Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Hari kesepuluh


__ADS_3

Hari kesepuluh pernikahan pun tiba. Fadlan baru pulang dari luar kota, ia sudah menjalankan bisnisnya seperti biasa. Hari ini ia pulang cepat, selain rindu pada putra putrinya, ia juga rindu pada istrinya, padahal baru tadi pagi ia meninggalkan rumah.


"Assalamualaikum."


Tidak ada jawaban dari istri maupun anak-anaknya. Fadlan menatap jam tangannya dilihatnya masih jam 16:15, tak mungkin jam segitu Rania pergi ke klinik. Fadlan juga sering memperingatinya jika hendak keluar rumah harus izin dulu.


"Rania."


Di ruang tamu tidak ada, di dapur juga tidak ada, kini ia masuk ke kamarnya, Rania tidak terlihat namun terdengar gemericik air. Fadlan merasa tenang karena istrinya ada di rumah sedang mandi.


Karena merasa lelah setelah pulang dari luar kota yang hanya ia lakukan satu Minggu sekali. Fadlan sudah duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya sambil terpejam.


Cekleeek.


Fadlan seketika membuka matanya, dilihatnya Rania keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja, terlihat Rambutnya yang terurai basah membuat si mantan Duda pemalu itu deg-degan gak karuan. Rania pun terkejut melihat suaminya sudah datang.


"Mas suami sudah pulang?" tanya Rania sambil mendekati mencoba untuk menggoda suaminya dengan berjalan mendekat. Melihat Rania menggunakan handuk sambil menggibas gibaskan rambutnya yang basah, membuat Fadlan tidak fokus dan memilih untuk menunduk, gerogi disertai malu.


Rania sudah tersenyum gemas melihat suaminya sedang malu-malu kucing anggora.


Tiba-tiba Rania duduk di pangkuannya Fadlan, jangan tanya si mantan Duda pemalu itu ia sudah deg-degan gak karuan, apalagi saat Rania menggibas kan rambutnya yang basah hingga menyerempet wajahnya.


"Awww."


"Oh maaf." ujar Rania yang memang sengaja menggibaskan rambutnya hingga wajah Fadlan sedikit basah. Rania dengan lembut menggoda mengusap wajah suaminya yang basah akibat keserempet rambutnya. Fadlan yang diperlakukan seperti itu mendadak sesak nafas. Tiba-tiba Rania terdiam ketika melihat dadanya Fadlan naik turun. Perlahan Rania menaruh tangannya ke dada suaminya, ia langsung mengernyit.


"Ya ampun, dadanya si mas Suami sudah seperti ada kolaborasi antara MELLY GOESLAW dan AGNEZ MO. Dadanya kembang kempis merangkai butir cinta seperti lagunya Melly Goeslaw dalam film Ketika cinta bertasbih. Jantungnya sudah dag-dig-dug seperti ada konser Agnez mo."


Rania sudah ingin tertawa namun ditahannya. Ia kembali menggoda Fadlan, karena kalau nunggu digoda suaminya itu butuh waktu yang lumayan lama dan menguras kesabaran. Rania sudah mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Mas Suami lihat gak rambutku yang basah?" tanya Rania dengan nada menggoda. Fadlan pun mengangguk.


"Tau gak itu artinya apa?" kembali Rania bertanya masih dengan nada menggoda. Fadlan kembali mengangguk.


"Kalau mas suami tau, berarti mas suami sudah PA pake HAM dong kalau malam ini adalah malam pengantin yang ke sepuluh kita. Ingat ya mas, malam kedua sampai ke sepuluh, kita rapel malam ini, bergadang sampai sore." ujar Rania mengingatkan. Fadlan hanya menunduk malu, kembali Rania mengernyit.


"Ini suamiku sedari tadi menunduk malu terus, kayanya otak kita ketuker deh."


Kembali Rania tersenyum-senyum sambil merangkul semakin mendekat.


Cup.


Baru saja nempel tiba-tiba terdengar suara Pipit yang mencari Rania.


"Umi cantik aku pulang."

__ADS_1


Rania terkejut dan langsung loncat dari pangkuan suaminya, ia langsung berlari kembali menuju kamar mandi, tidak mau sampai Pipit melihat ia hanya memakai handuk saja, ia yakin jika putrinya itu pasti akan menerobos masuk kamar. Saat berlari ke kamar mandi, Rania terpeleset.


SREEDEEEEET JEBREEED.


"Awwww."


Rania mengaduh apalagi saat keningnya mencium pintu kamar mandi. Fadlan terkejut.


"Astaghfirullah alazim, Rania kau tidak apa-apa?" Fadlan mencoba membangunkan.


"Keningku sakit."


Dan benar saja, Pipit menerobos masuk kamar.


"Umi cantik dimana."


Teriak Pipit sambil mencari.


Setelah membangunkan Rania, Fadlan pun bergegas menemui putrinya dan membiarkan Rania untuk memakai bajunya di kamar mandi.


