Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Menyelamatkan


__ADS_3

Masih dengan ustadz Usman dan ustadz Soleh yang mengikuti Fadlan. Dua mobil itu nampak ngebut di jalan, seolah sedang balapan liar di jalan raya.


"Kita kaya lagi ngejar maling ya. Padahal kita cuma ngejar si Fadlan yang sukanya cuma malu-malu meong" Ujar ustadz Usman.


"Sstth jangan rusak konsentrasi ku." Protes ustadz Soleh. Adiknya itu hanya bisa cemberut.


Fadlan tidak sadar jika ia sedang diikuti oleh Abi nya. Fadlan terus melaju hingga ia berhenti dan memarkirkan mobilnya ke sebuah Bank. Fadlan turun dan langsung masuk.


"Man, si Fadlan masuk ke Bank." Ujar ustadz Soleh yang kini sudah berhenti dipinggir jalan namun masih mengintai Fadlan dari dalam mobil.


"Hadeuuuh kelakuan putramu, mau nabung ke bank saja kaya orang mules nyari toilet" gerutu ustadz Usman.


Mereka pun dengan sabar menunggu meskipun sedari tadi ustadz Usman sudah mengajak pulang.


"Ayo kak kita pulang, putramu itu lagi nabung, masa kita ikutin sih. Kurang kerjaan tau."


Akhirnya ustadz Soleh pun memutuskan untuk pulang, namun baru saja mau menjalankan mobilnya, tiba-tiba Fadlan keluar dari bank sambil membawa tas besar.


"Man si Fadlan keluar."


"Putramu habis ngerampok Bank ya?" Ujar ustadz Usman.


"Sembarangan kalau bicara, mana mungkin si Fadlan merampok Bank." Gerutu ustadz Soleh.


"Kau benar, mana mungkin si Fadlan merampok Bank, merampok hati perempuan saja dia tidak berani. Dia bawa tas besar, kira-kira itu isinya uang atau batu bata?" Ujar Ustadz Usman.


"Sssttthhh, kita ikutin Man."


Fadlan pergi dari Bank sambil membawa tas besar. Ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah penasaran didasari pake banget apa yang akan dilakukan Fadlan jika benar yang ada didalam tas besarnya itu uang.


"Kak ko tiba-tiba perasaanku gak enak gini ya, jangan-jangan didalam tas itu beneran uang, dia datang ke Bank untuk mengambil uang, aku takut si Fadlan terkena hipnotis seseorang yang memintanya uang lewat telepon." Tutur ustadz Usman.


"Man kau bisa mingkem gak, sedari tadi opini mu mengerikan semua." Ujar ustadz Soleh.


"Ok aku mingkem."


Mereka terus mengikuti Fadlan, hingga Fadlan masuk jalur tol ke luar kota.


"Si Fadlan mau kemana, ko kayanya ini arah ke luar kota, seperti arah ke Jakarta." Ujar ustadz Usman yang masih memperhatikan mobilnya Fadlan.


"Man, jangan-jangan si Fadlan mau menemui si Rania, dia mau membayar semua hutangnya si Rania." Tebak ustadz Soleh.


"Bisa jadi kak."


"Hubungi Fadil biar dia menyusul kemari, jangan lupa suruh ajak ustadz Riziq, kalau perlu ustadz Ibrahim juga di ajak. Sekalian kau serlok lokasi kita." Pinta ustadz Soleh yang masih pokus menyetir.


"Ok, sekarang juga aku hubungi si Fadil."


Seketika itu pula Fadil langsung menerima Sambungan telponnya.


"Assalamualaikum Bi."


"Waalaikumussalam. Dil, segera kau susul Abi ke arah Jakarta, ada hal yang sangat genting, kau bawa mobil Abi, sekalian kau ajak om Riziq, si Adam dan ustadz Ibrahim. Segera ya Dil, Abi serlok."


"Ok Bi, aku akan menyusul, sekalian aku juga akan ajak umi Sarah, Tante Aisyah, kak Selebor sama si semok, kalau perlu aku juga akan mengajak ibu mertuaku (Dewi)."


Ustadz Usman langsung mengernyit.


"Ngapain kau ajak mereka, kau disuruh menyusul ke Jakarta karena kita ada misi, bukan mau jalan-jalan ke Monas. Sepertinya kau terlalu banyak makan lalapan daun pandan buatan istrimu." Gerutu ustadz Usman.


"Iya Bi, aku akan ajak om Riziq, si Adam dan ustadz Ibrahim."


Seketika itu pula Fadil menghubungi Riziq, Adam dan Ibra. Tidak begitu lama mereka semua sudah naik mobil bersama Fadil, belum sempat melewati gerbang, mereka malah dihadang Zahira dan Yura yang sedang berjalan bersama Yusuf.


