Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Perpisahan


__ADS_3

Satu Minggu pun kini telah berlalu. Malam itu, Fadlan sedang melamun di kamarnya, ia tidak bisa tidur memikirkan putrinya Dokter Husna. Fadlan sudah merasa berdamai dengan hatinya, ia sudah yakin sekarang jika Rania tidak mempermainkannya apalagi memanfaatkan nya.


"Besok aku harus menemui Rania sebelum terlambat."


Tiba-tiba hapenya berdering, ada nomer tidak dikenal menghubunginya. Fadlan terdiam, namun ia penasaran siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Seketika itu pula Fadlan langsung mengangkat teleponnya.


"Assalamualaikum."


Bukannya menjawab salamnya, ia malah mendengar suara gelak tawa seorang lelaki yang ia yakini itu adalah pak Beno.


"Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi padamu. Aku menghubungimu karena aku ingin memperingatkan mu jauhi Rania. Besok aku akan membawa Rania ke Jakarta, jika sampai kau menghalangiku, aku pastikan salah satu keluargamu akan celaka, atau bahkan seluruh keluargamu, termasuk Rania dan ibunya. Anak buahku selalu mengintai mu di depan gerbang, sekali lagi jika kau macam-macam, putrimu yang cantik itu akan menjadi korban." pak Beno mengancam.


Mendengar itu tentu Fadlan khawatir dengan keluarganya, terutama Pipit dan Zidan begitu pula pada Rania.


"Ya Allah jauhkan orang-orang zalim itu dari keluargaku."


***


Hari ini Rania pasrah dengan apa yang akan terjadi. Fadlan tidak memberikan pernyataan apapun padanya. Sudah seharian ini pak Beno menghubungi Rania, mengingatkan jika besok adalah jatuh tempo pembayaran hutangnya. Sampai saat ini Rania tidak mempunyai uang untuk melunasi hutangnya.


"Tidak ada cara lain selain menikah dengan pak Beno." Ujar Rania pasrah.


Dokter Husna yang mendengar pun langsung menangis, ia ingin membantu putrinya, tapi uang tabungannya tidak sebanyak hutang putrinya itu.


"Ibu tidak rela jika kau dinikahi pak Beno, sungguh ibu tidak ikhlas. Masih ada cara untuk melunasi hutangmu, ibu akan pinjam uang pada ustadz Usman." Ujar Dokter Husna, namun Rania melarangnya.


"Tidak Bu, ini semua salahku, ibu tidak perlu repot-repot meminjam uang pada ustadz Usman, lagi pula kita tidak punya jaminan apapun. Mas Duda juga tidak ada respon, diakan sudah membatalkan lamarannya padaku, tidak ada yang harus diperjuangkan selain pasrah menerima semuanya." Tutur Rania.


"Bukankah kau sangat mencintai Fadlan?"


"Hmmm, tapi kenyataannya dia tidak memperjuangkan ku." Jawab Rania.


"Fadlan hanya termakan ucapannya pak Beno. Ibu yakin setelah ia percaya padamu, dia pasti akan membantumu."


"Percayanya kapan Bu, apa setelah aku menikah dengan pak Beno, baru dia sadar kalau aku tulus mencintainya, sepertinya itu sudah terlambat Bu. Besok anak buahnya pak Beno akan menjemput kita disini untuk pergi ke Jakarta, lusa nya aku akan dinikahi pak Beno. Tidak ada pilihan lain Bu, mungkin ini sudah takdirku seperti ini." Ujar Rania. Dokter Husna sudah menyeka air matanya.


"Pesan ibu satu ya Ran, apapun yang terjadi, ibu mohon jangan lepas kerudung mu, jangan rubah penampilan mu seperti dulu lagi. Pertahankan Rania yang sekarang." Pinta Dokter Husna. Rania pun mengangguk-angguk.


"Aku merubah penampilan ku itu karena Allah, bukan karena mas Duda, jadi aku tidak akan merubah penampilan ku yang sekarang meskipun si mas Duda itu meninggalkan ku."

__ADS_1


Dokter Husna tersenyum mendengarnya, lalu ia memeluk Rania dan mencoba menenangkan putrinya itu.


***


Sore pun tiba, Rania pergi untuk menemui Fadlan, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Besok ia akan pergi ke Jakarta untuk mempersiapkan pernikahannya dengan pak Beno si rentenir tua.


Rania sudah menunggu Fadlan di jembatan. Saat melihat Fadlan yang kini hendak pergi ke makam istrinya, Rania langsung memanggilnya.


"Mas Duda tunggu."


Selama beberapa hari ini, Fadlan selalu menghindar, namun kali ini Rania tidak mau sampai Fadlan menghindarinya. Sebenarnya Fadlan ingin memperjuangkan perempuan yang ia cintai itu, tapi ancaman pak Beno pada keluarganya membuatnya cemas dan khawatir, Fadlan tau kalau pak Beno itu orang yang sangat nekat, salah bertindak sedikit saja, maka akan ada orang yang celaka.


"Beri aku waktu sebentar saja, aku ingin bicara, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, besok aku kembali ke Jakarta." Ujar Rania, mendengar itu Fadlan terkejut dan langsung menatap Rania.


"Kau mau ke Jakarta?"


"Hmmm. Seperti yang mas Duda tau, besok adalah hari terakhir perjanjian ku dengan pak Beno, aku tidak bisa melunasi hutangku padanya, jadi dengan terpaksa aku harus terima untuk jadi istri ketiganya. Lusa aku akan menikah dengan pak Beno." Tutur Rania.


