Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Di impus


__ADS_3

Masih dengan Fadlan yang kini berada di klinik, ia terpaksa harus di impus. Sarah yang menyuruhnya untuk di impus karena dorongan dan paksaan dari Rania. Fadlan sudah mengerucutkan bibirnya, kesal pada Rania, bukannya Fadlan tidak bisa protes, hanya saja ia tidak bisa menolak keinginan uminya. Sarah begitu khawatir dengan keadaan putranya, jadi mau memberi alasan untuk protes pun pasti ia akan kalah oleh kekhawatiran Sarah.


"Mas Duda, jangan cemberut kaya gitu, aku makin gemes lihatnya." Bisik Rania.


Fadlan sudah mengernyit, ia merasa heran dengan putrinya Dokter Husna yang selalu merasa gemas padanya, bahkan Rania hobby sekali menggodanya. Cuma Rania yang selalu merasa gemas padanya, yang lain tidak ada yang merasa gemas.


"Fadlan, sebaiknya kau menginap saja ya di klinik, hari sudah semakin gelap, nanti Abi mu yang menemani disini, tapi sekarang Abi mu sedang ada urusan di luar, dia juga belum tau kau dirawat di klinik. Umi mau nyuruh Fadli menemanimu, tapi adikmu itu pasti akan mengganggumu disini." Tutur Sarah.


Ya Fadli memang senang menggoda dan mengganggu kakaknya yang pemalu itu, saat pencarian kandidat saja Fadli malah merekomendasikan ibu-ibu dan seorang banci.


"Tidak apa-apa Umi, Abi kalau pulang malem, gak usah nginep disini, takutnya kecapean, biar aku ditemani Zidan saja, aku titip Pipit." Jawab Fadlan.


"Tante Sarah tidak perlu khawatir, biar nanti mas Fadlan aku yang nemenin." Ujar Rania yang kini langsung mengedip-ngedipkan matanya pada Fadlan. Mata Fadlan langsung melotot terkejut dan takut, tak ingin ia ditemani Rania di klinik, dadanya sudah deg degan gak karuan, ia benar-benar takut jika malam ini harus ditemani Rania di klinik.


"Umi, sepertinya aku mendadak sembuh deh, yuk kita pulang." Ajak Fadlan yang kini merinding takut.


Dokter Husna sudah mencubit kesal pada putrinya itu, apalagi disana ada Sarah.


"Ha ha ha, santai saja mas Duda, aku kan cuma bercanda, meskipun ilmu agamaku masih terbilang C pake Tek alias cetek, aku tau ko batasan-batasan." Ujar Rania.


"Jangan minta pulang dulu, kau kan belum sembuh betul, takutnya nyampe rumah kau mimisan lagi." ujar Sarah.


Tidak ada yang tau jika hidung Fadlan berdarah karena hantaman sepatu, mereka taunya Fadlan panas dalam. Fadlan tidak mau masalah sepatu hingga berujung ke kantor polisi.


"Pipit, malam ini menginap ya di rumahnya nenek, besok abi pasti pulang ko." Ujar Fadlan sambil mengelus kepalanya Pipit.


"Mas Duda, biasanya masalah penyakit yang seperti ini di impusnya harus satu Minggu loh" Ujar Rania. Fadlan langsung menganga, sementara Dokter Husna kembali mencubit Rania.


"Ternyata putrinya Dokter Husna itu orangnya senang bercanda ya." Ujar Sarah sambil tersenyum.


"Maaf ya mba Sarah."


Dokter Husna sudah tidak enak hati pada keluarganya Fadlan.


"Saya titip Fadlan ya Dokter, setelah Abinya pulang, dia yang akan menemaninya disini. Aku sama Pipit permisi dulu." Pamit Sarah.


"Mba Sarah tidak perlu khawatir, nanti mas Fadlan saya pantau."


Pada akhirnya Sarah dan Pipit pun pulang, hanya Zidan yang menemani Fadlan. Dokter Husna dan Rania masih berada di klinik. Fadlan sudah duduk menyender di ujung ranjang pasien, sementara Zidan sudah ketiduran.


Rania sudah tersenyum-senyum melihat Fadlan yang hanya diam saja.


"Sstt sstt sstt."


Rania memberi kode. Fadlan pun melirik ya.

__ADS_1


"I LOVE YOU."


ujar Rania sambil tersenyum-senyum. Fadlan langsung menunduk. Seketika Dokter Husna mencubit kembali lengan putrinya.


"Kenapa kau hobby banget menggoda orang." Gerutu Dokter Husna.


"Gak apa-apa Bu, siapa tau setelah digoda oleh putrinya ibu yang cantik ini, si mas Duda langsung sembuh."


"Sedari tadi mas Fadlan sudah sembuh, kau nya saja yang berlebihan menyuruhnya untuk di impus hingga mba Sarah terpengaruh oleh mu." Dokter Husna menggerutu.


Rania sudah menunduk menahan tawanya. Ia kembali menatap Fadlan sambil tersenyum-senyum hingga Fadlan terpaksa pura-pura tidur.


"Cieeee ada yang pura-pura tidur, sepertinya sudah tidak sabar ingin memimpikan ku malam ini." Ujar Rania. Seketika Fadlan langsung membuka matanya sambil cemberut.


"Rania, kau tunggu disini sebentar ya, ibu mau pulang dulu ke rumah, mau ngambil sesuatu." Ujar Dokter Husna pamit.