"Stop, kalian mau kemana bawa mobil kenceng begitu, gak takut di tilang si AL?" Tanya Zahira.


"Sssttthhh mingkem dulu Tante Ira, kita ada misi di Jakarta, lagian gak mungkin si AL menilang kami, nih ustadz Ibrahim nya juga ikut. Si AL itu tugasnya bukan nilang kendaraan di jalan, tapi dia bertugas membasmi orang-orang jahat." Tutur Adam.


"Kalian mau ke Jakarta?"


Seketika itu pula Zahira langsung membuka pintu mobil.


"Aku ikut ya, ayo Yura sayang, kak Yusuf ayo naik, kita mau jalan-jalan ke taman mini."


"Ira kita bukan mau jalan-jalan tapi ada misi penting." ujar Riziq.


"Sstth ka Riziq, aku mohon kali ini kak Riziq mingkem." Pinta Zahira.


"Adik durjana."


Dan akhirnya mereka semua ikut menyusul ke Jakarta.


Sementara dengan ustadz Soleh dan ustadz Usman, hampir dua jam mereka mengikuti Fadlan, dan benar saja Fadlan pergi ke Jakarta, biasanya kalau pergi ke Jakarta memakan waktu 3 jam, namun karena ngebut jadi dua jam pun sudah sampai.


Fadlan langsung memasuki pelataran sebuah rumah mewah nan megah di daerah perumahan elit, rumahnya pak Beno yang alamatnya ia dapatkan dari balik suratnya Rania. Fadlan turun dari mobil sambil membawa tas besar itu, ia bergegas untuk masuk ke dalam karena banyak sekali para undangan yang datang, namun ketika para sekuriti meminta kartu undangan pada Fadlan, si Duda pemalu itu tidak memiliki undangan.


"Mana undangannya?"


"Maaf, aku tidak punya undangan." Ujar Fadlan yang kini sudah tidak tahan ingin menerobos masuk takut terlambat.

__ADS_1


"Kalau anda tidak punya undangan anda dilarang masuk." Ujar seorang petugas disana. Karena Fadlan takut terlambat menyelamatkan Rania, akhirnya ia menerobos tanpa izin. Tentunya dua orang sekuriti pun mengejar Fadlan.


"Tunggu."


Ustadz Usman dan ustadz Soleh berlari menghampiri hingga sekuriti pun berhenti mengejar Fadlan.


"Biarkan putraku masuk." Ujar ustadz Soleh.


"Kalian siapa?, Kalian juga tidak bisa masuk kalau tidak punya undangan."


"Inikan acara pernikahan, jadi kita diundang buat ngisi acara pengajian." Ustadz Usman terpaksa berbohong.


"Man."


Ustadz Soleh memberi kode hingga adiknya itu pasrah sambil cemberut lalu bergegas merogoh saku bajunya, diambilnya uang 200.000 dan diberikannya pada sekuriti itu. Ustadz Soleh sudah duluan mengejar Fadlan.


"Nih uang tutup mata. Anggap saja kau tidak melihat kami masuk." Ujar ustadz Usman.


Biasanya uang tutup mulut, tapi kali ini uang tutup mata.


Saat ustadz Usman mau mengejar ustadz Soleh, ia malah ditarik sekuriti itu.


"Apalagi??"


"Kurang 100.000, kalian kan masuk bertiga." Pinta sekuriti. Ustadz Usman langsung mengernyit.


"Hadeuuuh, kalian tidak ada bedanya dengan si Yudi dan si Yuda. Mata duitan." Gerutu ustadz Usman sambil mengambil uang 100.000 dari sakunya bajunya dan diberikan kembali pada sekuriti itu, baru ia dibolehkan masuk.


"Selalu aku yang jadi korban kalau urusan dolar."


Fadlan langsung mencari keberadaan Rania. Rumah mewah itu sudah dipenuhi para tamu undangan.


"Rania kau dimana?"


Mata Fadlan langsung membulat ketika melihat Rania dan pak Beno sudah duduk didepan penghulu.


"TUNGGU."


Teriak Fadlan ketika pak Beno mau mengucapkan Qabul. Semua orang langsung menatap Fadlan yang kini sudah membawa tas besar. Rania langsung tersenyum melihat kedatangan Fadlan, begitu juga dengan Dokter Husna.


"Mas Duda."


Pak Beno langsung menggeram dan memerintahkan penjaga untuk mengusir Fadlan. Seketika itu pula beberapa orang sekuriti sigap menghampiri Fadlan.


"Keluar, jangan rusak acara ini."


"Aku datang kesini untuk membayar semua hutangnya Rania." Ujar Fadlan. Mendengar itu Rania sangat senang sekali.


"Bebaskan Rania." Ujar Fadlan.


