Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Bahagia


__ADS_3

Masih di hari yang sama. Setelah menemui Rania, ustadz Usman kembali ke perkebunan, begitu juga dengan Rania yang kembali ke klinik. Ustadz Usman pun menceritakan kejadian barusan pada kakaknya itu.


"Kata si Rania, putramu itu habis mengatakan cinta padanya," ujar ustadz Usman memberitahu.


"Benarkah?"


Tanya ustadz Soleh meyakinkan.


"Hmmm, kata si Rania sih begitu, makanya tadi dia berjingkrak jingkrak kesenengan, sayangnya putramu itu setelah mengatakan cinta dia langsung ngibrit kabur, merasa malu bukan main hingga memutuskan untuk melarikan diri."


Mendengar itu ustadz Soleh merasa senang, itu tandanya Fadlan ada rencana untuk menikah.


"Aku senang Man mendengar nya." Ujar ustadz Soleh.


"Sebenarnya aku juga ikut senang mendengarnya, tapi aku mau protes pada putramu itu. Dia membuatku malu sebagai Om nya, masa dia mengatakan cinta di kuburan, boro-boro romantis yang ada jadi horor." Gerutu ustadz Usman.


"Kau kan tau sendiri kalau putraku itu punya penyakit pemalu."


"Aku sarankan, kalau lagi hamil itu jangan suka main-main ke kebun, tuh kak Sarah pasti menginjak pohon putri malu, jadinya kan sekarang si Fadlan punya penyakit pemalu stadium tiga." Tutur ustadz Usman kembali.


"Do'akan saja Man, kalau mereka memang berjodoh, semua urusan akan di permudah."


"Tidak kusangka kau akan besanan dengan Dokter Husna. Kau pasti akan mendapatkan suntikan geratis darinya."


Sementara dengan Rania yang kini sudah sampai di klinik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Rania sudah tersenyum-senyum bahkan berputar-putar dihadapannya Dokter Husna. Dokter Husna yang melihat pun merasa heran.


"Kau minta di periksa?" Tanya Dokter Husna.


Rania malah memeluk ibunya.


"Bu, aku sedang merasa bahagia dunia akhirat. Itu si mas Duda barusan nembak aku di pemakaman, dia mengatakan cinta padaku didekat makam istrinya." Tutur Rania.


Dokter Husna pun tersenyum, ia senang mendengarnya.


"Mas Fadlan mengatakan cinta padamu?"


"Iya Bu."


"Yakin yang mengatakan cinta itu mas Fadlan bukan bayangannya?" Goda Dokter Husna. Rania langsung cemberut.

__ADS_1


"Tentu saja itu si mas Duda asli Bu, kakinya nginjek tanah. Tapi lucunya itu ketika habis mengatakan cinta padaku dia langsung berlari kabur, sempat aku lihat kalau mukanya merah, sepertinya si mas Duda merasa malu." Tutur Rania. Lagi-lagi Dokter Husna hanya tersenyum.


"Ibu senang mendengarnya. Ibu juga senang melihat mu bahagia."


"Aku pulang dulu ya Bu, aku mau ganti baju, bajuku kotor tadi habis jingkrak-jingkrak."


Rania pun pulang dulu ke rumahnya. Dokter Husna sudah terdiam, ia memang senang jika Fadlan pun merasakan hal yang sama seperti putranya.


"Bagaimana jika mas Fadlan tau kalau Rania punya hutang pada rentenir, apa dia akan menerima nya?" Batin Dokter Husna.


***


Fadlan yang kini sudah berada di rumahnya dan duduk di sofa sambil mengatur nafasnya setelah berlari kencang dari pemakaman menuju rumahnya, padahal sudah sedari tadi ia sampai ke rumah. Sebenarnya bukan hanya ngos-ngosan gara-gara berlari, tapi ia juga ngos-ngosan merasa malu dan tidak menyangka jika dirinya berani mengungkapkan perasaannya pada Rania meskipun membutuhkan banyak tenaga dalam untuk mengatakan tiga kata itu.


Dari rumah sebelum ia bertemu dengan Rania, ia sudah punya semangat 45, giliran bertemu dengan Rania, semangat 45 nya seolah dibawa terbang burung merpati hingga semangat Fadlan tiba-tiba melempem.


Fadlan kembali memegangi dadanya.


Deg deg deg deg.


"Kenapa deg-degan nya gak hilang-hilang sih?"


