Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Butik


__ADS_3

Keesokan harinya. Fadlan sudah pulang dari klinik. Rania kini meminta izin untuk pergi ke butik ya Anisa, ia ingin membeli baju baru, hari ini dia akan belajar agama pada ustadzah Ulfi. Berniat hati pergi ke butik untuk membeli baju gamis.


"Bu, aku pergi ke butik yang ada di depan ya, mau beli baju baru, ustadzah Ulfi memintaku untuk merubah penampilan." Ujar Rania. Dokter Husna pun tersenyum, lalu memberikan sejumlah uang pada Rania. Dokter Husna sangat mendukung jika putrinya itu mau merubah penampilan.


"Makasih Bu."


Rania pun berjalan sendirian menuju butiknya Anisa, tidak sengaja ia bertemu dengan Fadlan dan Zidan. Rania langsung tersenyum.


"Assalamualaikum mas Duda."


"Waalaikumussalam."


Fadlan sudah menundukan kepalanya.


"Mas Duda sudah tidak mimisan lagi kan. Kalau masih mimisan, segeralah pergi ke klinik, nanti di impus lagi sama ibu." Ujar Rania. Fadlan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, tidak mau sampai ia harus di impus lagi, lebih tepatnya takut, takut diganggu dan di goda oleh perempuan yang ada dihadapannya itu.


"Tante Rania mau kemana?" Tanya Zidan.


"Mau ke butik. Kalian mau ikut?"


"Boleh." Jawab Zidan yang langsung bersedia mengantar, namun seketika itu pula Fadlan langsung membungkam mulut putranya, lalu mengajaknya pergi.


"Zidan, kita masih ada urusan. Ayo kita pulang." Ujar Fadlan yang langsung mengucapkan salam sambil menarik tangannya Zidan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Rania sudah tertawa melihat Fadlan yang ketakutan seperti itu. Kembali ia melanjutkan langkahnya menuju butiknya Anisa.


Sesampainya di butik, Rania langsung masuk sambil mengucapkan salam. Disana sudah ada Hawa yang menggendong Azka, ada Anisa, Elina dan Zahira serta Yura.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Anisa.


"Mau belanja baju."


Rania pun melihat Zahira yang masih dikiranya ustadzah Ulfi.


"Eh ada ustadzah Ulfi."


Rania mendekati Zahira dan langsung mencium tangannya, menghormatinya sebagai calon guru privat. Zahira sudah menahan tawanya, sementara yang lain sudah mengernyit heran.


"Sssttthhh."


Zahira sudah memberi kode untuk mereka biar tidak memprotes. Zahira tau jika semua yang ada disana mengetahui jika dirinya mengerjai Rania.


"Ikh Tante Ira Zahara banget deh ngerjain orang. Nanti kalau ketahuan ustadzah Ulfi, dia bisa marah." Batin Hawa.


"Mau cari baju apa, nanti biar saya bantu." Ujar Elina.


Rania malah kebingungan sendiri, niatnya mau beli gamis, namun ketika melihat banyak kemeja cantik, Rania berbelok arah, ia malah memilih-milih baju kemeja. Elina pun membantunya memilihkan kemeja. Zahira tidak tau baju apa yang dipilih putrinya Dokter Husna itu, ia berpikir kalau Rania datang kesana untuk membeli gamis, sedari tadi Zahira sibuk dengan cermin.


"Kita belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau baru disini?" Tanya Anisa.


"Aku Rania, putrinya Dokter Husna, aku baru pindah dari Jakarta."


"Oh kau putrinya Dokter Husna, baru tau kalau Dokter Husna punya anak gadis." Ujar Anisa. Rania hanya tersenyum lalu pamit pulang, sebelum pergi ia berpamitan terlebih dahulu pada Zahira yang masih dianggapnya sebagai Ustadzah Ulfi.

__ADS_1


"Ustadzah Ulfi, aku duluan ya. Nanti sore aku ke rumah. Assalamualaikum." Pamit Rania.


"Waalaikumussalam."


Rania pun pergi dari butik itu. Semua yang ada di butik langsung menyipitkan matanya pada Zahira hingga Zahira tertawa.


"Kenapa kalian menatapku begitu?, baru sadar ya kalau aku ini begitu cantik jelita?" Tanya Zahira pura-pura tidak tau.


"Tante jahat banget deh ngerjain anak orang." Ujar Hawa.


"Hati-hati loh Ira, ketahuan ibu mertuamu nanti kau bisa di skorsing jadi menantunya." Elina menakuti.


"Yang jelas kalau ketahuan Dokter Husna, Tante Ira pasti langsung di suntik."


Rania terus berjalan menuju klinik sambil menenteng satu paper bag. Tidak sengaja Rania bertemu dengan Sarah dan juga Pipit.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Sarah pun tersenyum.


"Dari mana Rania?" Tanya Sarah.


"Dari butik yang ada di depan." Jawab Rania sambil mencubit gemas pipinya Pipit. Pipit pun sangat senang dengan Rania.


"Pipit mau ikut Tante gak ke klinik, nanti Tante ajak main dokter-dokteran." Ajak Rania. Seketika itu pula Pipit langsung mengangguk-angguk.


"Nenek, aku boleh ya ikut Tante cantik ke klinik." Pinta Pipit.


"Tapi Pipit gak boleh nakal ya. Nanti pulang ya dijemput kak Zidan." Ujar Sarah. Pipit pun mengangguk dan langsung mencium tangan neneknya, ia segera ikut dengan Rania.


"Waalaikumussalam."


