
Malam pun tiba, setelah selesai mengajar istrinya berbagai macam pelajaran agama, Fadlan pun merasa tenang karena Zidan tidur di asrama putra karena ada tugas dan hapalan, hingga akhirnya ia belajar bersama teman-temannya. Sementara Pipit, ia sudah menginap di rumah Sarah, meskipun sebelumnya ada drama kecil karena Pipit ingin tidur bersama Rania lagi, untung saja Sarah memberikan pengertian hingga akhirnya Pipit menurut untuk menginap di rumah neneknya. Sarah membujuk Pipit jika ingin punya adik bayi maka Pipit harus mau menginap di rumahnya Sarah. Dan akhirnya Pipit mau dengan alasan dan pikiran jika besok ia akan mendapatkan adik bayi.
Fadlan sudah menyender diujung ranjang menunggu Rania keluar dari kamar mandi, namun nyatanya yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang. Rania masih berkutat di kamar mandi. Si mantan Duda pemalu itu terus melirik pintu kamar mandinya, belum juga terbuka, Rania sudah hampir 30 menit, hingga akhirnya Fadlan nampak khawatir.
Fadlan mendekati kamar mandi lalu mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
"Rania kau sedang apa?"
"Sebentar mas."
Fadlan pikir jika istrinya itu sedang ada panggilan alam hingga ia kembali duduk ditepi ranjang.
Cekleeek.
Pintu terbuka namun Rania hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Mas suami, bisa minta tolong gak." ujar Rania. Fadlan mengangguk lalu mendekati.
"Kenapa?"
Malu-malu Rania menyuruh Fadlan melakukan sesuatu.
"Belikan aku pembalut ya mas, aku sedang datang bulan."
Fadlan sudah tersenyum getir.
"Kau sedang datang bulan?"
"Hmmm, maafkan aku lagi ya mas. Malam kedua, ketiga hingga kesembilan kita pending dulu. Nanti lanjut dimalam kesepuluh. Nanti kita rapel acara kita." ujar Rania.
Fadlan mengangguk, meskipun sedikit kecewa namun ia mengerti.
"Beliin pembalut ya mas." pinta Rania kembali hingga Fadlan mengernyit sambil menggaruk tengkuknya.
"Beli dimana?"
"Diwarung Bi Ratna, atau ditoko-toko terdekat di wilayah pesantren." ujar Rania.
Fadlan menatap jam dinding.
"Tapi jam segini warung-warung sudah pada tutup."
"Kalau begitu belinya di mini market, kulihat didekat butik Tante Anisa ada mini market."
Fadlan mengingat-ingat kalau didekat butik memang ada mini market.
"Iya mas belikan, kau tunggu disini."
Fadlan pasrah, padahal ia malu kalau harus pergi ke mini market untuk membeli pembalut saja.
"Jangan lama-lama ya mas."
Fadlan pun pergi ke mini market dengan berjalan kaki. Ketika sampai di pos sekuriti, Fadlan disapa oleh Yudi dan Yuda yang sedang berjaga malam.
"Assalamualaikum mas Fadlan."
"Waalaikumussalam om kembar."
"Mau kemana malam-malam begini mas?" tanya Yudi.
"Mau ke mini market."
"Mba Rania nya gak ikut mas?, perlu penjagaan tidak, takutnya mas Fadlan diculik, mas Fadlan kan nampak menggemaskan Dimata para janda." tutur Yuda. Fadlan sudah tersenyum sambil menggeleng.
"Tidak usah om Yuda terima kasih."
__ADS_1
Setelah berbasa-basi akhirnya Fadlan melanjutkan langkahnya. Si kembar pun terus menatap kepergiannya.
"Mas Fadlan dan mba Rania beberapa hari kedepan akan menjadi tuan rumah di bumi, dan kita para tetangga cuma dianggap ngontrak oleh pasangan pengantin baru itu."
"Iya, mungkin ini nasib kita yang pengantin lama."
"Hmmm, kalah sama pengantin yang baru."
Sesampainya Fadlan di mini market yang pembelinya lumayan banyak yang tergolong ibu-ibu semua. Fadlan merasa canggung dan malu, apalagi dia kesana hanya untuk membeli pembalut saja. Fadlan sudah berkeliling mencari-cari, dan ketika menemukannya, ia hanya menatap beberapa pembalut dengan berbagai macam merk. Tangannya seolah memakai gelang besi dan baja hingga sulit diangkat untuk mengambil pembalut. Risih bercampur malu ia rasakan ketika banyak para ibu-ibu didekatnya sedang memilih barang.
"Apa mereka akan menertawakan ku kalau aku kesini cuma beli pembalut???" batin Fadlan yang kini mulai ragu.
Fadlan kembali berkeliling untuk memperlambat waktu agar para ibu-ibu itu selesai belanja baru ia dengan leluasa mengambil pembalut.
"Ya Allah semoga ibu-ibu itu segera diselesaikan belanjanya biar aku gak malu ngambil pembalut. Aamiin aamiin ya rabbal alamin."
