Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Pak Beno


__ADS_3

Keesokan harinya, kebetulan adalah hari libur, banyak para orang tua santri yang datang berkunjung ke pondok, mobil satu persatu mulai berdatangan memasuki area pesantren termasuk juga mobilnya pak Beno yang sengaja datang untuk menemui Rania.


Karena pak Beno tidak tau rumahnya Dokter Husna, akhirnya ia dan kedua bodiguardnya berhenti di pos sekuriti, dan bertanya pada sekuriti yang kebetulan Yudi dan Yuda yang sedang berjaga.


"Permisi, boleh kami minta tolong, kami mau tanya dimana rumahnya Dokter Husna ibunya Rania" ujar salah satu bodiguardnya pak Beno.


"Kalian siapa nyari Dokter Husna? Lagi pada meriang ya nyariin dokter Husna?" Tanya Yudi.


"Bos kami ini mau bertemu dengan Rania putrinya Dokter Husna, kebetulan Bos kami ini saudaranya Rania dari Jerman." Ujar si bodiguard mencoba membodohi si kembar. Tentunya melihat pak Beno, Yudi dan Yuda langsung mengernyit, tidak percaya jika pak Beno keturunan Jerman.


"Yud, aku tidak percaya jika itu saudaranya mba Rania dari Jerman, mukanya kaya Indonesia-Afrik*. Kaya ada item-item nya tapi gak ada manis-manisnya," bisik Yudi.


"Ho oh, mungkin dia saudara tirinya mba Rania." Bisik Yuda.


"Kalau kita kerjain dikit, boleh gak ya?" Tanya Yudi.


"Mungkin kalau sedikit mah boleh, seperti biasa, biar ustadz Usman saja yang menanggung dosanya."


Setelah bisik-bisik, Yudi dan Yuda pun memberi petunjuk yang salah pada Pak Beno dan kedua bodiguardnya.


"Kita kasih petunjuk saja ya dimana rumahnya Dokter Husna, tapi jangan bawa mobil, soalnya jalannya sempit, mobil tidak masuk, jadi kalian jalan kaki saja, siapa tau dengan berjalan jauh mendadak penyakit kalian sembuh sebelum sampai ke klinik," ujar Yudi.


"Emangnya gak ada ojek online?" Tanya pak Beno heran.


"Kebetulan para ojol lagi pada demo, jadi gak ada tukang ojek, jalan kaki saja lebih sehat. Dari sini kalian luruuuus terus. Pokoknya lurus jangan belok-belok. Inget ya lurus. Nanti kalian akan melewati perumahan warga, melewati kontrakan, melewati jembatan, melewati lapangan, melewati perkebunan. Nah, rumah dan kliniknya Dokter Husna ada di ujung perkebunan." Tutur Yuda.


Pak Beno dan kedua bodiguard nya mengangguk-angguk dan langsung berjalan kaki menuju lokasi yang ditunjukan Yudi dan Yuda. Awalnya mereka protes karena tidak mau berjalan kaki, namun apa boleh buat si kembar bilang disana tidak ada ojek, jadi mereka terpaksa jalan kaki. Mobilnya mereka parkir di dekat pos sekuriti. Yudi dan Yuda sudah cekikikan melihat kepergian pak Beno dan dua orang bodiguard nya.


"Yud, kalau kita ketahuan Dokter Husna ngerjain saudaranya mba Rania, kita nanti disuntik gak ya sebagai hukuman?" tanya Yudi.


"Entahlah, tapi kalau kita dapat suntikan dana sih aku mau pake banget."


"Tapi kalau urusan dana mah itu sudah menjadi urusannya ustadz Usman."


Pak Beno dan kedua bodiguard nya sudah melewati perumahan warga, sudah melewati kontrakan, sudah melewati jembatan, sudah melewati lapangan dan sudah melewati perkebunan, tentunya kini mereka berada di pemakaman keluarganya Fadlan. Mereka langsung mengernyit.


"Mana rumah ibunya si Rania?, Ko ini pemakaman sih, jangan-jangan ibunya si Rania sudah almarhum." Ujar si bodiguard.


"Jangan-jangan kita dikerjain sekuriti didepan." Bodiguard yang satunya curiga. Seketika pak Beno langsung menggeram kesal, marah dan emosi.


"Brengse*. Jauh-jauh dari Jakarta kesini tapi malah dikerjain sekuriti. Mereka gak tau aku ini salah satu orang paling terkaya di Jakarta." Gerutu pak Beno.


Melihat ada tiga orang yang mencurigakan, ustadz Usman dan ustadz Soleh langsung mendekati mereka.


"Kak ayo kita kesana, mereka nampak mencurigakan, apalagi dua orang disana mengunakan pakaian serba hitam. Aku takut mereka datang ke pemakaman untuk mencuri." Ujar ustadz Usman sambil berjalan menemui mereka.

__ADS_1


"Kau jangan suudzon begitu, mereka mau mencuri apa di pemakaman. Nanti kita tanya mereka mau apa datang ke pemakaman keluarga kita."


"Ko aku curiga, kayanya mereka itu lagi syuting uji nyali deh. Tapi kenapa ngadain uji nyalinya pagi-pagi begini, bukanlah jam segini dedemit nya masih pada bobo." Tutur ustadz Usman.


"Sssttthhh."


Sesampainya mereka di pemakaman.


"Assalamualaikum."


Pak Beno dan kedua bodiguard nya langsung menatap ustadz Usman dan ustadz Soleh.


"Kalian sedang apa di pemakaman?" Tanya ustadz Soleh.


"Kita lagi nyari rumahnya Dokter Husna." Jawab pak Beno. Tentunya mendengar itu Ustadz Usman dan ustadz Soleh langsung mengernyit.


