
Hari yang dinantikan pun tiba, Fadlan sudah bersiap, mengenakan baju Koko senada dengan sarungnya, ia terlihat manis ketika mau melamar Rania malam ini. Pipit dan Zidan sudah sedari tadi menatapnya. Melihat Fadlan mengancingkan bajunya lama banget sambil tersenyum senyum.
"Abi lama banget dandannya, ngancingin baju saja lebih dari 30 menit, belum lagi senyumnya yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata." Bisik Pipit pada Zidan.
"Ssttth, biarkan, Abi kita sedang jatuh cinta, dimaklum saja jika Abi lebih fokus pada Tante Rania daripada kancing bajunya." Jawab Zidan sambil berbisik pula.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok tok.
"Fadlan kau sudah siap belum, semua orang sudah menunggumu di luar." Ujar Sarah.
"Iya Mi sebentar."
Fadlan langsung bergegas merapihkan pakaiannya dan bergegas keluar sambil mengajak Pipit dan Zidan. Dilihatnya ustadz Usman, ustadz Soleh, Riziq, Aisyah, Nisa, kiyai Husen, umi Salamah, Adam, Hawa, Silmi, Fadli dan Fadil sudah menunggu.
"Maaf lama."
"Pake baju yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit harus selesai selama 15 jam gara-gara dibarengi oleh lamunan syahdu bersama putrinya Dokter Husna. Tidak tau kalau yang menunggu di ruang tamu sudah pada kesemutan." Sindir ustadz Usman. Fadlan sudah menunduk malu.
"Ayo kita berangkat." Ajak ustadz Soleh.
Mereka berangkat ke rumahnya Rania setelah isya, dan hanya jalan kaki menuju kesana. Fadlan sudah deg degan gak karuan saat ingin melamar perempuan, padahal ini bukan pertama kalinya ia melamar.
Sebelum sampai ke rumahnya Rania, mereka bertemu Zahira dan Yusuf yang mau ke rumahnya ustadzah Ulfi untuk menjemput Yura.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Siapa yang mau melahirkan, ko pada rame-rame begini kaya mau demo naik gaji." Ujar Zahira.
"Gak usah kepo, kita ada urusan penting, jadi hanya orang-orang penting yang boleh ikut." Ujar ustadz Usman sengaja ingin membuat Zahira kesal, tentunya mendengar itu Zahira langsung cemberut.
"Gak apa-apa aku gak penting buat kalian, yang jelas aku sangat begitu penting buat kak Yusuf.,,,, Ia kan kak Yusuf?" Ujar Zahira sambil menatap suaminya. Tentunya Yusuf langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Kesabaran si Yusuf memang tiada tara, patut diacungi 6 jempol, yang empatnya pinjam jempolnya si berondong sama si Aisyah." Batin ustadz Usman.
"Tapi beneran deh aku kepo. Kalian sebenarnya mau pada kemana sih, jangan biarkan aku ubanan gara-gara kepo dong, kan gak lucu ada perempuan cantik jelita rambutnya ada yang nyelip warna putih." Ujar Zahira.
"Si Fadlan mau melamar Rania."
"Sssttthhh jangan banyak penjelasan lagi, itu sudah cukup. Ayo kita segera ke rumahnya Dokter Husna, aku ingin ikut, penasaran pake banget gimana mukanya si Fadlan kalau melamar perempuan." Ujar Zahira.
Dan akhirnya Zahira ikut rombongan, Yusuf tetap pergi ke rumah uminya untuk menjemput Yura.
"Ingat ya Ira, sampai rumahnya Dokter Husna kau jangan buat malu. Kau boleh membuka matamu, tapi kau tidak boleh membuka mulutmu." Pinta ustadz Usman yang takut jika Zahira bicara yang aneh-aneh.
"Ikh om ustadz suka suudzon saja deh." Gerutu Zahira.
Sesampainya di rumah Dokter Husna, Fadlan tiba-tiba mendadak tegang bukan main, deg-degan serta gerogi.
__ADS_1
"Tenang Fadlan tenang."
Tok tok tok tok.
"Assalamualaikum."
Seketika itu pula Yudi dan Yuda membuka pintu dan menyambut mereka.
"Waalaikumussalam."
Semua langsung mengernyit melihat si kembar ada di rumahnya Dokter Husna.
"Eh Yudi, kau sedang apa disini?" Tanya ustadz Usman. Si kembar langsung tersenyum.
"Kita lagi lembur ustadz Usman, sekarang kita disini jadi seksi konsumsi, lumayan buat nambah uang dapur biar istri kita pada nyengir." Jawab Yudi.
"Om Yudi berkhianat ya padaku, kini sudah punya Bos baru." Tuduh Zahira.
"Tenang nona bos, kita tetap anak buahnya nona Bos Ira, meskipun kita tidak digaji nona Bos, kita tetap setia. Mungkin hari ini cuti dulu, soalnya ada proyek sama mba Rania." Tutur Yuda.
"Sssttthhh, jangan berisik."
