Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Aneh


__ADS_3

Masih dengan Fadlan yang masih di impus di klinik. Sudah hampir tiga hari ia dirawat di klinik. Fadlan masih muntah-muntah disertai pusing. Rania dan ustadz Soleh sudah bingung melihat keadaan Fadlan, Apalagi si mantan Duda pemalu itu tidak mau makan nasi, Rania sudah menyediakan berbagai jenis buah-buahan untuk suaminya. Ustadz Soleh sigap menemani di klinik.


"Mas Suami mau makan buah apa? Mau jeruk, anggur, apel, buah pir, semangka, salak atau mangga muda, tapi yang jelas jangan minta janda muda. Mas Suami tau sendiri kan aku kalau cemburu suka ngapain," tutur Rania.


Fadlan terdiam, ia mendadak lupa jika istrinya cemburu itu sukanya ngapain.


"Emangnya jika kau cemburu suka ngapain?"


"Minum obat tidur mas, biar tiap hari aku bisa tidur tanpa harus merasakan cemburu, ditambah lagi aku kalau cemburu bisa neguk air impusan."


Fadlan dan ustadz Soleh langsung saling lirik.


"Maaf ya Abi mertua, menantu mu ini kalau sedang cemburu suka mendadak amazing." ucap Rania sendiri sambil tertawa kecil. Lalu datanglah Zahira bersama Yura. Yura merengek terus ingin bertemu Pipit di klinik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Zahira sudah membawa mangga muda yang ia ambil sendiri dari pohon mangga mertuanya (ustadz Azam).


"Ini mangga muda untukmu Rania, aku dengar kemarin kau ngidam pengen mangga muda. Kebetulan pohon mangga Abi Azam sedang berbuah. Aku bawakan mangga sepesial untukmu yang bentuk mangga nya jajar genjang." tutur Zahira. Pipit dan Yura sudah asik main dokter dokteran.


"Yang pengen mangga muda itu bukan aku, tapi mas Suami." ujar Rania memberitahu. Zahira langsung mengernyit.


"Fadlan, kau ngidam pengen mangga muda?" tanya Zahira memastikan. Fadlan pun mengangguk. Zahira malah merengut.


"Ko aku mendadak cemburu pada kehamilan si Rania. Si Rania beruntung pake banget, dia yang hamil suaminya yang ngidam, itu artinya si Rania terbebas dari muntah-muntah dan pusing, si Rania juga sepertinya akan terbebas dari drama melahirkan. Pasti yang mulas-mulas kesakitan itu si Fadlan bukan si Rania. Jangan-jangan bener kata om ustadz jika si Rania itu blesteran antara manusia dan dedemit. ME NGE RI KAN." batin Zahira.


Tiba-tiba Sarah datang bersama Zidan dan ustadz Usman.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Sarah sudah membawa beberapa cemilan dan makanan untuk putranya, Sarah juga sudah membawa susu ibu hamil untuk menantunya.


"Minumlah susunya, ibumu yang menyarankan jika kau harus minum susu ibu hamil biar kau dan bayimu sehat." ujar Sarah sambil membuatkan satu gelas susu hangat ibu hamil untuk menantunya. Rania langsung terdiam, ia sama sekali tidak menyukai susu.


"Ayo diminum."


Rania malah menggeleng.


"Umi mertua, aku sedari kecil tidak suka susu."


Semua langsung terdiam. Rania malah mengambil cemilan yang untuk Fadlan.

__ADS_1


"Cemilannya buat aku saja ya Mi, sejak hamil aku malah jadi nafsu makan." ujar Rania yang kini langsung memakan cemilan itu. Sarah sudah tersenyum.


"Makan yang banyak, kalau kurang nanti Umi belikan lagi."


"Terima kasih umi mertua."


Dokter Husna sudah mendekati Rania, ia merasa heran dengan putrinya yang sedari tadi makan terus.


"Apa kau belum merasa kenyang Ran, sedari tadi kau makan terus. ingat isi perut perutmu dibagi jadi tiga bagian. Satu untuk makanan, satu untuk minuman, satu lagi untuk bernafas. Jangan terlalu kekenyangan nanti perutmu bisa engap." ujar Dokter Husna.


"Ibu, dari kemarin kan aku sudah bilang, sejak hamil nafsu makan ku bertambah."


Ustadz Usman sudah berbisik pada ustadz Soleh.


"Kak, lakukan sesuatu, kasihan putramu. Kau tidak lihat sekarang badan si Fadlan agak kurusan, tidak seperti si Rania yang sekarang terlihat gemuk. Si Rania yang makan, seolah dia sedang menyedot lemaknya si Fadlan. Aku curiga pas si Rania melahirkan, pasti si Fadlan yang teriak-teriak kesakitan."


"Ssssttth."


Rania langsung mengernyitkan keningnya melihat Fadlan sedari tadi menatap susu yang dibuatkan Sarah untuknya.


