Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Merayu


__ADS_3

Masih dengan Rania dan Fadlan yang kini sudah berdiri di jembatan. Sepasang pengantin baru itu sedang menikmati kebersamaan, berpacaran setelah menikah.


"Mas bahagia gak punya istri sepertiku?" tanya Rania. Fadlan mengangguk tersenyum.


"Sekarang sudah gak ngincer janda lagi kan. Jangan memandang perempuan lain selain diriku ya mas. Aku lebih ikhlas dan ridho jika mas Suami memandang lantai ketimbang menatap perempuan lain, karena kalau aku sudah cemburu, aku suka pengen nelen obat tidur serta minum air impusan. Tidur sepanjang hari lebih baik dari pada tersiksa menahan rasa cemburu" tutur Rania. Mendengar itu Fadlan langsung menganga ketika mendengar istrinya akan minum air impusan.


"Mas akan berusaha untuk menjaga perasaan mu." ujar Fadlan yang malu-malu memegang tangannya Rania.


"Cieeeee mau megang tangan saja pake malu-malu, padahal semalam gak ada malu-malunya megang yang lain." batin Rania.


Tidak sengaja ustadz Usman dan ustadz Soleh lewat ketika mereka hendak pergi ke kebun.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Tadi katanya mau liburan di klinik, sekarang malah nongkrong di jembatan, sekalian tuh pergi ke perkebunan yang lebih luas, disana lebih aman jika kalian ingin berlari-larian 12 keliling pun aman gak akan kelelep yang penting jangan nginjek sayuran saja." ujar ustadz Usman.


Rania hanya cemberut saja. Ketika ustadz Soleh teringat dengan ucapan adiknya yang mengatakan jika Fadlan semalam menjerit dan katanya berdarah, ia langsung menatap keadaan putranya.


"Fadlan, katanya semalam kau menjerit kesakitan hingga berdarah. Apa kau baik-baik saja?" tanya ustadz Soleh khawatir.


Rania dan Fadlan sudah menganga sambil saling lirik, merasa heran darimana ustadz Soleh tau soal kejadian semalam.


"Abi mertua tau darimana?"


"Om nya Fadlan yang bilang." Ustadz Soleh langsung melirik ustadz Usman.


"Om Usman ngintipin kita ya?" tuduh Rania. Ustadz Usman langsung mengernyit.


"Hei Rania Atalia Nandor, kalau bicara suka sembarangan deh, emangnya aku gak punya pekerjaan, mentang-mentang ibunya seorang Dokter, seolah menyumpahi ku bintitan gara-gara ngintip." gerutu ustadz Usman.


"Kalau gak ngintip pasti pasang CCTV di kamarnya mas Suami ya. Pasti kan om Usman kepo mau lihat mas Suami buka puasa." tuduh Rania kembali.


"Hei Rania binti Manfredo Roberto Nandor, di rumahku saja gak dipasang CCTV, ngapain masang CCTV di kamar si Fadlan. Aku dengar sendiri dengan telingaku langsung jika semalam si Fadlan menjerit kesakitan dan ada sesuatu yang berdarah." tutur ustadz Usman.


Rania dan Fadlan kembali saling lirik, merasa heran karena semalam jeritan Fadlan tidak begitu keras, mana mungkin bisa sampai terdengar ke rumahnya ustadz Usman.


"Sudah-sudah, ayo Man kita ke kebun, jangan ganggu putra dan menantuku." ajak ustadz Soleh. Akhirnya mereka berdua meninggalkan Rania dan Fadlan.


Setelah kepergian ustadz Soleh dan ustadz Usman, Rania langsung menatap Fadlan.

__ADS_1


"Buka mulutnya mas." pinta Rania. Fadlan terkejut dengan permintaan istrinya, seketika ia langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Hingga Rania mengernyit melihatnya.


"Buka dulu mulutnya mas Suami." ujar Rania kembali. Tentunya Fadlan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Rania kalau mau nyium itu jangan disini, malu kalau dilihat orang." ujar Fadlan. Rania yang mendengar pun langsung tersenyum senyum bahkan hampir tertawa.


"Hayooo kebiasaan deh mas Suami pikirannya suka NGER pake RES alias ngeres. Orang aku nyuruh buka mulut cuma mau lihat tenggorokannya mas Suami bukan mau nyium."


"Ngapain mau lihat tenggorokannya mas, mas gak punya riwayat penyakit amandel ko." ujar Fadlan.


"Bukan itu mas Suami, aku cuma ingin ngecek tenggorokannya, takutnya ada speaker nempel disana, ko bisa Om Usman mendengar suara jeritannya mas Suami semalam, rumah om Usman kan jauh dari rumah kita, aneh ko bisa kedengeran, kecuali memang tenggorokan mas Suami ada speakernya, baru itu bisa masuk akal teriakan mas nyampe ke rumahnya om Usman. Tapi yang lebih anehnya lagi ko bisa Om Usman tau kalau mas berdarah, apa jangan-jangan matanya om Usman ketinggalan di rumah kita ya." tutur Rania.


