
Keesokan harinya. Rania masih asik nonton televisi di rumahnya. Dokter Husna sudah menyuruhnya untuk pergi ke rumahnya ustadzah Ulfi.
"Ran, pergilah ke rumahnya ustadzah Ulfi untuk berkenalan dengannya. Kemarin ustadzah Ulfi meminta ibu untuk menyuruhmu datang ke rumahnya." Pinta Dokter Husna.
"Kenapa gak Ustadzah Ulfi saja yang kemari."
"Beliau itu sibuk, jadi kau saja yang kesana."
Mau tidak mau akhirnya Rania menurutnya dari pada kena omel ibunya. Ia sudah berpenampilan seperti biasa. Celana jeans dan kemeja panjang serta jilbab pashmina.
"Ran, ibu ada beberapa gamis, pakailah. Jangan pakai celana jeans seperti itu, nanti ustadzah Ulfi protes melihat penampilan mu" Pinta Dokter Husna.
"Bu, aku kan masih belajar. Biarkan aku berubah pelan-pelan." Ujar Rania. Dokter Husna hanya bisa mengangguk, melihat putrinya sudah mau menggunakan kerudung pun itu sudah perubahan yang luar biasa meskipun sampai rumah kerudungnya langsung dibuka.
"Antarkan aku ya Bu. Aku takut tersesat lagi seperti kemarin."
"Ibu ada pasien di klinik. Ibu kasih petunjuk jalan saja ya. Dari sini lurus nanti pas pertigaan belok kiri lalu jalan beberapa meter nanti ada pohon mangga yang besar, nah itu rumahnya." Tutur Dokter Husna.
"Rumahnya pohon mangga besar?"
"Ya bukan, itu pohon mangga nya ada didepan rumahnya ustadzah Ulfi."
"Oh iya Bu. Aku berangkat ya asalamualaikum" pamit Rania.
"Waalaikumussalam."
Rania pun berjalan sendirian menuju rumahnya ustadzah Ulfi dengan petunjuk yang diberikan ibunya, tak mau lagi ia tersesat seperti kejadian kemarin. Rania sudah melewati pertigaan, hingga kini ia sudah berdiri didekat pohon mangga yang besar.
"Sepertinya ini rumahnya."
Rania malah berdiri sambil menatap pohon mangga besar itu. Dari dalam rumah ustadzah Ulfi ada Zahira sang menantu istimewa, ia mengernyit melihat Rania berdiri didepan rumah mertuanya.
"Siapa perempuan itu?, Mukanya kelihatan blasteran, Apa dia mau mencuri buah mangga?. Jangan kan mencuri suamiku, jika ada yang mau mencuri mangga mertuaku pun akan aku adili. Tiba-tiba tangan terasa gatal pengen ngepang rambut orang terus di unyeng-unyeng" Batin Zahira yang kini sudah berjalan keluar.
"Ekhem. Siapa kau?"
Rania langsung menatap Zhira.
"Sedang apa kau berdiri disini. Mau mencuri mangga ya?, Asal kau tau saja hukuman bagi orang yang mencuri itu nanti tangannya bisa di PO TONG." Ujar Zahira. Rania langsung mengernyit.
"Assalamualaikum. Aku Rania, aku bukan pencuri, lagi pula mau mencuri apa, mangga nya pun belum berbuah."
"Waalaikumussalam. Terus kau mau ngapain berdiri disini?" Tanya Zahira kembali.
"Mau ketemu ustadzah Ulfi, aku Rania putrinya Dokter Husna. Ibu sudah membicarakan jika aku akan diberi les privat oleh Ustadzah Ulfi, apa ibu ini ustadzah Ulfi?" Tanya Rania menebak. Zahira langsung mengernyit, namun kemudian ia tersenyum.
"Kalau aku ngerjain dikit si Rania, boleh gak ya, mungkin kalau sedikit mah boleh kali ya, biar nanti om ustadz saja yang menanggung dosanya." Batin Zahira.
Zahira pun pura-pura menjadi ustadzah Ulfi.
__ADS_1
"Oh iya aku ustadzah Ulfi, mari duduk dulu." Zahira mempersilahkan kebetulan ustadzah Ulfi sedang tidak di rumah, Yura pun sedang tidur di dalam bersama Khaira.