Mendengar itu Fadlan kembali terkejut, ia merasa tidak rela jika perempuan yang ia cintai akan dinikahi orang lain, terlebih akan dijadikan istri ketiga.


"Maaf ya mas Duda, kalau selama ini aku sering mengganggumu, maaf juga kalau sebelumnya aku tidak jujur jika aku terlilit hutang. Tapi percayalah, aku tidak memanfaatkan mu, aku mencintaimu, seperti yang sering aku bilang kalau mas Duda itu begitu sangat menggemaskan. Akan kujadikan mas Duda kenangan indah untuk hidupku, dimana pertama kalinya aku mengenal cinta. Aku tidak menyesal mengenalmu, justru aku bersyukur bisa mengenalmu, bisa tinggal dilingkungan pesantren, aku juga bersyukur meskipun aku baru hijrah penampilan, tapi aku sangat bahagia. Terima kasih mas Duda sudah hadir dalam hidupku. Aku minta doa restu mu karena lusa aku akan dinikahi pak Beno. Selamat tinggal mas Duda, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, besok pagi-pagi sekali aku berangkat ke Jakarta." Tutur Rania yang kini sudah menyeka air matanya.


"Mas Duda, aku sangat berharap kau mau memperjuangkanku, tapi nyatanya kau diam saja seolah ikhlas dan rela melepas kepergian ku. Entah kenapa aku berharap jika besok kau akan mencegahku pergi" batin Rania.


"Aku pergi, assalamualaikum." Pamit Rania.


"Waalaikumussalam."


Baru saja beberapa langkah, Rania kembali menatap Fadlan.


"Mas Duda." Panggil Rania hingga kini Fadlan pun ikut menatapnya.


"I LOVE YOU."


Setelah mengucapkan kata cinta, Rania kembali melanjutkan langkahnya. Fadlan terus menatap kepergian Rania, seolah ada sesuatu yang hilang dalam hatinya yang membuatnya terasa sakit. Perempuan yang ia cintai besok akan pergi, bahkan lusa akan menikah. Fadlan tak kuasa menahan air matanya, ia menatap aliran sungai, meratapi kisah cintanya yang harus berakhir esok hari karena Rania akan dinikahi lelaki lain.


"Maafkan aku Rania, aku ini memang lelaki lemah, aku takut kau dan keluargaku akan menjadi korban atas kejahatannya pak Beno. Aku yakin Allah pasti akan menolong kita, ia pasti akan memberikan pertolongan dan keajaiban hingga kita bersatu kembali, aku yakin itu. kita sedang diberi ujian, mungkin aku yang lemah baru diancam seperti itu saja aku sudah ketakutan, ya aku takut salah satu orang yang aku cintai harus celaka, aku sudah merasakan kehilangan seseorang yang sangat aku cintai (Amara), dan aku tidak mau kehilangan lagi, tapi aku percaya kaulah jodohku."


Sementara dengan Rania yang kini berjalan menuju klinik, tiba-tiba ia terdiam melihat Pipit dan Zidan kini berdiri tidak jauh dari hadapannya.

__ADS_1


"Pipit, Zidan."


Rania tersenyum lalu mendekati mereka, dilihatnya Pipit sedang terisak, sepertinya Pipit sudah tau jika Rania besok akan kembali ke Jakarta.


"Kenapa Pipit menangis?" Tanya Rania yang kini sudah menyeka air matanya Pipit.


"Tante jangan pergi." Ujar Zidan.


Rania tersenyum meskipun hatinya menangis. Akhirnya mereka pun duduk bertiga ditepi perkebunan. Pipit sudah menangis di pelukannya Rania.


"Aku dengar besok Tante mau pulang ya ke Jakarta?, Aku juga dengar kalau Tante mau menikah disana. Apa Tante Rania akan meninggalkan Abi?" Tanya Zidan.


Rania sudah menunduk, matanya kembali berkaca-kaca.


"Tante harus pulang, mungkin Tante sama Abi mu tidak berjodoh, makanya kita dipisahkan. Tante do'akan semoga Abi kalian akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Tante, yang lebih sayang lagi pada kalian."


"Tapi aku maunya Tante Rania yang nikah sama Abi, pokoknya aku maunya Tante Rania." Pipit merajuk.


Rania sudah mengelus ngelus kepalanya Pipit, mencoba untuk menenangkan nya.


"Apapun yang terjadi, do'akan saja semoga itu adalah yang terbaik buat kita, baik itu buat Tante Rania, maupun Abi kalian." Ujar Rania.


Rania sudah menggenggam tangannya Pipit.


"Jadilah anak perempuan yang manis ya, jagain Abi mu. Pesan Tante, jangan suka makan permen, takutnya nanti sakit giginya kambuh lagi. Tante sayang sama Pipit, Tante do'akan Pipit selalu bahagia."


Pipit terisak kembali sambil memeluk Rania.


"Aku juga sayang sama Tante."


Kini Rania sudah menatap Zidan.


"Kalau Tante sudah pergi, nanti jagain adikmu ya, sekalian kau jagain Abi mu."


Zidan sudah mengangguk-angguk meskipun matanya sudah berair.


"Jangan menangis, kau inikan laki-laki."


"Tante jangan tinggalin Pipit." Pipit mulai merajuk dan mempersembahkan pelukannya. Rania pun tak kuasa menahan tangisnya, meskipun Pipit dan Zidan itu bukan anak kandungnya, tapi Rania sangat menyayangi mereka, terlebih menyayangi ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2