali pamer hingga Yura kini menatap Zahira sambil merengut.
"Yura sayang, kenapa bibir Yura melengkung kedalam begitu?"
"Mommy, si Pipit mau dikasih adik lima. Aku juga mau," Yura kembali merajuk. Zahira sudah menganga lalu menyipitkan matanya menatap Pipit.
"BURUNG PIPIT BURUNG MERAK,,,,
__ADS_1
SI PIPIT BERAK. Eh salah....
BURUNG PIPIT PUNYA KAKA MER,,,
HEI PIPIT JANGAN SUKA PAMER." ujar Zahira sambil berpantun.
Kali ini Rania yang membalasnya.
"BURUNG PIPIT MAKAN TOMAT,,,
KATA SI PIPIT BODO AMAT."
***
Malam pun tiba. Setelah diberi pengertian akhirnya Pipit tidur sebelum waktunya.
"Duuh putriku pengertian pake banget deh, belum juga dielus sudah tidur. Tau saja kalau Umi sama Abinya ada proyek besar malam ini." batin Rania.
Setelah melihat Pipit terlelap, akhirnya ia keluar kamar putrinya dan langsung mengecek kamar putranya, dilihatnya Zidan pun sudah tertidur.
"Duuuh manisnya putra putriku, pengertiannya kebangetan deh. Tau saja kalau baju porno ku dari tadi pagi sudah berontak minta di pake."
Rania pun masuk ke kamarnya, kali ini ia kembali mengernyit melihat Fadlan tertidur di sofa.
"Kenapa jadi pada kompak tidur semua???. Ikh si mas Suami, semalam puasa, masa sekarang mau puasa lagi," batin Rania.
Sebelum membangunkan suaminya, Rania pergi dulu ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Ceklek.
Kini Rania sudah menggunakan baju porno yang baru ia beli tadi pagi. Kalau malam pertama memakai baju lingerie berwarna hitam dan malam kedua memakai baju lingerie berwarna pink, serta malam kesepuluh memakai lingerie yang tidak ada warnanya, kali ini di malam kesebelas Rania menggunakan baju lingerie berwarna pelangi. Bajunya berwarna merah, kancingnya berwarna kuning dan rendanya berwarna hijau, kalau digabung jadi merah kuning hijau. Dan secara kebetulan Fadlan memakai sarung berwarna biru.
Rania mendekati Fadlan yang kini nampak ketiduran di sofa.
"Mas Suami."
Rania sudah mencubit gemas pipi si mantan Duda pemalu itu, hingga Fadlan langsung terbangun, ia terkejut melihat penampilan istrinya yang kini sudah kembali memakai baju lingerie si seksi menerawang.
"Mas Suami lupa ya, kalau kita punya acara dimalam kesebelas ini," ujar Rania mengingatkan. Fadlan langsung tersenyum malu, bahkan pipinya sudah memerah.
"Si mas Suami kalau lagi malu begini, pipinya kaya habis ditampar, pada merah."
Kembali Rania duduk dipangkuan suaminya, tangannya juga kembali merangkul.
"Mas Suami, sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih karena mas sudah melunasi hutangku yang lima Milyar itu. Untuk itu aku ingin membayarnya sekarang biar impas."
"Bayar???"
"Hmm, malam ini aku ingin membayar semua uang yang mas keluarkan. Aku akan membayarnya dengan pelayanan plus-plus malam ini, tapi plus nya bukan lagi dua, tapi tiga. Ku pastikan besok pagi mas Suami langsung pergi ke klinik, karena malam ini aku yang akan membuat tulang mas Suami pada retak."
__ADS_1