
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rania sudah mengemas pakaiannya. Dokter Husna kembali menangis lalu memeluk putrinya itu.
"Maafkan ibu ya Rania, ibu tidak bisa menolongmu." Ujar Dokter Husna. Rania pun tersenyum.
"Ibu jangan sedih, aku baik-baik saja Bu. Mungkin ini pelajaran untukku, biar kedepan nya aku tidak mengulangi kesalahan yang sama, aku tidak mau lagi berurusan dengan rentenir."
"Izinkan ibu untuk meminjam uang pada ustadz Usman ya."
"Jangan Bu, sudahlah mungkin ini adalah takdir hidupku harus seperti ini, sepertinya aku dan mas Duda tidak berjodoh." Ujar Rania pasrah.
Ketika sudah siap berkemas, ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Rania dan Dokter Husna menyangka itu adalah anak buahnya pak Beno yang datang menjemput. Dengan lemasnya Rania membukakan pintu, rupanya ia salah, yang datang ke rumahnya kini adalah Pipit dan Zidan.
"Pipit, Zidan."
Pipit langsung memeluk Rania sambil terisak.
"Tante jangan pergi, jangan tinggalin Abi."
Rania ikut menangis sambil memeluk Pipit diambang pintu.
"Tante terpaksa harus pergi. Pipit baik-baik ya, seperti yang Tante bilang, Pipit jagain Abi ya." Pinta Rania. Pipit masih saja terisak.
"Tante yakin mau pergi?" Tanya Zidan. Dengan terpaksa Rania pun mengangguk.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam datang, Rania yakin itu adalah anak buahnya pak Beno yang datang menjemput. Dan benar saja salah satu anak buahnya pak Beno turun dari mobil dan menghampiri Rania serta Dokter Husna.
"Mba Rania, mari kita berangkat ke Jakarta."
Rania dan Dokter Husna pasrah, kini Pipit dan Zidan sudah menangis.
"Tante jangan pergi."
Rania mencoba tersenyum lalu mengelus kepalanya Pipit dan juga Zidan.
"Tante pergi ya, kalian jaga diri baik baik. Assalamualaikum."
Sebelum Rania masuk kedalam mobil, matanya menyapu pandangan, berharap Fadlan datang dan mencegahnya untuk pergi, namun sayangnya si Duda pemalu itu tidak nampak terlihat.
"Waalaikumussalam."
Dokter Husna pun sudah menemani Rania ke Jakarta, karena besok Rania akan menikah.
__ADS_1
Setelah Rania dan Dokter Husna masuk kedalam mobil, Rania sudah melambai lambaikan tangannya pada Pipit dan juga Zidan. Sebenarnya tidak tega melihat Pipit dan Zidan menangisi kepergiannya, sayangnya Rania tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mobil melaju jauh, Pipit berteriak.
"Tante jangan pergi."
Zidan sudah menenangkan adiknya itu, tidak lama kemudian datanglah Fadlan yang memang sengaja mencari Pipit dan Zidan yang lagi-lagi sekali mereka sudah tidak ada di rumah.
"Pipit, Zidan"
Pipit langsung memeluk Fadlan.
"Abi, Tante Rania nya pergi." Pipit mengadu sambil terisak dipelukannya Fadlan. Fadlan terdiam, rupanya perempuan yang ia cintai kini telah pergi. Sayangnya Fadlan terlalu pendiam, terlalu pemalu, terlalu penakut hingga tidak punya keberanian untuk mencegah Rania pergi.
"Abi, buruan cegah Tante Rania, jangan biarkan dia pergi." Pinta Zidan.
"Dengarkan Abi ya, kita harus ikhlas, mungkin sudah takdirnya seperti ini." Ujar Fadlan yang kini sudah memeluk kedua anaknya.
Ketika mobil yang dinaiki Rania melewati pos sekuriti, Rania pun memanggil Yudi yang sedang berjaga di pos sekuriti bersama Yuda.
"Mba Rania mau kemana?" Tanya Yudi.
"Mau pergi, selamat tinggal ya om Yudi, semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu. Pesanku jangan suka ngerjain orang lagi." Tutur Rania.
"Berikan ini pada si mas Duda ya." Pinta Rania sambil memberikan selembar uang 10.000.
Yudi pun menerimanya. Iya tau surat itu soal perasaannya terhadap Fadlan. Yudi pun terdiam saat menerima uang 10.000.
"Nanti aku berikan pada mas Fadlan, tapi ngomong-ngomong ini uang 10.000 nya buat apa?"
"Anggap saja sebagai uang jasa antar. Buat ongkos ke rumahnya mas Duda."
"Oh iya mba, terima kasih, lumayan buat beli cilok."
