Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Rania


__ADS_3

Keesokan harinya Rania sudah mengemas baju-bajunya kedalam tas. Rencananya hari ini dia akan meninggalkan Jakarta untuk pindah sementara ke tempat ibunya. Apartemen sudah dijual begitu juga dengan mobilnya, uangnya sudah habis untuk membayar pesangon para karyawannya. Rania pasrah dengan hidupnya sekarang, jauh dari orang tua membuatnya kebingungan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal sementara bersama ibunya di kota A. Rania adalah perempuan blasteran Indonesia-Jerman. Ayahnya Rania asli dari Jerman, sementara ibunya asli dari Indonesia. Ayahnya adalah seorang mualaf ketika menikahi ibunya.


Rania membawa tas berukuran besar yang isinya baju-bajunya. Rania orangnya simple dalam berpenampilan, cukup celana jeans dan kemeja polos yang sering ia gunakan sehari-hari.


Rania menaiki taxi menuju kota A. Ia sudah membawa alamat yang ia dapatkan dari ibunya. Pesantren xx di kota A.


Sesampainya di kota A, tepatnya di pesantren kiyai Husen, Rania turun dari taxi dan mendekati pos sekuriti yang kebetulan Yudi dan Yuda yang kini sedang berjaga.


"Permisi." Ujar Rania.


"Sstth mba cantik, assalamualaikum dulu baru pake permisi." Ujar Yudi.


"Yud, kelihatannya dia perempuan blasteran, mungkin dia mau mondok disini." Bisik Yuda.


"Oh hello beautiful girl. Can i help you?" Tanya Yudi.


Rania pun mengulang sapaannya.


"Assalamualaikum, permisi bapak-bapak sekuriti, aku mau nyari seseorang." Ujar Rania.


"Waalaikumussalam."


"Eh Yud, perempuan blasteran ini ngomong nya bahasa Indonesia, kau so-soan Inggris."


"Mau nyari siapa cantik?, eh maksudnya mau nyari siapa mba?"


"Aku nyari ibuku." Ujar Rania.


"Ibunya mba itu MERIAM BELLINA apa TITIK PUSPA?" tanya Yudi. Rania dan Yuda sudah mengernyit.


"Kau kenapa nyebutin nama-nama artis?, emang dia anaknya artis ya?" Tanya Yuda.


"Ya habisnya dia bilang nyari ibunya tapi nama ibunya gak disebutin, dikira ibunya artis hingga aku bisa langsung mengenalnya." Ujar Yudi.


"Mba cantik, nama ibunya siapa?" Tanya Yuda.


"Dokter Husna." Jawab Rania.


"Oooh si mba nya putrinya Dokter Husna."


Yudi dan Yuda sudah saling bisik.


"Yud, putrinya Dokter Husna cantik juga ya. Mukanya ada Jerman- Jerman nya"


"Iya tau putrinya cantik mah kita rela jadi pasiennya Dokter Husna." Yudi dan Yuda malah asik bisik-bisik, hingga Rania menggebrak meja.


BRAAAK.


"Astaghfirullah alazim, kaget mba."


"Bisa gak tunjukin atau kasih tau posisi kliniknya dimana?" Pinta Rania. Kembali Yudi dan Yuda saling berbisik.


"Yud, kalau kita ngerjain dikit putrinya Dokter Husna boleh gak ya?" Ujar Yudi.

__ADS_1


"Kayanya kalau sedikit mah boleh deh, nanti biar ustadz Usman saja yang menanggung dosanya." Ujar Yuda.


"Nah kalau ustadz Usman yang menanggung dosanya sih aku mau."


"Hellooooo, bapak-bapak Sekuriti, dimana lokasi kliniknya?" Tanya Rania kembali. Rania memang tidak meminta serlok pada ibunya, sengaja mau memberi kejutan.


"Oh klinik, ngomong-ngomong mba namanya siapa ya?" Tanya Yudi.


"Aku Rania."


