
Hari demi hari terlewati sudah. Kini Fadlan sudah menyadari jika dirinya menyukai Rania. Beberapa hari belakangan ini, Rania mulai terbayang-bayang dimana pun matanya Fadlan memandang. Fadlan sendiri tidak menyangka jika kini ia mengalami hal yang sama dengan Rania dulu, kalau wajahnya Rania mulai terbayang-bayang. Siang terbayang bayang dan malam terbawa mimpi. Fadlan tidur, bayangan Rania hadir disampingnya, Fadlan ke kamar mandi, bayangan Rania mengikutinya ke kamar mandi. Rania selalu hadir kemana pun matanya memandang.
Fadlan kini sudah keluar dari kamarnya, , berniat untuk sarapan, kali ini yang membuatkannya sarapan adalah Sarah, karena beberapa hari ini masakan Fadlan selalu keasinan.
Saat menuju meja makan, Fadlan terdiam melihat Rania sedang duduk bersama Pipit dan Zidan untuk ikut sarapan. Fadlan pun ikut duduk bersama mereka sambil menatap bayangan Rania yang sedang tersenyum padanya.
"Kau disini?" Tanya Fadlan yang melihat bayangannya Rania.
Zidan dan Pipit sudah saling lirik, tidak mengerti dengan pertanyaan Abinya itu.
"Ya tentu saja aku disini, masa aku harus sarapan di rumahnya Tante Dewi sih." Ujar Zidan. Zidan pikir jika Fadlan bertanya padanya padahal Abinya itu sedang bertanya pada bayangannya Rania.
"Apa kalian melihat Tante Rania disini?" Tanya Fadlan penasaran dengan sesosok Rania yang kini sedang tersenyum padanya. Kembali Zidan dan Pipit saling lirik, namun kali ini mereka sudah tersenyum.
"Cieee, Abi pagi-pagi sudah menanyakan Tante Rania." Ujar Zidan, ada nada menggoda dalam kalimatnya.
"Kalau Abi mau Tante Rania sarapan bareng kita, aku bisa ko menyuruh Tante Rania untuk datang kesini sekarang juga." Ujar Pipit.
"Jangan, tidak usah." Buru-buru Fadlan melarangnya, ia baru sadar jika Rania yang kini tersenyum padanya hanyalah bayangan saja. Fadlan sudah beristighfar sedari tadi. Otak dan pikirannya kini sudah dikuasai dan dipenuhi oleh putrinya Dokter Husna. Apalagi sekarang bayangan Rania mendekatinya bahkan sudah duduk di pangkuannya. Berulang ulang kali Fadlan beristighfar, namun bukannya pergi, bayangan itu malah semakin mendekat.
Setelah sarapan, Fadlan malah duduk melamun di sofa. Pipit pun mendekati.
"Abi sedang memikirkan Tante cantik ya?" Tanya Pipit. Fadlan hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya Pipit.
"Abi, Tante Rania itu orang nya baik loh, cantik juga, aku mau dia jadi istrinya Abi." Ujar Pipit. Fadlan langsung menatap putrinya itu.
"Kau pun menyukai Tante Rania?"
"Hmmm."
Pipit sudah mengangguk-angguk.
"Aku juga suka." Zidan ikut duduk disebelahnya Fadlan.
"Aku setuju ko kalau Abi menikah dengan Tante Rania." Zidan memberikan restu. Fadlan hanya tersenyum.
***
Siang itu, Fadlan sengaja menunggu Rania untuk memberikan sesuatu. Biasanya Rania suka nongkrong di tepi perkebunan atau di jembatan. Namun kali ini Rania sedang duduk di tepi perkebunan. Fadlan menemuinya ditemani Pipit.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumussalam."
Rania langsung tersenyum melihat kedatangan Fadlan dan juga Pipit. Fadlan terlihat membawa satu paper bag berukuran sedang.
"Mas Duda, Pipit."
"Maaf mengganggumu, aku kesini mau memberikan ini padamu." Ujar Fadlan sambil memberikan paper bag itu. Rania langsung menerimanya, tak disangka jika Fadlan akan memberinya hadiah.
"Tak disangka si mas Duda ini mau memberiku Hadiah. Isinya kalau gak gamis, pasti sebongkah berlian karena gak mungkin isinya sekarung beras. Duh tanganku jadi gemeteran begini sih." Batin Rania.
"Terima kasih."
Saat Rania membuka paper bag itu, ia langsung mengernyit, kemudian ia tersenyum melihat sepatunya yang hilang dan hanya sebelah kanan itu ada didalam paper bag itu. Rania langsung menatap Fadlan.
"Mas Duda yang menemukannya?" Tanya Rania.
