Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Terkejut


__ADS_3

Masih dengan pak Beno dan kedua bodiguard nya, mereka nampak kesal karena telah dua kali dikerjain orang, kini ia sudah berbalik arah lagi untuk mencari klinik, tak mau lagi bertanya karena takut kena tipu.


Setelah berjalan lumayan jauh, tiba-tiba mereka bertemu dengan Dewi yang sedang membawa satu keranjang kue yang akan ditaruhnya di warung Bi Ratna.


Dewi nampak heran ada tiga orang tak dikenal memasuki wilayah pesantren, karena para orang tua santri hanya berkerumun di asrama atau pelataran pesantren.


"Siapa mereka, kesasar mungkin ya."


"Kalian siapa, kalau mau nengokin para santri, asramanya sebelah sana." tunjuk Dewi ke arah asrama.


"Kepalaku rada kleyengan, lagi nyari klinik."


"Oh klinik, mau saya antarkan?" tanya Dewi.


Pak Beno dan dua bodiguard nya sudah saling lirik.


"Jangan mau Bos, nanti kita jadi korban lagi, takutnya nanti kita dikerjain seperti tadi." ujar salah satu bodiguard sambil berbisik.


"Sepertinya orang ini berbeda, lihat saja bentuk tubuhnya yang gemuk menandakan jika dia orang jujur, dari pada seharian kita nyari klinik gak ketemu ketemu, lebih baik cari bantuan, 1000% aku yakin orang ini orang jujur." ucap bodiguard yang satunya lagi.


"Baiklah jika ibu mau, tolong antarkan kami ke klinik." ujar pak Beno.


"Tentu saja aku mau, tapi gak geratis ya, ada syaratnya." Dewi sudah tersenyum penuh arti.


Pak Beno dan kedua bodiguard nya sudah mengernyit.


"Syarat???"


"Apa syaratnya?"


"Borong dulu kue ku, nanti aku antarkan ke klinik." Dewi memberi syarat. Pak Beno sudah menganga, apalagi melihat kue yang dibawa Dewi satu keranjang penuh. Dan akhirnya pak Beno membeli semua kuenya Dewi termasuk dengan keranjangnya.


"Satu keranjang kue isinya 100 kue ya, harga satu kue nya 2000, kalau keranjangnya mah bonus, geratis. Jadi jumlah semuanya 300.000 rupiah." ujar Dewi.


Pak Beno dan kedua bodiguard nya langsung mengernyit, merasa ada yang aneh dengan penjumlahan ya Dewi.


"Coba kalian buka kalkulator, 2.000×100 jumlahnya berapa?" ujar pak Beno menyuruh bodiguard nya.


Seketika itu pula kedua bodiguard nya itu membuka kalkulator yang ada di hapenya.


"2.000×100 jumlahnya jadi 200.000 Bos, itu ibu ibu gemuk, pelajaran matematika nya nilainya embod kayanya Bos. Badannya besar tapi otaknya kecil."


"2.000×100 itu jumlahnya 200.000," gerutu pak Beno hingga Dewi langsung tertawa.


"Masa sih, mohon dimaklumi saja, pelajaran matematika ku suka dapat nilai merah." ujar Dewi malu.

__ADS_1


"Hampir saja Bos kita kena tipu."


Akhirnya setelah pak Beno membayar satu keranjang kue itu ia menyuruh Dewi untuk mengantarkannya ke klinik.


Kedua bodiguard itu sudah membawa satu keranjang kue.


"Lumayan buat oleh-oleh kalau kita pulang ke Jakarta."


Dewi pun mengantarkan mereka, namun baru saja beberapa langkah, Dewi sudah berhenti hingga ketiga orang itu langsung menatapnya.


"Kenapa berhenti?"


"Sudah sampai." jawab Dewi yang kini menunjuk klinik yang memang sedari tadi pak Beno dan kedua bodiguard nya sudah berdiri didepan klinik, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Pak Beno dan kedua bodiguard nya sudah menganga.


"Karena kalian sudah sampai, aku pulang dulu ya, Assalamualaikum." pamit Dewi yang kini sudah mengibarkan uang dua ratus ribu.


"Rejeki NOM pake PLOK alias nomplok."


Sedari tadi Rania sudah tidak sabar menunggu Fadlan yang akan menemuinya pagi ini. Selain karena rindu, Rania sudah bertekad untuk menceritakan masalah ia yang terlilit hutang.


Tiba-tiba pintu klinik ada yang mengetuk. Rania pun tersenyum dan langsung berlari untuk membukakan pintu, Dokter Husna yang melihat pun ikut tersenyum, ia tau kalau putrinya itu sedang jatuh cinta.


Cekleeek.


"Mas Duda, aku menunggumu dari tadi." Ujar Rania.


Rania terkejut bukan main, ia pikir yang datang adalah Fadlan, namun rupanya pak Beno dan kedua bodiguard nya.


"Pak Beno."


