Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
I love you


__ADS_3

Hari demi hari terlewati sudah. Fadlan mulai menyadari bahkan sangat menyadari jika dirinya menyukai Rania. Hari ini Fadlan memutuskan untuk menemui Rania dan mengatakan perasaannya. Sudah sedari subuh ia berdo'a agar bisa mengucapkan kata I LOVE YOU untuk putrinya Dokter Husna. Fadlan takut ketika dirinya bertemu dengan Rania, ia takut rasa malunya itu malah double update.


"Pokoknya kali ini, bibir sama hati dimohon jangan berkhianat ya. Cuma bilang i love you doang sudah, tidak butuh lebih, jadi jangan ada rasa malu, hingga ujungnya malu-maluin."


Sebelum ia menemui Rania, Fadlan menyempatkan diri pergi ke makamnya Amara. Fadlan sudah membawa tiga tangkai bunga lili kesukaan mendiang istrinya itu. Fadlan berjalan melewati perkebunan. Para ustadz pun sudah sibuk di kebun. Fadlan sempat menyapa mereka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Mau kemana Lan?" Tanya ustadz Soleh yang kini sedang menyirami sayur yang belum lama tumbuh.


"Ke makam dulu sebentar Bi." Jawab Fadlan yang kini kembali berjalan menuju pemakaman.


Ustadz Usman sudah berbisik pada kakaknya itu.


"Putramu mau ngapelin mendiang istrinya. Kalau si Fadlan pergi ke makam, itu artinya dia mau ngajakin kencan si Amara." Bisik ustadz Usman. Ustadz Soleh langsung menggeram.


"Jangan sembarangan kalau bicara."


Fadlan masih berjalan menuju pemakaman, dari kejauhan ia dapat melihat ada seseorang yang kini sedang berada di makam istrinya. Fadlan semakin mendekat, ia begitu terkejut melihat Rania sedang berjiarah ke makamnya Amara.


"Rania???"


Rania sudah menaruh bunga lili diatas makam, tak lupa juga ia berdoa untuk Amara.


"Apa yang selama ini sering menaruh bunga lili di makamnya Amara itu Rania???"


"Rania."


Seketika Rania langsung menengok dan menatap Fadlan, ia juga ikut terkejut dengan kedatangan Fadlan, ia pikir hari ini Fadlan tidak akan datang ke makamnya Amara.


"Mas Duda."


Rania pun berdiri, mendadak ia takut jika Fadlan marah karena ia tidak izin datang ke makam istrinya. Rania hanya bisa menunduk.


"Kau sedang apa Rania?"


"Maaf sebelumnya mas, aku tidak izin datang kemari, aku datang kesini untuk berjiarah ke makamnya mba Amara." Jawab Rania. Fadlan pun terdiam.


"Apa mas Duda marah?" Tanya Rania.


Fadlan pun tersenyum.


"Kenapa aku harus marah, justru aku senang, jika kau datang kemari, itu artinya kau perduli pada mendiang istriku, pasti kau mendoakan nya kan." Tutur Fadlan. Rania pun mengangguk.


"Mas Duda mau jiarah kan, kalau begitu aku permisi pulang dulu, assalamualaikum." Pamit Rania.

__ADS_1


"Tunggu Rania. Tolong tunggu sebentar, aku ada perlu dengan mu." Pinta Fadlan. Rania pun mengangguk. Kini Fadlan menaruh bunga disebelah bunga lili yang ditaruh Rania, ia berdoa untuk mendiang istrinya itu, setelah itu ia mendekati Rania yang setia menunggunya.


"Maaf sudah menyuruhmu menunggu." Ujar Fadlan.


"Tidak apa-apa mas. Katanya mas ada perlu dengan ku, emangnya ada apa ya mas?" Tanya Rania.


Mendadak rasa malu Fadlan datang tanpa diundang, sebelumnya ia menyuruh Rania menunggunya karena Fadlan ingin mengungkapkan perasaannya, meskipun cuma tiga kata yaitu i love you, itu sudah cukup untuk mewakili perasaannya. Mendadak bibirnya kelu, Fadlan mendadak sulit untuk berbicara, malu, takut, gerogi serta salah tingkah, mampir semua pada si Duda pemalu itu. Rania yang melihatnya pun langsung mengernyit.


"Ada apa mas?"


"Aku, aku ingin bicara sesuatu padamu." Ujar Fadlan ragu-ragu.


"Iya katakanlah, mas ingin bicara apa?"


Rania sudah tidak sabar, ia tau kalau lelaki yang ada dihadapannya itu sedang gerogi.


"Sebenarnya si Duda pemalu ini mau ngomong apa sih, mendadak dia jadi seperti bayi yang baru dilahirkan, gak bisa ngomong." Batin Rania.


"Aku,,,,"


Bibir Fadlan sulit sekali mengucapkan kalimat i love you. Ia sudah bingung sendiri, mendadak ia seperti orang bisu, mau bicara tapi tidak ada nyali dan tenaga.


"Ikh si mas Duda bikin gereget deh, sebenarnya dia mau ngomong apa sih. Kalau dalam situasi seperti ini, mendadak aku pengen kesurupan Tante Zahira deh, pasti ini si mas Duda mau bilang aku cantik deh, tapi masa iya dia mau merayuku di pemakaman begini sih. Mendadak horor deh." Batin Rania.


