Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Berobat


__ADS_3

Masih dihari yang sama, untuk seminggu kedepan Fadlan libur dalam pekerjaannya, libur ke kebun, libur ke luar kota, libur membantu ustadz Soleh dalam urusan pesantren. Pipit sudah berangkat ke sekolah santri bersama Yura diantar Sarah. Zidan pun sudah berangkat. Rania juga sudah mengajak Fadlan ke klinik.


"Ayo mas Suami, aku antar ke klinik, nanti ibu bisa mengobati luka jempol kakinya mas Suami."


"Tidak usah Rania, sepertinya sudah sembuh." Fadlan menolak.


"Nggak mas, mas Suami harus diperiksa lebih lanjut, takutnya nanti infeksi, kalau sudah infeksi pasti harus di impus." Rania malah membuat Fadlan takut dan akhirnya menyerah.


Tak lupa juga Rania membawa kalender ajaib garapan Zahira yang akan dipasang nya di klinik. Rania dan Fadlan tidak tau jika kalender itu isinya hari Jum'at semua. Rania sudah menaiki mobil Fadlan, hingga si mantan Duda pemalu itu mengernyit.


"Ran, ko naik mobil?"


"Iya mas, kan kakinya mas Suami lagi sakit, nanti jalannya sakit. Jadi kita naik mobil saja, dan itu pun harus aku yang nyetir, takutnya mas Suami gak bisa nginjek rem karena sakit."


Lagi-lagi Fadlan pasrah menurut dan duduk disebelahnya Rania yang kini sudah menyetir. Ditengah jalan bertemu dengan ustadz Usman yang hendak pergi ke asrama santri.


Ustadz Usman sudah mengernyit melihat Rania dan Fadlan naik mobil namun Rania yang menyetir.


"Assalamualaikum, mau liburan kemana?" tanya ustadz Usman.


"Waalaikumussalam. Ke klinik."


Kembali ustadz Usman mengernyit. Ia mengira Fadlan dan Rania akan pergi liburan.


"Terjadi lagi keanehan pasangan pengantin baru ini, udah semalam yang berdarah itu si Fadlan, kini yang nyetir si Rania, ditambah lagi sekarang mau bulan madu di klinik."


Tidak sengaja ustadz Soleh lewat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Kenapa wajahmu aneh Man?"


"Itu putramu semenjak jadi pengantin baru, ia terlihat begitu aneh. Kudengar semalam dia menjerit kesakitan, kata si Zidan si Fadlan berdarah, kan aneh yang perawan istrinya tapi yang berdarah suaminya." Tutur ustadz Usman. Ustadz Soleh sudah mengernyit.


"Semalam kau mengintip putraku Man, kurang kerjaan banget." Ustadz Soleh sedikit menggerutu.


"Gak sengaja kedengeran. Barusan putramu lewat, dia bilang mau liburan ke klinik bawa mobil."


Sesampainya Fadlan dan Rania di klinik. Baru saja turun dari mobil, Rania sudah berteriak pada ibunya.


"Assalamualaikum Bu, bisa tolong minta bawa brankar dorong kesini."


Fadlan yang mendengar langsung mengernyit.


"Rania, mas masih bisa jalan, jadi tidak perlu brankar dorong."


"Oh ok, kalau begitu aku gendong ya." ujar Rania. Kini Fadlan sudah menganga, kemudian menggeleng.

__ADS_1


"Jangan."


Rania malah tersenyum senyum, lalu menunjuk Fadlan.


"Sekarang saja gak mau digendong, giliran semalem saja maunya di,,,,"


Belum juga Rania selesai bicara, Fadlan sudah membungkamnya lebih dulu.


"Sssttthhh."


"Oh iya maaf mas Suami, itu cuma rahasia kita berdua ya." ujar Rania malu. Fadlan mengangguk tersenyum.


"Ya sudah biar ku gandeng masuk, biar pun pengen digendong, tetap aku gak akan kuat hi hi."


Rania dan Fadlan pun masuk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Dilihatnya ada Zahira yang sedang diperiksa Dokter Husna.


"Tante Ira sakit apa?" tanya Rania mendekati.


"Aku sakit hati. Ini semua gara gara putrimu Fadlan." Zahira menyalahkan Pipit hingga Fadlan mengernyit tidak mengerti.


"Si Pipit sering pamer punya ibu baru hingga si Yura dirasuki penyakit iri, dan pada akhirnya dia merajuk pengen punya ibu baru. Kesel deh ikh. Lama-lama aku jadi takut, cemas, khawatir dan was-was hingga pada akhirnya aku terkena darah tinggi." gerutu Zahira.


