
Malam pun tiba, Fadlan sudah mengumpulkan keluarganya, ia ingin memberitahukan niatnya untuk melamar Rania pada keluarganya itu. Semua keluarga sudah berkumpul di rumahnya ustadz Soleh.
(Ustadz Soleh, Sarah, ustadz Usman, Nisa, Fadil, Fadli, Kiyai Husen, umi Salamah, Aisyah dan Riziq).
"Ada apa Fadlan kau mengumpulkan kami disini?" Tanya ustadz Soleh.
Tiba-tiba Fadlan merasa malu untuk bercerita kalau dia ingin melamar perempuan.
"Aku mengumpulkan kalian disini untuk memberitahukan kalau aku ingin,,,,,," tiba-tiba Fadlan gerogi.
Pipit dan Zidan yang menemani Abinya itu sudah gereget.
"Si Abi gak dimana gak dimana suka mendadak gerogi deh. Ikh sifat malu dipelihara" Batin Zidan.
"Kau ingin memberitahukan apa Fadlan?" Tanya Sarah.
"Aku,,,, aku."
"Aku, aku Mulu dari tadi. Aku cinta padamu bukan?" Tanya ustadz Usman yang kini sudah mulai gereget.
Fadlan sekuat tenaga memberitahukan niatnya itu. Ia berkata dengan kecepatan tinggi tanpa rem.
"Aku mau melamar Dokter Husna." Ujar Fadlan.
Semua yang mendengar langsung menganga mendengar Fadlan mau melamar Dokter Husna. Fadlan seketika langsung menutup mulutnya sendiri, ia salah bicara, mau bilang melamar putrinya Dokter Husna malah bilang mau melamar Dokter Husna. Zidan yang mendengar pun langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Si Abi dalam situasi seperti ini malu dan geroginya gak pernah hilang." Batin Zidan.
"Kau masih ngincer janda Fadlan?" Tanya ustadz Usman.
"Kau yakin mau melamar Dokter Husna?" Tanya ustadz Soleh.
"Maksudnya mau melamar putrinya Dokter Husna, maaf aku salah sebut." Ujar Fadlan.
Mendengar penjelasan Fadlan, baru mereka bernafas lega.
"OOOH."
"Kukira beneran kau mau melamar Dokter Husna, secara kan yang menyukaimu itu si Rania, entar yang ada perang dunia antara ibu dan anak." Ujar ustadz Usman.
Fadlan sudah tersenyum malu. Sempat-sempatnya ia salah bicara hingga membuat semua orang jadi tegang.
"Alhamdulillah kalau kau ada niat untuk melamar si Rania. Apa kau sudah membicarakan tentang ini pada putrinya Dokter Husna sebelumnya?" Tanya ustadz Soleh.
"Aku sudah bicarakan ini pada Rania, dan dia setuju."
"Kapan kau akan melamarnya?"
__ADS_1
"Besok malam."
Semua mengangguk senang mendengarnya, akhirnya si Duda pemalu mau mengakhiri masa Dudanya.
"Tidak kusangka ternyata kau menyukai perempuan ajaib itu." Ujar ustadz Usman.
"Rania itu siapa sih?, ko aku tidak mengenalnya, apa dia salah satu kandidat calon istri waktu itu?" Tanya Fadli. Fadli memang belum pernah bertemu dengan Rania sebelumnya.
"Yang jelas dia bukan emak-emak dan bukan pula banci yang kau kirimkan untuk kak Fadlan." Gerutu Fadil. Fadli hanya nyengir.
"Umi sempat kaget loh, umi pikir kau mau melamar Dokter Husna." Ujar Sarah.
"Memangnya kenapa kalau Fadlan melamar Dokter Husna, apa karena Dokter Husna lebih tua usianya, bukankah usiaku juga lebih tua dari suamiku, tapi tidak ada masalah ko." Tutur Aisyah.
Semua langsung menyoraki Aisyah.
"Huuuuuu."
"Ustadz Riziq mungkin matanya waktu itu kelilipan." Ujar ustadz Usman bercanda. Aisyah sudah mengerucutkan bibirnya. Umi Salamah langsung mencubit ustadz Usman. Aisyah yang melihat pun langsung cekikikan tak bersuara, ia memang selalu dibela umi Salamah kalau berdebat dengan ustadz Usman.
"Kak kau tidak mau membelaku, aku dicubit sama umi, dia lebih membela si Aisyah." Ustadz Usman mengadu pada ustadz Soleh.
Ustadz Soleh langsung menatap umi Salamah.
"Umi, Usman itu jangan suka dicubit pake tangan, di dapur ada tang, langsung saja cubitnya pake tang biar berasa." Ujar ustadz Soleh. Ustadz Usman sudah mengernyit lalu menggeram. Dan Aisyah sudah cekikikan kembali.
"Tapi Tante Aisyah sama Om Riziq setuju kan kalau aku melamar Rania?" Tanya Fadlan. Aisyah dan Riziq pun tersenyum.
