
Sejak mendengar kalau Rania dibawa ke rumah sakit karena mau melahirkan, para penghuni pesantren heboh terutama kaum ibu-ibu yang kini sudah otw menuju rumah sakit dengan menyewa sebuah angkot.
Aisyah, Nisa, Anisa, Silmi, Hawa, Syifa, Dewi, ustadzah Ulfi, Cahaya dan si ratu narsis Zahira tak lupa juga dengan si ratu manahong Yura. Yudi juga sudah mengajak Zidan untuk menyusul ke rumah sakit dengan menggunakan motor.
Sesampainya para ibu-ibu itu di rumah sakit, mereka semua langsung berbondong-bondong menuju ruang persalinan Rania yang sebelumnya sudah diberitahu oleh ustadz Usman.
Ngomong-ngomong soal Rania, ia sudah berbaring ditempat tidur pasien. Fadlan, Sarah dan Dokter Husna sudah menemani di dalam ruang persalinan. Pipit sudah dijaga ustadz Soleh depan ruangan itu. Fadlan masih saja meringis kesakitan. Ia sudah jongkok, berdiri, duduk bahkan tiduran dilantai. Sementara orang yang mau melahirkan malah santai selonjoran. Tiba-tiba Riziq masuk dan menarik sorban Fadlan.
"Sorbannya om sita, takut kecekik. Istrimu lebih ajaib dari istriku." ujar Riziq yang kini langsung pergi lagi keluar.
Rombongan ibu-ibu datang menghampiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Bagaimana keadaannya Rania?" tanya Aisyah.
"Rania sudah ada di ruang persalinan, cuma Dokternya belum datang." jawab ustadz Soleh. Mereka semua menunggu di ruangan itu. Zidan sudah mendekati Pipit.
"Pit, bisa nebak gak adik kita itu laki-laki apa perempuan?" tanya Zidan.
"Perempuan, aku maunya adik perempuan."
"Tapi kak Zidan maunya adik laki-laki biar bisa diajak main bola."
"Pokoknya adik bayinya harus perempuan. Kalau mau adik laki-laki nanti saja kalau Umi cantik hamil lagi, soalnya umi cantik rencananya mau punya anak lima. Nanti kita punya adik lima," tutur Pipit.
Tidak lama kemudian datanglah Dokter Ayu dan seorang perawat. Dokter Ayu sudah pasrah dengan kebiasaan penghuni pesantren yang selalu heboh dan ramai kalau ada yang mau melahirkan.
"Ingat ya, gak boleh berisik." Dokter Ayu sudah memperingatkan.
"Siap Dokter Ayu."
Dokter Ayu dan perawat pun masuk ke ruangan itu.
"Jangan pada berisik ya, takutnya bayinya si Rania malu-malu keluar dari perutnya, takut punya penyakit pemalu kaya bapaknya." ujar ustadz Usman.
"Ssssttth." (Ustadz Soleh).
Suasana mendadak sunyi didepan ruangan itu, padahal banyak orang menunggu disana.
Dokter Ayu sudah terdiam saat melihat Fadlan meringis memegangi perutnya.
"Maaf si mas nya kenapa?" tanya Dokter Ayu.
"Itu bukan paktor alam Dok, tapi itu paktor cinta dan belahan jiwa yang terikat antara aku dan suamiku. Aku yang mau melahirkan suamiku yang mulas." jawab Rania. Dokter Ayu kembali terdiam.
Dokter Ayu sudah memeriksa keadaan Rania, katanya sudah pembukaan 10, namun anehnya bayinya diam saja seolah enggan keluar, atau karena Rania tidak merasa mulas hingga sulit untuk ngeden.
"Kayanya bayinya pemalu deh Dok, dia ngumpet dulu didalam." ujar Rania.
Dokter Ayu sudah melakukan ini dan itu namun anehnya bayi seolah tidak mau keluar. Dokter Husna dan Sarah sudah cemas, begitu juga dengan Fadlan.
"Kalau lima menit lagi bayi belum lahir, terpaksa kami melakukan tindakan operasi." ujar Dokter Ayu.
"Rania, coba kau ngeden, siapa tau bayinya mau keluar." pinta Sarah.
"Aku tidak mulas, jadi susah ngedenya."
Sarah langsung mendekati putranya.
__ADS_1
"Fadlan coba kau yang ngeden."
Fadlan langsung mengernyit.
"Maksud Umi."
"Coba saja ngeden, siapa tau bayi dalam perut istrimu bisa keluar."
Meskipun sedikit aneh dan ragu, akhirnya Fadlan menurut pada uminya, ia ngeden sekuat tenaga, karena memang perutnya juga berasa mulas.
"AAAAAAAAAAAAA"
Fadlan berteriak sambil ngeden hingga keajaiban pun terjadi, Rania melahirkan bayi perempuan.
"Oaaaaaa oaaaaaaaa."
"Alhamdulillah."
Semua orang diluar nampak senang mendengar suara tangisan bayi.
"Alhamdulillah bayinya lahir."
"Tapi ko yang teriak-teriak si Fadlan bukan si Rania. Keanehan kembali terjadi pada keponakanku." ujar ustadz Usman.
"Ko suara bayinya kaya ada suara Jerman-jerman nya," ujar Yudi.
"Kalau aku masuk dan bertemu dengan bayinya si Rania, sudah pasti bayi itu akan merasa itu dan dengki melihat kecantikan ku. Kasihan sekali, baru juga dilahirkan sudah punya penyakit iri dan dengki." ujar Zahira hingga Aisyah langsung mencubit adik iparnya itu.
