
...༻✫༺...
Hari senin tiba. Seluruh murid baru selesai melakukan upacara bendera. Para guru biasanya memberikan pengumuman penting setelah upacara.
Terlihat ada dua piala yang diletakkan di atas meja. Sepertinya akan ada pemanggilan murid berprestasi hari itu.
"Bisa nggak orang yang terima piala kali ini bukan lo? Bosan gue," senggol Ranti. Dia sudah tahu siapa penerima piala yang akan dipanggil oleh guru. Siapa lagi kalau bukan Elena?
"Kalau gitu, lo belajar yang rajin dan kalahin gue." Elena merangkul pundak Ranti.
"Wah! Masalah itu gue nyerah. Ya udah, gue nggak jadi bosan deh." Ranti mengangkat dua tangannya ke udara. Dia dan Elena lantas terkekeh.
"Lipstik gue nggak ketebalan kan?" tanya Elena sembari merapikan topi dan rambut.
"Nope!" Ranti lekas menggeleng setelah memastikan bibir Elena yang dipoles dengan liptin merah muda. Atensinya segera teralih ke arah dimana piala diletakkan. "Penerima piala yang satunya pasti Vino kan?" tanyanya.
"Bukannya sudah jelas? Kemarin kan dia memenangkan pertandingan taekwondo nasional." Cewek yang berdiri di samping Ranti menyahut. Dia adalah Tias. Salah satu cewek yang dekat dengan Vino. Elena bahkan pernah memergoki mereka bermesraan di ruang ganti.
"Kami juga tahu kok. Secara gue sama Elena teman dekat dia," sahut Ranti. Entah kenapa dia kesal dengan teman sekelasnya tersebut. Tias selalu saja memamerkan kedekatannya dengan Vino di setiap waktu.
"Kalau sudah tahu, terus ngapain lo nanya?" balas Tias. Dia tampak melepas topi abu-abunya. Lalu menjadikan benda tersebut kipas tangan.
"Gue nggak nanya sama lo. Tapi sama Elena!" Ranti memutar bola mata jengah. Dia tak mau menggubris lagi dan memilih mengajak Elena mengobrol.
Sementara itu, Tias sejak tadi terus mencuri pandang ke arah Vino yang berada di barisan tidak jauh. Senyuman kekaguman perlahan mengembang di wajahnya.
"Gue nggak nyangka bisa dekat sama cowok kayak Vino. Hari ini dia ngajak ketemu lagi pas istirahat pertama," cetus Tias.
Ranti dan Elena sontak terdiam. Keduanya menatap ke arah Tias. Ranti yang sudah lama memendam rasa pada Vino terganggu. Sedangkan Elena yang sekarang memiliki hubungan tak biasa dengan Vino juga terusik terhadap pernyataan Tias.
Senyuman lebar terukir di wajah Tias. Ia memegangi wajahnya dan membalas tatapan dua cewek yang kini menatapnya. "Badan Vino bagus banget!" ungkapnya sambil tak berhenti cengengesan.
"Mesum banget lo!" timpal Ranti yang merasa geram.
"Lo harus tahu. Vino tuh nggak cuman dekat sama lo!" Elena ikut menimpali.
"Dih! Kenapa kalian sewot? Iri ya?" balas Tias dengan ekspresi wajah menyebalkan. "Jangan-jangan alasan kalian temenan sama Vino karena pengen dekat dia lagi. Eh tahunya cuman dianggap teman doang. Nyesek banget," ejeknya.
Ranti sudah tak tahan. Giginya menggertak kesal. Dia hampir menjambak rambut Tias. Namun langsung dihentikan oleh Elena.
__ADS_1
"Udah, Ran. Jangan didengerin. Kalau lo marah, itu namanya lo membenarkan omongan dia. Omongan dia jelas nggak benar buat kita!" ujar Elena.
Ranti terdiam. Elena tentu tidak tahu kalau apa yang disebutkan Tias memang terjadi kepadanya. Ranti lantas mengabaikan Tias.
Saat itulah nama Elena dipanggil. Cewek tersebut segera mendapat sambutan meriah dari semua orang. Terutama dari para murid lelaki. Mereka berteriak histeris ketika Elena telah berdiri di depan dan menerima piala.
Setelah Elena, murid yang kedua dipanggil adalah Vino. Kini suara murid perempuan yang mendominasi. Tias yang sedari tadi sudah menunggu momen Vino maju ke depan, tampak kegirangan. Ranti yang berdiri di sebelah mendelik sembari melipat tangan di dada.
Vino menerima piala. Ini bukan pertama kalinya Vino dan Elena dipanggil pada waktu bersamaan. Mungkin karena itulah Vino merasa dekat dengan gadis tersebut. Tidak ada yang bisa membantah kalau mereka adalah murid berprestasi. Meski prestasinya dalam bidang yang sangat berbeda. Elena dibidang akademik, sedangkan Vino dalam olahraga dan bela diri.
"Gimana?" celetuk Vino. Melirik ke arah Elena yang berdiri di sampingnya.
"Apaan?" tanggap Elena. Tak mengerti.
Vino menarik sudut bibirnya ke atas. Ia berbisik, "Lo masih pengen ciuman sama gue lagi nggak?"
