Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Fitting baju


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Fadlan, Pipit dan Zidan sudah berjalan menuju pemakaman, seperti biasa Fadlan sudah membawa tiga tangkai bunga lili kesukaan almarhum istrinya.


Di jalan Pipit sudah berbisik pada Zidan soal penampilannya Fadlan yang terlihat berbeda dalam dua hari ini, apalagi Fadlan memotong rambutnya, ia nampak terlihat lebih muda.


"Kak, Abi penampilannya kini beda ya."


"Hmmm, Abi kelihatan lebih muda, lebih seger. Mungkin Abi mengimbangi usianya Tante Rania, sekarang kan Abi dapetnya daun muda." Bisik Zidan.


Pipit langsung mengernyit.


"Daun muda????"


"Ko daun muda sih, kan Abi dapetnya Tante Rania. Nanti kalau Tante Rania denger dia disamakan sama daun Tante Rania nanti bisa marah."


"Sssttthhh."


Mereka sudah berjalan melewati perkebunan, tentunya sudah ada ustadz Usman, ustadz Soleh dan Ibra disana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Mereka sudah saling sapa.


"Mau kemana rame-rame Lan?" Tanya Ibra.


"Ke pemakaman, ustadz."


"Kupikir kalian mau pada demo, rame-rame ke pemakaman." Ujar ustadz Usman. Fadlan hanya tersenyum saja.


Kembali Fadlan dan putra putrinya melanjutkan perjalanan hingga sampailah mereka di pemakaman. Fadlan sudah membersihkan rumput-rumput liar, tak lupa juga tiga tangkai bunga lili itu sudah ditaruh diatas makamnya Amara. Mereka bertiga sudah berdo'a.


Setelah selesai berjiarah, Fadlan sudah mengajak anak-anak untuk pulang, namun Pipit menolak, ia ingin mengadakan sesi curhat terlebih dahulu.


"Ayo Pit kita pulang."


"Sebentar Bi, aku mau mengadakan sesi curhat dulu sama umi Amara." ujar Pipit hingga Fadlan dan Zidan langsung mengernyit.


"Nanti sesi curhat nya sama si Yura saja, yu kita pulang." Kali ini Zidan yang mengajak. Pipit kembali menggeleng.


"Sebentar saja kak."


"Ya sudah sebentar ya, Abi masih ada urusan." ujar Fadlan.


Kini Fadlan dan Zidan memberikan kesempatan kepada Pipit untuk curhat.


"Umi Amara, aku mau cerita sedikit, Abi sebentar lagi mau menikah, aku sebentar lagi mau punya ibu baru, umi jangan marah ya. Tante Rania cantik loh, dia juga baik dan sayang pada Abi dan Pipit. Tante Rania juga sering bilang i love you loh sama Abi, Umi kalau lihat muka Abi pasti terlihat merah deh karena malu." tutur Pipit yang kini sudah cekikikan sendiri.


Fadlan yang mendengar pun sudah mengernyit kemudian menunduk, benar juga dengan yang dikatakan Pipit itu.

__ADS_1


"Pit, ayo pulang, sudah belum curhatnya." Fadlan kembali mengajak pulang.


"Belum Bi, sebentar lagi."


"Ayo pulang Pit, sesi curhatnya nanti disambung lagi sama si Yura." Zidan sudah tidak sabar karena sinar matahari sudah mulai terasa panas. Akhirnya Pipit pun bersedia pulang meskipun bibirnya cemberut. Karena tidak ingin putrinya ngambek, Fadlan pun akhirnya menggendong Pipit hingga ke rumah.


Sesampainya di rumah, Sarah sudah menyuruh Fadlan untung fitting baju pengantin di butiknya Anisa.


"Sekarang juga kalian pergi ke butiknya Tante Anisa untuk fitting baju pengantin, ingat loh acaranya besok, jadi segeralah pergi ke butik." Pinta Sarah.


Fadlan pun sudah berjalan bersama putra putrinya menuju butik. Ketika mereka melewati pos sekuriti, Yudi dan Yuda sudah menyapanya.


"Assalamualaikum mas Fadlan, pada mau kemana nih?" tanya Yudi.


"Waalaikumussalam, mau ke butik."


"Masih ingat gak lokasi butiknya dimana?" tanya Yudi. Fadlan mengernyit kemudian tersenyum.


"Insyaallah masih ingat." jawab Fadlan heran kenapa Yudi bisa bertanya seperti itu.


Yuda sudah berbisik pada Yudi.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Kalau dia lupa nanti kita kasih instruksi, sekalian dikerjain dikit, itung-itung buat hadiah pernikahan." Bisik Yudi.