"Mba Rania dari sini jalan lurus, pokoknya luruuuuuuus jangan belok-belok, ingat ya jangan be lok-be Lok. Lurus saja nanti melewati perumahan, melewati kontrakan, melewati lapangan, melewati jembatan dan melewati perkebunan, nah disitu posisi kliniknya di ujung perkebunan." Tutur Yudi dan Yuda. Rania pun mengangguk-angguk.


"Terima kasih ya pak." Ujar Rania yang kini hendak pergi ke klinik. Namun Yudi sedikit berteriak.


"Mba Rania, disarankan kalau masuk daerah pesantren, mba Rania harus menggunakan kerudung." Ujar Yuda. Rania pun terdiam.


"Nanti ya pake kerudungnya kalau aku pulang umroh." Jawab Rania sambil berlalu pergi hingga Yudi dan Yuda mengernyit.


Rania pun berjalan lurus dan gak belok-belok sesuai instruksi dari si kembar. Ia sudah melewati perumahan, kontrakan, lapangan, jembatan serta perkebunan yang begitu luas itu. Rania sudah nampak kelelahan.


"Kliniknya jauh banget, ini kalau ada pasien bisa-bisa dia sekarat ditengah jalan." Gumam Rania sambil menyeka keringat di dahinya.


Rania baru sampai ditengah perkebunan. Ketika dirinya sampai diujung perkebunan, Rania langsung mengernyit karena disitu bukan klinik melainkan pemakaman keluarga.


"Mana kliniknya, ko adanya makam doang, ini pasiennya dedemit semua kali. Hadeuuuh kayanya aku dikerjain bapak-bapak sekuriti didepan deh. Inimah bukan kurang asem lagi tapi kurang cabe" Gerutu Rania.


Saat Rania akan berbalik arah untuk mencari posisi klinik di wilayah pesantren, tiba-tiba ia melihat Fadlan berjalan dari arah perkebunan menuju ke pemakaman. Fadlan sudah membawa bunga untuk ditaruh di makam istrinya. Rania pun malah bersembunyi di belakang rumput-rumput yang tinggi, entah kenapa ia memilih bersembunyi dibanding bertanya atau minta tolong kalau dirinya tersesat.


Fadlan berjalan hingga sampailah ia di makamnya Amara, menaruh bunga itu diatas makam istrinya. Posisinya tidak jauh dari posisi Rania sekarang. Rania sudah mencoba untuk tidak bersuara agar tidak ketahuan.


Rania terus mengintip Fadlan yang kini sedang berjiarah ke makam istrinya. Fadlan sudah berdo'a lalu mengelus nisan bertuliskan Amara.


Diam-diam Rania mengambil hapenya dan memotret Fadlan disana. Entah kenapa Rania merasa ada yang beda dengan laki-laki yang baru dilihatnya itu.


"Manis juga dia, dia jiarah ke makam istrinya, anaknya atau ibunya ya?" Batin Rania.


Lama-lama Rania digigitin nyamuk ketika bersembunyi di semak-semak.


"Duuh ini nyamuk gak bisa diajak kompromi deh. Jangan sampai aku ketahuan, bisa-bisa itu laki-laki langsung ngibrit kabur, nanti dikiranya aku dedemit ngumpet di semak-semak, apalagi sekarang aku lagi pake kemeja warna putih, kan gak lucu seorang Rania dikira nyai KunKun." Batin Rania.


Tiba-tiba,


PLAKK.


Tangan Rania repleks menepuk nyamuk yang hinggap di wajahnya, seketika Fadlan langsung mencari sumber suara. Rania sudah membungkam mulutnya sendiri, ia tidak mau ketahuan. Namun Fadlan merasa ada yang aneh melihat rumput-rumput disemak-semak terasa bergoyang. Perlahan Fadlan bangun dan berjalan mendekat ke arah Rania.


"Duuh jangan sampai ketahuan dong, kalau ketahuan itu aku bukan hanya akan dikira hantu disiang bolong, tapi aku akan dikira dedemit semak-semak." Batin Rania.


Fadlan terus berjalan mendekat hingga Rania pasrah kalau ketahuan. Saat Fadlan menyingkap rumput yang tinggi itu ia terkejut bukan main melihat Rania sedang bersembunyi sambil berjongkok.


