Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
menggoda lagi


__ADS_3

Masih dengan Fadlan yang kini sedang tersenyum-senyum di kamarnya. Ia masih tidak percaya jika Rania si gadis muda blasteran itu jatuh cinta padanya. Sebenarnya Fadlan bukan tidak suka dengan gadis perawan, hanya saja diusianya yang kini menginjak 37 tahun, ia sudah tidak punya rasa percaya diri. Usia Rania sekarang baru 25 tahun, tentunya 12 tahun perbedaan usia mereka.


"Apa putrinya Dokter Husna itu benar-benar menyukaiku?, Atau dia hanya mengerjai ku saja, selama ini kan dia senang menggodaku. Fadlan, sebaiknya kau jangan ge'er dulu, siapa tau Rania cuma bohong atau hanya bercanda." Batin Fadlan.


Tok tok tok.


Tiba-tiba pintu kamar Fadlan ada yang mengetuk.


"Abi."


Terdengar Pipit memanggil.


"Masuk."


Setelah mendapatkan izin, Pipit pun masuk sambil membawa Boneka kesayangannya. Fadlan tersenyum dan langsung memeluk putri bungsunya itu.


"Kau belum tidur?" Tanya Fadlan. Pipit hanya menggeleng.


"Aku mau tidur sama Abi."


"Nanti Abi bacakan dongeng ya."


Fadlan sudah mengelus-elus kepalanya Pipit, agar putrinya itu cepat tidur. Namun Pipit malah mengadakan sesi curhat terlebih dahulu.


"Bi, tadi kan aku saling curhat sama si Yura waktu di kelas. Aku bilang kalau aku sebentar lagi mau punya umi baru. Eh si Yura malah ketawa sambil bilang manahong" Tutur Pipit.


"Kenapa si Yura ketawa?"


"Kata si Yura kalau aku nanti punya ibu baru, nanti aku akan tambah kesepian katanya, soalnya ibu barunya nanti akan diajak Abi miting terus, kaya Tante Zahira yang suka mengadakan miting sama om Yusuf, dan si Yura suka dititipin di rumahnya ustadzah Ulfi." Tutur Pipit. Fadlan langsung mengernyit.


"Emang miting itu apa si Bi, kasihan loh si Yura jadi kesepian meskipun dia punya Abi sama Umi, tapi dia harus menginap di rumah neneknya. Pokoknya nanti kalau aku sudah punya ibu baru, aku mau tidur dengan kalian, gak mau dititipin di rumahnya nenek Sarah." Tutur Pipit. Fadlan hanya tersenyum.


"Sudah malam, Pipit tidur ya."


Akhirnya Pipit pun tertidur dipeluknya Fadlan, tiba-tiba pula ada tangan yang melingkar ke pinggang nya Fadlan, dilihatnya kini Zidan memeluknya dari belakang. Fadlan pun tersenyum. Akhirnya mereka tidur bertiga. Selama ini Fadlan memang merasakan sesuatu yang kurang lengkap tanpa kehadiran istri dan ibu untuk anak-anaknya.


***


Keesokan harinya, Rania sudah berdandan rapih, mengucapkan kemeja serta rok senada. Menatap diri dicermin sambil berputar-putar, bibirnya tersenyum tiada henti. Semalam ia bermimpi diajak kencan romantis berdua di restoran.


"Mas Duda, nanti siap-siap ya, kita akan makan berdua di restoran." Ujar Rania menatap cermin.


Saat Dokter Husna membuka pintu kamarnya Rania, ia tersenyum melihat putrinya sedang senyum-senyum sendiri di depan cermin.

__ADS_1


"Ekhem, duh yang lagi jatuh cinta sedari tadi senyum-senyum sendiri." Goda Dokter Husna.


"Sssttthhh, ibu jangan diganggu, putrimu ini sedang jatuh cinta."


Rania mendekati ibunya dan berputar-putar.


"Bu, aku cantikkan?. Kalau sampai si mas Duda itu tidak menyukaiku, berarti dia tidak normal." Ujar Rania.


"Putri ibu paling cantik."


Rania sudah tersenyum-senyum dipuji ibunya.


"Bu, disini siapa yang punya senjata tajam, pokoknya senjata yang paling, paling tajam. Aku mau pinjam."


"Untuk apa kau meminjam senjata tajam?"


"Untuk membunuh si mas Duda. Kalau sampai dia menolak cintaku, dan membuat aku patah hati, dari pada aku yang bunuh diri, lebih baik aku yang bunuh si Duda pemalu itu." Ujar Rania. Dokter Husna langsung mengernyit.


"Kau sudah gila ya." Gerutu Dokter Husna hingga Rania langsung tertawa-tawa.


"Bercanda doang Bu."


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Waalaikumussalam."