Fadlan sudah berkeringat dingin. Mau mengucapkan kata cinta saja membutuhkan perjuangan yang beratnya teramat sangat. Sudah seperti mau berperang melawan penjajah.


"Aku,,,"


"Aku apa mas Duda?"


Fadlan sudah mengusap keringat di dahinya sebelum ia kembali berusaha untuk bicara.


"Sempat-sempatnya dia ngelap keringat. Gak tau apa kalau aku sedari tadi udah pegel banget nungguin dia ngomong." Rania mulai menggerutu dalam hati.


"Ya Allah, beri Hambamu ini kekuatan untuk bisa bicara pada Rania, hamba ingin mengungkapkan perasaan pada putrinya Dokter Husna ini." Fadlan berdo'a dalam hatinya.


"Mas Duda?."


"Bismillahirrahmanirrahim...... I LOVE YOU." ujar Fadlan yang kini langsung berlari kabur. Merasa malu bukan main hingga setelah mengungkapkan perasaannya, Fadlan langsung berlari kabur.


Rania sudah memantung ketika mendengar kata i love you yang dikatakan si Duda pemalu itu, ia hampir tidak percaya jika Fadlan menembaknya.


"Apa aku barusan tidak salah dengar jika si Duda pemalu itu mengatakan cinta padaku. Aaaaaaaa, si mas Duda itu cinta padaku. Yes yes yes."


Rania merasa senang hingga ia berjingkrak jingkrak sendiri. Bahagia bukan main. Sementara dengan Fadlan sudah lari terbirit-birit, merasa malu tak terkira setelah mengucapkan cinta pada Rania.


Ustadz Usman dapat melihat keponakannya yang kini sedang berlari terbirit-birit dari pemakaman menuju pemukiman.

__ADS_1


"Kak, itu putramu kenapa lari terbirit-birit seperti itu, jangan-jangan dia melihat penampakan di pemakaman, bukankah tadi dia mau ke makam istrinya." Tutur ustadz Usman. Ustadz Soleh pun terdiam ketika melihat Fadlan berlari kencang.


"Fadlan kenapa?"


"Masa iya siang-siang begini ada penampakan. Itu si Fadlan kaya bukan lelaki saja, harusnya saat ia melihat ada penampakan, itu hantu diajak kenalan, bukannya malah kabur begitu, aku sebagai om nya merasa malu pake banget deh." Tutur ustadz Usman.


"Kau saja yang berkenalan dengan hantu." Gerutu ustadz Soleh.


Ustadz Usman tiba-tiba langsung mengernyit melihat ke arah pemakaman ada orang yang sedang berjingkrak jingkrak yang tidak lain adalah Rania yang masih berjingkrak jingkrak karena merasa senang dengan kejadian barusan. Kalau dilihat dari jauh sudah seperti orang yang ingin terbang tapi sayapnya patah.


"Astaghfirullah alazim kak, itu apaan ya didekat pemakaman, ko kelihatannya horor begitu, pantas saja tadi si Fadlan langsung kabur terbirit-birit, rupanya benar ada penampakan disana." Tutur ustadz Usman.


"Kalau bicara jangan suka ngaco, jelas-jelas itu seperti manusia, meskipun dilihat dari jauh masih terlihat jika kakinya menapak ke tanah. Kalau kau penasaran, sana samperin, sekalian kau ajak kenalan" gerutu ustadz Soleh sambil mencangkul kembali di kebun.


Ustadz Usman benar-benar penasaran.


"Dari pada aku mati penasaran, lebih baik aku mati ketakutan, bukankah itu lebih terhormat."


Ustadz Usman sudah berjalan menuju pemakaman, bibirnya terus komat-kamit membaca do'a.


Sesampainya di pemakaman, meskipun ragu-ragu ustadz Usman mendekat, ia nampak mengernyit ketika melihat yang berjingkrak jingkrak itu adalah Rania.


"Ini putrinya Dokter Husna ngapain berjingkrak jingkrak di pemakaman, jangan-jangan dia kesurupan." Batin ustadz Usman.


"Ekhem. Assalamualaikum."


Rania terkejut dengan kedatangan ustadz Usman, terlebih ia juga malu ketahuan berjingkrak jingkrak.


"Waalaikumussalam."


"Rania, apa kau sedang senam di pemakaman?" Tanya ustadz Usman.


Rania pun merasa malu.


"Aku lagi bahagia ustadz, jadi gak sadar loncat-loncat."


"Bahagia???"


"Hmmm, barusan, keponakannya ustadz Usman habis menembakku." Ujar Rania memberitahu Sambil tersenyum senyum.


"Kau ditembak si Fadlan tapi ko tidak berdarah."


Rania langsung mengernyit.


"Barusan si mas Duda mengatakan cintanya padaku." Kembali Rania tersenyum-senyum.


"Benarkah???"

__ADS_1


"Hmmm."


"Waah keponakan ku bikin malu, masa dia nembak perempuan di pemakaman. Habis nembak pake kabur pula. Tidak bertanggung jawab banget, habis melelehkan hati perempuan eh lalu kabur begitu saja. Jiwa kelelakian ku meronta-ronta menahan malu"


__ADS_2