"Tak kusangka si Fadlan dapat daun muda, ngincernya janda tapi dapetnya daun muda. Si Rania 12 tahun lebih muda dari si Fadlan. Kata si Rania si Fadlan ini sangat menggemaskan, itu kata-kata yang selalu ingin aku protes. Menggemaskan nya dilihat dari mana? Dari Sabang apa dari Merauke?" Ujar ustadz Usman.
"Untuk apa kau protes, itu sudah menjadi kelebihan putraku." Gerutu ustadz Soleh.
"Kelebihan putramu cuma pemalu doang."
"Mungkin sikap pemalu itu menjadi daya tarik tersendiri untuk si Rania, makanya dia selalu merasa gemas pada si Fadlan." Ujar Riziq.
"Kalau sudah urusan dengan hati, apapun tidak jadi masalah karena cinta tak mengenal usia."
***
Sementara dengan Rania yang kini sudah menyuruh Dokter Husna untuk duduk didekatnya.
"Sini duduk Bu, buruan, aku mau bicara penting." Ujar Rania yang kini sudah tidak sabar.
"Sebentar Rania, apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"
Dokter Husna kini sudah duduk disebelahnya Rania. Rania sudah tersenyum-senyum dan mulai mengatur nafasnya. Dokter Husna yang melihatnya hanya tersenyum heran.
__ADS_1
"Begini Bu. Si mas Duda mau melamar ku." Ujar Rania begitu antusias. Dokter Husna tersenyum dan sangat senang mendengarnya.
"Benarkah?"
"Hmmm, tadi sore dia mengatakan jika dia ingin melamar ku, dia bilang mau menemui ibu besok untuk membicarakan lamarannya padaku. Bu, aku seneng banget Bu, aku seperti mimpi." Tutur Rania yang kini sudah menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya.
"Ibu juga ikut senang mendengarnya, tapi apa kau sudah bicarakan masalah hutang mu itu pada Fadlan?"
Rania menggeleng.
"Sebaiknya kau ceritakan tentang masalahmu itu, dia berhak tau. Ibu takut saat kau sudah menikah dengannya, nanti dia terkejut saat tau kau mempunyai banyak hutang pada rentenir." Tutur Dokter Husna.
"Ia Bu, besok aku akan cerita pada si mas Duda."
"Kalau seandainya dia tidak menerima bagaimana?. Maksud ibu kalau Fadlan tidak mau mempunyai calon istri yang banyak hutangnya?" Tanya dokter Husna.
"Insyaallah aku ikhlas Bu, jika mas Duda tidak bisa menerima masalah hidupku, aku akan mundur dan pasrah. Tapi aku percaya Bu, kalau cinta yang tulus itu pasti mau menerima apapun kekurangan dan masalah orang yang kita cintai, atau bahkan dia mau membantu masalah kita." Tutur Rania.
"Mudah-mudahan ya mas Fadlan benar-benar menyukaimu dengan tulus hingga ia mau membantu masalahmu."
"Do'akan ya Bu."
"Aamiin."
Setelah berbicara dengan Dokter Husna, Rania langsung pergi ke kamarnya, ia langsung memberi pesan pada Fadlan.
Tring.
Satu pesan Rania terkirim, dan seketika itu pula Fadlan langsung membukanya. Baru mau membuka pesan saja, Fadlan sudah kembali deg-degan, ia mulai khawatir jika besok malam saat ia akan datang melamar Rania, kondisi jantungnya Fadlan tidak bisa stabil alias deg-degan apalagi jika bercampur rasa malu, sudah pasti ia akan mendapatkan cubitan maut dari Pipit dan juga Zidan yang gemas jika Fadlan hanya diam karena malu dan gerogi.
:Assalamualaikum mas Duda: (Rania).
: Waalaikumussalam Rania: (Fadlan).
: Sebenarnya sekarang aku ingin bertemu dengan mas Duda, ada hal penting yang ingin aku bicarakan, sayangnya ini sudah malam, jadi besok aku ingin kita bertemu. Aku tunggu di jembatan ya: (Rania).
"Jangan bertemu di jembatan, kalau ada yang lihat, nanti kita akan jadi fitnah. Besok pagi aku akan ke rumahmu, aku juga ada perlu dengan ibumu, jadi kita bertemu disana saja: (Fadlan).
:Ok, sampai jumpa besok. I MISS YOU: (Rania).
Fadlan mendadak malu untuk membalasnya, pipinya terlihat memerah ketika Rania mengatakan rindu padanya.
:Balas Dong: (Rania).
Malu-malu Fadlan membalas pesan itu sambil tangannya gemetaran.
:Aku juga rindu: (Fadlan).
__ADS_1
Setelah membalas pesan itu, Fadlan langsung menyembunyikan wajahnya di bantal. Rania sudah tersenyum-senyum membaca balasan dari si Duda pemalu itu.
"Waktu bilang i love you saja, si mas Duda langsung ngibrit kabur, ini pas ngetik aku juga rindu dia langsung tidur gak ya gara-gara malu."