"Pipit."


"Abi sudah pulang?" tanya Pipit.


Fadlan tersenyum lalu menggendong Pipit menuju ruang keluarga.


"Umi cantiknya mana?"


"Umi sedang berganti pakaian."


Setelah hampir 15 menit, Rania keluar dari kamarnya, sudah berdandan rapih, namun bibirnya sedikit merenggut karena keningnya kejedot pintu kamar mandi saat terpeleset. Fadlan sudah menyuruhnya duduk disebelahnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Fadlan sambil mengecek kening istrinya.


"Sakit mas, benjol kayanya."


"Gak benjol ko, cuma merah saja. Sebentar mas oleskan salep dulu." Fadlan dengan hati-hati mengoleskan salep.


"Umi cantik kenapa?"


"Kening Umi dikecup pintu, sayang." ujar Rania yang kini sudah mendudukan Pipit ke pangkuannya. Tidak lama kemudian Zidan datang dan langsung ikut bergabung.


***


Malam pun tiba. Rencana malam kesepuluh pun sudah diatur Rania sedemikian rupa, tak mau sampai dipending lagi, kali ini ia sedang menina bobokan Pipit dikamar putrinya, tak ingin lagi Pipit mengganggu acaranya. Seperti biasa Zidan masih banyak tugas hingga akhirnya ia tidur lagi di asrama bersama teman temannya.

__ADS_1


"Umi bacakan aku cerita atau dongeng dulu ya." pinta Pipit.


"Baiklah tapi setelah itu langsung tidur ya. Malam ini agenda Umi sangat padet pake banget."


Pipit mengangguk-angguk meskipun tidak mengerti.


"Umi akan menceritakan kisah tentang pengeran pemalu dan si putri cantik........


Pada suatu hari ada putri cantik yang sedang tersesat,,," Tiba-tiba Rania mengernyit ketika melihat Pipit sudah tertidur.


"Baru juga mulai cerita eh udah tidur duluan. Tapi baguslah karena malam ini aku sama Abinya ada miting yang sudah direncanakan." batin Rania.


Ketika melihat putrinya sudah terlelap, Rania pun mencium keningnya.


"Selamat tidur Pipit."


Rania pun meninggalkan Pipit dan kembali ke kamarnya, dilihatnya Fadlan sedang membaca Al-Qur'an. Ketika tau Rania datang, Fadlan langsung menyudahinya. Sementara Rania langsung masuk ke kamar mandi. Fadlan duduk di sofa sambil menunggu istrinya.


Tidak lama kemudian Rania keluar dari kamar mandi.


CEKEEEEEEK.


Kembali Rania menggunakan baju porno untuk menggoda suaminya. Kalau hari pertama memakai lingerie berwarna hitam, dan malam kedua memakai lingerie berwarna pink, kali ini Rania menggunakan baju lingrie yang tidak ada warnanya. Fadlan kembali menunduk, jantungnya mendadak heboh kembali.


Rania sudah mendekatinya sambil berputar putar dihadapan suaminya, sengaja ingin menggoda si mantan Duda pemalu itu dengan baju seksi tanpa warna. Perlahan ia kembali duduk dipangkuan nya Fadlan.


Tereng tereeeeng tereng treeeeng (musik Dono Kasino Indro).


"Mas Suami."


Rania sudah meraba dada suaminya yang kini sudah deg-degan gak karuan.


"Terjadi konser kembali, tapi kali ini bukan kolaborasi antara Melly Goeslaw dan Agnes Mo, tapi seperti acara tahun baru yang dimeriahkan oleh cap kembang api. DUAAAAARRRR. NGE pake RI, ngeri." batin Rania.


"Mas Suami penyakit jantungnya kumat ya?" tanya Rania sengaja menggoda. Fadlan sudah terlihat salah tingkah, bahkan dahinya mulai berkeringat. Rania sudah menahan tawanya.


"Oh Pipit, sepertinya Abi mu butuh kanebo. Sekarang si mas Suami lagi HA RE DANG, butuh angin, tapi bukan angin puti*g beliung, apalagi angin tornado, yang jelas, si mas Suami lagi butuh angin cinta."


Kali ini Rania mulai berbisik dengan nada menggoda.


"Mas suami gak lupa kan dengan acara kita malam ini?" tanya Rania mengingatkan sambil telunjuknya meraba-raba dadanya Fadlan. Fadlan semakin sesak nafas.


Fadlan mengangguk sambil malu-malu. Rania sudah menahan tawanya melihat reaksi suaminya malu-malu tapi mau.


"Ayo kita mulai, takutnya waktunya gak keburu, soalnya kita punya sembilan acara loh." ujar Rania mengingatkan.

__ADS_1


Seketika Fadlan langsung menggendong Rania menuju tempat tidur untuk mencari pahala yang tertunda.


__ADS_2