Kini tinggal Rania dan Fadlan yang masih terjaga.


"Kita sudah seperti kencan di klinik ya." Ujar Rania.


"Kenapa kau selalu menggodaku?" Tiba-tiba Fadlan mengeluarkan pertanyaan. Rania malah mengangkat kedua bahunya.


"Aku sendiri tidak tau. Suka saja."


"Kau tidak takut jika suatu saat kau akan jatuh cinta padaku." Ujar Fadlan. Rania malah tertawa.


"Kau punya masalah?" Tanya Fadlan. Rania langsung menggeleng, tidak mungkin ia bercerita jika dirinya terlilit hutang.


Tiba-tiba Fadlan melihat sepatu yang percis dengan sepatu yang menghantamnya tadi sore.


"Kenapa sepatu sebelahnya ini ada disini, bukankah pasangan sepatu ini yang menyebabkan ku masuk klinik." Batin Fadlan.


"Itu sepatu siapa?, Kenapa cuma ada sebelah?" Tanya Fadlan.


"Oh itu sepatuku."


Mengetahui itu sepatu miliknya Rania, Fadlan langsung menggeram kesal, secara itu sepatu yang mendarat ke wajahnya.


"Sepatu sebelahnya hilang, tadi ketendang ibu-ibu gemuk hingga melayang entah kemana. Padahal ya, itu sepatu kesayanganku, almarhum ayah yang membelikannya, eh sekarang malah hilang sebelah. Tapi aku sudah mengikrarkan sebuah sumpah, jika ada yang menemukan sepatuku yang sebelahnya lagi akan aku kasih hadiah. Kalau perempuan akan kujadikan tetangga, nah kalau laki-laki yang ganteng akan ku jadikan suami." Tutur Rania.


Fadlan langsung melotot mendengarnya. Tadinya Fadlan mau marah karena gara-gara sepatu Rania hingga ia harus berjuang di klinik. Tapi setelah mendengar sumpah Rania ia jadi takut. Fadlan takut jika Rania mengetahui kalau sepatu sebelahnya ada di rumahnya, Fadlan takut Rania akan meminta untuk dinikahi sesuai sumpah yang ia ucapkan itu.


"Mas Duda lihat gak sepatu sebelahnya?"


Seketika itu pula Fadlan langsung menggeleng pasti.

__ADS_1


"Diiih biasa saja kali menggeleng ya, sampe semangat 45 begitu. Gak takut kecetit leher" Ujar Rania.


"Jangan sampai putrinya Dokter Husna itu tau kalau sepatu yang sebelahnya ada di rumahku, bahaya." Batin Fadlan.


"Oh iya mas Duda, kapan akan menemui kandidat calon istri yang calonnya para janda itu?" Tanya Rania. Fadlan hanya menggeleng.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kenapa mas Duda menginginkan seorang istri yang berstatus janda?. Apa menurut mas Duda, gadis perawan itu sudah tidak menarik?" Tanya Rania.


"Kenapa kau begitu ingin tau alasanku?"


"Ya sedikit aneh saja, mas Duda kan masih terlihat muda di usia yang matang ini, keluarga mas Duda juga bisa terbilang orang kaya meskipun kalian hidup sederhana, tentunya perempuan mana yang tidak suka dengan mas Duda. Perawan atau janda, sudah pasti mereka naksir sama mas. Apa karena gadis jaman sekarang banyak yang sudah tidak perawan?" Tutur Rania.


"Aku sudah tidak punya rasa percaya diri untuk meminang gadis perawan. Usiaku sudah kepala 3, bahkan sebentar lagi kepala 4, apalagi aku ini seorang Duda beranak dua."


"Ngapain minder, mas Duda gak pernah buka media sosial ya, sekarang banyak loh lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad, namun mendapatkan gadis perawan. Jodoh kan gak ada yang tau." Tutur Rania.


Tidak lama kemudian datanglah ustadz Soleh dan ustadz Usman. Mendengar Fadlan di rawat di klinik, mereka langsung bergegas pergi ke klinik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah mendekati Fadlan.


"Fadlan kau baik-baik saja?" Tanya ustadz Soleh. Fadlan pun mengangguk-angguk.


"Fadlan katanya kau pendarahan?" Tanya ustadz Usman. Fadlan dan ustadz Soleh sudah mengernyit.


"Mimisan bukan pendarahan. Dikira si Fadlan hamil pake pendarahan." Gerutu ustadz Soleh. Rania sudah menahan tawanya.


"Cuma panas dalam saja kok."


"Panas dalam ko hidungnya sampai bengkak begitu, kau seperti habis dianiaya."


Fadlan sudah menggaruk kepalanya, tidak mau sampai semua orang tau jika ia kena hantaman sepatu, apalagi kalau Rania sampai tau. Sumpah Rania membuatnya berasa takut, takut Rania minta dinikahinya.


Melihat ada Rania disana, ustadz Usman pun berbisik pada keponakannya itu.


"Fadlan, kau tidak diapa-apain kan sama putrinya Dokter Husna itu, secara kan dia itu perempuan yang kau temukan di pemakaman. Setatusnya sebagai manusia masih diragukan, patut dicurigai." tutur ustadz Usman.


"Man, mingkem. Kalau Dokter Husna dengar, dia bisa marah."

__ADS_1


"Kau benar ka, perempuan kalau sudah marah, susah ngakurinnya, itu menurutku."


__ADS_2