Rania sudah ingin tertawa namun ditahannya apalagi Fadlan sudah memberi kode untuk tidak bicara atau membela Pipit takut masalahnya jadi panjang.


"Maafkan Pipit ya Tante Ira." ujar Fadlan.


"Rupanya si Yura punya penyakit iri serta dengki ya, kasihan amat. Tapi lebih kasihan lagi Tante Ira. Perempuan yang merasa paling cantik di muka bumi ini rupanya sedang DI LE MA." batin Rania.


Rania mengelus pundaknya Zahira.


"Tante yang sabar ya, belajar ikhlas, mungkin ini ujian." ujar Rania sambil menahan tawanya.


"Kau benar, mungkin ini ujian, ujian untuk perempuan cantik jelita seperti ku. Mudah-mudahan kak Yusuf kuat mental dan kuat godaan."


Setelah diberi obat, Zahira pun berpamitan.


Kini Rania sudah menyuruh Dokter Husna untuk memeriksa kakinya Fadlan yang kini nampak sedikit membengkak.


"Bu tolong periksa kaki menantu ibu yang pemalu ini, semalam aku tidak sengaja menginjak kakinya hingga berdarah." ujar Rania.


Dokter Husna sudah menggeleng gelengkan kepalanya heran dengan kelakuan putrinya itu.


"Kau belum apa-apa sudah melakukan KDRT pada suami."

__ADS_1


"Sssttthhh ibu jangan berisik, takutnya nanti kedengaran Abi dan umi mertuaku, takutnya nanti aku diskorsing jadi menantu. Lagi pula kan aku tidak sengaja. Tapi kupikir sudah impas ko, karena semalam, si mas suami sudah berhasil membuatku menangis." tutur Rania. Fadlan sudah menunduk malu, sementara Dokter Husna sudah mencubit pinggang putrinya itu.


Dokter Husna pun sudah memeriksa luka menantunya itu.


"Lukanya sudah tidak apa-apa, sudah membaik, cuma bengkak sedikit saja, besok juga pasti normal lagi." ujar Dokter Husna.


"Tuh dengerin mas Suami, besok bengkaknya sudah bisa hilang, tapi kalau aku yang bengkak, bisa 9 bulan baru bisa normal lagi, dan itu pasti semua gara-gara mas Suami." ujar Rania yang sengaja menggoda suaminya apalagi Fadlan kembali menunduk malu itu membuat Rania semakin gemas. Dokter Husna kembali mencubit putrinya. Rania malah tertawa tawa.


"Maaf ya Fadlan, Rania kalau bicara memang suka begitu." ujar Dokter Husna. Fadlan hanya mengangguk tersenyum.


Tak lupa Dokter Husna memberikannya obat.


"Diminum satu hari tiga kali ya. Ibu juga kasih salep, nanti tinggal dioles saja."


"Ibu yakin mas Suami gak perlu di impus, itu kakinya bengkak loh Bu." ujar Rania. Mendengar di impus, Fadlan sudah bergidik ngeri.


"Tidak perlu Rania, kau jangan menakuti suamimu begitu." gerutu Dokter Husna, ia ingat betul jika Rania yang membuat Fadlan harus di impus gara-gara hantaman sepatu yang membuat hidung Fadlan berdarah.


"Ya sudah kalau tidak perlu di impus, aku bawa pulang ya mas Suaminya."


Akhirnya Rania dan Fadlan pun pamit dari klinik.


"Aku pulang dulu ya Bu."


Tak lupa Fadlan pun berpamitan pada ibu mertuanya.


"Aku pamit pulang Bu, terima kasih sudah diperiksa."


"Iya sama-sama, ibu harap kau bisa membimbing Rania ya, dan ibu juga harap kau bisa sabar menghadapi kelakuan istrimu itu. Rania memang begitu orangnya." tutur Dokter Husna. Fadlan hanya tersenyum.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Sebelum keluar dari klinik, Rania teringat dengan kalender ajaib garapan Zahira.


"Eh iya, aku kan mau masang kalender disini. Tunggu dulu ya mas Suami, aku ambil dulu kalendernya di mobil."


Setelah mengambil kalender itu, Rania langsung memasang kalender itu di klinik.


"Bu, aku pasang kalender disini ya, aku di rumah sudah ada kalender, jadi sayang kalau tidak dipajang, mubazir."


"Iya tidak apa-apa."


Rania dan Fadlan pun keluar dari klinik setelah memasang kalender. Mereka berjalan bergandengan.


"Kita kencan dulu yu di jembatan."


Fadlan mengangguk mengiyakan, dan mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju jembatan, dan lupa kalau mereka datang ke klinik naik mobil.

__ADS_1


__ADS_2