Namun nyatanya doa Fadlan belum terkabulkan, ibu-ibu bukannya pada pulang malah semakin banyak yang datang untuk berbelanja. Fadlan semakin berprustasi hingga akhirnya ia mengambil barang apa saja yang ada didekatnya namun bukan pembalut. Fadlan langsung ke kasir dan membayar belanjaannya yang kebanyakan itu adalah cemilan. Setelah keluar dari mini market ia sedikit berlari menuju pos sekuriti.
Sesampainya di pos sekuriti, Fadlan langsung menemui Yudi dan Yuda.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam sudah belanjanya mas Fadlan?" tanya Yuda.
"Belum."
"Belum ko udah pulang, itu apa yang ada didalam kresek." tunjuk Yudi pada belanjaan yang asal diambil itu.
"Ini untuk Om kembar, tapi aku minta tolong dulu ya om."
Yudi dan Yuda nampak senang ketika dirinya diberi belanjaan yang isinya cemilan itu.
"Wah terima kasih ya mas Fadlan, tapi minta tolong apa?"
Fadlan langsung berbisik pada Yudi.
"Oh ok, ukurannya sais apa? Yang S M L apa XL?" tanya Yudi hingga Fadlan langsung terdiam.
"Emang ada ukurannya ya?"
"Ya ada dong mas, kan nanti kalau kekecilan kan gak bisa dipake." ujar Yudi.
Fadlan langsung memutar otak.
"Kira-kira ukurannya Rania sais apa ya?"
"Mungkin XL Om."
Yudi sudah menganga.
"Si Pipit ukuran popoknya gede banget."
"Ok mas aku belikan, mas Fadlan tunggu disini ya."
Setelah Fadlan memberikan uangnya Yudi langsung meluncur ke mini market dan membeli pesanan Fadlan, setelah selesai ia kembali ke pos sekuriti dan memberikannya pada Fadlan dengan dibungkus plastik putih.
"Terima kasih ya Om Yudi. Aku pamit dulu, Rania sudah menunggu di rumah. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Fadlan langsung bergegas pulang lalu memberikannya pada Rania yang masih berada di kamar mandi.
"Terima kasih ya mas Suami."
Rania kembali menutup pintu. Fadlan sudah menunggu di sofa kamarnya. Tiba-tiba Rania berteriak.
"MAS SUAMIIIIII."
__ADS_1
Fadlan terkejut lalu menghampiri.
"Ada apa Rania?"
Rania membuka pintu kamar mandi sambil cemberut dan memperlihatkan pempes (popok bayi) ukuran XL.
"Kenapa mas suami beli popok bayi?" Rania menggerutu. Fadlan pun ikut terkejut, ia tak mengecek dulu belanjaan yang dibeli Yudi.
"Maaf Rania, mas tidak tau kalau isinya popok bayi."
"Ko bisa gak tau sih, kan mas yang beli." Rania heran.
"Itu yang beli om Yudi, mas malu kalau beli pembalut ke mini market. Banyak ibu-ibu yang belanja." ujar Fadlan. Rania sudah menghembuskan nafas kasar.
"Maaf ya, mas coba ke rumahnya umi, siapa tau umi punya."
Rania hanya mengangguk.
Akhirnya Fadlan pergi ke rumahnya Sarah. Namun ternyata Sarah tidak punya stok pembalut.
"Coba ke rumahnya Silmi, siapa tau dia punya." ujar Sarah. Fadlan mengangguk dan langsung segera pergi ke rumah adik sepupunya itu yang kini sedang menginap di rumah ustadz Usman karena Faris sedang pergi ke kota Y.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Ustadz Usman membuka pintu, ia merasa heran melihat keponakannya datang malam-malam.
"Ada apa malam-malam kesini. Kau tidak diusir si Rania istrimu yang ajaib itu kan?" tanya ustadz Usman. Fadlan pun menggeleng.
"Aku kesini ada perlu sama Silmi."
"Tumben sekali kau ingin bertemu dengan si Mimi."
Tak lama kemudian Silmi datang setelah ustadz Usman memanggilnya.
"Ada apa kak, tumben kakak mencariku malam-malam begini." ujar Silmi.
Sebenarnya Fadlan merasa malu untuk mengungkapkan nya, namun ia memberanikan diri berbisik pada Silmi takut ketahuan Om nya.
"Punya pembalut gak, Rania sedang datang bulan. Tadi ke mini market salah beli." ujar Fadlan.
"Oh tunggu sebentar ya, aku ambil dulu."
Ustadz Usman mulai kepo.
"Kau berbisik apa pada si Mimi?"
"Maaf Om ini rahasia laki-laki." jawab Fadlan hingga ustadz Usman mengernyit.
"Kau pikir Om mu ini banci." Ustadz Usman menggerutu. Silmi pun datang dan memberikan tiga pembalut pada Fadlan.
"Ini kak."
"Terima kasih Silmi."
Ustadz Usman sudah menahan tawanya melihat Silmi memberikan pembalut pada keponakannya, ia tau pasti Rania sedang datang bulan.
"Aku pamit dulu ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Ustadz Usman sudah menatap kepergiannya Fadlan.
"Kasihan sekali keponakanku, baru saja buka puasa setelah lima tahun, kini ia harus kembali berpuasa. Sabar ya Fadlan, mungkin ini ujian. Dan sepertinya kau sedang diuji kesabaran."
__ADS_1