Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Berdarah


__ADS_3

Masih dengan si pengantin baru. Setelah acara resepsi selesai, Fadlan langsung memboyong Rania ke rumahnya. Para penghuni pesantren sudah sepakat jika mulai malam ini hingga seminggu kedepan mereka diharapkan bisa mengheningkan cipta agar si pengantin baru tidak terganggu, dan untungnya rumahnya Fadlan berada diujung jadi sedikit lebih aman dari gangguan tetangga.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:30. Kini Fadlan sudah mengajak Rania untuk shalat dua rakaat. Setelah selesai, Fadlan membalikan tubuhnya menatap sang istri, seketika itu pula Rania langsung mencium tangan suaminya, lalu Rania sedikit menunduk memberi kode agar Fadlan mencium keningnya. Bukan Fadlan namanya jika dia tak punya rasa malu. Fadlan malah menunduk menahan malu.


"Mas Suami, jangan sampai aku yang nyosor duluan ya." ujar Rania mengingatkan, seketika itu pula Fadlan dengan malu-malu mencium kening istrinya.


"Baru juga nyium kening si mas Suami pipinya udah merah begitu, gimana kalau dia nyium bibir, sudah pasti pipinya langsung gosong." Batin Rania.


"Mas mau lihat anak-anak dulu ya, takutnya mereka belum tidur." ujar Fadlan yang kini langsung keluar untuk melihat putra putrinya. Rania hanya mengangguk saja.


Malam ini Pipit tidur ditemani Zidan, awalnya kedua anaknya Fadlan sudah diminta untuk menginap di rumahnya ustadz Soleh, namun keduanya menolak, terutama Pipit, ia tidak mau bernasib sama seperti Yura yang selalu dititipkan di rumah neneknya.


Ketika membuka pintu kamarnya Pipit, rupanya Zidan masih asik memainkan ponselnya yang diberikan Fadlan ketika hari libur saja, sementara Pipit sudah tertidur lelap. Malam ini Zidan ditugaskan untuk menjaga Pipit, takut Pipit tengah malah ingin tidur bersama Abi nya.


"Kau belum tidur?"


"Belum Bi, aku belum ngantuk."


Fadlan mendekati ranjang, ia tersenyum melihat putrinya yang kini sudah terlelap. Sesekali Fadlan mengusap lembut kepalanya Pipit.


"Tadi sebelum Pipit tidur, dia bilang katanya dia pengen punya adik." ujar Zidan memberitahu namun matanya masih pokus menatap layar ponselnya. Mendengar itu Fadlan tersenyum, sekali lagi ia mengelus kepalanya Pipit.


"Jagain adikmu ya."


Fadlan kembali masuk ke kamarnya, dilihatnya kamar nampak sepi, sepertinya Rania sedang berada di kamar mandi karena terdengar suara gemericik air. Fadlan membuka baju Kokonya, ia hanya menggunakan kaos putih yang biasa ia gunakan untuk tidur, sarung pun tak pernah lepas dari pinggangnya.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


Cekleeek.


Seketika itu pula Fadlan terkejut dan langsung menutup matanya.


"Astaghfirullah alazim."


Deg.


Deg.


Deg.


Fadlan terkejut bukan main ketika melihat Rania keluar dari kamar mandi menggunakan lingrie berwarna hitam, membuatnya terlihat seksi.


Rania langsung cemberut ketika melihat suaminya menutup mata.

__ADS_1


"Ikh si mas Suami, aku udah dandan super seksi begini dia malah tutup mata. Gereget deh ikh." Batin Rania.


Rania pun mendekati suaminya.


"Mas Suami ko tutup mata sih. Aku udah dandan seksi begini, kalau matanya ditutup, nanti siapa yang akan melihat keseksian tubuhku ini, aku kan sekarang sudah halal. Kalau tak ada yang melihatnya mubazir tau." gerutu Rania.


Malu-malu Fadlan membuka matanya, ia sudah terlihat menunduk, hingga Rania gemas melihatnya.


"Kenapa si mas Suami yang jadi malu, harusnya kan aku yang malu karena aku memakai baju seksi ini, ko jadi dia yang malu sih. HER pake RAN. Kayanya otak kita ketuker deh." Batin Rania.


Fadlan sudah deg-degan gak karuan melihat Rania memakai baju tidur model seperti itu. Rania seolah menantang nafsunya yang selama lima tahun ini ia pendam. Setelah sekian lama Fadlan baru melihat kembali aurat perempuan yang nyata dimatanya, ya tentunya sudah ada lebel cap halal.


"Eaaaa si mas Suami dadanya terlihat kembang kempis begitu, pasti jantungnya sedang mengadakan konser Agnes Mo deh. Dah Dig dug der." Batin Rania.


Rania sudah mengajak duduk di tepi ranjang.


"Kita ngobrol dulu ya mas sebelum kita nyari pahala."


Fadlan sudah menunduk, kali ini ia benar-benar canggung, malu dan juga gerogi.


"Mas Suami, jangan sampai aku cemburu sama lantai ya. Lihat aku jangan lihat lantai. Aku lebih bening loh dari lantai" pinta Rania yang kini mengelus wajah Fadlan agar menatap kearahnya.


