Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Kabur


__ADS_3

Masih dengan Rania, Fadlan dan Pipit yang berada di klinik. Rania sudah memeriksa giginya Pipit.


"Wah giginya banyak lubangnya, pantas saja sakit. Jangan sering makan permen ya, meskipun makan permen, nanti pipit langsung gosok gigi ya biar giginya gak sakit. Satu lagi jangan sering-sering menatap Abi mu ya, bahaya" Ujar Rania. Fadlan sudah mengernyit heran.


"Kenapa aku gak boleh menatap wajah Abi?" Tanya Pipit.


Rania langsung berbisik di telinganya Pipit.


"Soalnya abimu itu terlihat manis, takutnya nanti giginya Pipit tambah sakit." Bisik Rania sambil cekikikan. Pipit sudah tersenyum senyum, sementara Fadlan masih saja mengernyit ia tidak bisa mendengar bisikan ya Rania.


Rania tersenyum gemas melihat pipinya Pipit yang cabi.


"Pipinya tebel banget ya. Untung cuma pipinya yang tebel, kalau mukanya yang tebel itu baru bahaya" Ujar Rania sambil mengelus pipinya Pipit.


"Iya kata Abi pipiku ada bapau nya." Ujar Pipit sambil tertawa meskipun giginya sedang sakit.


Setelah memeriksa Pipit, Rania mulai mendekati Fadlan yang kini sudah duduk disebelah putrinya.


"Buka mulutnya mas Duda." Pinta Rania.


Bukannya membuka mulut, Fadlan malah menutupnya dengan kedua tangannya sendiri hingga Rania langsung menyipitkan matanya.


"Hayoooo mas Duda mikir nya ke situs kotor ya. Aku nyuruh buka mulut bukan untuk dicium ko, tapi mau diperiksa giginya." Ujar Rania yang semakin gemas pada Fadlan. Fadlan sudah menggeleng gelengkan kepalanya, ia tak mau diperiksa giginya.


"Ya sudah kalau tidak mau diperiksa giginya, aku periksa detak jantungnya saja ya." Ujar Rania yang kini sudah menempelkan stetoskop ke dadanya Fadlan. Fadlan mau berontak tapi terlambat.


DEG DEG DEG DEG DEG DEG DEG.


Rania sudah terkejut bukan main mendengar detak jantungnya Fadlan.


"Detak jantungnya mas Duda sudah berasa kaya ada konser Agnes Mo, rame banget. Seperti ada kembang apinya dar der dor" Batin Rania.


Fadlan sudah menunduk malu bukan main ketika Rania maksa memeriksa detak jantungnya. Ia sudah deg-degan gak karuan, bahkan Fadlan sudah berkeringat menahan malu dan juga takut.


"Mas Duda jantungnya kenapa, suaranya rame banget loh. Mas Duda juga keringetan, padahal aku belum bawa kanebo. Wah jangan-jangan mas Duda terkena virus nih." Ujar Rania.


"Virus????"


"Sebaiknya mas Duda tiduran dulu biar aku periksa lebih lanjut."


Bukannya menurut tiduran, Fadlan malah meloncat dari ranjang dan menjauhi Rania karena sedikit takut. Rania kembali menyipitkan matanya sambil tersenyum senyum hingga jarinya menunjuk-nunjuk pada Fadlan.


"Hayoooo pasti mas Duda pikir aku mau memper**sa mas Duda ya. Tenang saja mas Duda, aku ini bukan Dokter cabul." Ujar Rania.


"Rania, sepertinya Pipit sudah sembuh, sebaiknya kita pulang dulu, terima kasih sudah diperiksa." Ujar Fadlan yang kini sigap menggendong Pipit.


"Ayo sayang kita pulang."

__ADS_1


"Tapi gigiku masih sakit Bi." Ujar Pipit.


"Sssttthhh, nanti Abi belikan obat, yang penting kita bisa segera kabur dari sini. Ini Dokternya rada gila." Bisik Fadlan. Pipit malah tertawa-tawa.


"Permisi Rania, terima kasih, assalamualaikum." Fadlan langsung berlari kabur dari klinik sambil menggendong Pipit. Bahkan Pipit sempat melambai lambaikan tangannya pada Rania.


"Dadah Dokter cantik."


"Tunggu mas Duda, obatnya Pipit belum dikasih." Teriak Rania hingga ujung-ujungnya ia tertawa, merasa lucu dan gemas pada Fadlan. Namun Fadlan tak menghiraukan teriakan Rania, ia terus berlari hingga tak sengaja ia bertemu Dokter Husna yang mau pergi ke klinik.


"Mas Fadlan, mau kemana lari-lari?" Tanya Dokter Husna.


"Kabur. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna sudah mengernyit heran melihat Fadlan berlari ketakutan setelah keluar dari klinik.


"Pasti ini ada hubungannya sama Rania."


Dokter Husna pun masuk ke klinik, ia melihat putrinya sedang tertawa-tawa. Dokter Husna sudah menyipitkan matanya merasa curiga kalau ketakutan Fadlan ada hubungannya dengan Rania.


"Apa yang kau lakukan pada mas Fadlan?" Tanya Dokter Husna.


"Gak diapa apain ko Bu, cuma digodain dikit, cuma dikit ko. Gemes aku lihatnya Bu." Kembali Rania tertawa tawa. Dokter Husna sudah kesal sendiri pada putrinya itu.


"Jatuh cinta baru tau rasa loh." Ujar Dokter Husna.


Rania seolah tidak percaya jika dirinya suatu saat akan jatuh cinta pada si Duda pemalu, karena selama ini ia hanya merasa gemas saja dengan Fadlan yang pemalu.