Fadlan sudah bingung sendiri. Rania belum juga terdengar menjawab cintanya, ia malah langsung kabur. Namun Fadlan mulai tersenyum senyum. Anak-anaknya yang mengintip di kamar pun sudah saling lirik merasa heran jika Abinya itu senyum-senyum sendiri sambil memegangi dadanya.


"Si Abi kenapa ya?" Bisik Zidan.


"Kayanya bukan penyakit jantung deh. Kalau Abi lagi sakit gak mungkin dia senyum-senyum."


"Apa Abi punya penyakit gila?"


"Sssttthhh."


Fadlan dapat mendengar suara bisik-bisik di kamarnya Zidan, ketika ia melirik kearah kamar itu, ia dapat melihat ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan nya. Fadlan langsung berdehem.


"Ekhem.... Hati-hati bintitan." Ujar Fadlan.


Zidan dan Pipit yang ketahuan ngintip pun langsung keluar sambil cengengesan. Pipit dan Zidan sudah duduk disebelahnya Fadlan sambil menatap Abinya itu dengan rasa heran.


"Kenapa?"


"Abi kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Pipit sambil memegangi dadanya Fadlan, Pipit langsung melotot merasakan debaran jantung Abinya itu.


"Dada Abi kenapa?, Ko kaya ada suara rame-rame?" Tanya Pipit cemas.


"Ayo Abi aku antar ke klinik." Zidan sudah menarik tangannya Fadlan.

__ADS_1


"Eh Abi tidak apa-apa. Sini duduk, Abi ingin bicara dengan kalian." Pinta Fadlan.


Zidan dan Pipit sudah pokus duduk disebelahnya Fadlan.


"Katakan Abi ingin bicara apa?" Pipit sudah tidak sabar.


Ragu-ragu Fadlan mulai bicara.


"Jika Abi ingin menikahi Tante Rania, kalian mengijinkan tidak?" Tanya Fadlan malu-malu.


Mendengar itu Pipit dan Zidan langsung menganga, kemudian mereka memeluk Fadlan dengan erat.


"SETUJUUUU."


Dengan antusiasnya Pipit dan Zidan bilang setuju.


"Aku setuju banget Bi, ayo sekarang juga kita temui Tante Rania, langsung menikah hari ini saja Bi." Ujar Zidan. Fadlan langsung mengernyit.


"Abi belum bicarakan ini dengan Tante Rania, Abi juga belum membicarakan ini dengan Abi Soleh dan umi Sarah." Ujar Fadlan.


"Kalau begitu segera bicarakan ini pada mereka, aku sudah tidak sabar ingin lihat Abi menikah lagi."


Pipit dan Zidan sudah tidak sabar. Fadlan pun merasa senang jika kedua anaknya merestui hubungan nya dengan Rania.


***


Sementara dengan pak Beno yang kini sudah mendapatkan informasi tentang Rania di kota A. Sebelumnya pak Beno menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Rania karena Rania mendadak tidak ada kabar, padahal waktu yang ditentukan pun hampir tiba, apalagi Rania akhir-akhir ini Rania sangat susah untuk dihubungi, mungkin Rania terlalu pokus dengan kebahagiaan nya sekarang. Satu Minggu lagi pak Beno akan menemui Rania untuk menagih hutangnya karena tiga bulan hampir berlalu.


Anak buahnya pak Beno memberikan informasi.


"Rania kini tinggal di kota A bersama ibunya. Dari informasi yang saya dapat, kalau Rania kini sedang berhubungan dengan lelaki bernama Fadlan. Rania sangat menyukai lelaki itu." Tutur anak buahnya pak Beno.


"Apa Rania bekerja?"


"Tidak pak, Rania tidak bekerja, ia hanya membantu ibunya di klinik."


"Cari informasi tentang lelaki bernama Fadlan itu, secepatnya." Pinta pak Beno.


"Siap Bos."


Pak Beno sudah merasa kesal mendengar Rania menyukai seorang lelaki.


"Berani sekali kau berhubungan dengan lelaki lain. Kau harus ingat Rania, satu Minggu lagi hutangmu harus segera lunas, kalau tidak kau harus menikah denganku." Batin pak Beno.


Kini pak Beno sedang menunggu informasi tentang siapa Fadlan, setelah ia tau, ia akan menyusun rencana untuk menjauhkan Fadlan dari Rania.

__ADS_1


"Rania hanya boleh jadi milikku, hanya milikku."


__ADS_2