Mereka berdua sudah duduk didepan rumah.
"Aku kesini disuruh ibu, katanya disuruh kenalan dulu sama ustadzah Ulfi." Ujar Rania.
"Oh tentu saja boleh. Kau baru tau kan kalau ustadzah Ulfi itu begitu cantik jelita, apalagi menantunya Zahira Rahmadia Alfiqri, uuuh diamah cantik imut menggemaskan tiada Tara, yang lain mah lewaaaat." Tutur Zahira sambil tersenyum senyum. Rania hanya mengangguk-angguk saja meskipun ia merasa heran ada perempuan yang tingkat kepercayaan dirinya begitu teramat sangat.
"Aku baru tau kalau Dokter Husna punya anak gadis yang wajahnya campuran sepertimu, kalau boleh tau kau ini blasteran Indonesia-Kalimantan ya?" Tanya Zahira. Rania langsung mengernyit.
"Maaf ustadzah Ulfi, bukan Indonesia-Kalimantan, tapi Indonesia-Jerman. Kalimantan itu masih di Indonesia." Ujar Rania.
"Masa sih, wah sudah lama aku tidak melihat peta, hi hi hi, dimaklumi saja, aku lebih sering melihat cermin dibanding melihat peta."
Kembali Rania mengangguk-angguk, namun keningnya sudah mengernyit.
"Itu rumahmu yang di Jerman dekat rumahnya Imran abbas gak?" Tanya Zahira. Rania kembali mengernyit.
"Kalau gak salah Imran abbas itu orang Pakistan deh." Ujar Rania.
"Bukannya Pakistan itu ibu kotanya Jerman ya."
Kembali Rania mengernyit.
"Ini ustadzah Ulfi ko kecerdasan otak nya patut diragukan deh. Kenarsisan nya lebih dominan ketimbang kecerdasannya, menyedihkan" (Rania).
"Maaf ustadzah, kata ibu aku disuruh kenalan sama ustadzah sebelum kita memulai pelajaran lusa." Ujar Rania.
"Masa???"
"Tentu, kau pasti ingin menanyakan kenapa diusia ku yang sudah tidak muda lagi ini aku masih terlihat cantik jelita, pasti itu kan yang ingin kau tanyakan. Jawabannya sederhana ko, aku memang sudah terlahir cantik jelita dari orok hingga usiaku yang sekarang. Jadi sebaiknya kau jangan iri ya, apalagi dengki." Tutur Zahira. Rania sudah menganga, bahkan keningnya sudah berkerut gak jelas.
"Ini ibu gak salah ngasih guru privat model begini. Narsisnya gak nanggung-nanggung." (Batin Rania).
"Oh iya Rania, sebaiknya kau perbaiki penampilanmu ini, jangan pake celana jeans, apalagi yang ada robeknya, nanti ibuku (Bu Erni) jiwa nya meronta-ronta, maklum soalnya dia tukang jahit (tailor). Celana jeans yang kau pakai itu memperlihatkan lekuk tubuhmu, meskipun bodi ku dan bodi mu lebih bagus punyaku. Pakailah pakaian tertutup, saran ku sih pakailah gamis serta kerudungnya. Tuh didekat jalan raya ada butik Anisa, kebetulan itu butik punya tanteku, beli saja disana." Tutur Zahira sekalian promosi. Rania hanya mengangguk ngangguk.
"Ingat ya, jangan pake celana jeans ya, nanti kalau ketemu om ustadz dia pasti meniupkan Pluit andalannya." Zahira mengingatkan.
"Ustadz Usman maksudnya?"
"Nah itu kau tau, pasti sudah pernah dengar kan itu Pluit menggema dan hampir menjebol gendang telinga."
Rania kembali mengangguk-angguk.
Setelah lama mengobrol ngobrol dengan pembicaraan yang membuat kepala Rania keleyengan, Rania pun izin pamit karena dia mulai berasa sakit kepalanya.
"Ustadzah aku pamit dulu ya."
