Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Rencana


__ADS_3

Keesokan harinya, Rania sudah berdiri dipinggir jembatan, kembali ia mulai bingung karena pak Beno akhir-akhir ini sering memberinya pesan untuk segera membayar hutangnya.


"Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu. Tabungan ibu juga gak sebanyak itu, aku pun juga tidak mungkin memakainya. Mungkin ini salahku, aku yang awalnya tidak mengerti kalau pinjaman di rentenir itu haram (riba). Mudah mudahan akan ada keajaiban yang akan membebaskan ku dari masalah ini." Batin Rania.


Rania masih menatap air sungai yang mengalir dengan tenang. Tiba tiba dari kejauhan ia dapat mendengar suara ribut-ribut, dilihatnya ada Fadlan, Pipit dan juga Zidan sedang berjalan hampir mendekat, mereka bertiga mau pergi ke makamnya Amara. Rania sudah tersenyum-senyum melihat mereka kompak jalan bertiga.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Kalian mau pada kemana, ko Tante Rania gak diajak sih." Ujar Rania. Fadlan hanya diam menunduk, ia sudah ingin melangkahkan kakinya namun kedua anaknya sigap mencegah.


"Sstth ssth ssth."


Rania sudah memberi kode.


Fadlan mendengar dan pura-pura tidak mendengar, ia hanya menundukkan kepalanya, buru-buru berjalan melewati putrinya Dokter Husna itu, namun Pipit dan Zidan kembali menghalanginya.


"Sstt sstt sstt."


Fadlan sempat melirik hingga Rania langsung tersenyum.


"I LOVE YOU."


Karena Fadlan tidak menjawab, akhirnya Zidan dan Pipit berinisiatif untuk menjawabnya.


"I LOVE YOU TO."


Fadlan terkejut ketika kedua anaknya menjawab seperti itu, hingga ia langsung membungkam mulut putra putrinya itu sambil menariknya untuk segera pergi. Seketika Rania langsung tertawa tawa melihatnya.


"Sangat, sangat menggemaskan."


Rania hanya bisa menatap kepergian mereka, tiba tiba hatinya merasa sunyi dan gelisah.


"Kalau sampai aku tidak bisa membayar hutang, apa aku harus melupakan mas Duda karena aku harus menikah dengan pak Beno. Apakah aku sanggup menjauhi mas Duda yang begitu menggemaskan itu. Atau dia hanya akan menjadi kenangan manis dalam hidupku, yang lama-kelamaan akan sirna di makan waktu?." Batin Rania.


Rania merasa sedih, sekalinya ia jatuh cinta harus ada masalah yang harus dihadapinya.


"Apa kau cuma akan jadi kenang-kenangan selama aku tinggal disini?. Atau kau hanya akan jadi cerita ketika aku kembali ke Jakarta?"


Sementara dengan Fadlan, Pipit dan juga Zidan yang baru sampai ke pemakaman keluarganya. Fadlan nampak mengernyit melihat ada setangkai bunga lili segar diatas makam istrinya.


"Siapa yang menaruh bunga ini?, Sepertinya bunganya masih segar, itu artinya belum lama ini ada orang yang berjiarah ke makamnya Amara." Batin Fadlan.


Fadlan sudah menatap sekeliling mencari orang yang menaruh bunga itu.


"Abi nyari siapa?" Tanya Pipit.


Fadlan tersenyum dan menggeleng.

__ADS_1


"Abi lagi gak nyari Tante Kun Kun bkan?" ujar Zidan. Kembali Fadlan menggeleng.


Mereka pun membersihkan makamnya Amara, lalu berdoa bersama disana. Pipit sudah mulai berkaca-kaca begitu juga dengan Zidan, mereka rindu pada ibunya. Fadlan sudah mengusap kepala putra putrinya itu.


"Do'akan saja semoga umi kalian ini mendapatkan tempat terindah disisi Allah."


"Aamiin."


Setelah selesai berjiarah, mereka pun berjalan pulang melewati perkebunan. Di perkebunan sudah ada Riziq, Ibra, ustadz Rasyid, Yusuf dan Adam.


"Assalamualaikum."


Fadlan mendekati mereka.


"Waalaikumussalam."


"Maaf boleh aku tanya, apa kalian tadi melihat ada seseorang yang datang ke pemakaman?" Tanya Fadlan yang masih penasaran dengan bunga lili yang ada diatas makam istrinya.


"Tidak lihat, baru datang soalnya." Jawab Riziq.


"Sama aku juga baru datang." Adam ikut menjawab.


"Sepertinya tadi kalau tidak salah ada seorang perempuan yang pergi ke pemakaman, cuma tidak tau itu siapa, soalnya jaraknya terlalu jauh." Jawab Ibra.


