
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Dokter Husna sudah mengetuk pintu kamarnya Rania, mencoba membangunkan putrinya untuk shalat subuh.
Tok tok tok.
"Rania bangun."
"Ia Bu."
Rania menggeliat sambil merentangkan tangannya keatas, namun saat membuka matanya, ia begitu terkejut bukan main melihat Fadlan sedang berbaring disebelahnya sambil tersenyum.
"AAAAAAAAAAAAA."
Rania menjerit hingga Dokter Husna berlari masuk ke kamar putrinya itu.
"Ada apa Rania?"
"Ini Bu ada si mas Duda di kamarku." Ujar Rania sambil menunjuk bayangan Fadlan yang sedang tersenyum padanya. Rania tidak tau jika Fadlan yang ia lihat itu hanya bayangannya saja. Dokter Husna langsung mengernyit karena ia tidak melihat siapa-siapa di kamar itu.
"Mana mas Fadlan?"
"Ini."
Tunjuk Rania pada sebelahnya.
"Kau ini ngigo, buruan mandi nanti shalat subuh."
"Ibu tidak melihatnya?" tanya Rania.
"Disini tidak ada mas Fadlan, kau ini sedang ngigo, buruan mandi." Pinta Dokter Husna kembali sambil keluar. Kini giliran Rania yang mengernyit sambil mengucek-ngucek matanya.
"Masa sih aku ngigo, apa benar mas Duda yang ada disebelah ku ini hanya bayangan saja?." Batin Rania yang kini tangannya mulai menyentuh wajahnya Fadlan untuk membuktikan. Rania pun terkejut, rupanya benar kalau yang disebelah nya itu cuma bayangannya Fadlan. Rania berlari ketakutan menuju kamar mandi.
"Aku harus segera mandi biar bayangan si mas Duda hilang dari pandanganku."
Rania pun masuk kamar mandi, membasuh mukanya berkali-kali agar halusinasinya itu hilang. Setelah mandi dan merasa lebih baik, Rania mengambil handuknya, mengeringkan tubuhnya, namun tiba-tiba matanya kembali melotot melihat bayangan Fadlan yang sedang berdiri di kamar mandi.
"HUAAAAAAAAA."
Rania kembali menjerit ketakutan sambil berlari keluar. Mendengar teriakan putrinya, Dokter Husna pun ikut berlari mendekatinya.
"Ada apa lagi Rania?"
"Ibu, si mas Duda ngintipin aku di kamar mandi. Buruan usir dia Bu," ujar Rania sambil menunjuk-nunjuk ke kamar mandi. Dokter Husna langsung mengecek dan memang tidak ada siapa-siapa.
"Kau ini hanya berhalusinasi Rania, mungkin ini hukuman untukmu karena kau sering menggodanya," ujar Dokter Husna. Rania sudah mengerucutkan bibirnya. Ia baru sadar jika dirinya hanya berhalusinasi melihat bayangan si Duda pemalu itu.
Rania pergi ke kamarnya untuk berpakaian serta mengerjakan shalat subuh. Rania kembali melihat Fadlan di kamarnya. Kali ini Rania tidak takut, justru ia malah kesal.
"Eh mas Duda, enyahlah kau dari hadapanku. Ngapain ngintilin aku mulu. Pergi jauh-jauh sana hus hus hus." Rania mengusir bayangan itu. Bahkan bayangan Fadlan tersenyum hingga terlihat semakin menggemaskan.
Rania sudah mulai risih dan kesal sendiri, ia merasa bayangan Fadlan terus mengikutinya kemanapun ia pergi.
__ADS_1
"Rania sarapan dulu." Teriak Dokter Husna.
Rania pun mendekati ibunya, ia sudah cemberut dan merasa kesal karena kemanapun ia memandang, bayangan Fadlan selalu hadir dan tersenyum padanya.