"Ada tamu Bu, tapi dari suaranya kaya suara si mas Duda, sepertinya dia datang untuk mengapelin aku deh, tapi kenapa ngapelnya harus pagi-pagi begini sih." Ujar Rania yang kini berjalan untuk membukakan pintu.


Cekleeek.


Rania langsung tersenyum melihat Fadlan berdiri didepan rumahnya bersama Pipit.


"Ikh mas Duda genit deh, baru saja kemarin aku bilang jatuh cinta, ko sekarang mas Duda udah datang ngapel sih, emang gak takut digered ustadz Soleh ke KUA ya." Ujar Rania.


Fadlan menggeleng sambil menundukan wajahnya, sementara Pipit sudah cekikikan tak bersuara.


"Idiih mas Duda suka malu-malu meong begitu sih, bilang saja mau ngajakin aku kencan romantis, tapi kenapa harus bawa-bawa Pipit sih, pasti Pipit mau dijadikan lilin buat menambah keromantisan kencan kita ya." Ujar Rania sambil tersenyum-senyum. Fadlan sudah mengernyit, dan Pipit masih saja cekikikan.


"Maaf Rania, aku datang kesini mau ketemu Dokter Husna." Ujar Fadlan. Kembali Rania tersenyum-senyum.


"Hayoooo ngapain nyariin ibu, pasti mas Duda mau minta restu ya sama ibu untuk menghalalkan ku."

__ADS_1


Fadlan masih menggeleng.


"Ikh jangan suka malu-malu begitu, kan aku jadinya makin gemeeezzz." Tangan Rania sudah gatel ingin mencubit pipinya Fadlan, untungnya dia masih bisa menahan.


Dokter Husna pun menghampiri mereka.


"Eh ada Pipit, tumben pagi-pagi kesini ada apa ya?" Tanya Dokter Husna.


"Maaf Dokter Husna, pagi-pagi sudah mengganggu, ini Pipit giginya kambuh." Ujar Fadlan.


"Bohong Bu, mas Fadlan cuma menjadikan Pipit sebagai alat, padahal dia kesini mau ngapelin aku." Ujar Rania sambil tersenyum senyum. Fadlan kembali menggeleng-geleng. Sementara Dokter Husna sudah mencubit tangannya Rania.


"Mari Pipit kita ke klinik." Ajak Dokter Husna menuju klinik. Fadlan mengikutinya dari klinik begitu juga dengan Rania.


Sesampainya di klinik, Dokter Husna langsung memeriksa giginya Pipit. Rania sudah mengedip-ngedipkan matanya pada Fadlan hingga Fadlan sigap menatap lantai.


"Rupanya sainganku bukan cuma janda, tapi juga lantai. Mas Duda ini terlalu, dia lebih memilih menatap lantai dibanding menatapku. AADL kembali deh. Ada apa dengan lantai." Batin Rania.


"Mas Duda, Pipit kan lagi diperiksa sama ibu, mau gak mas Duda aku yang periksa, gak usah giginya yang diperiksa, cukup hatinya saja, mendadak aku kepo, siapa tau dihatinya mas Duda sudah mulai tertera namaku. Meskipun belum ada nama Rania, aku yakin sudah ada huruf R disana. A N I A nya selalu sabar untuk masuk ke hatinya mas Duda." Tutur Rania.


"Aku tidak mau diperiksa, aku baik-baik saja." Ujar Fadlan yang sedikit takut.


"Rania jangan usil." Pinta Dokter Husna.


"Bukan usil Bu, cuma Kepo doang. Mas Duda ini lagi malu-malu padaku."


"Sstth ssth ssth."


Rania sudah memberi kode biar Fadlan mau menatapnya. Fadlan hanya diam menunduk, digoda seperti itu, rasa malu Fadlan semakin bertambah, belum lagi Rania selalu memandangnya sambil tersenyum-senyum. Beberapa hari yang lalu Rania mengatakan jika dirinya mau berhenti menggoda Fadlan, namun rupanya Rania tidak bisa kalau tidak menggoda Fadlan.


Ketika Dokter Husna memberikan beberapa obat, ia juga menjelaskan tentang cara agar Pipit terhindar dari sakit gigi yang sering kambuh itu.


"Semoga cepat sembuh ya Pipit." Ujar Dokter Husna.


"Terima kasih Dokter Husna. Dokter masih punya janji padaku, katanya Dokter Husna mau memberi obat untuk penyakit dadaku." Pipit mengingatkan.


"Maaf ya, Dokter Husna belum menemukan obatnya."


"Tapi aku sudah menemukan obatnya Dokter."


"Benarkah?"


"Hmmm, sini aku bisikin sesuatu biar Dokter Husna tau." Ujar Pipit hingga Dokter Husna mendekatinya. Pipit langsung berbisik di telinganya dokter Husna.

__ADS_1


"Obatnya itu Tante Rania. Berikan Tante Rania untuk Abi, hi hi hi."


__ADS_2