Akhirnya mereka pun dipersilahkan masuk. Semua sudah berkumpul termasuk dengan Rania yang kini sudah terlihat cantik dengan balutan gamis syar'i berwarna cream, serta warna kerudung yang senada.
Cemilan dan minuman sudah tersedia disana, tentunya Yudi dan Yuda yang menyiapkan. Kali ini Fadlan benar-benar gerogi, hingga keningnya sudah berkeringat dingin. Kepalanya terus menunduk karena malu. Ustadz Usman sudah mencolek keponakannya.
"Kau pake kalung yang bandulnya batu bata ya, sedari tadi kepalamu nunduk terus, diangkat dong." Bisik ustadz Usman.
Fadlan malu-malu mengangkat wajahnya yang kini sudah terlihat berkeringat diwajahnya. Kembali ustadz Usman mengernyit dan kembali berbisik pada Fadlan.
Fadlan sudah menggaruk kepalanya, sedari tadi omnya terus protes membuatnya tambah bingung.
"Maaf Dokter Husna, sebelum acara dimulai, ada kanebo gak, ini calon menantunya udah berkeringat begini." Ujar ustadz Usman. Fadlan kembali menunduk malu, sementara ustadz Soleh sudah mencubit adiknya.
"Man bisa mingkem gak." Ujar ustadz Soleh.
"Bisa kak, tapi jika kak Soleh bawa lakban, tuh lakban saja mulutnya si Selebor."
"Ikh om ustadz suka sembarangan deh." Gerutu Zahira.
"Sssttthhh."
Acara pun dimulai, ustadz Soleh sudah mengungkapkan kedatangannya, yang ingin melamar Rania untuk Putranya (Fadlan). Tentunya dengan seketika itu pula Rania langsung menerimanya. Betapa bahagia hatinya Fadlan, begitu juga dengan keluarga nya, terutama Pipit dan Zidan.
"Alhamdulillah diterima."
Rania sudah tersenyum senyum sambil menunduk, tidak menyangka jika di Duda pemalu kini sudah melamarnya. Setelah acara selesai, mereka pun mengobrol ngobrol terlebih dahulu.
"Sekarang kan acara lamarannya sudah selesai, kira-kira kapan nih acara pernikahannya?" Tanya Riziq.
Ustadz Soleh pun sudah menatap putranya.
__ADS_1
"Lan, sudah siapkah kau menikahi Rania, jika sudah siap, kira-kira kapan waktunya." Ujar ustadz Soleh.
"Secepatnya Bi."
"Lebih cepat lebih baik, takutnya salah satu dari kalian ada yang ketikung di sepertiga sore, soalnya banyak para janda yang masih mengincar Fadlan, Rania juga cantik, takutnya nanti keburu ada yang naksir."
"Fadlan, kapan kau siap menikahi Rania?" Tanya Sarah.
"Lusa aku siap menikahi Rania."
Semua yang mendengar pun langsung tersenyum bahagia serta mengucap syukur. Rania sudah tersenyum-senyum sendiri, bahagianya bukan main ketika mendengar kalau si Duda pemalu itu lusa akan menikahinya.
"Alhamdulillah."
"Rania, siap-siap lusa kau akan jadi seorang ibu, ibunya Pipit dan ibunya Zidan." Ujar ustadz Usman.
"Rania jika kau butuh pagar ayu atau pengantin kecil, aku siap merekomendasikan diri begitu juga dengan Yura." Ujar Zahira.
"Inget umur."
"Aku kan usianya 11 12 sama si Rania, pada iri deh." Ujar Zahira.
"Huuuuuuuu."
"Si Ira so imut."
Semua menyoraki Zahira hingga mommy nya si Yura itu cemberut.
"Pada Zahara deh ikh."
Setelah acara lamaran selesai, rombongan keluarga Fadlan pun pamit pulang. Fadlan pun sudah mendekati Rania dan Dokter Husna.
"Rania, aku pamit dulu, assalamualaikum."
"Mas Duda, mulai sekarang kalau mau pulang selain mengucapkan assalamualaikum, mas Duda juga harus mengucapkan paspor cinta kita biar tambah afdol." Pinta Rania, Fadlan hanya mengernyit tidak mengerti.
"Paspor apa???"
"Paspor cinta kita, jadi setiap kita bertemu atau setiap kita mau pergi, ucapkan kata I LOVE YOU setelah mengucapkan Assalamualaikum." Ujar Rania.
Fadlan langsung menggaruk kepalanya, kata i love you baginya berat untuk diucapkan, sudah seperti memakai kalung yang bandulnya beras satu karung. bukan karena tidak mau mengucapkan kata cinta untuk pujaan hati, tapi karena nya itu loh .
"Mana paspornya mas Duda."
Fadlan sudah celingak celinguk takut ada yang dengar, padahal sepasang mata sedang memperhatikan nya (ustadz Usman).
"I love you."
Fadlan sudah menunduk malu, mau langsung kabur tapi keluarganya masih ada bersamanya.
"I love you to."
__ADS_1
Jawab Rania sambil tersenyum senyum.
"Kelakuan keponakanku, dia malah main tembak tembakan. Gak tau apa sedari tadi kakiku pegel nungguin nya."