Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Bergegas


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Fadlan sudah berjalan hendak pergi ke pemakaman, semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan putrinya Dokter Husna, namun tiba-tiba Yudi berteriak memanggilnya.


"Mas Fadlan."


Fadlan langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Yudi yang sedang berlari menghampirinya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Yudi nampak ngos ngosan dan berusaha mengatur nafasnya. Fadlan hanya diam menatapnya.


"Ada surat untuk mas Fadlan." Ujar Yudi yang kini masih saja ngos ngosan. Fadlan pun menerima surat itu.


"Dari siapa?" Tanya Fadlan.


Yudi tidak menjawab, ia benar-benar kelelahan hingga sulit untuk bicara, sedari tadi ia berusaha mengatur nafasnya.


"Aku pulang dulu mas Fadlan, nafasku susah diatur, sepertinya asam urat ku kambuh." Ujar Yudi yang kini pamit pulang lagi. Fadlan hanya mengernyit mendengar jawaban aneh dari Yudi. Segera Fadlan membuka surat itu, ia langsung terdiam ketika tau itu surat dari Rania.


Fadlan kini sudah membaca surat itu di jembatan.


: Assalamualaikum mas Duda. Setelah mas Duda membaca surat ini, pasti aku sudah ada di Jakarta. Maaf ya mas kalau kedatanganku ke kota A membuatmu risih karena aku selalu mengganggu dan menggoda mu. Jujur ya mas, aku mengirim surat ini biar mas Duda tidak salah faham. Aku memang terlilit hutang dan terikat perjanjian dengan rentenir saat di Jakarta. Aku datang ke kota A untuk menenangkan pikiran serta mencari pekerjaan agar aku bisa melunasi semua hutangku, sayangnya di kota A aku tidak menemukan pekerjaan, aku malah menemukan seorang lelaki yang berstatus duda sedang menatapi makam istrinya, entah kenapa dari situ aku senang melihatnya, apalagi melihatnya yang suka malu-malu, itu yang membuatku merasa gemas padanya hingga akhirnya aku jatuh cinta padanya. Cinta ku yang begitu besar, hingga sampai lupa untuk bercerita jika diriku terlilit hutang dan perjanjian. Jujur ya mas, aku sangat mencintaimu, ini pertama kalinya aku jatuh cinta, aku pun mencintai putra putrimu, tidak ada sedikitpun niat untuk menyakiti dan memanfaatkan mu. Maaf kalau akhirnya aku membuatmu sakit hati. Mungkin perpisahan kita ini menandakan jika kita belum berjodoh. Aku akan dinikahi pak Beno, dan dijadikannya istri ketiga, do'akan aku ya mas, biar aku bisa menghadapi semuanya, sekali lagi aku minta maaf sudah membuatmu kecewa. I love you mas Duda: (Rania).


Setelah membaca surat itu, Fadlan mulai berkaca-kaca, ia bingung harus berbuat apa. Dibalik surat itu ada alamat pak Beno yang kemungkinan Rania akan tinggal disana.


Pikiran Fadlan mulai semerawut, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, tidak jadi pergi ke pemakaman. Fadlan berjalan pulang, tidak sengaja ia bertemu ustadz Soleh yang mau pergi ke kebun.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Ustadz Soleh merasa heran melihat putranya itu yang malah kembali pulang, dapat dilihat dari wajahnya Fadlan jika dia sedang ada masalah.


"Kau mau kemana Fadlan?"

__ADS_1


"Mau pulang Bi."


Melihat Fadlan yang hanya diam menunduk, ustadz Soleh tau jika diamnya putranya itu ada hubungannya dengan Rania.


"Dengarkan Abi Fadlan, mau percaya atau tidak, putrinya Dokter Husna itu sangat mencintai mu. Dia memang terlilit hutang, tapi yang Abi lihat, dia begitu tulus padamu, abi percaya jika dia tidak memanfaatkan mu. Kau sudah dewasa, kau pasti bisa membedakan semuanya. Abi juga yakin kau bisa mengambil keputusan bijak dalam masalah ini." Tutur ustadz Soleh yang kini langsung pergi ke kebun.


Fadlan semakin menunduk, kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya, hari ini ia tau jika Rania akan dinikahi pak Beno.


Ketika Fadlan sampai di rumah, ia melihat Zidan sedang duduk melamun di depan rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam."


