Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Istirahat


__ADS_3

Masih dengan Rania yang telah mengantarkan Pipit. Kali ini Pipit tidak ikut pulang bersamanya, Pipit pergi bersama Yura ke rumahnya Jihan dan Jinan, tentunya bersama dengan Zahira setelah pulang sekolah.


Rania berjalan menuju klinik, ia ingin menemui ibunya, terlebih ia juga ingin diperiksa kesehatannya. Rania juga sudah mengabari Fadlan jika dirinya pergi dulu ke klinik.


"Assalamualaikum Bu."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna tersenyum melihat kedatangan putrinya, ia sedang memeriksa dua orang santri yang terkena demam, setelah selesai dan memberi obat, santri-santri itu pun pergi dari klinik. Kini giliran Rania yang membaringkan tubuhnya ke tempat tidur pasien.


"Bu tolong periksa aku. Aku merasa lemah, letih, lesu, lelah dan lunglai, sepertinya aku perlu di impus deh," ujar Rania. Dokter Husna langsung mengernyit, namun ia sigap memeriksa Rania.


Dokter Husna sudah mengecek suhu badan serta tekanan darah putrinya.


"Kau tidak demam, suhu badanmu normal begitu juga dengan tekanan darahmu. Kau hanya kelelahan, jadi tidak perlu di impus," ujar Dokter Husna.


"Ibu yakin aku tidak perlu di impus. Badanku berasa remuk Bu, sepertinya tulang-tulang ku pada retak."


"Memangnya kau habis mengerjakan apa hingga tulang mu pada retak begitu?"


"Ibu tidak perlu kepo Bu, ini adalah rahasia antara diriku dan si mas Suami." ujar Rania. Dokter Husna hanya tersenyum saja.


"Semalam si mas Suami berasa mengerikan deh. Salahku juga yang nantangin 9 episode." batin Rania.


Dokter Husna sudah memberikan beberapa Vitamin untuk rania.


"Diminum vitaminnya ya, kau hanya kelelahan, mungkin belum terbiasa dengan aktivitas barumu itu. Nanti lama-lama juga akan terbiasa." ujar Dokter Husna.


Rania langsung mengernyit.


"Si ibu kayanya tau betul dengan semua yang terjadi padaku."


"Bu, si Pipit merengek terus minta adik bayi padaku. Ibu punya obatnya gak?" tanya Rania.


"Obat apa?"


"Obat yang sekali minum, besoknya langsung hamil."


Dokter Husna sudah mengernyit.


"Kau ini ada-ada saja."


"Ibu yakin aku gak perlu di impus?" tanya Rania. Dokter Husna menggeleng, ia sudah tidak merasa aneh lagi melihat kelakuan putrinya.


"Ran, sebaiknya kau pulang, takutnya nanti susmimu mencari."


"Aku ko mendadak takut pulang ya." batin Rania.


***


Malam pun tiba. Rania, Fadlan, Pipit dan Zidan sedang asik nonton televisi. Fadlan sudah menatap jam, dilihatnya sudah pukul 21:15, waktunya anak-anak tidur.


"Pit sudah malam, ayo tidur." pinta Fadlan. Pipit mengangguk patuh.


"Aduh si mas Suami sudah ngasih kode tuh, dia sudah minta anak-anak untuk tidur, pasti dia mau ngajakin aku bisnis malam ini. Badanku masih berasa lemes, tulang ku juga masih berasa pada retak, lupa obat yang ibu kasih belum diminum." batin Rania.

__ADS_1


"Mas, aku Nina bobokan Pipit dulu ya," ujar Rania. Fadlan pun mengangguk.


Zidan pun sudah masuk kamar, Fadlan menyuruhnya untuk belajar dulu sebelum tidur karena besok Zidan ada hafalan.


Seperti biasa, baru juga dielus Pipit sudah tertidur. Rania sudah mengerucutkan bibirnya.


"Jangan tidur dulu dong pit, nanti Abi mu minta umi cantik pindah kamar, badan umi masih lemes, belum siap diserang lagi." batin Rania.


Sekitar 15 menit, Fadlan pun membuka pintu kamarnya Pipit. Ketika tau pintu kamarnya Pipit ada yang membuka, seketika itu pula Rania langsung membangunkan Pipit dulu.


"Pit buka dulu matanya sebentar," bisik Rania. Rania yakin jika Fadlan akan menyuruhnya pindah kamar kalau Pipit sudah tidur.


Ketika Fadlan berhasil membuka pintu, ia melihat Pipit belum tidur, padahal dipaksa bangun oleh Rania.


"Sebentar ya mas, Pipitnya belum tidur," ujar Rania memberi alasan. Fadlan hanya mengangguk, kemudian ia menutup kembali pintu kamar putrinya itu. Rania sudah menghembuskan nafas lega, sebenarnya ia sudah ngantuk karena kemarin malam ia hanya tidur dua jam. Rania yakin malam ini Fadlan pasti akan mengajaknya bergadang lagi.


Ketika hampir 30 menit berlalu, Fadlan kembali membuka pintu kamarnya Pipit, Rania yang mengetahui itu, ia kembali membangunkan Pipit, namun sayangnya Pipit sudah terlelap, hingga sulit untuk dibangunkan. Dan akhirnya Rania pura-pura tidur sambil memeluk Pipit.


Fadlan terdiam saat melihat istrinya tidur bersama putrinya, ia mendekati lalu tersenyum melihat putri dan istri tercintanya sudah tertidur.