***
Ketika Rania dan Dokter Husna sudah sampai di Jakarta, mereka pun dibawa ke rumahnya pak Beno yang begitu besar dan megah. Rania sudah menjinjing tas nya. Beberapa pelayan sudah mempersilahkan masuk, dan disambut dengan baik, namun disudut ruangan ada dua pasang mata sedang memperhatikan Rania, tentunya mereka adalah istri pertama dan istri keduanya pak Beno.
Pak Beno pun datang menghampiri dan menyambut Rania.
"Selamat datang Rania, calon istriku yang cantik." Ujar pak Beno. Rania hanya diam saja, masih berdo'a dan berharap ada yang menyelamatkan nya dari pak Beno. Pak Beno sudah mengernyit melihat penampilan Rania yang masih menggunakan gamis serta kerudungnya.
"Kenapa kau masih menggunakan pakaian seperti itu, bukankah kau sudah keluar dari pesantren itu, untuk apa lagi memakai baju seperti itu, aku sudah siapkan baju-baju yang bagus dan mahal di kamarmu." Tutur pak Beno.
"Aku akan tetap berpenampilan seperti ini." Tegas Rania hingga pak Beno tertawa.
__ADS_1
"Apa kau masih berharap kalau si Duda itu akan menolongmu?. Sudahlah Rania, lupakan lelaki itu, dia tidak mencintaimu, buktinya dia sama sekali tidak menolongmu." Tutur pak Beno. Rania tidak menjawabnya.
"Aku cape, aku mau istirahat." Ujar Rania.
"Baiklah Rania sayang, aku sudah siapkan kamar sementara untuk kalian."
"Tapi ingat ya, pak Beno tidak boleh menyentuhku sebelum kita resmi menikah." Ujar Rania, ada nada mengancam dalam ucapannya.
Pak Beno pun menyuruh salah satu pelayannya untuk mengantarkan Rania dan Dokter Husna ke kamarnya. Salah satu pelayan itu pun sigap mengantarkan Rania dan Dokter Husna ke sebuah kamar.
"Ini kamarnya mba Rania. Selamat beristirahat." Ucap pelayan dengan sopannya.
"Terima kasih."
Baru saja Rania dan Dokter Husna mau masuk ke kamar, tiba-tiba kedua istrinya pak Beno datang menghampiri dengan sikap mereka yang jutek.
"Oh jadi ini si Rania yang katanya perempuan cantik blasteran Indonesia-Jerman. Ingat ya, saat kau resmi jadi istri ketiganya mas Beno, kau harus menurut pada kami." Ujar istri pertama.
"Iya, jangan macam-macam, apalagi ingin menguras seluruh hartanya mas Beno." Istri kedua pun ikut memperingatkan.
"Kalau aku tidak punya hutang pada suami kalian, aku tidak Sudi jadi istri ketiganya. Kalau kalian berdua tidak suka denganku, sebaiknya kalian berdua membujuk pak Beno untuk melepaskan ku." Tutur Rania.
"Alasan, bilang saja kau mau menguasai seluruh harta milik mas Beno."
"Sepertinya wajah cantikmu ini gak asli, pasti kau oprasi plastik kan, secara kan ibumu ini seorang Dokter."
Rania hanya mengernyit.
"Kedua istrinya pak Beno merasa iri dan cemburu hingga mereka bicara yang tidak-tidak. Menyedihkan. Belum resmi menikah saja sikap mereka sudah seperti itu, bagaimana jika aku resmi menikah dan tinggal disini, sudah pasti tiap hari akan ada perang di rumah ini, sungguh menyedihkan." Batin Rania.
"Aku cape mau istirahat, jika kalian masih terus menggangguku, aku tidak akan segan-segan untuk menyuruh ibuku mengeluarkan jarum suntik. Ibu ku ini seorang Dokter, dia kemana-mana bawa suntikan, kalian tinggal pilih mau jarum suntik yang ukuran besar, ukuran sedang atau ukuran kecil, yang ukuran jumbo juga ada." Tutur Rania menakut-nakuti.
Kedua istrinya pak Beno pun bergidik ngeri. Seketika mereka langsung berlari kabur.
"Hus hus hus."
"Ibu khawatir denganmu Rania, belum apa-apa saja sikap mereka sudah seperti itu, nanti bagaimana jika kau sudah resmi jadi istrinya pak Beno." Ujar Dokter Husna.
"Tenang saja Bu, aku ini anak yang kuat. Do'akan saja semoga semuanya baik-baik saja. Entah kenapa aku merasa besok itu si mas Duda akan datang kesini menyelamatkan ku"
"Seyakin itu, apa mas Fadlan yang mengatakannya padamu?"
Rania langsung menunjuk dadanya.
"Hatiku yang mengatakannya Bu, dan aku percaya itu"
__ADS_1