Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Nyebur


__ADS_3

Sore itu Rania sudah bersiap untuk pergi ke rumahnya ustadzah Ulfi, ia sudah menggunakan kemeja serta rok senada hingga tidak lagi menampakkan lekuk tubuhnya. Rania sudah tidak mau menggunakan celana jeans, apalagi semua celana jeans miliknya sudah disita Dokter Husna.


Dokter Husna sudah tersenyum melihatnya.


"Duh putrinya ibu cantik banget, mudah-mudahan sebentar lagi kau akan merubah jenis hijab mu menjadi kerudung syar'i. Ibu do'akan semoga kau selalu istiqamah."


"Aamiin."


Rania pun ikut tersenyum.


"Aku berangkat ya Bu, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Rania berjalan sendirian menuju rumahnya ustadzah Ulfi. Di jalan sempat bertemu dengan Zahira dan Yura.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Rania sudah mengerucutkan bibirnya, ia masih sedikit kesal dengan Zahira yang dulu sempat mengaku-ngaku jadi ustadzah Ulfi.


"Idiih gak usah so seksi begitu bibirnya. Tetep punyaku tiada duanya, kalau gak percaya tanyakan saja pada si Yuyu ku tersayang," tutur Zahira.


"Aku lagi cemberut Tante, bukan lagi ajang lomba keseksian bibir," ujar Rania. Zahira malah tertawa.


"Aku tau kau masih marah padaku soal aku yang ngaku-ngaku jadi umi Ulfi. Aku minta maaf, itu kan cuma hiburan doang."


Zahira pun mengangguk-ngangguk melihat penampilan Rania yang sekarang sudah tidak menggunakan celana jeans lagi.


"Nah kalau penampilanmu yang sekarang aku acungkan pistol." Ujar Zahira.


"Jempol bukan pistol." Gerutu Rania.


"Cuma typo doang Rania, kau mah menanggapinya dengan emosi. Tapi aku senang melihat penampilanmu ini, semoga kau Istiqomah."


Rania pun tersenyum.


"Sekarang aku terlihat lebih cantik ya?" tanya Rania.


"Kau memang cantik, tapi aku jauh, jauh lebih Cuantik darimu, jadi maaf ya, kau masih kalah saing. Sekali lagi belajar ikhlas dan sabar ya, terima nasib."


Rania hanya bisa cemberut, sepertinya perempuan yang ada dihadapannya itu kalau disinggung soal kecantikan, maka Rania harus bersabar dan ikhlas menerima kekalahan.


"Eh ngomong-ngomong kau mau kemana sudah rapih begini?"


"Aku mau ke rumahnya ustadzah Ulfi. Hari ini jadwalnya aku diberi les." Jawab Rania.

__ADS_1


"Nah kebetulan, aku titip Yura ya, dia merengek terus ingin ke rumah neneknya. Biar Yura ikut denganmu ya ke rumahnya umi Ulfi," pinta Zahira.


"Boleh."


Rania sudah menatap Yura yang kini sudah mengedip-ngedipkan matanya.


"Putriku cantik kan. Dia juga blasteran loh, campuran antara kota A dan kota B." Ujar Zahira. Rania sudah mengernyit.


"Itu sih namanya bukan blasteran, tapi tetanggaan antara kota A dan kota B." Batin Rania.


"Yura sayang, ikut Tante Rania ya ke rumah nenek umi, Mommy ada miting rahasia bersama Abimu," ujar Zahira.


"Ok Mommy."


"Rania titip putriku yang cantik jelita ini ya, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Zahira pun pergi. Kini Rania sudah menggenggam tangannya Yura.


"Ayo jalan."


Namun Yura enggan berjalan, ia malah menatap Rania. Hingga Rania menatapnya meminta jawaban.


"Apa?"


Rania pun menurut dan berjongkok. Yura sudah cekikikan dan langsung menempel di punggungnya Rania.


"Gendong aku ya Tante." Pinta Yura.


Rania langsung mengernyit. Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, Rania pun menggendong Yura yang kini usianya sekitar 6 tahun.


"Kemarin dikerjain emaknya, sekarang ganti dikerjain anaknya." Batin Rania menggerutu.


Rania menggendong Yura sampai ke rumahnya ustadzah Ulfi. Untung badannya Yura kecil, jadi tidak begitu berat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Ustadzah Ulfi pun tersenyum melihat Rania datang bersama Yura.


"Ko Yura bisa bersamamu Rania, memangnya Ira kemana?" tanya ustadzah Ulfi.


"Tante Zahira yang menitipkan Yura padaku saat di jalan, katanya Tante Zahira mau mengadakan miting rahasia bersama suaminya, mungkin Tante Zahira mau izin untuk mendaftarkan diri jadi TKW." Tutur Rania. Ustadzah Ulfi langsung mengernyit.