"Mas Suami pengen susu?" tanya Rania. Fadlan pun mengangguk. Semua orang sudah saling lirik melihat Fadlan yang ingin meminum susu ibu hamil.


"Bu, aku tidak apa-apa kan jika aku minum susu ibu hamil?" tanya Fadlan pada mertuanya.


"Tidak apa-apa keponakanku, yang penting kau minumnya dari gelas bukan minum langsung dari **** si Rania. Soalnya ini masih di klinik" ujar ustadz Usman yang langsung mendapat cubitan dari kakaknya.


Rania pun memberikan satu gelas susu itu pada suaminya, dan seketika itu pula Fadlan langsung meneguknya sampai tandas.


Semua orang sudah menganga melihatnya, terutama ustadz Soleh, ia baru melihat jika ada suami yang minum susu ibu hamil padahal yang hamil adalah istrinya.


"Amazing pake banget. Keanehan kembali terjadi, keponakan ku minum susu ibu hamil, seolah dirinyalah yang sedang hamil." (Ustadz Usman).


"Otak si Rania sama otaknya si Fadlan kayaknya ketuker deh." (Zahira).


"Fadlan kau sehat?" tanya ustadz Soleh yang kini sudah merasa aneh.


"Alhamdulillah sehat Bi, rasanya setelah minum susu badanku tidak mual lagi."


Kembali semua saling lirik.


"Ajaib." (ustadz Usman).


"Amazing." (Zahira).


"Fadlan, buah-buahan nya dimakan lagi, sepertinya kau kurang masukan makanan." pinta Dokter Husna. Rania langsung memberikan cemilan pedas untuk suaminya.

__ADS_1


"Makan ini mas Suami, enak loh, lumayan buat ganjel tenggorokan."


Fadlan kembali menggeleng hingga akhirnya Rania yang memakannya.


"Ran, jangan makan yang pedas-pedas, kurang baik bagi kehamilan mu." Dokter Husna memperingatkan.


"Rasanya gak pedas ko Bu. Aneh ya, padahal cemilannya banyak cabenya tapi berasa manis jika dimakan." Rania tidak segan menghabiskan cemilan pedas itu. Namun semua merasa heran melihat Fadlan yang kini sedang mengipas- ngipas mulutnya sendiri, mata dan wajahnya terlihat memerah.


"Kau kenapa Fadlan?" tanya ustadz Soleh.


"Gak tau kenapa Bi, mulutku tiba-tiba berasa pedas padahal aku gak makan yang pedas-pedas." jawab Fadlan hingga semua orang kembali mengernyit lalu menatap Rania semua. Merasa heran padahal Rania yang makan cemilan pedas tapi Fadlan yang kepedesan.


"Terjadi keanehan lagi pada keponakanku dan istrinya yang ajaib itu. Si Rania yang makan cabe, si Fadlan yang kepedesan. Sungguh A JA IB, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata." (Ustadz Usman).


"Amazing." (Zahira).


Sarah sudah sigap memberi minum air putih pada putranya itu.


"Diminum dulu biar pedasnya hilang."


"Mas Suami, kalau masih kepedesan nanti biar aku suruh Pipit buat beli permen jahe di warungnya Bi Ratna," ujar Rania. Mendengar permen jahe, Fadlan langsung bergidik ngeri.


Saat Rania akan memakan cemilan pedas lagi, Dokter Husna sigap melarangnya.


"Jangan makan yang pedas-pedas lagi, kasihan suamimu, nanti dia yang kepedesan."


Dokter Husna sudah memberikan cemilan manis untuk Rania. Rania pasrah memakannya. Seketika itu pula Fadlan tersenyum.


"Pedesnya hilang, tapi sekarang ganti, mulutku terasa manis." ujar Fadlan. Rania sudah tersenyum-senyum.


"Mas Suami, kayanya kita sudah menjadi belahan jiwa deh. Satu sama lain berkaitan," ujar Rania.


Zahira sudah merasa heran sendiri hingga ia berbisik pada ustadz Usman.


"Om ustadz, aku juga mau seperti si Rania yang punya belahan jiwa, tapi aku maunya sama om ustadz, bukan sama kak Yusuf."


Ustadz Usman langsung mengernyit.


"Kenapa tidak mau dengan si Yusuf, dan malah ingin denganku?" tanya ustadz Usman heran.


"Ya karena jika aku sedih, om ustadz yang nangis. Jika aku jatuh, om ustadz yang keseleo. Jika aku banyak makan, om ustadz yang akan gendut nya. Jika aku berbuat salah, maka om ustadz yang nanggung dosanya, jika aku dibunuh, maka om ustadz yang meninggal nya." tutur Zahira hingga ustadz Usman langsung menggeram.


"Mingkem selebor."


"Hi hi hi."

__ADS_1


__ADS_2