Mendengar itu, Elena langsung menginjak kaki Vino. Mengingat mereka sedang ada di depan umum. Ditambah di sekitar mereka ada banyak guru yang bersiap untuk berfoto.
"Gila lo!" cibir Elena.
"Kalau pengen, istirahat pertama ini kita ketemu di aula lama sekolah. Gue tunggu lo di sana." Injakan Elena bisa dihindari Vino dengan baik. Cowok tersebut tak menanggapi cibiran Elena. Ia malah lanjut membicarakan topik yang dari awal ingin dibahasnya dengan cewek itu.
"Sorry, nggak tertarik lagi," sahut Elena ketus. Dia segera teringat dengan perkataan Tias tadi. "Oh iya, bukannya istirahat pertama ini lo mainnya sama Tias?" tukasnya.
Apa yang dikatakan Vino pada Elena kalau dirinya tidak memiliki pacar adalah benar. Cowok sepertinya hanya memanfaatkan gadis-gadis yang mendekat sebagai pelarian masalah.
"Tias sendiri yang bilang," ucap Elena.
"Sumpah! Mukanya aja gue lupa yang mana," jawab Vino.
Kini Elena yang tercengang. "Astaga... Sebanyak apa cewek yang dekat sama lo?" timpalnya. Menggeleng tak percaya.
"Mana gue tahu. Gue nggak hitung. Tapi gue masih perjaka," balas Vino.
"Lo pikir--"
"Ayo, Elena, Vino! Pose yang bagus!" seru Bu Tami. Memotong perkataan Elena tanpa sengaja. Cewek itu dan Vino berhenti bicara. Keduanya segera berfoto bersama para guru.
Selepas berfoto, seluruh murid dibubarkan. Mereka semua disuruh masuk ke kelas masing-masing. Termasuk Elena dan Vino.
__ADS_1
"Ingat, El. Istirahat pertama!" kata Vino dengan senyuman miring. Lalu pergi begitu saja.
Elena yang sudah mengangakan mulut untuk menyahut, jadi tidak sempat. Vino keburu pergi menjauh. Cewek itu lantas hanya menghentakkan kaki dengan kesal.
Ketika pelajaran di mulai, Elena tidak bisa fokus. Entah kenapa dia gelisah sendiri dengan tawaran Vino tadi. Batin dan logikanya sedang berperang.
'Gue nggak bakalan mau ketemu dia istirahat pertama nanti. Lagian ini kan di sekolah? Bukan gaya gue banget melakukan hal begituan,' ucap Elena. Mencoba mengingatkan diri. Setelah berpikir begitu, ingatannya membayangkan kejadian semalam bersama Vino.
Tanpa sadar Elena menggigit bibir bawahnya. Sungguh, dia sangat ingat bagaimana rasanya saat Vino memberi sentuhan.
'Sudah, El! Kenapa lo ingat-ingat itu terus!' Elena menegur dirinya sendiri. Dia bahkan sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. Hingga rambut pendek sebahunya itu jadi agak berantakan.
Teman-teman yang duduk di sebelahnya, otomatis heran.
"Lo kenapa, El?" tanya Ranti yang duduk di sebelah Elena.
"Nggak apa-apa." Elena langsung tersadar dan menggeleng.
"Kepala lo gatal ya?" tanya Eri. Cowok berambut kribo yang duduk di belakang Ranti.
"Sedikit." Elena terpaksa berbohong. Dia tentu tak mau kegelisahannya membuat Ranti penasaran. Apalagi masalah Elena sekarang berkaitan dengan Vino.
"Wah! Jangan-jangan lo kutuan lagi," seru Eri dengan nada bicara cukup lantang. Beberapa murid di sekitar sontak mendengar. Mereka diam-diam tertawa.
"Enggak-enggak! Lo salah paham. Gue--"
"Tenang aja, El. Gue ngerti perasaan lo. Dan gue bisa bantu lo! Kebetulan gue dulu juga pernah kutuan." Eri memangkas ucapan Elena begitu saja. Dia memang cowok yang dikenal berasal dari kampung.
"Tapi--"
"Gue punya obat alami buatan nenek di rumah. Nanti besok gue bawakan," potong Eri.
"Lo salah, Ri! Gue nggak kutuan!" bantah Elena. Dia mendelik ke arah Ranti yang asyik tergelak.
"Ketawa lagi lo! Bukannya bantuin gue juga," timpal Elena pada Ranti.
"Sorry, El. Lucu banget. Dia mau bawain obat kutu buat lo. Pffft!" sahut Ranti.
"Nggak apa-apa, El. Nggak usah malu. Nanti kalau sudah pakai obat buatan nenek gue, pasti langsung sembuh," cetus Eri.
__ADS_1
"Iya, nggak usah malu, El. Nanti juga sembuh." Erwin si ketua kelas bahkan menyahut. Dia dan yang lain cekikikan mentertawakan kesalah pahaman Eri dan wajah cemberut Elena. Cewek itu hanya bisa mendengus kasar seraya menjatuhkan kepalanya ke atas buku.
'Vino sialan!' rutuk Elena dalam hati.