
Hari itu juga setelah ustadz Soleh mendengar cerita dari Fadlan, ustadz Soleh langsung menyuruh Sarah dan Aisyah untuk menemui Dokter Husna dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan Rania.
Seketika itu pula Sarah dan Aisyah langsung pergi ke klinik untuk menemui Dokter Husna. Sebelum sampai di klinik, mereka bertemu dengan Zahira yang hendak menjemput Yura di rumahnya ustadzah Ulfi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Kalian mau pada kemana, ko aku gak diajak?" Tanya Zahira yang mulai kepo.
"Kita ada urusan emergency. Kau jangan ikut dulu karena ini adalah urusan perempuan yang sangat rahasia." Jawab Aisyah sengaja ingin membuat adik iparnya penasaran.
Zahira langsung mengernyit.
"Urusan perempuan?, Dikira aku banci gak boleh ikut." Gerutu Zahira.
"Sssttthhh, maaf kita lagi buru-buru ya Ira, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Sarah dan Aisyah pun melanjutkan langkahnya ke klinik yang sebentar lagi sampai karena klinik sudah dekat. Zahira hanya bisa menatap kepergian mereka, namun ketika melihat mereka berbelok ke klinik, Zahira langsung mengernyit.
"Kalau bicara ada urusan perempuan yang sangat rahasia, bilang saja mau ke klinik mau suntik KB." Gumam Zahira yang kini melanjutkan langkahnya menuju rumah ustadzah Ulfi.
Aisyah dan Sarah sudah membuka pintu klinik sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Dilihatnya Dokter Husna sedang melamun namun ketika melihat kedatangan Aisyah dan Sarah, Dokter Husna pun tersenyum dan menghampiri mereka. Setelah berbasa-basi, Sarah pun mengungkapkan niatnya datang ke klinik.
"Kami datang kesini untuk minta penjelasan dari Dokter Husna mengenai Rania." Ujar Sarah.
Dokter Husna langsung terdiam, ia yakin Sarah dan Aisyah ingin membahas soal Rania yang terlilit hutang.
"Sebenarnya Rania datang kesini awalnya hanya ingin mencari ketenangan. Di Jakarta ia meminjam uang pada rentenir sebanyak 5 Milyar, uang itu ia pakai untuk membangun dan mengembangkan usaha cafe nya, selama dua tahun cafe itu berjalan, namun tiba-tiba cafe nya kebakaran." Tutur Dokter Husna.
__ADS_1
Tentu saja Sarah dan Aisyah terkejut.
"Astaghfirullah alazim."
Kembali Dokter Husna menceritakan.
"Setelah kebakaran Rania sudah tidak punya penghasilan, dan tidak bisa membayar cicilan hutangnya pada pak Beno, selama dua tahun ini dia hanya bisa membayar bunganya saja. Setelah pak Beno tau kalau cafe nya kebakaran ia langsung menagih hutang karena memang sudah jatuh tempo. Pak Beno malah memberikan sebuah perjanjian hitam diatas putih, kalau sampai Rania tidak bisa melunasi hutangnya dalam waktu tiga bulan, maka Rania harus mau dinikahi pak Beno dan menjadi istri ketiganya."
Sarah dan Aisyah kembali terkejut.
"Astaghfirullah alazim."
"Rania mau dijadikan istri ketiga???"
"Maaf sebelumnya kalau Rania tidak bercerita, tapi Rania sama sekali tidak berniat mempermainkan mas Fadlan, dia sangat mencintainya. Rania juga tidak memanfaatkan mas Fadlan, dia sama sekali tidak berniat untuk memanfaatkan mas Fadlan dan menguras hartanya. Itu sama sekali tidak benar, pak Beno hanya memfitnah Rania. Percayalah, putriku tidak sejahat itu." Tutur Dokter Husna.
"Dokter Husna yang sabar ya, kita percaya ko pada Rania. Mungkin ini adalah ujian untuk cintanya Rania dan Fadlan." Ujar Aisyah.
"Ngomong-ngomong Rania nya kemana?" Tanya Sarah.
"Rania sedang mengurung dirinya di kamar, mungkin dia sedang sedih, mas Fadlan sepertinya sedang menjauhinya. Padahal tadi pagi dia begitu bahagia ketika mas Fadlan mengatakan bahwa dia akan melamar Rania, namun sepertinya mas Fadlan termakan hasutannya pak Beno." Ujar Dokter Husna.
Rania belum tau jika Fadlan membatalkan rencana lamarannya. Pasti Rania akan sedih mendengarnya. Setelah mendengar semuanya, akhirnya Sarah dan Aisyah pulang ke rumahnya ustadz Soleh, seketika itu pula miting diadakan.
Ustadz Soleh, ustadz Usman, Riziq, Fadil, Sarah, Nisa, dan Aisyah sudah berkumpul.
