
Masih dengan Rania yang kini sedang berdiri menatap aliran sungai diatas jembatan. Rania sudah terisak sedari tadi, hari ini hidupnya terasa kacau. Pak Beno datang untuk memperingatkan hutangnya yang akan jatuh tempo satu Minggu lagi, selain itu rupanya pak Beno memfitnah nya didepan Fadlan hingga si Duda pemalu itu terhasut ucapan si rentenir tua itu.
Harusnya hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk Rania karena si Duda pemalu nanti malam akan melamarnya, namun semua menjadi kebalikannya, Fadlan ingin menyendiri dan tidak mau ditemui. Rania sendiri tidak menyangka, ia datang ke kota A untuk mencari ketenangan, namun tak disangka ia akan bertemu dengan Fadlan yang membuatnya jatuh hati hingga Rania lupa dengan hutangnya, Rania juga lupa menceritakan masalah hutangnya pada Fadlan.
Setelah merasa puas menangis, Rania pun pulang ke klinik. Dokter Husna sudah menunggunya sedari tadi, ia begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Rania kembali terisak dan kini langsung memeluk Dokter Husna.
"Ibu."
"Ada apa Rania?"
Melihat putrinya menangis, kekhawatiran Dokter Husna semakin menjadi.
"Katakan pada ibu, apa yang terjadi?, Kenapa kau menangis?"
Dokter Husna sudah berusaha untuk menenangkan Rania, setelah putrinya itu merasa tenang baru Dokter Husna meminta Rania untuk bercerita.
"Katakanlah, apa yang terjadi?"
"Pak Beno menemui si mas Duda, dia mulai bicara yang tidak-tidak, dan mas Duda sepertinya percaya, dia terhasut dengan ucapannya pak Beno yang mengatakan bahwa aku hanya memanfaatkan mas Duda untuk melunasi semua hutangku. Padahal kan itu semua tidak benar." Tutur Rania. Dokter Husna pun terkejut dan ikut merasa sedih mendengarnya.
"Kau yang sabar ya Ran. Ibu kan sudah menyuruhmu untuk mengatakan masalah hutangmu sebelumnya pada Fadlan. Jadi ketika ia mendengar dari orang lain, ia merasa dibohongi. Apalagi ia mendengar dari pak Beno yang pasti ucapannya akan dilebih-lebihkan." Tutur Dokter Husna.
"Lalu aku harus gimana Bu, mas Duda sepertinya marah padaku, ia merasa di bohongi dan merasa dimanfaatkan oleh ku."
"Berdo'a lah Rania. Lalu bagaimana dengan acara lamaran nanti malam?" Tanya Dokter Husna. Rania langsung menunduk.
"Tidak tau Bu, sepertinya tidak akan ada lamaran nanti malam, si mas Duda nya marah padaku. Dia bilang bagi dia hutangku tidak jadi masalah, tapi yang jadi masalah itu dia terhasut ucapannya pak Beno yang mengatakan jika diriku hanya memanfaatkannya saja, dia mulai ragu dengan cintaku" tutur Rania.
__ADS_1
Dokter Husna sudah mengelus-elus kepalanya Rania mencoba menenangkan nya.
"Yang sabar ya Rania, Allah pasti akan menolongmu."
***
Sementara kini dengan Fadlan yang hanya duduk diam di kamarnya. Ia sudah bingung sendiri dengan semua yang terjadi. Karena terhasut oleh ucapannya pak Beno, Fadlan menyangka Rania tidak mencintainya dan hanya memanfaatkan nya saja.
"Apa Benar dengan yang dikatakan pak Beno jika Rania hanya memanfaatkan ku, dia tidak mencintaiku, dia hanya pura-pura jatuh hati padaku?. Jika itu benar, sungguh bodoh diriku, jelas saja Rania tidak mencintaiku, aku tidak punya kelebihan apapun, wajahku tidak tampan-tampan banget, usiaku juga terpaut jauh darinya, belum lagi statusku yang Duda beranak dua, sementara Rania masih gadis perawan."
Seketika Fadlan hilang rasa percaya diri.
Jika ia memutuskan hubungannya dengan Rania, maka bagaimana dengan putra putrinya yang sudah menyukai Rania, terlebih dirinya.
"Ya Allah, jika memang Rania adalah jodohku, permudahkan jalan kami, tapi jika dia bukan jodohku, biarkan aku melupakannya."