Awalnya Fadlan tidak tega untuk membangunkan istrinya, namun saat ia akan mencium kening Rania untuk ucapan selamat malam, ia langsung menyipitkan matanya. Fadlan tau kalau Rania sedang pura-pura tidur, saat melihat mimik wajahnya. Fadlan tersenyum, ia tau kalau istrinya itu kini sedang tidak ingin disentuh, makanya Rania pura-pura tidur.


"Kemarin malam seolah menantang ku untuk duel sembilan episode, tapi sekarang seolah takut untuk ditantang. Mundur sebelum bertanding" batin Fadlan.


Sebelum Fadlan keluar dari kamarnya Pipit, ia pun mencium kening putrinya itu, mengelus kepalanya dengan lembut.


"Selamat tidur ya, putri Abi yang paling cantik," bisik Fadlan.


Karena tau Rania hanya pura-pura tidur, akhirnya Fadlan menggendong Rania dan membawanya pindah ke kamarnya.


Fadlan sudah masuk dan membaringkan tubuh Rania ke tempat tidur, ia ingin menggoda istrinya dulu, karena selama ini Rania lah yang selalu menggodanya, mungkin malam ini ia menuntut balas.


Fadlan sudah ikut berbaring disebelahnya Rania, ia sudah menahan tawanya sambil menatap istrinya.


"Aduh si mas Suami mau ngapain ya, ini ko nafasnya kerasa banget di wajahku, jangan-jangan, dia mau nyium tanpa izin," batin Rania.


"Rania, saat kau tidur, kau terlihat lebih cantik. Matamu indah seperti permata, bibirmu terlihat manis seperti madu."


Fadlan sengaja menggoda istrinya sambil mengusap bibirnya Rania dengan ibu jarinya.


"Idiih si mas Suami. Menggoda disaat aku tidur begitu lancar jaya, giliran disuruh menggoda dihadapan ku malah susahnya kebangetan, AN pake NEH," batin Rania sedikit menggerutu.


Fadlan benar-benar ingin tertawa. Kembali ia mengerjai Rania dengan membuka kancing baju gamisnya.


"Maaf ya Rania, mas akan menyentuh mu saat kau tidur," ujar Fadlan pura-pura.


"Tuh kan bener si mas Suami mau memperko*a ku,"


Seketika itu pula Rania bangun dan langsung menyilang kan kedua tangannya ke tubuhnya sendiri.


"Hayo, mas Suami mau ngapain?" tanya Rania.


Fadlan langsung tertawa hingga Rania mengernyit.


"Ko mas Suami ketawa sih?"

__ADS_1


"Mas tau kau hanya pura-pura tidur. Kenapa?, Apa kau takut disentuh suamimu sendiri?. Apa kau jijik disentuh mas, atau kau merasa kurang puas dengan nafkah batin yang mas berikan, atau kau merasa mas tidak pantas menyentuhmu?" Fadlan memberikan beberapa pertanyaan hingga membuat Rania terdiam.


"Bukan begitu mas. Maaf, aku tau ini salah, tapi beri aku waktu untuk beristirahat malam ini ya, badanku masih berasa remuk, tulang-tulang ku pada retak semua. Izinkan aku untuk beristirahat malam ini, nanti besok malam kita lanjut episode ke-11," ujar Rania. Fadlan kembali tersenyum.


"Mas mengerti ko, mas izinkan kau untuk beristirahat malam ini. Maaf telah membuat tulang-tulang mu retak," ujar Fadlan sambil menahan tawanya.


Rania merasa lega sendiri mendengarnya.


"Terima kasih ya mas, rupanya mas bukan hanya pemalu, tapi juga pengertian. Makin gemes deh jadinya." Kali ini Rania mencubit gemas pipi suaminya.


"Boleh mas tau, darimana kau tau kalau tulang-tulang mu retak?"


Rania malah nyengir.


"Dari mimpiku mas," jawab Rania sambil tertawa hingga Fadlan pun ikut tertawa.


"Sekarang kau istirahat, mas juga mau istirahat, cape habis dari Jakarta," ujar Fadlan. Rania terdiam.


"Mas dari Jakarta?, Habis ngapain?"


"Mas ke Jakarta sama Abi, untuk mengurus semua hutangmu itu, mas tidak mau kau punya hutang. Setiap orang yang berhutang pasti akan dimintai pertanggungjawaban, jadi mas lunasi semua hutangmu itu. Soal pak Beno yang membakar cafe mu, itu nanti akan diurus oleh AL,"


Rania langsung memeluk suaminya.


"Terima kasih ya mas,"


Rania nampak terharu.


"Mas dengar tadi siang kau ke klinik, dikasih obat gak sama ibu?"


Rania mengangguk.


"Dikasih, tapi lupa belum diminum."


"Diminum dulu ya, biar badannya fit kembali, mas ambilkan air minum dulu."


Fadlan pun pergi mengambil minum, setelah itu memberikannya pada Rania, karena istrinya itu mau minum obat.


Setelah selesai minum obat, Fadlan langsung menyuruh Rania untuk istirahat.


"Sekarang istirahat ya, langsung tidur, tapi sebelum itu ganti dulu bajunya biar nyaman, tapi jangan pake baju yang seperti kemarin malam yang tidak ada warnanya itu, mas ini lelaki normal."


"Iya mas, malam ini aku tidak akan pake baju porno."


"Tapi ngomong-ngomong beli dimana baju yang tidak ada warnanya seperti itu?"


"Di online shop," jawab Rania malu-malu.


"Siapa seler nya?"


"Mungkin dedemit."


Mereka malah tertawa.


"Sebentar mas, aku mau pake baju jas hujan yang tidak tembus pandang, biar mas gak tergoda."

__ADS_1


Fadlan langsung mengernyit.


__ADS_2