"Kau kenapa cemberut begitu?" tanya Dokter Husna sambil menuangkan nasi goreng ke piringnya.
"Bu, setelah sarapan tolong periksa otak sama mataku ya. Sedari tadi bayangan si mas Duda ngintilin aku mulu, tadi saja saat aku sholat subuh, dia sudah berdiri dihadapanku, dia berasa sedang mengimamiku shalat. Sekarang saja, aku melihatnya ada disebelah ku, sekarang dia memintaku untuk menyuapinya sarapan," tutur Rania merasa aneh dan kesal.
Dokter Husna malah tersenyum-senyum.
"Ko ibu malah senyum-senyum sih, bukannya ngasih solusi biar aku tidak terus berhalusinasi dengan bayangannya si mas Duda," gerutu Rania.
"Ibu tanya, matamu kemana pun memandang, pasti selalu melihat mas Fadlan kan?" tanya Dokter Husna. Rania mengangguk.
"Sepertinya kau sedang jatuh cinta pada Abinya si Pipit itu. Ibu kan sering bilang kalau kau jangan suka menggoda mas Fadlan, nah sekarang baru tau kan apa akibatnya. Hatimu sedang berproses membentuk love. Kau kualat dengan perbuatan mu sendiri, kau pasti sedang jatuh cinta pada mas Fadlan," tutur Dokter Husna sambil tersenyum-senyum.
Rania malah mengernyit.
"Masa sih aku jatuh cinta sama si Duda pemalu itu????"
Seharian ini Rania terus kepikiran dengan ucapan ibunya yang bilang jika dirinya sedang jatuh cinta pada Fadlan, namun Rania tidak percaya dengan semua itu. Selama ini dia tidak pernah jatuh cinta. Setau dia, dia sering menggoda Fadlan karena merasa gemas, bukan karena cinta.
"Masa sih aku jatuh cinta sama si mas Duda????"
Kalimat itu terus diucapkannya selama dia masih terus berhalusinasi. Rania juga sudah meminta dibuatkan resep, diberi obat agar dia tidak terus berhalusinasi.
...***...
"Nah itu orangnya kelihatan, aku harus memberinya peringatan." Ujar Rania yang kini menghampiri Fadlan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Rania sudah memicingkan matanya pada Fadlan, hingga si Duda pemalu itu melirik yang lain.
"Kayanya si Rania mulai kumat nih." (Ustadz Usman).
"Siapa perempuan ini?" (Fadil).
Rania sudah menggeram kesal, marah serta emosi.
"Mas Duda, ikh kenapa sih mas Duda sering bikin ulah, kemarin menggodaku didalam mimpi, sekarang bayangan mas Duda ngikutin aku mulu. Dari kemarin kan aku sering bilang, aku mau berhenti mengganggu dan menggoda mas Duda, jadi lebih baik kita menjaga jarak," gerutu Rania.
Fadlan sudah melirik Fadil, ustadz Usman dan ustadz Soleh, berharap mereka mau membelanya, namun nyatanya ketiga lelaki yang ada dihadapannya itu malah menunduk menahan tawanya. Fadlan sudah menggaruk kepalanya, bingung harus bagaimana menghadapi putrinya Dokter Husna itu.
"Kenapa kau marah-marah padaku Rania?" tanya Fadlan.
"Asal mas Duda tau ya, bayangan mas Duda seharian ini terus mengikutiku. Aku bangun tidur, kau sudah ada disebelah ku. Aku lagi mandi, kau ikut ke kamar mandi dan mengintipku, emangnya gak takut bintitan ya. Aku shalat, kau ikut berdiri dihadapan ku jadi imam, aku makan, kau minta disuapi. Aku duduk kau pun ikut duduk, aku berdiri, kau pun ikut berdiri. Kemana pun mataku memandang, pasti disana ada bayangannya mas Duda. Kan aku jadinya kesal. Aku kesini cuma untuk memperingatkan mu, tolong bilang pada bayanganmu itu untuk tidak mengikuti ku." Gerutu Rania.