"Hai Rania, bagaimana kabarmu?" Tanya pak Beno sambil tersenyum sinis. Rania sudah terdiam ketakutan, awalnya yang begitu bahagia karena akan bertemu dengan si Duda pemalu, namun nyatanya ia salah, rupanya yang datang itu adalah pak Beno si rentenir tua. Dokter Husna pun menghampiri.


"Ini siapa Rania?" Tanya Dokter Husna.


"Ini pak Beno Bu."


Dokter Husna ikut terkejut. Akhirnya pak Beno dipersilahkan masuk, Rania dan Dokter Husna tau apa tujuan pak Beno datang menemui Rania. Baru saja di persilahkan masuk, tidak disangka Fadlan datang.


"Assalamualaikum."


Rania ikut terkejut melihat Fadlan kini berada diambang pintu klinik, kebetulan Rania belum sempat menutup pintunya.


"Mas Duda."


Mendengar Rania menyebut mas Duda, pak Beno yakin kalau lelaki yang baru datang itu adalah Fadlan.

__ADS_1


"Oh kau Fadlan kan si Duda beranak dua itu?" Ujar pak Beno dengan nada tidak bersahabat. Fadlan terdiam, ia masih bingung kenapa lelaki yang ada di klinik mengetahui namanya.


"Rania, mereka siapa?" Tanya Fadlan. Rania sendiri bingung harus menjawab apa.


"Aku calon suaminya Rania." Ujar pak Beno.


Seketika itu pula Rania membantahnya.


"Bukan."


Fadlan terdiam bingung, ia menatap Rania penuh tanda tanya.


"Rania, dia siapa?" Kali ini Fadlan bertanya siapa pak Beno itu.


"Dia bukan siapa-siapa mas. Maaf sebelumnya, bisa tidak mas Duda pulang dulu, soalnya aku sama ibu masih ada urusan dengan pak Beno." Pinta Rania sedikit memohon. Fadlan pun menjadi bingung sendiri, kenapa laki-laki tua itu mengaku calon suaminya Rania. Fadlan juga merasa aneh ketika menatap Dokter Husna yang hanya diam menunduk, terlihat ada rasa takut dan khawatir dari wajahnya Dokter Husna.


"Rania, kenapa si bapak ini mengaku sebagai calon suamimu?" Tanya Fadlan kembali. Rania pun ikut bingung untuk menjelaskan nya.


"Mas, nanti aku jelaskan ya mas, tapi aku mohon untuk saat ini mas Duda pulang dulu, aku mau bicara dengan pak Beno. Mas Duda jangan salah faham dulu. Sekali lagi aku mohon, mas Duda pulang dulu ya, nanti aku akan menemui mas Duda ditempat biasa untuk memberi penjelasan." Tutur Rania yang kini sudah merasa cemas serta gelisah.


"Tapi aku khawatir padamu Rania."


"Mas Duda tidak perlu khawatir, aku dan ibu pasti baik-baik saja."


Meskipun dibenaknya ada ribuan tanda tanya serta kekhawatiran yang nyata, akhirnya Fadlan setuju untuk pulang dulu, namun ia langsung pergi ke jembatan untuk menunggu Rania disana.


Setelah Fadlan pergi. Pak Beno langsung tertawa.


"Jadi itu lelaki duda yang kau sukai?" Tanya pak Beno sambil tersenyum sinis.


Rania merasa heran, dari mana pak Beno tau soal Fadlan.


"Mau apa pak Beno datang kemari?" Tanya Rania.


"Kau jangan pura-pura bodoh Rania. Satu Minggu lagi hutangmu harus segera lunas, aku datang kesini hanya untuk mengingatkanmu, jika satu Minggu kau tidak sanggup melunasinya, maka dengan terpaksa aku akan menikahimu." Tutur pak Beno.


"Gak, aku gak mau dinikahi pak Beno. Aku akan usahakan satu Minggu lagi aku akan melunasi hutang itu." Tegas Rania, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan. Pak Beno yang mendengar pun langsung tertawa.


"Ha ha ha, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu Minggu. Apa kau sedang berusaha menggoda si Duda itu agar dia mau membayar semua hutangmu?" Tuduh pak Beno. Rania langsung mengernyit.


"Atas dasar apa pak Beno menuduhku seperti itu." Rania marah.


"Pak Beno, tolong beri kami waktu, atau paling tidak perpanjang lagi waktunya, kami janji akan segera melunasi hutangnya." Ujar Dokter Husna.


"Perjanjiannya sudah tertulis tiga bulan, dan waktu tiga bulan itu akan habis dalam satu Minggu lagi. Pokoknya jika Rania satu Minggu lagi tidak bisa melunasi hutangnya, maka aku akan memaksanya untuk mau menjadi istri ketiga ku. Ingat ya Rania satu Minggu lagi, kupastikan kau akan menjadi istriku." Tutur pak Beno yang kini langsung pergi.

__ADS_1


Rania mulai ketakutan. Dokter Husna sudah memeluknya agar putrinya itu sedikit lebih tenang.


"Berdo'a saja Rania, mudah mudahan Allah menolongmu."


__ADS_2