Rania pun sudah menggandeng lengannya Pipit. Sesampainya di klinik, Rania langsung mengajak putrinya si Duda pemalu masuk dan duduk di klinik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Dokter Husna terdiam melihat Rania datang membawa Pipit.


"Rania kenapa kau membawa Pipit kemari, apa dia sakit?"


"Nggak Bu, aku mau ngajak main Pipit, kasihan mas Duda pasti lagi istirahat akibat mimisan kemarin, aku hanya membantunya menjaga Pipit, siapa tau nanti dikasih upah 5 milyar, kan lumayan buat bayar hutang" Ujar Rania.


"Itu namanya kau menculik Pipit." gerutu Dokter Husna hingga Rania langsung tertawa.


Rania pun sudah mengajak Pipit main dokter-dokteran, mengajarkan Pipit gosok gigi yang benar, serta mengadakan sesi curhat. Mereka berdua sudah berbaring ditempat tidur pasien.


"Pipit tau gak siapa perempuan yang disukai Abinya Pipit?"


"Umi Amara."


"Kalau boleh tau umi Amara itu meninggalnya kenapa?" Tanya Rania yang kini mulai kepo.


"Umi meninggal saat melahirkan ku." Pipit sudah berkaca-kaca, ia merasa sedih ketika mengingat ibunya. Pipit belum sempat melihat ibunya.

__ADS_1


"Cup cup cup, jangan nangis sayang, kan disini ada Tante Rania." Rania sudah memeluk Pipit dan menenangkannya hingga Pipit kembali ceria. Rania sudah mengambil ponselnya, ia mengajak Pipit untuk selpi. Rania tiba-tiba tertawa dan langsung mengirim Poto itu ke nomernya Fadlan. Rania mendapatkan nomer itu dari Yudi.


Seketika Fadlan langsung membukanya. Ia nampak mengernyit ada nomer baru mengirimkan Poto putrinya bersama Rania.


"Ko Pipit bisa sama Rania sih, bukannya tadi sama umi"


Rania kembali mengirim voice note.


"Pipit aku culik, kalau mau Pipit kembali datanglah ke klinik. Jangan bawa-bawa polisi, apalagi bawa-bawa ustadz Usman." (Rania).


Fadlan langsung mengernyit, tidak segampang itu ia percaya jika Rania menculik putrinya, apalagi Rania mengirimkan Poto saat dirinya dan Pipit sedang tersenyum.


"Tidak usah bercanda, aku tidak percaya padamu." Fadlan membalas lewat voice note. Rania dan Pipit pun langsung tertawa-tawa setelah mendengar jawaban dari Fadlan.


"Pipit sayang coba kau sekarang acting menangis ketakutan biar Abi mu datang kemari." Pinta Rania. Pipit langsung mengangguk-angguk setuju.


Pipit pun berpura-pura menangis ketakutan.


"Abi tolong aku, aku takut." Ujar Pipit melalui voice note yang dikirimkan oleh Rania.


"Ini anak jago acting juga rupanya." (Rania).


Setelah mendengar putrinya menangis ketakutan, Fadlan terkejut bukan main, ia segera berlari menuju klinik. Karena terlalu khawatir, Fadlan berlari tanpa memakai sandal, ia sudah menabrak Fadil di jalan, sudah menabrak Adam, bahkan ia juga sudah menabrak ustadz Usman.


"Fadlan, kenapa kau lari-lari begitu. Ini si Fadlan mulai merangkak menjadi keponakan durjana nih. Om nya sendiri ditabrak." Gerutu ustadz Usman.


Fadlan terus berlari tanpa menghiraukan siapapun. Ketika melihat keponakannya berlari kencang, ustadz Usman merasa heran.


"Itu si Fadlan balap lari sama siapa?, Gak pake sandal segala, emangnya dia gak takut nginjak kotoran kucing."


Setelah Fadlan sampai di klinik, Fadlan langsung menerobos masuk.


"PIPIT." teriak Fadlan, tiba-tiba ia terdiam melihat Pipit sedang asik bercanda dengan Rania. Sebenarnya Fadlan kesal pada Rania, ia yakin Rania sedang mengerjainya, namun ketika melihat Pipit tertawa senang, ia pun ikut tersenyum.


"Eh mas Duda udah Dateng. Cieeeee, Dateng kesini mau ngapelin aku ya?" Ujar Rania sambil menunjuk-nunjuk pada Fadlan. Fadlan sudah mengernyit.


"Ayo Pipit kita pulang." Ajak Fadlan.


"Ikh mas Duda, kan ceritanya Pipit itu lagi diculik. Kalau mau membawa Pipit pulang ya harus menebusnya dulu." Ujar Rania.


Fadlan sudah menghembuskan nafasnya dengan kasar, mencoba untuk bersabar menghadapi Rania si perempuan rese.


"Berapa aku harus menebus Pipit?" Tanya Fadlan yang sudah tidak sabar ingin segera membawa pulang putrinya. Mendengar pertanyaan itu Rania langsung tersenyum-senyum.


"Nebusnya jangan pake uang, tapi mas Duda harus bersedia berkencan dengan ku. Kita makan malam romantis di restoran." Jawab Rania. Fadlan sudah mengernyit.


"Abi diajak kencan sama Tante Cantik." Ujar Pipit yang ikut tertawa kecil.


Tiba-tiba Dokter Husna memanggil Rania di ruangannya.


"Rania."


"Ia Bu." Rania menatap ruangan ibunya. Fadlan segera memanfaatkan situasi, ia langsung menggendong Pipit dan segera kabur dari klinik.


KABUR.


KABUR.

__ADS_1


KABUR.


__ADS_2