Rania pun meminta izin untuk lari pagi berkeliling lapangan dan perkebunan.


"Bu, aku pergi lari pagi ya, suntuk di klinik terus, mau nyari suasana baru." Ujar Rania. Dokter Husna sudah mengangguk, namun sebelum putrinya itu pergi, Dokter Husna memberikan sebuah kerudung segi empat.


"Pakailah ini, disini ada aturan yang harus dipatuhi. Sebagai perempuan kau harus menutup aurat mu." Ujar Dokter Husna. Rania sudah menatap penampilannya sendiri, kini ia sudah menggunakan celana training serta jaket kaos berlengan panjang.


"Bajuku tidak terbuka Bu."


"Tapi lekuk tubuhmu terlihat, kau juga tidak menggunakan hijab. Ibu minta kau berubah mulai sekarang, pelan-pelan saja, ibu yakin kau bisa."


Rania mengangguk pasrah. Rania memakai jilbabnya sedikit asal, baginya yang penting menutupi kepalanya.


"Aku berangkat ya Bu."


"Jangan lama-lama, kita akan pergi ke rumahnya ustadz Soleh, ibu belum minta izin jika kau akan tinggal disini." Ujar Dokter Husna.


"Ustadz Soleh itu pak RT ya Bu?"

__ADS_1


"Ssttth. Sana pergi, jangan lama-lama."


Akhirnya Rania pergi berolahraga, ia lari mengelilingi lapangan serta perkebunan. Karena ia memakai jilbab nya secara asal, jilbab itu pun lepas dari kepalanya dan terjatuh entah dimana, Rania tidak menyadarinya karena dirinya terlalu fokus berlari.


Ketika Rania beristirahat sejenak, ia melihat ada 3 orang perempuan yang sedang duduk ditepi perkebunan yang tidak lain adalah si trio kwek-kwek (Hawa, Anum dan Silmi). Rania terdiam melihat penampilan mereka yang terlihat cantik dan anggun dengan balutan gamis syar'i beserta kerudungnya.


"Siapa ya mereka, penampilan mereka terlihat cantik." Ujar Rania yang kini menatap penampilannya sendiri, begitu sangat berbeda. Rania tersenyum menatap mereka tiba-tiba ada yang berdehem dibelakangnya.


Ekhem.


Saat Rania membalikan tubuhnya, ia melihat ustadz Usman berdiri dibelakangnya sambil menggendong Zulfa.


"Kau perempuan blasteran yang ditemukan di pemakaman itu kan, sedang apa kau disini?" Tanya ustadz Usman.


"Habis olah raga ustadz."


"Kuberi saran ya untukmu, sebaiknya kau menutup aurat mu, pakailah hijab untuk menutup kepalamu. Kalau kau menutupi semua aurat mu, itu bukan hanya akan melindungi mu dari mata lelaki penuh nafsu, tapi kau juga melindungi pandangan lelaki yang takut berbuat zina melalui matanya." Tutur ustadz Usman memberi saran.


"Aku kan sudah pake hijab." Ucap Rania sambil memegang kepalanya, namun ia nampak terkejut, sebelum ia pergi lari, ia sudah memasang jilbab di kepalanya, namun rupanya Rania tidak sadar jika hijab yang ia pakai itu terjatuh entah dimana akibat ia hanya memakai secara asal.


"Tadi aku pake hijab, ko tiba-tiba hilang." Gumam Rania heran. Ustadz Usman sudah mengernyit.


"Hadeuuuh perempuan jaman sekarang. Jilbab jatuh aja pake nggak tau." Batin ustadz Usman.


"Ingat ya mulai sekarang pake hijab jika kau mau tinggal disini. Berhijab itu adalah kewajiban untuk seorang muslimah."


Rania pun mengangguk.


"Sekarang kau pulanglah, jangan duduk sendirian disini, kemarin saja kau ditemukan di pemakaman, takutnya kau nanti diculik DE DE MIT."


Rania pun mengangguk lalu berjalan pulang. Namun ustadz Usman sudah mengernyit.


"Hei putrinya Dokter Husna. Biasakan ya kalau datang atau pergi itu harus mengucapkan salam terlebih dahulu." Ujar ustadz Usman mengingatkan.


"Sorry i'm not used to it ustadz. Assalamualaikum." Ujar Rania yang kini langsung pergi.


"Waalaikumussalam.... Itu si Rania barusan ngomong apaan ya, ko dia ngomongnya pake bahasa Jepang sih, aku kan tidak mengerti. Nanti aku tanya sama menantu ku saja si Faris, dia pasti mengerti apa yang diucapkan di Rania barusan."


Saat ustadz Usman akan pergi, ia bertemu dengan Fadlan yang sedang membawa jilbab yang ia temukan didekat perkebunan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Kau bawa apa itu Fadlan?" Tanya ustadz Usman ketika melihat Fadlan membawa sebuah jilbab.


"Aku menemukan jilbab di perkebunan, sepertinya punya seseorang yang terjatuh."

__ADS_1


"Itu pasti punya si perempuan blasteran putrinya Dokter Husna. Tadi dia lari pagi pake jilbab, pulang-pulang jilbabnya hilang, padahal itu jilbab nempel di kepalanya. Mungkin si Rania lari maraton hingga ia tidak sadar kerudungnya jatuh dari kepalanya." Tutur ustadz Usman.


Fadlan langsung mengernyit sambil menatap jilbab itu. Mau dikembalikan tapi takut bertemu dengan Rania, karena putrinya Dokter Husna itu senang sekali menggodanya.


__ADS_2