"Ngapain nyari rumah Dokter Husna di pemakaman. Dokter Husna belum almarhum, rumahnya ada ditengah-tengah rumah warga, sebelahnya klinik." Ustadz Usman memberitahu.


"Kita dikerjain dua sekuriti didepan. Kalau aku ketemu yang punya pesantren ini, akan kusuruh untuk memecat sekuriti kembar itu." Gerutu pak Beno.


"Lagi dan lagi si kembar ngerjain orang hingga mereka tersesat di pemakaman. Sungguh terlalu kelakuan kedua sekuriti ku itu." Batin ustadz Usman.


"Kalau kalian ingin ke rumahnya Dokter Husna, mari saya antar ke klinik, biasanya jam segini Dokter Husna dan putrinya sudah berada di klinik." Ujar ustadz Soleh.


Akhirnya ustadz Soleh mengantarkan pak Beno dan kedua bodiguard nya ke klinik, sementara ustadz Usman pergi kembali ke perkebunan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Zahira terdiam menatap ustadz Soleh yang bersama tiga laki-laki yang belum dikenalnya.


"Ustadz Soleh mereka siapa?" tanya Zahira.


"Ini saudaranya Dokter Husna." jawab ustadz Soleh. Zahira pun mengangguk-angguk.


"Saya pak Beno, salah satu orang terkaya di Jakarta." ujar pak Beno dengan nada sombongnya. Zahira sudah menganga.


"Salah satu orang terkaya di Jakarta tapi modelnya begini. Muka sama warna kulitnya tidak melambangkan orang kaya. Harusnya kalau banyak uang itu bisa pergi ke salon tiap hari biar muka sama warna kulitnya itu GLOW pake WING alias glowing. Sungguh menyedihkan orang kaya penampilannya masih kalah jauh sama orang sederhana seperti kak Yusuf. MI pake RIS, miris." batin Zahira.


Zahira sudah tersenyum, kali ini dia yang memperkenalkan diri.


"Kenalkan juga saya Zahira Rahmadia Alfiqri, perempuan paling cantik dan paling mempesona di wilayah ini, tapi jangan genit padaku ya, soalnya aku sudah punya suami, yaitu si Yuyu ku tersayang."


Pak Beno dan kedua bodiguard nya sudah mengernyit, begitu juga dengan ustadz Soleh.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, aku pun sudah mempunyai dua orang istri."


Zahira sudah menganga.


"Ini orang serakahnya pake banget."


"Pasti di Jakarta tidak ada perempuan secantik diriku kan?, berarti pak Beno salah satu orang yang paling beruntung bisa bertemu denganku. Oh iya ustadz Soleh, biar aku yang mengantarkan pak Beno ke klinik, kebetulan aku sama Yura mau pulang dan melewati klinik." ujar Zahira. ustadz Soleh pun mengangguk.


Kini Zahira yang mengantarkan Pak Beno dan kedua bodiguard nya, sementara ustadz Soleh kembali ke perkebunan.


"Pak Beno ini blasteran Indonesia-Papu* ya?" tanya Zahira hingga pak Beno langsung mengernyit, sementara kedua bodiguard nya sudah cekikikan tak bersuara.


"Sembarangan kalau ngomong."


"Sssttthhh jangan suka marah-marah loh pak, nanti kulitnya tambah item. Masa salah satu orang terkaya di Jakarta kulitnya i pake tem alias item."


Pak Beno mendadak emosi bertemu dengan Zahira.


"Ngomong-ngomong pak Beno inikah salah satu orang terkaya di Jakarta, kalau boleh tau nyimpan uangnya dimana?, dibawah tempat tidur, didalam gentong beras atau didalam celengan Semar?" tanya Zahira. Pak Beno mulai kesal.


"Ya tentu saja aku menyimpan semua uangku di Bank." jawab pak Beno sambil menggerutu.


"Oh di Bank ya. Sebenarnya aku juga punya Bank, tapi belum bisa dipercaya kualitasnya."


"Bank apa?" Pak Beno mulai kepo.


"BANK MUKLIS, he he he." Zahira sudah tertawa-tawa hingga pak Beno menggeram kesal. Ia benar-benar pusing dan naik darah.


"Kita tidak perlu diantar, sekarang kau tunjukan saja dimana lokasi kliniknya." ujar pak Beno. Seketika Zahira langsung nyengir.


"Kalau aku kerjain sedikit pak Beno boleh gak ya. Sepertinya boleh, seperti biasa biar om ustadz yang menanggung dosanya. hi hi hi."


Zahira pun memberikan petunjuk yang salah pada pak Beno dan anak buahnya.


"Dari sini lurus nanti belok kiri, inget ya belok kiri jangan belok kanan, kalau belok ya ke kanan nanti jadi alamat palsu." ujar Zahira.


"Hmmmm."


Pak Beno dan kedua bodiguard nya langsung pergi mencari klinik dan meninggalkan Zahira dan Yura.


Zahira sudah menatap kepergian mereka.


"Aku yakin pak Beno ini bukan saudaranya Dokter Husna maupun sodaranya Rania dari Jerman, ia datang ke klinik pasti mau oprasi warna kulit."


Sesampainya pak Beno dan kedua bodiguard nya di tempat yang diinstruksikan Zahira, mereka bertiga langsung mengernyit.

__ADS_1


"Bos, ko kita balik lagi ke pos sekuriti sih." ujar salah satu bodiguard itu ketika mereka sampai di pos sekuriti depan. Zahira memberi instruksi ke pos sekuriti bukan ke klinik. Pak Beno langsung menggeram, lagi-lagi ia kena dikerjain orang.


__ADS_2