Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Jum'atan


__ADS_3

Masih dihari yang sama. Fadlan, Pipit dan Rania pergi ke klinik, selain ingin bertemu dengan ibunya, Rania juga baru ingat kalau mobil Fadlan ketinggalan di klinik.


"Assalamualaikum. ibu."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna tersenyum melihat kedatangan anak menantunya. Dokter Husna juga mencubit gemas pipinya Pipit.


"Pipit sekarang giginya udah sembuh ya, sekarang jarang sakit kan." ujar Dokter Husna.


Pipit mengangguk-angguk.


"Sudah sembuh nenek Umi, dadanya Pipit juga sekarang gak merasa panas kalau melihat si Yura digendong Tante Zahira, justru sekarang si Yura yang kepanasan melihat Pipit digendong umi cantik." tutur Pipit.


"Itu si Yura sedang merasa iri dan dengki, seperti yang dikatakan ibunya." ujar Rania.


"Ibu senang Pipit bisa dekat denganmu, terkadang ada anak yang susah dekat dengan ibu sambungnya. Alhamdulillah Pipit nampak lengket denganmu."


"Ibu tidak tau sih, saking lengketnya dia semalam tidak mau lepas dari pelukanku, kasian bapaknya tersingkirkan. Hingga ujung-ujungnya malam pernikahan keduanya dipending dulu." batin Rania.


"Umi cantik kita jalan-jalan yu." ajak Pipit sambil menarik-narik tangannya Rania.


"Jalan-jalan kemana sayang?"


"Kemana saja yang penting jalan-jalan." Pipit juga sudah menarik tangan Fadlan.


"Ayo Abi."


Akhirnya Rania dan Fadlan mengajak putrinya jalan-jalan. Zidan tidak ikut karena dia ada tugas bersama para santri dan tidak pulang hingga sore.


Setelah kepergian Rania, Fadlan dan Pipit dari klinik, datanglah Aisyah dan Riziq ke klinik. Aisyah merasa kepalanya sedikit pusing hingga ia memutuskan untuk diperiksa Dokter Husna diantar Riziq.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna sudah tersenyum. Riziq memilih menunggu di ruang tunggu yang hanya terhalang gorden dari tempat pemeriksaan.


"Sakit apa mba Aisyah?" tanya Dokter Husna sambil mengecek tekanan darah.


"Kepala sedikit pusing Dok."


Riziq pun menatap sekeliling ruangan itu hingga matanya tertuju pada sebuah kalender yang terpasang di dinding klinik. Iseng-iseng Riziq mencari tanggal dan hari yang sekarang, matanya tiba-tiba membulat ketika ia melihat jika hari ini adalah hari Jum'at.


"Astaghfirullah alazim, hari ini hari Jum'at." Riziq langsung menatap jam tangannya.


"Ya Allah aku sampai lupa kalau hari ini adalah hari Jum'at, untung belum terlambat untuk Jum'atan."


Riziq segera meminta izin pada Aisyah untuk pergi ke masjid.


"Uni, aku ke masjid dulu ya, aku lupa kalau hari ini adalah hari Jum'at, aku mau Jum'atan dulu."


"Hari ini hari Jum'at???"

__ADS_1


Aisyah mencium tangan suaminya saat suaminya akan pergi ke masjid untuk Jum'atan, padahal hari ini adalah hari Kamis. Riziq tidak tau jika semua hari dalam kalender itu adalah hari Jum'at semua.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Riziq pun bergegas pergi ke masjid. Aisyah pun tidak tau jika hari ini adalah hari Jum'at.


"Si berondong lupa kalau hari ini adalah hari Jum'at, pantas saja semalam dia gak nyolek nyolek." batin Aisyah.


"Jadi hari ini adalah hari Jum'at, aku sampai lupa. Dokter Husna aku pamit dulu ya, mau ke rumahnya Hawa, hari Jum'at ini AL ada tugas ke luar kota, aku mau menemani Hawa dan Azka di rumahnya." ujar Aisyah.


"Saya juga tidak ingat kalau hari ini adalah hari Jum'at. Padahal hari Jum'at ini adalah jadwalnya saya mengadakan kegiatan posyandu." ujar Dokter Husna yang juga lupa jika hari ini adalah hari Kamis bukan hari Jum'at.


Aisyah bergegas pergi ke rumahnya Hawa. Sementara dengan Riziq, diperjalanan menuju masjid, ia bertemu dengan Ustadz Rasyid dan Athar yang hendak pergi ke Aula.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Aang kau mau kemana?" tanya Riziq. Ustadz Rasyid pun merasa heran melihat adiknya berjalan sambil tergesa-gesa.


"Aang mau pergi ke Aula bersama Athar, kau sendiri mau kemana, kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya balik ustadz Rasyid.


"Aang lupa kalau hari ini adalah hari Jum'at?, aku mau ke masjid mau Jum'atan."


Ustadz Rasyid dan Athar pun ikut terkejut.


"Hari ini hari Jum'at?, astaghfirullah kita sampai lupa, ayo Athar kita ke masjid." ajak ustadz Rasyid pada menantunya. Akhirnya mereka bertiga pergi ke masjid. Mereka berjalan sambil tergesa karena waktunya sudah mepet. Tak sengaja pula Adam melihat mereka.


"Waalaikumussalam. Kita mau Jum'atan, kau sendiri darimana Dam?"