"Zidan kenapa kau duduk melamun sendirian, mana Pipit?" Tanya Fadlan.


"Pipit lagi didalam."


Tiba-tiba terdengar suara barang terjatuh.


BRAAAAAKK.


"Pipit."


Fadlan dan Zidan langsung membuka pintu kamarnya Pipit, dilihatnya Pipit sedang memunguti uang koin serta uang 5.000 dan 10.000 yang berhamburan didekat celengannya yang pecah. Fadlan mendekati Pipit dan ikut duduk bersama putrinya itu.


"Sayang, kenapa celengannya dipecahin?" Tanya Fadlan sambil mengelus kepalanya Pipit.


"Aku mau berikan uang ini pada Tante Rania untuk membantunya membayar hutang, biar Tante Rania tidak jadi dinikahi bapak tua itu." ujar Pipit yang kini masih sibuk mengumpulkan uang dari celengannya. Mendengar itu Fadlan merasa sedih, kembali ia mulai berkaca-kaca. Rupanya putri bungsunya itu sengaja memecahkan celengannya untuk bisa membantu Rania membayar hutang meskipun uang yang ada di celengannya itu jumlahnya tidak seberapa.


Zidan mendekatinya, ia mengambil uang 20.000 disaku bajunya, lalu diberikannya pada Pipit.


"Ini kak Zidan tambahin buat bantu Tante Rania."


Pipit pun menerima uang itu dan menggabungkannya dengan uang miliknya. Fadlan merasa terharu dan malu, ia terharu karena putra putrinya mau membantu Rania, dan ia merasa malu karena dirinya yang mampu tapi tidak bisa membantu dan akhirnya ia mengambil keputusan.

__ADS_1


"Zidan, jagain Pipit dulu ya, Abi mau keluar ada urusan." Pinta Fadlan. Zidan mengangguk.


"Do'akan Abi ya, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fadlan pun bergegas pergi, ia langsung menaiki mobilnya dan melajukannya dengan kencang. Tidak sengaja ustadz Soleh yang kembali pulang karena cangkulnya ketinggalan merasa aneh melihat Fadlan pergi sambil buru-buru.


"Fadlan mau kemana, ko dia bawa mobilnya buru-buru begitu."


Ustadz Soleh merasa curiga hingga akhirnya ia juga masuk ke mobilnya untuk mengejar Fadlan. Ketika di jalan Fadlan hampir saja menabrak ustadz Usman yang kini sudah ngomel-ngomel.


"Astaghfirullah alazim Fadlan, jangan jadi keponakan durjana ya, om sendiri mau ditabrak." Gerutu ustadz Usman.


"Maaf om, aku lagi buru-buru assalamualaikum."


Fadlan kembali melajukan mobilnya. Ustadz Usman sudah mengernyit heran.


"Waalaikumussalam."


"Si Fadlan mau kemana buru-buru begitu, udah kaya orang mules nyari toilet."


Ketika ustadz Usman hendak melanjutkan perjalanan, ia kembali terkejut karena hampir tertabrak lagi, tapi kali ini hampir tertabrak ustadz Soleh.


"Astaghfirullah alazim, jangan jadi kakak durjana deh, adik sendiri mau di tabrak, tadi anaknya, sekarang bapaknya." Gerutu ustadz Usman.


"Man, ayo naik, aku sedang mengejar si Fadlan, dia bawa mobil buru-buru begitu, aku curiga dan merasa khawatir." Ujar ustadz Soleh.


Seketika ustad Usman langsung naik ke mobil kakaknya.


"Iya aku juga heran dengan putramu itu, dia bawa mobil udah kaya mau balapan di sirkuit, aku saja hampir tertabrak tadi. Dia katanya lagi buru-buru."


Ustadz Soleh kembali melanjutkan mobilnya dengan kencang untuk mengejar Fadlan. Ketika mobil melewati pos sekuriti, Yudi dan Yuda yang melihatnya nampak bengong.


"Yud, kayanya mas Fadlan sama ustadz Soleh lagi balapan deh, mereka bawa mobilnya kecepatan nya pake tinggi." Ujar Yudi.

__ADS_1


"Sejak kapan jalan pesantren ini jadi sirkuit?"


"Jangan-jangan mereka lagi ngejar janda Yud."


__ADS_2