"Maaf sebelumnya Rania, sepatumu selama ini aku yang simpan. Aku tau ini sepatu kesayanganmu yang dihadiahi ayahmu sewaktu masih hidup, sebenarnya aku sudah ingin kembalikan namun dulu aku sempat takut dengan sumpah yang kau ikrar kan itu. Kau bilang jika seseorang lelaki yang menemukannya, maka dia akan dijadikan suami." Tutur Fadlan.
Rania sudah tersenyum-senyum.
"Jadi sekarang mas Duda tidak takut ya jika aku minta mas Duda untuk menikahiku?" Tanya Rania. Fadlan malah menunduk malu membuat Rania semakin gemas.
"Ikh andai saja kalau nyubit sama nyium itu gak dosa, ingin rasanya aku sekarang mencium dan mencubit si Duda pemalu ini, gemeeezzz." Batin Rania.
Akhirnya Fadlan pun terpaksa menceritakan jika sepatu itu yang menghantam wajahnya waktu itu hingga hidungnya langsung mimisan. Rania terkejut mendengarnya.
"Jadi sepatu ini melayang dan menghantam wajahnya mas Duda?. Aku pikir waktu mimisan itu mas Duda cuma panas dalam, oh gak taunya kena hantam sepatuku ya. Duh maaf ya mas, sepatuku memakan korban." Tutur Rania merasa bersalah.
"Tidak apa-apa ko, oh iya, kerudung mu yang kutemukan diperkebunan itu, tadinya aku mau sekalian kembalikan, tapi Pipit melarang ku, katanya kerudungnya buat dia, biar jadi kenang-kenangan."
Pipit seketika langsung nyengir.
"Tidak apa-apa ko."
Rania ikhlas.
Tiba-tiba Pipit mendekati Rania dan berbisik di telinganya.
"Tante, akhir-akhir ini, Abi selalu melihat bayangan Tante Rania, wajah Tante Rania selalu terbayang-bayang." Bisik Pipit, hingga Rania tersenyum-senyum mendengarnya. Fadlan pun terdiam, ia mulai menyipitkan matanya, merasa curiga dengan bisikan putrinya itu hingga membuat Rania tersenyum-senyum.
"Apa yang dibisikkan putriku itu hingga Rania tersenyum-senyum begitu?" (Fadlan).
__ADS_1
"Wah mas Duda merasakan hal yang sama dengan yang pernah aku rasakan dulu. Bayanganku selalu hadir kemana pun matanya memandang, pasti kalau siang terbayang bayang dan kalau malam terbawa mimpi." (Rania).
"Hi hi hi." (Pipit).
"Apa mas Duda merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan dulu?. Apa bayanganku mulai menghantui mas Duda sekarang?" Tanya Rania.
Sepertinya Fadlan bisa menebak apa yang dibisikan Putrinya itu pada Rania. Fadlan mendadak malu untuk mengakuinya hingga ia hanya bisa menunduk, sesekali ia mengusap tengkuknya.
"Duuh melihat si mas Duda malu-malu begitu, tanganku tiba-tiba gatal pengen nyubit. GEMEEEZZZ." batin Rania.
"Rania, aku sama Pipit pulang dulu." Ujar Fadlan.
"Abi kan belum jawab pertanyaan Tante Rania, ko langsung pulang sih." Pipit sedikit protes.
"Sssttthhh." Fadlan sudah memberi kode. Rania hanya bisa tersenyum.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam."
Fadlan sempat menatap Rania yang kini tersenyum manis padanya, seketika Fadlan kembali menunduk, ia berjalan meninggalkan Rania sambil memegang tangannya Pipit. Karena terlalu menunduk disertai rasa malu dan gerogi, akhirnya Fadlan tersandung hingga ia terjatuh.
BRUGH.
"Awww."
Rania terkejut, begitu juga dengan Pipit. Sebenarnya Rania ingin tertawa, namun ditahannya, merasa lucu melihat Fadlan yang gerogi hingga mengakibatkan nya jatuh . Mau menolong, tapi dia yakin kalau Fadlan pasti tidak mau dipegang-pegang.
"Mas Duda tidak apa-apa?" Tanya Rania.
Fadlan langsung menggeleng, merasa malu juga ketika jatuh dihadapan Rania.
"Tidak apa-apa mas Duda, mungkin sekarang baru jatuh tersandung, siapa tau besok jatuh hati padaku." Batin Rania penuh harap.
Fadlan kembali melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tangannya Pipit. Tiba-tiba Rania memanggilnya.
"Mas Duda."
Fadlan menghentikan langkahnya kemudian menatap Rania yang kini tersenyum.
"I LOVE YOU."
__ADS_1
Fadlan hanya menjawabnya lewat senyuman.