Rania langsung berdiri dan hendak berlari mendekati Fadlan, namun pak Beno sigap menahannya.


"Maaf Fadlan, kau terlambat, jatuh temponya itu kemarin, hari ini aku akan tetap menikahi Rania. Uangku sudah terlalu banyak, aku tidak butuh uangmu." Ujar pak Beno dengan sombongnya.


Ustadz Soleh dan ustadz Usman masuk, dugaannya benar jika Fadlan mengambil uang ke Bank untuk membayar hutangnya Rania.


"Aku tidak mau menikah dengan mu." Rania berontak namun tangannya sudah dicekal pak Beno. Semua tamu undangan hanya bisa menonton dan tidak bisa membantu karena pak Beno orang yang sangat nekat.


"Kau tidak boleh curang seperti itu pak Beno, putraku datang kesini untuk melunasi hutangnya Rania, jadi bebaskan Rania, dari pernikahan paksa ini." Tutur ustadz Soleh.


"Sekuriti tangkap mereka bertiga." Pinta pak Beno. Segerombolan sekuriti yang tidak lain adalah anak buahnya pak Beno sudah mengepung dan akhirnya terjadi pergulatan antara Fadlan, ustadz Soleh dan ustadz Usman dan semua anak buahnya pak Beno.


BRUUGH BRUUGH JEBREEED BUK BUK PRAII JEBREEED AWW.


"Lepaskan aku."


"Mas Duda, tolong aku." Rania sudah berteriak.


Fadlan sudah berusaha menolong namun sayang, sekuriti disana terlalu banyak, sedari tadi ia sudah berdo'a agar Allah menolongnya.


"Ya Allah, selamatkan kami dari orang-orang zalim ini."


Fadlan sudah beberapa kali kena jotos, begitu juga dengan ustadz Usman. Bayangkan saja anak buahnya pak Beno yang lebih dari belasan orang melawan Fadlan, ustadz Soleh dan ustadz Usman yang hanya tiga orang, apalagi ustadz Usman dan ustadz Soleh usianya sudah tidak muda lagi, terlebih Fadlan yang baperan, melihat orang babak belur saja dia merasa kasihan, Fadlan hanya memukul dengan setengah kekuatan.


Para tamu undangan sudah saling menjerit ketakutan ketika pesta pernikahan itu terjadi keributan yang membabi buta. Pak Beno sudah menggeram melihat kekacauan itu. Apalagi melihat para tamu undangan berlarian keluar karena takut kena sasaran.


"Jangan pukuli mas Duda." Rania sudah berteriak.


Sekuat tenaga mereka bertiga bertahan hingga rombongan Fadil datang. Awalnya mereka datang dengan santainya karena awalnya tidak tau ada keributan.


"Assalamualaikum."


Namun ketika melihat ada kekacauan yang terjadi, terlebih melihat Fadlan, Ustadz Usman dan ustadz Soleh sedang adu jotos, akhirnya Riziq, Fadil, Adam, Yusuf dan Ibra langsung sigap membantu. Zahira sudah membawa Yura untuk sedikit menjauh.


"Duduk disini saja ya sayang, jangan deket-deket takut kena jotos, nanti kecantikan kita bisa berkurang. Mommy mau jadi pahlawan dulu." ujar Zahira. Yura hanya mengangguk patuh.


BRUUGH BRUUGH BRUUGH JEBREEED BUK PRAII PRAII JEBREEED AWW.


Dengan kekompakan rombongan ustadz Usman cs, akhirnya mereka bisa mengalahkan semua anak buahnya pak Beno. Pak Beno sudah menggeram kesal melihat kekalahan, ia masih mencekal tangannya Rania. Seketika pak Beno langsung mengambil sebuah gelas di meja dan memecahkan nya, ujung gelas yang pecah itu ia dekatkan ke wajahnya Rania.

__ADS_1


"Jika kalian berani macam-macam, akan ku rusak wajah cantiknya Rania." Ancam pak Beno. Semua yang melihat nampak terkejut. Rania sudah menangis ketakutan. Dokter Husna sudah berdo'a sedari tadi.


"Lepaskan putriku."


"Jangan sakiti Rania." Teriak Fadlan.


"Mas Duda tolong aku."


Zahira berjalan sedikit mendekat.


"Hei bapak BE pake NO, alias Beno, jangan menghinaku dengan cara seperti ini. Aku tau Rania itu wajahnya cantik perpaduan antara Indonesia-Kalimantan, tapi apa pak Beno tidak bisa membandingkan dengan kecantikan ku yang perpaduan antara langit dan bumi. Kalau pak Beno sudah sadar, lepaskan Rania dan tangkap lah aku. Tukarkan posisiku dengan Rania" ujar Zahira. Mendengar itu semua langsung mengernyit, terutama Yusuf yang kini sudah mendekati istrinya takut istrinya itu kenapa-kenapa.