"Kata Dokter Husna, Rania memang mempunyai hutang pada pak Beno (rentenir) saat di Jakarta sebanyak 5 Milyar. Rania menggunakan uang itu untuk bisnis usahanya di cafe, namun tiba-tiba cafe nya kebakaran dan tidak ada yang bisa diselamatkan. Karena hutangnya sudah jatuh tempo, akhirnya pak Beno membuat sebuah perjanjian dengan Rania, jika dalam tiga bulan Rania tidak bisa melunasi semua hutangnya maka Rania harus mau jadi istri ketiganya, baru hutangnya dianggap lunas." Sarah dan Aisyah menceritakan.
Semua terkejut dan ikut bingung.
"Jadi Rania melakukan perjanjian dengan pak Beno jika dalam tiga bulan dia tidak bisa melunasinya maka Rania harus mau jadi istri ketiganya." Ujar ustadz Soleh.
"Berarti kalau hutangnya tidak bisa dilunasi, Rania harus mau jadi istri pak Beno." Ujar Fadil.
"Katanya waktunya itu tinggal satu Minggu lagi."
"Satu-satunya cara agar Rania terlepas dari pak Beno ya harus dibayar hutangnya." Ujar ustadz Usman.
__ADS_1
"Tapi uang 5 milyar itu gak sedikit loh, aku saja belum pernah melihatnya." Ujar Aisyah yang kini mulai membayangkan ada berapa gepok uang 5 milyar itu.
"Kalau kau ingin melihat uang sebanyak itu, datang saja ke rumahku. Sebagai kakak yang baik, aku ijinkan kau untuk mengintip uang yang ada dibawah tempat tidurku." Ujar Ustadz Usman.
"Tapi aku tidak tertarik dengan uang gepokan yang ada dibawah tempat tidurnya kak Usman." Aisyah menolak.
"Jelas kau tidak akan tertarik dengan uang gepokan yang ada dibawah tempat tidurku, karena kau cuma tertarik menggoda suamimu diatas tempat tidur."
Aisyah sudah cemberut, bahkan Nisa sudah mencubit lengan suaminya.
"Sssttthhh."
Kembali mereka pokus pada masalahnya Fadlan.
"Kak, kalau si Fadlan benar-benar mencintai putrinya Dokter Husna, apa tidak sebaiknya kita tolong si Rania, kita bantu si Rania untuk melunasi hutangnya, uang dibawah tempat tidurku sepertinya cukup untuk melunasinya. Nanti abis panen sayuran kau ganti uangnya, kalau perlu dilebihin 50% hi hi hi." Ujar ustadz Usman pada kakaknya.
"Ikh kak Usman rupanya cs nya pak Beno, sama-sama rentenir." Ujar Aisyah.
"Bercanda doang Aisyah."
"Kalau menyangkut soal uang, aku yakin Fadlan pasti punya tabungan, dia pasti bisa melunasi semua hutangnya si Rania, tapi masalahnya, si Fadlan itu sudah termakan ucapannya pak Beno. Fadlan sepertinya ragu dengan cintanya si Rania, ia merasa Rania hanya memanfaatkan nya. Tiba-tiba dia mulai hilang rasa percaya diri dengan kejadian ini, pasti dia merasa kurang pantas karena berstatus duda beranak dua. Fadlan juga pasti mulai ragu dengan cintanya si Rania" Tutur ustadz Soleh.
"Entah kenapa aku merasa ada suatu kejanggalan dengan kebakaran cafenya Rania." Riziq mulai curiga.
"Kejanggalan bagaimana?"
"Entahlah, bukannya suudzon, tapi kaya ada sesuatu yang aneh, tiba-tiba cafe nya kebakaran. Emang si Rania sudah tau asal muasal kebakaran itu?" Ujar Riziq kembali.
"Maksudnya ada unsur kesengajaan dalam kebakaran itu?"
"Kata Dokter Husna sih kebakarannya diakibatkan oleh kelalaian karyawannya saat di dapur. Tapi belum tau juga sih, siapa tau itu semua cuma akal-akalan saja untuk menutupi kebenarannya"
"Bisa jadi kebakaran itu ada unsur kesengajaan. Tiba-tiba cafe nya kebakaran dan pak Beno juga memintanya untuk melunasi semua, bahkan meminta Rania menjadi istri ketiganya kalau hutangnya dalam waktu tiga bulan tidak lunas." Riziq curiga.
Semua terdiam dan mulai curiga ke arah situ.
"Bisa jadi itu Le, bukannya mau suudzon, bisa saja kalau pak Beno itu sudah lama menyukai Rania, dia merencanakan kebakaran itu untuk menyudutkan Rania, memanfaatkan hutang Rania biar Rania mau jadi istri ketiganya pak Beno." Ujar Aisyah.
__ADS_1
"Kita selidiki saja dulu, aku akan meminta AL untuk menyelidiki kasus ini, mudah-mudahan ada titik terang." Ujar Riziq.