"Oh iya silahkan, sampai rumah jangan terus kepikiran kenapa aku ini mempunyai wajah yang begitu cantik ya, soalnya nanti kau takut terkena virus cemburu. Takut meriang nantinya, jadi terima nasib saja ya jika diriku lebih cantik darimu. Belajar ikhlas dan sabar ya Rania" Tutur Zahira. Rania kembali mengangguk pasrah, namun ia sudah menggaruk tengkuknya, merasa heran dan aneh dengan perempuan yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Aku permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Ingat ya Rania, jangan iri dengan kecantikan ku. Sekali lagi terima nasib saja, jika aku ini lebih mempesona darimu" Ujar Zahira sedikit berteriak. Rania hanya mengernyit sambil berjalan pergi.
"Kasihan putrinya Dokter Husna itu, kecantikan ku menjadi sebuah ujian untuknya." (Zahira).
Rania terus berjalan sedikit berlari.
"Aku mau protes sama ibu. Aku gak mau punya guru privat seperti ustadzah Ulfi." Batin Rania.
Rania terus berjalan cepat hingga ia sedikit berlari, jangan sampai ia bertemu lagi dengan perempuan narsis yang baru ditemuinya itu. Tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak Fadlan.
BRUGH.
"Awwww."
Fadlan pun terkejut ketika Rania menabraknya. Tapi ketika Rania tau kalau orang yang ditabraknya itu adalah si Duda pemalu, Rania langsung tersenyum senyum gemas.
"Idiih mas Duda pasti sengaja ya jalan pelan biar bisa aku tabrak." Tuduh Rania sambil menunjuk-nunjuk Fadlan. Tentunya Fadlan langsung mengernyit sambil menunduk.
"Permisi, assalamualaikum." Pamit Fadlan.
"Tunggu mas Duda."
Seperti biasa Rania mengeluarkan mode maksa.
"Mau apa, aku sedang buru-buru, anak-anak sudah menunggu di rumah." Ujar Fadlan.
"Kapan kita kencan?"
Fadlan kembali mengernyit.
"Kita tidak akan kencan."
"Tapi semua kandidat katanya akan menemuimu di restoran kan?" Ujar Rania.
"Hmmm, itu hanya kenalan biasa, bukan kencan, lagi pula nanti akan ditemani dua orang saudaraku." Tutur Fadlan.
"Tapi bagiku itu adalah sebuah kencan ketika seorang perempuan dan seorang lelaki bertemu dalam tempat yang sama, tidak perduli dia ditemani saudaranya atau tidak. Anggap saja kedua saudaramu itu, yang satu lilin dan yang satu bunga, biar mereka menambah keromantisan kencan kita." Tutur Rania yang sengaja menggoda Fadlan, ia begitu sangat gemas pada si Duda pemalu itu.
Fadlan hanya diam, bingung sendiri dengan sikap perempuan yang ada didekatnya itu.
"Maaf, aku harus pergi, tidak baik perempuan dan laki-laki berduaan seperti ini, aku takut setan berbisik ketelinga ku, aku takut." Ujar Fadlan yang kini hendak pergi. Lagi-lagi Rania menghalanginya.
"Tunggu dulu mas Duda. Sebelum mas Duda pergi, aku ingin tanya sesuatu, kenapa dadanya mas Duda kembang kempis begitu, terdengar pula suara detak jantung mas Duda yang berirama merdu." Ujar Rania.
Fadlan terkejut, ia merasa heran kenapa Rania bisa tau kalau sekarang ia sedang deg-degan gak karuan. Fadlan memang berasa deg-degan gak jelas kalau bertemu dengan perempuan, bukan karena suka, melainkan karena malu dan takut.
"Mas Duda tau gak, aku juga merasakan hal yang sama. Dadaku kembang kempis merangkai butir cinta, seperti lagunya Melly Goeslaw, ketika cinta bertasbih. Kalau mas Duda gak percaya, sini deh mendekat." Ujar Rania sengaja menggoda. Melihat Fadlan ketakutan, Rania semakin menggebu ingin menggodanya. Seketika itu pula Fadlan langsung kabur tanpa pamit. Rania yang melihat pun langsung tertawa.
__ADS_1
"Duuuh kenapa aku merasa gemas banget sama si Duda itu sih. GEMEEEZZZ."