"Aku dari kebun. Emang hari ini hari Jum'at ya, aku sampai lupa. Aku mau ngasih tau Pakde Usman sama Pakde Soleh, mereka masih di kebun, sepertinya mereka juga lupa kalau hari ini adalah hari Jum'at. Disana juga ada Fadil, ustadz Azam dan Om Yusuf, aku sekalian mau ngasih tau mereka." tutur Adam yang kini langsung berlari kembali menuju perkebunan.


Sesampainya Adam di perkebunan, ia langsung berteriak.


"Para ustadz, ayo Jum'atan dulu, waktunya sudah tiba."


Mereka semua terdiam.


"Astaghfirullah alazim apa hari ini hari Jum'at, kita sampai lupa."


"Duh kalau hari ini hari Jum'at, berarti semalam aku juga lupa mencari pahala sama si Nisa istriku." batin ustadz Usman.


Akhirnya semua pergi sambil tergesa dari perkebunan kecuali ustadz Soleh.


"Woooi kalian mau kemana, hari ini hari Kamis, bukan hari Jum'at." teriak ustadz Soleh, namun tak ada yang mendengar karena posisinya sudah jauh.


Balik lagi pada Aisyah yang sekarang sedang berjalan terburu-buru menuju rumahnya Hawa, ia sempat bertemu dengan Dewi yang mau pergi ke kantin bi Ratna sambil membawa satu keranjang kue. Mereka saling mengucapkan salam.


"Kau mau kemana Aisyah, kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Dewi.


"Aku mau ke rumahnya Hawa, mau bantu jagain Azka, hari Jum'at ini AL ada tugas ke luar kota."

__ADS_1


"Hari ini hari Jum'at?" tanya Dewi sambil mengingat ngingat. Tentu saja Aisyah langsung mengangguk.


"Aku sampai lupa kalau hari ini hari Jum'at. Baiklah aku akan pergi menemui para santri, karena biasanya bi Ratna selalu berbagi di hari Jum'at, ia suka menyuruhku untuk membagikan semua kue secara geratis. Aku pergi dulu ya Aisyah, assalamualaikum." pamit Dewi.


"Waalaikumussalam."


Aisyah kembali melanjutkan langkahnya menuju rumahnya Hawa, ia sempat bertemu Yudi dan Yuda di pos sekuriti.


"Yudi, Yuda, kenapa kalian belum pergi Jum'atan" ujar Aisyah.


Yudi dan Yuda terkejut mendengarnya.


"Yud, hari ini hari Jum'at ya?, perasaan kemarin hari Rabu sekarang udah Jum'at saja."


"Waktu memang cepat berjalan, hingga tidak terasa sudah Jum'at kembali. Ayo kita ke masjid dulu buat Jum'atan. Nyari pahala yang banyak, selagi masih diberi kesempatan." ujar Yudi. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke masjid.


Sesampainya Aisyah di rumahnya Hawa, ia mengernyit melihat AL sedang bermain bersama Azka dan Hawa.


"Assalamualaikum. AL kau belum berangkat tugas keluar kota?" tanya Aisyah.


"Waalaikumussalam Umi, aku keluar kotanya nanti hari Jum'at." jawab AL hingga Aisyah mengernyit.


"Bukannya sekarang itu hari Jum'at."


AL dan Hawa sudah saling lirik.


"Umi, sekarang itu hari Kamis bukan hari Jum'at."


Kini giliran Aisyah yang mengernyit.


"Kalau hari ini hari Kamis lantas kenapa Abi mu pergi ke masjid buat Jum'atan."


Sementara dengan Riziq dan para ustadz yang lain sudah berkumpul di masjid, berniat untuk Jum'atan. Tidak ada yang menyadari jika hari ini adalah hari Kamis. Ustadz Usman sudah mengernyit heran ketika para santrinya belum pada datang ke masjid. Hingga datanglah Fadlan dan ustadz Soleh yang ingin melaksanakan shalat Zuhur.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Kak kenapa kau datang terlambat, ini kita mau Jum'atan." ujar ustadz Usman.


"Apa kalian semua pada amnesia, ini hari Kamis bukan hari Jum'at." ujar ustadz Soleh. Fadlan hanya menunduk menahan tawanya. Semua orang terkejut dan mulai mengingat ngingat. Ketika semua sadar jika hari ini memanglah hari Jum'at mereka langsung beristighfar.


"Astaghfirullah alazim."


"Ini bagaimana ceritanya kalian semua berpikir kalau hari ini hari Jum'at?" ujar ustadz Soleh. Semua langsung menatap Riziq, karena awal mulanya memang Riziq yang mau pergi Jum'atan.


"Aku melihat kalender di klinik kalau hari ini hari Jum'at." ujar Riziq.


"Mungkin itu kalender tahun kemarin, sepertinya Dokter Husna belum mengganti kalender yang baru makanya tanggal dan hariya berbeda." ujar ustadz Azam.


"Nggak ko, itu kalender baru, Rania sendiri yang memasangnya di klinik. Itu kalender hadiah pernikahan dari Tante Zahira." ujar Fadlan.


Ustadz Usman sudah menganga.

__ADS_1


"Hadeeuuuh pantas saja hari Jum'at, itu kalender ajaib garapan si Ira, semua harinya Jum'at semua, dan itu dikhususkan untuk pengantin baru. Suf istrimu ikut andil dalam masalah ini, si Rania juga, ngapain dia masang kalender ajaib di klinik, bikin heboh saja." tutur ustadz Usman sambil menggerutu. Yusuf dan Fadlan sudah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kita jadi kompak amnesia begini sih. Oh Selebor kalender ajaib mu bikin rusuh."


__ADS_2