"Menurut mas Suami, malam ini aku seksi gak?" tanya Rania yang kini sudah berputar putar di hadapannya Fadlan. Fadlan mengangguk-angguk, tentunya ada reaksi ketika melihat keseksian tubuh istrinya. Tiba-tiba Rania melihat banyak kado bertumpuk dimeja kamar.


"Wah kita dapat banyak kado ya. Mas suami, sebelum mas buka segel ku, kita buka kado dulu ya." Pinta Rania. Fadlan mengangguk, ia sudah mengambil beberapa kado dan ditaruhnya ditempat tidur. Sedari tadi Fadlan sudah mencoba mengatur nafasnya, melihat Rania memakai baju seksi, mendadak Fadlan sesak nafas.


Pertama mereka membuka kado dari Zidan, rupanya Zidan memberi hadiah pernikahan dengan satu toples permen jahe yang berhasil membuat Fadlan bergidik ngeri. Rania sudah tertawa-tawa.


"Putramu begitu sangat perhatian ya mas. Hi hi hi."


Kembali mereka membuka kado dari Pipit yang kini berhasil membuat Fadlan dan Rania saling lirik.


"Popok bayi?????"


"Kata Zidan, Pipit sudah menginginkan adik bayi." Fadlan memberitahu hingga Rania tertawa kecil.


"Sabar ya Pipit, nanti umi cantik kasih adik bayi, untuk sekarang umi cantiknya masih perawan, nunggu abimu buka segel dulu." Rania sudah tersenyum senyum hingga Fadlan pun ikut tersenyum.


Lalu kembali Rania membuka kado dari Zahira yang tentu isinya sudah tidak asing lagi yaitu kalender ajaib yang melegenda. Rania dan Fadlan sudah saling lirik.


"Kalender?????"


"Kenapa Tante Zahira memberi kado kalender, bukankah kalender itu barang bermanfaat namun terasa biasa saja karena setiap rumah pasti memilikinya, bahkan dibeberapa mini market aku toko-toko di akhir tahun sering dibagikan hadiah kalender secara geratis." ujar Rania yang belum mengerti tentang makna kalender ajaib garapan Zahira.

__ADS_1


Di rumah Fadlan memang sudah terpasang kalender yang bergambar Pipit dan Zidan, ia rasa di rumah itu sudah tidak memerlukan kalender baru lagi.


"Sepertinya yang lebih membutuhkan kalender itu ibu deh. Besok aku akan memasang kalender ini di klinik." ujar Rania yang kini kembali membuka kado, hingga kini sampailah di kado terakhir dari Silmi dan Faris. Rania sudah terlihat sumringah dengan hadiah yang diberikan adik sepupu suaminya itu.


"Waaah sepatunya cantik banget. Asli dari Jepang." ujar Rania yang kini langsung mencoba sepatu berhak tinggi itu. Fadlan hanya tersenyum.


Sementara dengan Zidan yang asik dengan ponselnya, tiba-tiba ustadz Usman menelponnya, tentu saja Zidan segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Ustadz Usman sengaja menghubungi Zidan dan Pipit untuk memperingatkan mereka agar tidak mengganggu si pengantin baru.


"Ada apa Mbah?" tanya Zidan.


"Kau tidak mengganggu Abi dan umi barumu kan?" tanya ustadz Usman curiga.


"Ya tentu saja tidak."


Tiba-tiba terdengar suara Fadlan menjerit kesakitan. Zidan dan ustadz Usman terdiam.


"AAAAAAAAAAAA."


"Zidan, abimu kenapa menjerit seperti itu?" tanya ustadz Usman khawatir.


"Tidak tau Mbah."


"Sekarang juga kau cek kenapa abimu menjerit, takutnya kenapa-kenapa. Jangan matikan telponnya karena Mbah dalam mode kepo."


"Harusnya yang menjerit kesakitan itu si Rania, bukannya si Fadlan."


Zidan pun diam-diam keluar kamar dan menguping dibalik pintu kamarnya Fadlan. Rupanya Fadlan menjerit karena kakinya terinjak Rania yang kini sudah menggunakan sepatu hak tinggi hadiah pernikahan dari Silmi dan Faris. Rania mencoba sepatu itu sambil berputar-putar dihadapan Fadlan hingga ia tidak sengaja menginjak kaki suaminya hingga jempolnya berdarah.


"Maafkan aku mas, aku tidak sengaja." Rania sudah mengecek kakinya Fadlan.


"Mas suami berdarah." ujar Rania cemas.


"Adduuh Rania, belum apa-apa kau sudah KDRT, ini kalau ketahuan ustadz Soleh bisa-bisa kau dipecat jadi menantu." batin Rania.


Zidan sudah memberitahu ustadz Usman jika Abinya itu berdarah.


"Katanya Abi berdarah Mbah."

__ADS_1


Ustadz Usman sudah mengernyit.


"Keanehan terjadi pada sepasang pengantin baru yang tidak lain adalah keponakan ku sendiri. Si Fadlan yang berdarah, padahal yang perawan itu istrinya."


__ADS_2