"Ya aku pun melihat ada perempuan berjalan menuju pemakaman." ustadz Rasyid ikut menjawab.


"Emang kenapa Lan?" tanya Riziq.


"Oh tidak apa apa Om, aku pulang dulu, asalamualaikum." Pamit Fadlan yang kini mengajak Zidan dan Pipit kembali berjalan. Sebelum pergi, Pipit sempat berteriak.


"Om Yusuf, nanti sampaikan pada si Yura, besok kita akan mengadakan sesi curhat." Ujar Pipit.


Semua yang mendengar pun langsung tertawa.


"Ngajakin si Yura curhat mah ujung-ujungnya cuma ngomongin kecantikan, sama seperti mommy nya." Ujar Adam sambil menahan tawanya.


***


Malam pun tiba, Fadlan sedang asik nonton televisi bersama Pipit dan Zidan. Pipit sempat berbisik pada kakaknya itu hingga Zidan langsung mengangguk-angguk.


"Bi."


"Hmmm."


"Besok malam kita makan yu di restoran, sudah lama loh kita gak makan bareng di luar." Ujar Zidan. Fadlan terdiam kemudian mengernyit.


"Tumben ngajakin makan diluar?" Tanya Fadlan.

__ADS_1


"Iya Abi, aku mau makan di restoran, tapi nanti malam saja. Mau ya Abi, tapi jangan ngajak Mbah Soleh atau nenek Sarah, apalagi Mbah Usman. Pokoknya cuma kita bertiga." Tutur Pipit.


"Mau ya Bi, plis pake harus." Zidan memohon hingga Fadlan mengangguk setuju, memang sudah lama mereka tidak pergi bertiga.


"Iya, nanti malam kita makan di restoran." Ujar Fadlan.


"Yes yes yes."


"Tumben sekali anak-anak ngajakin makan diluar bertiga. Sepertinya aku mencium bau mencurigakan." Batin Fadlan.


Setelah Fadlan setuju untuk makan malam bersama, paginya Zidan langsung menemui Rania di klinik.


"Assalamualaikum Tante Rania."


"Waalaikumussalam."


Rania merasa heran jika Zidan menemuinya.


"Ada apa Zidan, tumben kau kemari. Pasti Abi mu yang nyuruh ya." tebak Rania sambil tersenyum senyum.


Zidan sudah celingak celinguk, kebetulan Dokter Husna sedang sibuk di ruangannya. Rania nampak mengernyit melihat putranya si Duda pemalu itu celingak celinguk seperti orang yang mau mencuri.


"Tante, aku ada bisnis." Zidan langsung membisikan sesuatu. Seketika itu pula Rania langsung tersenyum senyum.


"Abimu mengaja Tante untuk makan malam romantis di restoran?" Tanya Rania memastikan. Tentunya Zidan langsung mengangguk-angguk. Rania berasa senang bukan main.


"Duuuh si mas Duda ngajakin aku makan malam romantis, tapi kenapa yang ngundang anaknya, kenapa gak dia sendiri, ikh dasar pemalu."


Rania sudah tersenyum-senyum, senang bukan main mendapatkan undangan makan malam romantis dari si Duda pemalu.


"Tante Rania nanti malam dandan yang cantik ya, nanti Abi juga akan dandan yang ganteng. Tapi Tante jangan bilang-bilang pada siapapun, soalnya ini rahasia, takut nanti ada yang ganggu." Ujar Zidan sambil memelankan suaranya.


"Ok siap, Tante pasti akan dandan yang cantik, cantik banget pokonya, tuh si Tante Zahira saja kalau lihat kecantikan ku, pasti dia akan merasa iri dan dengki." Tutur Rania.


Zidan malah tertawa ketika Rania menyebut nama Zahira.


"Tante Zahira jangan sampai tau ya, nanti dia akan merajuk pada om Yusuf untuk makan malam berdua di restoran, takutnya nanti Tante Zahira mengacaukan makan malam Tante sama Abi." Tutur Zidan.


"Ok, urusan Tante Zahira mah gampang."


"Aku dan Pipit akan atur semuanya. Ini nama restoran dan alamatnya, pokoknya habis isya Tante langsung otw kesini ya. Ingat, jangan sampai terlambat." Pinta Zidan.


"Siap, pokoknya Tante gak akan terlambat, kalau perlu habis Ashar Tante langsung berangkat ke restoran." Ujar Rania. Zidan yang mendengar pun malah tertawa.


Dokter Husna yang mendengar suara orang tertawa pun keluar dan menghampiri nya, takutnya ada pasien datang namun rupanya Zidan yang datang.


"Kalian sedang ngapain ketawa-ketawa begitu?" Tanya Dokter Husna curiga.

__ADS_1


"Ikh ibu suka kepo deh, ini rahasia antara calon ibu sama calon anak."


__ADS_2