Setelah merasa pikirannya lebih baik, Fadlan langsung pergi ke rumahnya ustadz Soleh yang kebetulan Abi dan Umi nya itu sedang ngobrol dengan Zidan dan Pipit.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Kau sadar dengan yang kau katakan itu Fadlan?" Tanya Ustadz Soleh.
"Aku sadar Bi."
"Lalu apa alasanmu hingga membatalkan lamarannya?" Kini Sarah yang bertanya.
Akhirnya mau tidak mau Fadlan pun bercerita.
"Rania terlilit hutang pada rentenir di Jakarta sebanyak 5 Milyar, jatuh temponya satu Minggu lagi. Rania dan rentenir (pak Beno) itu mengadakan perjanjian hitam diatas putih, jika Rania tidak bisa melunasi hutangnya maka ia akan dijadikan istri ketiganya pak Beno." Tutur Fadlan.
"Astaghfirullah alazim."
__ADS_1
Kembali mereka terkejut mendengarnya. Ustadz Soleh dan Sarah sudah saling lirik. Pipit pun sudah berbisik pada Zidan.
"Kak, lima Milyar itu uangnya ada berapa lembar?"
"Yang jelas nol nya ada sembilan." Jawab Zidan. Pipit sudah melotot terkejut meskipun ia tidak mengerti berapa nol nya sembilan itu.
"Kau mau melepaskan Rania karena dia punya banyak hutang?" Tanya ustadz Soleh. Fadlan pun terdiam kemudian menunduk, ia sendiri bingung harus berbuat apa.
"Entahlah Bi, untuk saat ini aku ingin berpikir dulu. Pak Beno bilang jika Rania hanya memanfaatkan ku saja, Rania tidak mencintaiku, dia mendekatiku biar aku mau menikahinya dan melunasi semua hutangnya. Hutangnya bagiku tidak masalah, yang jadi masalah itu, aku tidak tau Rania mencintaiku atau tidak, aku takut dia hanya pura-pura. Aku butuh sendiri dulu untuk menenangkan pikiran. Tapi yang jelas, malam ini aku batalkan untuk melamar Rania, aku mau cari tau dulu, takutnya Rania hanya pura-pura mencintaiku."
Setelah berpamitan Fadlan pulang bersama Pipit dan Zidan. Fadlan langsung menyender di ujung sofa, matanya sudah terpejam, pikirannya kini mulai semrawut bagai benang kusut.
"Abi percaya dengan apa yang dikatakan pak Beno?" Tanya Zidan.
"Entahlah."
"Kalau Abi tidak percaya kenapa Abi malah membatalkan acara lamarannya?" Tanya Zidan kembali. Fadlan pun terdiam, ia sedang merasa bingung, ia memutuskan acara lamaran karena rasa percaya dirinya hilanglah sudah. Mendengar ucapan pak Beno yang mengatakan jika dirinya tak pantas untuk Rania karena perbedaan usia serta status, membuat Fadlan tidak percaya diri untuk melamar Rania.
"Abi kan banyak uang, kenapa gak Abi bantu saja Tante Rania, Abi bayar semua hutangnya Tante Rania, nanti kan masalahnya beres."
"Bukan itu masalahnya Zidan, masalahnya adalah, Abi tidak tau Tante Rania itu mencintai Abi atau tidak. Abi bisa saja melunasi semua hutangnya, tapi jika Tante Rania nya tidak menyukai Abi lalu untuk apa." Tutur Fadlan.
"Setahuku Tante Rania sangat mencintai Abi."
"Iya, Tante Rania sangat mencintai Abi, buktinya kalau Tante Rania ketemu abi, dia selalu bilang i love you." Ujar Pipit.
"Abi ingin istirahat dulu sebentar ya, Abi minta kalian jangan ganggu dulu." Pinta Fadlan. Kedua anaknya pun langsung mengangguk dan membiarkan Fadlan masuk ke kamarnya.
"Kasihan ya Abi." Ujar Pipit, yang kini sudah berkaca kaca.
"Do'akan saja semoga semuanya baik baik saja. Dan Abi akan tetap melamar Tante Rania."
"Aku juga kasihan ya sama Tante Rania yang punya hutang 5 milyar. Tapi aku juga penasaran, uang 5 milyar yang nol nya ada sembilan itu kalau dihitung ada berapa lembar?" Ujar Pipit.
__ADS_1
"Pipit, jangan terlalu memikirkan berapa lembar uang lima milyar, tapi pikirkan bagaimana caranya agar Abi dan Tante Rania bersatu."