"Ira jangan bicara seperti itu, itu namanya menantang bahaya." Bisik Yusuf.


"Si Selebor dalam keadaan emergency begini sempat-sempatnya dia merasa paling cantik." (Ustadz Usman).


"Mundur kalian, aku tidak akan segan melukai Rania."


Semua tidak ada yang maju takut Rania dilukai. Pak Beno sudah membawa Rania mendekati pak penghulu.


"Pak penghulu segera nikahkan kami." Pinta pak Beno maksa.


"Aku tidak mau menikah denganmu."


Ketika pak penghulu mau menikahkan pak Beno dengan Rania, tiba-tiba AL dan beberapa rekannya datang dan membawa surat penangkapan untuk pak Beno. AL sudah siap siaga dengan pistolnya begitu pun dengan rekan-rekannya, karena mereka tau saat ini sedang terjadi keributan.


"Assalamualaikum. Permisi pak Beno, kami datang kemari membawa surat penangkapan untuk anda atas kasus kebakaran cafe milik saudari Rania beberapa bulan yang lalu." Ujar AL.


"Akhirnya menantunya si berondong datang juga, jadi tidak perlu adu jotos lagi, soalnya aku belum makan, jadi gak ada tenaga buat berantem lagi." Batin ustadz Usman.


"Apa maksudmu?" Tanya pak Beno.


"Kami sudah mendapatkan bukti jika anda adalah dalang dari pembakaran cafe saudari Rania. Untuk penjelasannya mari ikut kami ke kantor." AL kini sudah mendekati pak Beno meskipun si rentenir itu sudah berontak. Pernikahan pun dibatalkan.


Horeeeee....


Rania begitu bahagia dan bersyukur bisa terbebas dari pak Beno, ia langsung menatap Fadlan yang kini sudah tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah."


"Mas Duda."


Saking bahagianya Rania langsung berlari untuk memeluk Fadlan. Fadlan yang tau jika putrinya Dokter Husna itu mau memeluknya ia langsung menyilang kan kedua tangannya ke tubuhnya sendiri karena merasa takut dipeluk, tentunya karena mereka belum halal.


"Heeei belum halal." Teriak ustadz Soleh mengingatkan.


Rania langsung mengerem kakinya.


"Maaf aku lupa."


Rania sudah menunduk malu.


Dokter Husna pun menghampiri.


"Terima kasih sudah menolong kami."


"Mas Duda terima kasih." Rania sudah tersenyum-senyum, sementara Fadlan sudah menunduk malu.


"Tidak usah main drama kolosal percintaan disini. Buruan pulang." Ujar ustadz Usman.


Akhirnya Fadlan membawa Rania dan Dokter Husna untuk pulang ke kota A. Fadil sudah pulang bersama Riziq, Ibra, Adam, Zahira dan Yusuf.


"Man, ayo kita juga pulang." Ajak ustadz Soleh.


"Sebentar kak, kita makan dulu, aku laper. Tuh banyak perasmanan." Tunjuk ustadz Usman pada perasmanan yang beraneka ragam makanan.


"Kita tidak diundang Man."


"Tapi aku laper, lagian aku sudah ngasih uang 300.000 pada sekuriti depan, anggap saja itu uang kondangan. Jatah makannya si sekuriti itu aku yang ambil."


Akhirnya ustadz Soleh pasrah menunggu adiknya untuk makan, baru setelah itu mereka pulang ke kota A.


Dalam perjalanan pulang Rania sudah menangis di pelukannya Dokter Husna, ia begitu bahagia jika dirinya tidak jadi menikah dengan pak Beno.


Sementara dengan rombongan Fadil, mereka nampak ribut menceritakan kejadian barusan.


"Untung tadi kita tidak telat ya."


"Kak Yusuf, kita tadi berasa jadi pahlawan tapi gak bertopeng ya. Duuuh bahagianya." ujar Zahira sambil tersenyum senyum. Tiba-tiba Yusuf menyetop kan mobil.


"STOOOOOOP."


Seketika itu pula Fadil langsung menginjak rem hingga semua menjerit terkejut.


"AAAAAAAAWWW."


"Ada apa Suf?????"


"Ira, Yura mana?" tanya Yusuf yang sadar jika putrinya itu tidak ada di mobil. Zahira langsung melotot mengingat Yura yang ketinggalan di rumahnya pak Beno.

__ADS_1


"Astaghfirullah alazim Yura."


Semua ikut terkejut. Zahira dan Yusuf lupa kalau mereka mengajak Yura, dan lupa tidak mengajak pulang. Sementara Yura sendiri sekarang sedang asik duduk manis di singgasana pengantin.


__ADS_2