
Sore pun tiba. Saat Dokter Husna mau mengingatkan putrinya untuk pergi ke rumahnya ustadzah Ulfi, tiba-tiba Dokter Husna mengernyit kesal ketika melihat paper bag yang baru dibeli dibutik ya Anisa, rupanya isinya semua kemeja bukan gamis.
"Rania....."
"Iya Bu."
Dokter Husna sudah memperlihatkan isi paper bag itu hingga Rania tersenyum malu. Ia tau kalau ibunya itu kini sedang marah.
"Kenapa kau membeli banyak kemeja begini. Ibu kan menyuruhmu untuk membeli gamis." Dokter Husna menggerutu.
"Maaf Bu, sampai di butik aku lupa membeli gamis, kemeja-kemejanya pada cantik-cantik, udah kaya magnet yang maksa aku buat beli dan akhirnya aku beli deh. He he." Ujar Rania sambil tertawa diakhir kalimatnya. Dokter Husna sudah menggeleng-geleng kesal.
"Aku pergi dulu ya ke rumahnya ustadzah Ulfi, tidak mau terlambat, kalau terlambat bahaya. Kalau cuma diomeli sih gak masalah, yang masalah itu ketika ustadzah Ulfi marah tapi yang dibahasnya cuma kecantikannya saja. Dia merasa makhluk paling cantik dimuka bumi, sementara aku harus pasrah dibilang jelek. Katanya aku gak boleh iri, apalagi dengki" Tutur Rania.
Dokter Husna masih heran dengan Ustadzah Ulfi yang putrinya maksud itu, setau dia ustadzah Ulfi tidak seperti itu. Dan setau Dokter Husna, kelakukan yang diceritakan putrinya itu seperti kelakuan menantunya ustadzah Ulfi (Zahira).
Rania sudah mencium tangannya Dokter Husna.
"Aku berangkat ya Bu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Yakin gak mau pake baju gamis?" Tanya Dokter Husna.
"Nanti saja kalau aku sudah siap."
Rania pun pergi dan berjalan kaki menuju rumahnya Ustadzah Ulfi.
Sesampainya di rumah ustadzah Ulfi, Rania pun sempat menatap pohon mangga yang tinggi dan besar itu.
"Ini pohon mangga ada dedemit nya gak ya?, Pasti ada deh, dedemit nya suka merasuk ke tubuhnya ustadzah Ulfi, hingga dia selalu bersikap bahwa dirinyalah perempuan paling cantik dimuka bumi. Sungguh terlalu" Batin Rania.
Rania sudah mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Ustadzah Ulfi sudah membukakan pintu, ia tersenyum melihat Rania.
"Rania ya, putrinya Dokter Husna?" Tanya ustadzah Ulfi.
"Iya aku Rania, ustadzah Ulfi nya ada?"
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
"Saya ustadzah Ulfi, mari silahkan duduk, maaf ya kita belum sempat berkenalan."
Rania langsung mengernyit. Kalau ini ustadzah Ulfi, lalu perempuan narsis itu siapa, itu pikirnya.
"Ibu ustadzah Ulfi?" Tanya Rania memastikan.
__ADS_1
"Iya saya ustadzah Ulfi, kenapa memangnya?" tanya ustadzah Ulfi sambil tersenyum.
"Beberapa hari yang lalu aku pernah kesini dan berkenalan dengan Ustadzah Ulfi, tapi bukan ibu orangnya, dia perempuan yang kulitnya putih, badannya agak kecil, dan dia selalu memuji dan pamer kecantikannya sendiri." Tutur Rania.
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
"Itu menantu saya, Zahira namanya."
Rania sudah menggeram kesal, ia baru sadar kalau dirinya dikerjai oleh Zahira perempuan paling narsis di muka bumi. Rania merasa dirinya selalu jadi korban, selalu dikerjain orang, mendadak merasa jadi orang bodoh.
"Bisa-bisanya aku dikerjain lagi. Kemarin dikerjain sekuriti, sekarang malah dikerjain menantunya ustadzah Ulfi. Inimah bukan kurang asem lagi, tapi kurang cabe. Belajar sabar Rania, mungkin ini ujian mu tinggal disini." Batin Rania menggerutu.
"Mari silahkan duduk."
Kembali ustadzah Ulfi mengajak Rania untuk duduk. Tentunya sikap ustadzah Ulfi dan Zahira sangat berbeda, seperti bumi dan langit.
"Pertama-tama kita kenalan dulu ya. Saya baru tau kalau Dokter Husna punya anak gadis, ini pertama kalinya ya kau tinggal di wilayah pesantren ini?, Apa sebelumnya pernah kemari" Tanya ustadzah Ulfi.
"Iya ustadzah, sebelum kesini aku tinggal di Jakarta, aku baru datang pertama kalinya kesini beberapa Minggu yang lalu."