***


Malam pun tiba. Fadlan sedang duduk di kamarnya sambil membuka laporan keuangan bisnisnya di luar kota, sementara Rania masih berkutat di kamar mandi. Fadlan tidak mendengar suara dari kamar anak-anaknya, ia pikir Zidan dan Pipit sudah tidur.


Cekleeek.


Mata Fadlan kembali membulat ketika melihat istrinya sudah terlihat seksi kembali dengan baju lingerie nya yang kali ini berwarna pink. Kemarin berwarna hitam dan sekarang berwarna pink, kalau digabung warna kemarin dan sekarang jadinya BLACK PINK.


Fadlan sudah menelan ludahnya sendiri, menunduk menjadi andalannya. Rania sudah mendekatinya.


Fadlan sudah tersenyum lalu menaruh map kerjaannya ke atas meja. Si mantan Duda pemalu itu lalu menarik tangan Rania untuk mendekat.


"Mas tidak akan lupa dengan acara kita." ujar Fadlan sambil merangkul istrinya.


"Tuh kan penyakit malunya minggat kalau matanya disodorkan pemandangan yang menyilaukan mata." batin Rania.


"Mas Suami, sebelum kita nyari pahala diatas ranjang, aku ingin mas Suami merayuku dulu, aku ingin mas menggodaku dulu, baru setelah itu mas boleh nyolek nyolek."


Fadlan sudah mengernyit. Ia bingung harus merayu dan menggoda seperti apa, ia tak punya bakat untuk merayu perempuan.


"Aku tidak bisa merayu."


"Dicoba dulu mas, sebentar saja, rayu aku dulu." pinta Rania. Fadlan dibuat kebingungan.


"Coba tanya Mbah Go*gle bagaimana caranya merayu seorang istri." Rania memberi ide.


Fadlan menurut, ia mengambil hape dan langsung melakukan sesuai saran istrinya. hampir 30 menit Fadlan mencari-cari cara merayu istri. Rania yang melihat pun langsung mengernyit.

__ADS_1


"Ini si mas Suami nyari apaan sih, Tibang nyari cara merayu saja lamanya minta ampun." batin Rania heran.


"Mas suami, aku keburu ngantuk loh."


Fadlan tersenyum lalu menaruh hapenya, setelah itu ia mendekati Rania yang kini sudah duduk ditepi ranjang. Malu-malu Fadlan mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya sambil berbisik.


"Rania kau cantik."


Setelah berbisik, Fadlan memundurkan tubuhnya, ia sudah menunduk malu. Rania sudah mengernyit, itu adalah rayuan Fadlan untuk Rania.


"Jadi nyari cara merayu istri yang hampir memakan waktu 30 menit lebih cuma ngomong aku cantik doang. Aku sedikit tidak percaya, suamiku memang bakat yang luar biasanya cuma pemalu doang, dia gak punya bakat yang lain itu yang sering dikatakan ustadz Usman. Padahal hampir tiap hari Pipit dan Zidan memanggilku umi cantik. Kayanya si mas Suami perlu belajar dari ustadz Riziq deh, biar level ngegombalnya level 10, inimah level 1 saja belum nyampe. Sungguh terlalu." batin Rania.


Fadlan yang tau jika Rania sedikit kecewa dengan rayuan yang ia berikan. Fadlan sudah menggenggam tangan istrinya.


"Mas tau kau kecewa karena mas tidak pandai merayu, tapi percayalah mas sangat mencintaimu" ujar Fadlan hingga Rania tersenyum.


"Meskipun suamiku tidak pandai merayu, tapi dia tetap terlihat menggemaskan dimataku."


"Terkadang ada sebagian lelaki yang tidak pernah memberikan rayuan pada istrinya, tapi lebih mengedepankan tindakan untuk membahagiakan istrinya." ujar Fadlan yang tiba-tiba mendekat. Kini Rania lah yang dibuat deg-degan, apalagi saat Fadlan mengungkungnya ditempat tidur sambil menempelkan hidungnya ke hidung Rania.


"Aku mencintaimu."


Kembali Fadlan berbisik sambil mencoba menempelkan bibirnya, namun baru saja nempel tiba-tiba ada yang menggedor pintu.


BRUGH BRUGH BRUGH.


"Abi buka pintunya." teriak Pipit.


Fadlan dan Rania sudah saling lirik, dan akhirnya mereka mengalah. Fadlan merangkak turun dan membuka pintu kamarnya, Rania pun langsung menarik selimut menutupi tubuhnya biar Pipit tidak melihat ia menggunakan baju porno.


"Kenapa sayang?" tanya Fadlan.


Pipit malah berlari mendekati Rania.


"Umi cantik, aku ingin tidur sama umi." Pipit merangkak naik keatas ranjang dan merebahkan dirinya disebelahnya Rania. Fadlan sudah menggaruk kepalanya.


"Sabar Fadlan."


Rania sudah tersenyum getir, namun ia merasa lucu melihat reaksinya Fadlan.


"Sabar ya mas Suami, masih ada hari esok. Episode kedua nya kita cencel dulu. Besok kita lanjut, sekalian sama episode tiganya. Jadi besok malem itu kita double episode."

__ADS_1


Akhirnya mereka tidur bertiga.


__ADS_2