"HUAAAAAAAAAA." (Fadlan).


"HUAAAAAAAAAA." (Rania).

__ADS_1


Fadlan dan Rania menjerit berbarengan karena sama-sama terkejut. Fadlan sudah mundur beberapa langkah.


"Aku bukan hantu,,, aku manusia." Ujar Rania.


Rania takut Fadlan akan mengiranya hantu. Fadlan terdiam, ia melihat Rania kakinya menginjak tanah.


"Siapa kau, sedang apa kau disini?" Tanya Fadlan heran.


"Aku Rania."


"Sedang apa kau disini?" Tanya Fadlan kembali, ia masih merasa heran ada perempuan bersembunyi di pemakaman keluarganya.


"Aku, aku tersesat." Ujar Rania. Fadlan langsung mengernyit, ada perempuan tersesat di pemakaman.


"Memangnya kau mau kemana hingga sampai tersesat di pemakaman?"


"Aku mau ke klinik, aku putrinya Dokter Husna, sepertinya aku dikerjain sama dua sekuriti didepan." Ujar Rania. Fadlan hanya menunduk ia tak berani memandang Rania, apalagi Rania tidak menggunakan hijab.


"Mas ganteng mau gak anterin aku ke klinik, aku takut tersesat lagi, barusan saja aku tersesat hingga sampai ke pemakaman, bisa-bisa aku nanti tersesat lagi hingga ke alun-alun." Ujar Rania yang minta diantarkan.


Fadlan pun terdiam.


"Jangan banyak mikir mas ganteng, ayo antarkan aku ke klinik, sepertinya kau penghuni pesantren ini." Ujar Rania yang melihat penampilan Fadlan yang pake sarung, baju Koko, kopeah serta sorbannya.


"Panggil aku Fadlan, jangan mas ganteng." Ujar Fadlan. Rania pun tersenyum.


"Baik mas Fadlan ganteng." Ujar Rania sambil tersenyum.


"Cukup Fadlan saja."


"Ok mas Fadlan,, kenalkan aku Rania putrinya Dokter Husna." Rania sudah merentangkan tangannya untuk bersalaman. Seketika Fadlan langsung mengatupkan tangannya.


"Fadlan."


Rania berasa malu sendiri hingga ia langsung ikut mengatupkan tangannya.


"Mau kan antarkan aku ke klinik?"


Fadlan pun mengangguk, namun sebelum pergi, Fadlan memberikn sorbannya pada Rania.


"Pakailah."


"Terima kasih." Rania menerima sorban itu dan langsung mengelapkan sorban itu ke keningnya yang berkeringat. Seketika Fadlan langsung mengernyit.


"Itu bukan untuk mengelap keringat, tapi itu untuk menutupi aurat mu. Pakailah sorban itu sebagai hijab mu." Ujar Fadlan. Rania sudah tersenyum malu, lalu langsung menutup kepalanya dengan sorban.


"Mari kuantar kau ke klinik." Ujar Fadlan yang sudah berjalan lebih dulu, namun Rania memanggilnya.


"Mas Fadlan."


Fadlan menghentikan langkahnya lalu menatap Rania. Rania tersenyum lalu memberikan tasnya pada Fadlan.


"Untukku?" Tanya Fadlan.

__ADS_1


"Bukan, itu tas ku, tolong dibawa ya, berat soalnya, masa laki-laki seperti mu akan membiarkan perempuan seperti ku bawa-bawa tas berat." Ujar Rania. Fadlan pasrah dan langsung membawa tas milik Rania yang lumayan besar itu. Rania sudah tersenyum-senyum sendiri merasa gemas pada lelaki yang baru dikenalnya itu.


Mereka berdua dipertemukan disebuah pemakaman, mungkin tidak terlalu istimewa, namun terasa berkesan, karena lain dari yang lain. Mungkin ini cara Allah mempertemukan mereka, yang seolah Amara sendiri yang mempertemukan Fadlan dengan Rania.


__ADS_2