Ustadzah Ulfi pun memberikan pelajaran agama pada Rania. Rania hanya bisa mendengarkan, ia belum begitu paham. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan pelajaran agama waktu di Jakarta. Dokter Husna yang tinggal di kota A dan sibuk dengan tugasnya, ia hanya bisa mengandalkan orang tuanya di Jakarta untuk mengurus Rania, karena Rania tidak mau tinggal bersama Dokter Husna di kota A.
Setelah pelajaran selesai, ustadzah Ulfi tersenyum sambil mengelus tangannya Rania.
"Mulai sekarang belajarlah untuk memperbaiki penampilan. Pelan-pelan saja. Meskipun kau tidak suka memakai gamis, setidaknya jangan pakai celana jeans yang ketat hingga lekuk tubuhmu terlihat, pakailah kerudung yang menutupi dadamu." Pinta ustadzah Ulfi.
"Saya akan belajar merubah penampilan pelan-pelan."
Setelah Rania pamit, tidak sengaja Rania bertemu dengan Zahira dan Yura yang datang ke rumahnya Ustadzah Ulfi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Rania sudah menyipitkan matanya pada Zahira. Zahira sudah cengengesan, ia tau kalau Rania pasti sudah tau jika dirinya bukanlah ustadzah Ulfi.
"Ira, minta maaf dulu." Pinta ustadzah Ulfi yang tau kalau menantunya itu membohongi Rania.
"Maaf ya Rania, aku sudah bohong padamu soal umi Ulfi, tapi aku berani sumpah kalau aku tidak membohongimu soal kecantikan ku ini. Beneran inimah AS LI no OPLAS." tutur Zahira hingga Rania langsung mengernyit.
"Hadeuuuh inimah Tante Zahira sudah ketahuan bohong tapi kenarsisan ya tidak pernah terkikis."
"Aku pamit dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Rania pun pergi dari rumahnya ustadzah Ulfi sambil sedikit menggerutu.
Rania berjalan pulang namun ia sempat melihat Fadlan sedang berada di perkebunan, tentunya sedang memberi pupuk pada sayuran disana.
"Itu kaya si mas Duda deh, sekarang sedang merangkak menjadi petani. Aku kesana akh." Ujar Rania yang kini berbelok arah menuju perkebunan. Di kebun sudah ada Fadlan dan beberapa orang pekerja.
__ADS_1
Sesampainya Rania di kebun, ia pun mendekati Fadlan.
"Assalamualaikum mas Duda."
"Waalaikumussalam."
Fadlan sudah terkejut dengan kedatangan Rania. Seketika itu pula Fadlan langsung menunduk.
"Mas Duda lagi ngapain?, Ko sudah bekerja saja, jangan terlalu capek loh mas, takut mimisan lagi." Ujar Rania.
"Aku sudah sembuh." Fadlan masih sibuk memberi pupuk tanpa menatap putrinya Dokter Husna itu.
"Aku temani ya, aku juga ingin belajar berkebun." Ujar Rania.
"Jangan, sebaiknya kau pulang, kalau ada yang lihat nanti mereka berpikir macam-macam."
"Tapi disini kan bukan hanya kita berdua, tuh ada banyak pekerja yang lain."
Tiba-tiba.
PRIIIIIIIIIIIIT.
Fadlan pun terkejut dan pasrah pada ustadz Usman.
"Duh, aku lupa kalau disini ada wasit." Batin Rania.
Priiit priiit priiit.
"Idiiih ustadz Usman, ustadz Usman PRIT nya gak usah banyak-banyak, satu kali saja biar irit." Ujar Rania.
"Hei Rania si muka blasteran, ngapain kau disini, pake berduaan dengan keponakan ku. Kalau ada setan yang berbisik ke telinganya si Fadlan gimana. Hati-hati loh keponakan ku ini masih puasa selama 5 tahun. Takutnya dia kerasukan setan nanti kau dibantainya."
Fadlan sudah menganga mendengarnya, ia sedikit kesal pada Om nya itu.
"Om USMAAAAAAAAN."
Fadlan sudah menggeram.
"Ssssttthh, sekarang juga kalian berdua ikut aku ke lapangan."
Fadlan sudah pasrah.
"Apa ustadz Usman akan mengajak kita bermain bola di lapangan?" Tanya Rania sambil berbisik.
"Kita akan dihukum." Jawab Fadlan sambil berjalan mengikuti ustadz Usman menuju lapangan.
"Aku sama si mas Duda mau dihukum berdua di lapangan. Yes yes yes."
Rania malah tertawa girang mendengarnya.
"Mimpi apa aku semalam. Aku mau dihukum berdua sama si mas Duda, berasa mendapatkan door prize."
__ADS_1