Karena melihat si kembar bisik-bisik, akhirnya Fadlan melanjutkan langkahnya.


"Maaf om kembar, kita duluan ya, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Si Duda pemalu sebentar lagi hijrah setatus."


Sesampainya Fadlan di butik, ia langsung masuk bersama Pipit dan Zidan sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Seketika Fadlan langsung menunduk melihat Rania pun ada di butik untuk fitting baju pengantin.


"Hai mas Duda."


Fadlan sudah tersenyum malu-malu. Pipit langsung mendekati Rania yang kebetulan disana juga ada Zahira, Yura dan Hawa.


"Tante cantik."


Pipit sudah memeluk Rania.

__ADS_1


"Mas Duda, mana paspor nya, katakan i love you." Bisik Rania. Fadlan malah menunduk malu, takut ketika ia mengucapkan kata cinta terdengar oleh yang lain, hingga Fadlan langsung mengambil hapenya dan memberi pesan pada Rania.


Tring.


:I LOVE YOU: (Fadlan).


Rania sudah tersenyum-senyum ketika membaca pesan itu.


"Idiiih si mas Duda menggemaskan deh, dia ngatain cintanya lewat pesan. Kalau saja gak ada orang, sudah ku cubit bibirnya." Batin Rania.


Anisa sudah memperlihatkan beberapa model baju pengantin untuk Fadlan karena Rania sudah memilih satu gaun pengantin yang begitu cantik. Elina pun sudah memperlihatkan beberapa baju cantik untuk Pipit, dan setelan jas untuk Zidan. Pipit sudah berjingkrak-jingkrak sambil menggunakan baju pengantin kecilnya itu yang disesuaikan dengan bajunya Rania.


"Duuh aku juga belum beli setelan jas untuk kak Yusuf, di rumah baru punya tiga, itu pun dipake ya pas hujan doang, bukan pas kondangan." ujar Zahira.


Ketika melihat Pipit, Zahira pun langsung memanggil Elina.


"Ka Elina, aku sama Yura mau dong dibuatkan baju seperti punya si Pipit, kan rencananya aku, Yura sama Pipit itu mau jadi pengantin kecilnya." ujar Zahira. Hawa dan Elina sudah saling lirik.


"Inget usia dong Tante. Kalau Tante jadi pengantin kecil, itu karpet merah mendadak gulung tikar" Hawa menyindir.


"Sstth Hawa keponakan ku yang kecantikannya masih dibawah si Yura, tolong ya mingkem."


Yura pun mendekati Pipit yang kini masih asik menatap diri dicermin.


"Bajumu bagus Pipit, tapi sayangnya masih cantikan aku." ujar Yura yang kini ikut bercermin.


"Biarin yang penting kan aku punya baju baru, bagus pula. Dan yang lebih senengnya lagi, aku mau punya ibu baru. Yeeeeee" Pipit nampak kegirangan


Yura sudah cemberut karena bajunya memang kalah cantik dari bajunya Pipit, belum lagi Pipit mau punya ibu baru, itu yang menambah daftar rasa iri Yura pada Pipit.


Yura sudah menghampiri Zahira yang kini sedang duduk bersama Hawa sambil cemberut.


"Duuh Yura sayang, kenapa bibirnya melengkung ke bawah begitu, siapa yang jahat sama Yura?" tanya Zahira.


"Aku mau punya ibu baru." rengek Yura hingga Zahira langsung menganga. Sementara Hawa sudah cekikikan.


Setelah acara fitting baju selesai, Fadlan pun pulang bersama Rania dan putra putrinya. Mereka pulang berempat. Fadlan sudah menggendong Pipit, sambil menunduk malu, kali ini ia berjalan bersama Rania.


"Mas Duda, mulai sekarang hafalin ijab kabul ya, biar besok lancar." pinta Rania.


"Kan mas sudah pernah melakukan nya, insyaallah lancar."


"Iya mas pernah melakukannya, tapi mas Duda kan suka mendadak malu, takutnya mas Duda malah ngajak penghulu buat mengheningkan cipta. Nanti ustadz Usman bisa teriak-teriak kesal loh."


Fadlan sudah menunduk malu, rasa malunya memang selalu datang tanpa di undang.


"Insya Allah, mas akan belajar lagi."


"Gak bisa dibayangkan pas malam pertama, si mas Duda malah ngajakin aku buat mengheningkan cipta. Duh kayanya aku harus miting sama ibu, Tante Zahira dan ustadz Usman deh, biar mereka bisa ngasih SO LU SI."

__ADS_1


__ADS_2