"Rania kau sehat?" tanya ustadz Usman.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat wal'afiat."
"AMAZING pake banget ini putrinya Dokter Husna. Kemarin ngomel-ngomel gara gara si Fadlan menggodanya dalam mimpi, sekarang marah-marah karena diujung matanya ada bayangan si Fadlan. Sepertinya putrinya Dokter Husna ini sedang meriang, mungkin keningnya sedang hangat." (Ustadz Usman).
"Yang sabar ya putraku, mungkin ini ujian." (Ustadz Soleh).
"Ko ada ya perempuan model beginian." (Fadil).
"?????????" (Fadlan).
Fadlan sudah menganga, ia benar-benar bingung sendiri harus menghadapi Rania seperti apa.
Rania pun melirik ustadz Soleh, ustadz Usman dan Fadil.
"Kenapa kalian diam saja, harusnya kalian membelaku, harga diriku sebagai perempuan sedang dipermainkan. Bayangan si mas Duda ini berani masuk kamarku, bahkan ia berani masuk kamar mandi ketika aku sedang mandi. Marahi dong," pinta Rania.
"OK SIAP."
Ustadz Usman dan Fadil sudah mengacungkan jempol. Mereka berdua sudah menatap Fadlan dan sudah tidak sabar ingin menggodanya.
"Hei keponakanku. Kemarin kau menggodanya di alam mimpi, sekarang bayanganmu menggodanya di alam nyata. Jangan-jangan besok kau akan menggodanya di alam gaib. Mulai sekarang kau rantai itu bayanganmu biar dia gak kelayaban ke rumahnya si Rania, pake ngintip orang mandi segala," gerutu ustadz Usman pura-pura, padahal ia sudah ingin menertawakan Fadlan yang selalu jadi korban keajaiban si Rania.
Ustadz Soleh sudah menepuk pundak adiknya itu, karena berani ngomel pada putranya hingga ustadz Usman tertawa-tawa. Kini giliran Fadil yang ikut-ikutan.
"Kak Fadlan, wah aku tidak menyangka denganmu ya. Raga mu pemalu tapi bayanganmu malu-maluin, beraninya masuk kamar perempuan. Pakde, bawa saja mereka berdua ke KUA," tutur Fadil sambil menahan tawanya. Fadlan dan Rania langsung mengernyit.
"Rania,,, sudah selesai marah-marahnya?" tanya ustadz Soleh.
"Belum ustadz sedikit lagi."
"Kalau belum selesai, silahkan dilanjutkan lagi, " pinta ustadz Soleh.
Kembali Rania menatap Fadlan.
"Dengarkan aku ya mas Duda, mulai sekarang jangan mengganggu dan menggodaku lagi, baik itu di alam mimpi, di alam nyata maupun alam gaib. Ingat ya, JA NGAN MENG GO DA KU," gerutu Rania.
Fadlan pasrah mengangguk, hari ini ia kembali seperti orang bodoh menghadapi Rania.
"Aku sudah selesai ustadz Soleh." Rania memberikan informasi.
"Kalau kau sudah selesai, sebaiknya kau pulang ya, banyakin istirahat." pinta ustadz Soleh. Rania pun mengangguk.
"Baiklah aku pamit pulang dulu, maaf ya, aku mengganggu perjalanan kalian. Kalau kalian ingin marah, marahi saja tuh si mas Duda. Hari ini dia berperan antagonis dalam hidupku. Assalamualaikum." Pamit Rania yang langsung pergi.
"Waalaikumussalam."
Tiba-tiba ustadz Usman berteriak.
"Istirahat nya di klinik saja, biar sekalian di periksa."
Tiba-tiba mereka bertiga langsung menertawakan Fadlan. Hingga Fadlan langsung cemberut.
__ADS_1
"Yang sabar ya Fadlan. Ini ujian."