"He he, bercanda ustadzah Ulfi."

__ADS_1


Melihat penampilan baru Rania, ustadzah Ulfi tersenyum.


"Saya senang melihat penampilan mu yang sekarang, semoga Istiqomah ya, mudah-mudahan kedepannya bisa pake gamis." Ujar ustadzah Ulfi. Rania pun mengangguk.


Hampir satu jam Rania mendapatkan pelajaran dari Ustadzah Ulfi. Setelah selesai Rania langsung berpamitan. Kembali pulang seorang diri.


Rania berjalan menuju tepi perkebunan, ketika diatas jembatan ia berdiri dan menatap sungai yang lumayan mengalir dengan tenang. Tiba-tiba ia melihat ada Fadlan berjalan dihadapannya. Fadlan sudah rapih, menggunakan sarung, baju Koko serta kopeahnya. Seketika Rania langsung menutup mata serta telinganya, ia takut itu hanya bayangan Fadlan saja yang beberapa hari ini selalu mengganggunya.


Dan ketika Fadlan melihat Rania, ia terkejut, ada rasa malu bercampur takut bertemu dengannya. Takut diprotes dan dimarahi lagi seperti kemarin-kemarin. Fadlan langsung menunduk, berharap Rania tidak akan melihatnya, apalagi sekarang Rania sedang memejamkan matanya.


Namun karena terlalu menunduk, Fadlan tidak sadar ada batu dihadapannya yang seketika dirinya langsung tersandung dan terjatuh ke sungai.


"AAAAAA."


BYUUUUURRR.


Rania tidak tau jika Fadlan yang ia lihat bukan bayangan tapi Fadlan yang nyata, Rania juga tidak tau jika Fadlan terjatuh ke sungai, tidak melihat si Duda pemalu itu jatuh ke sungai karena ia memejamkan matanya, tidak mendengar suara orang jatuh ke sungai karena ia menutup kedua telinganya, jadi pas Rania membuka mata serta telinganya, Fadlan sudah hilang dari pandangannya, apalagi Fadlan yang berada di sungai tidak mengeluarkan suara, takut ketahuan Rania.


"Duuh ibu tolong aku. Bayangannya si mas Duda terus saja menghantuiku. Bayangannya terus saja mengikuti ku. Aku terus berhalusinasi melihatnya. Apa benar ya kata ibu kalau aku ini jatuh cinta sama si mas Duda?" Rania bicara sendiri.


Fadlan yang mendengar pun langsung tersenyum. Entah kenapa mendengar Rania jatuh cinta padanya, ia sedikit merasa senang.


Rania pun pergi dari sana, ia ingin mengadu kejadian barusan pada Dokter Husna, Rania pikir ia sedang berhalusinasi melihat Fadlan yang sering muncul kemanapun ia memandang.


Setelah Rania pergi, Fadlan baru naik ke permukaan. Ia basah kuyup, termasuk dengan kopeahnya. Fadlan sudah menatap dirinya yang basah kuyup, beginilah resiko kalau bertemu dengan putrinya Dokter Husna, kalau tidak diomeli, ya nyebur ke sungai.


Fadlan berjalan pulang menuju rumahnya. Dan dari kejauhan, ustadz Soleh dan ustadz Usman melihat Fadlan berjalan sambil memerat air dari kopeahnya, mereka juga heran melihat Fadlan yang basah kuyup. Seketika ustadz Usman dan ustadz Soleh mengadah keatas langit, mereka melihat langit nampak cerah, jadi tidak mungkin Fadlan kehujanan. Mereka berdua sudah saling lirik.


"Kelakuan putramu kak, dia berenang pake sarung." Ujar ustadz Usman.


Ustadz Soleh hanya diam saja sambil menatap putranya. Saat sadar jika didepan ada Abi serta om nya, Fadlan langsung menunduk malu jika dirinya kini sedang basah kuyup.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Fadlan, kau darimana?, kenapa bajumu basah kuyup begitu?" tanya ustadz Soleh.


Fadlan sudah menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa, hingga akhirnya ia memilih kabur.


"Maaf ya Bi, Om, aku pulang duluan, aku sedang kepanasan. Assalamualaikum." Fadlan pergi dengan sedikit berlari.


"Waalaikumussalam."


Ustadz Usman dan ustadz Soleh sudah mengernyit menatap kepergian Fadlan.


"Putramu kenapa?, Bajunya basah kuyup tapi dia bilang sedang kepanasan. Bukan kah ini aneh"

__ADS_1


__ADS_2