"Ingat usia."
"Malu sama Yura."
Zahira hanya diam sambil cemberut.
"Dokter Ayu, bayinya mirip orang Indonesia apa orang Jerman?"
"Dokter Ayu apa si Fadlan juga ikut melahirkan?"
"Dokter Ayu, ko suara bayinya mirip orang Jerman?"
"Dokter Ayu, bayinya si Rania pemalu gak kaya bapaknya?"
"Dokter Ayu apa kabar?"
Dokter Ayu sudah merasa tidak aneh dengan pertanyaan mereka hingga akhirnya ia memilih untuk kabur.
"Permisi, no comen."
Dokter Ayu pun meninggalkan mereka. Seketika itu pula mereka masuk ke ruangan itu hingga memenuhi ruangan, apalagi keberadaan Dewi sangat berpengaruh hingga membuat ruangan itu terasa sesak.
Pipit sudah mencium adik bayinya itu, doanya terkabul mendapatkan adik perempuan agar bisa diajaknya bermain boneka. Zidan sudah merengut, karena adiknya bukan laki-laki yang bisa diajaknya bermain bola.
"Waaah selamet ya Rania dan Fadlan, bayinya cantik banget, matanya Jerman banget." ujar Aisyah.
"Coba aku mau gendong bayinya, dia harus segera lihat bahwa dimuka bumi ini ada perempuan cantik seperti Zahira." ucap Zahira dengan tingkat kepedean level 11,5.
"Ingat umur."
Yura sudah merengut sedari tadi, ia sudah merasa itu pada Pipit yang kini sudah punya adik bayi.
"Apa bayinya sudah diberi nama?" tanya ustadz Soleh.
__ADS_1
Fadlan dan Rania menggeleng.
"Aku dan mas Suami belum sempat mencari nama untuk bayi kami." ujar Rania hingga semua langsung terdiam.
"Kalian belum punya nama untuk bayinya. Kebangetan, selama sembilan bulan kalian ngapain saja," Ustadz Usman menggerutu.
"Fadlan, kau sama sekali belum mencari nama?" tanya ustadz Soleh. Fadlan menggeleng.
"Kenapa belum difikirkan, kalau sudah lahir baru nyari kan jadinya repot." ujar Sarah.
"Aku malu Bi untuk memikirkan nya." jawab Fadlan hingga semua langsung mengernyit.
"Kelakuan putramu kak, disuruh mikirin nama anak saja pake malu, sungguh kebangetan si Fadlan." gerutu ustadz Usman. Rania malah tertawa gemas mendengarnya.
"Disini ada gak yang punya rekomendasi nama untuk putrinya Rania dan Fadlan?" tanya Riziq.
Ustadz Usman sudah maju duluan.
"Nih tinggal pilih. RANDINI PEMALU, RAINA MALU-MALU, SOFIA MALU-MALUIN. Tuh, nama rekomendasi dariku sama seperti karakter bapaknya yang PE MA LU" ujar ustadz Usman.
"Mingkem Man."
Zahira ikut bicara.
"Nih rekomendasi dariku. ATALIA FRANCIA MONANDOR, BETALIA MANFREDO AQUINO, BARBARA SELERIA NANDOR atau REBEKA ON THE WAY."
"Mingkem Ira."
Zidan maju untuk memberi rekomendasi.
"Bagaimana jika namanya RONALDO WATI, biar besarnya bisa jadi pemain bola." ujar Zidan.
"Menganga Zidan." pinta ustadz Usman.
"Aku juga mau ikut merekomendasikan nama untuk bayinya Rania." ujar Dewi. Baru juga dia mau menyebutkan beberapa nama, ustadz Usman langsung melarangnya.
"Tidak perlu Wi, kau diam itu sudah cukup membantu. Jangan ikut ngasih nama, soalnya rekomendasi darimu kalau gak bawa-bawa makanan, kau pasti bawa-bawa nama suamimu si Bang Muklis." tutur ustadz Usman. Dewi hanya bisa cemberut.
"Iya, kak Dewi pasti mau merekomendasikan nadi Padang deh," ujar Zahira. Kembali Dewi cemberut.
"Zahara pake Zahira."
"Tuh tanya di Yura siapa tau dia punya rekomendasi nama yang bagus." ujar ustadz Usman. Semua orang langsung menatap Yura.
"HUAAAAAAAAA."
Yura malah menangis meraung membuat semua orang heran.
"Yura sayang kenapa?" tanya Zahira mencoba menenangkan.
"Aku mau punya adik bayi kaya si Pipit." Yura merajuk. Yusuf sudah menggendongnya dan menenangkannya.
"Fadlan, nama bayinya mau nyari dulu atau gimana? Abi juga belum punya nama untuk bayimu, Abi pikir kau sudah memikirkan namanya" uca ustadz Soleh.
"Aku dan Rania serahkan semuanya pada Pipit." ujar Fadlan.
"Pipit emang sudah siapkan nama untuk adik bayinya?" tanya Sarah. Pipit mengangguk.
"Namanya HANINDIA ZAHRATUNISSA." ucap Pipit.
"Umi cantik suka." ujar Rania senang. Fadlan pun menyetujuinya. Akhirnya itulah nama bayi Rania dan Fadlan yang akan dipanggil dengan nama HANIN.
__ADS_1
"Ingat ya Rania, Fadlan, puasa 40 hari." ustadz Usman mengingatkan hingga Rania langsung berbisik pada suaminya.
"Mas Suami, puasa 40 hari, nanti pas buka puasanya kita rapel 40 episode, kita sama-sama meretakkan tulang."