Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 43 - Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

...༻✫༺...


Semua orang berseru cemas saat melihat Vino jatuh. Orang-orang terdekat segera membawa cowok itu ke UKS.


Menyaksikan Vino pingsan, Elena sontak khawatir. Dia hendak berlari menuju UKS. Namun pergerakan Elena dihentikan oleh Pak Seno. Gurunya itu menyarankan Elena pergi setelah sesi pemberian piala.


Elena setuju saja. Kekhawatirannya untuk Vino tak bisa reda. Meski marah pada cowok tersebut, rasa sayang Elena tentu masih ada. Siapa yang tidak cemas saat orang tersayang jatuh sakit?


Selagi Elena harus menerima piala dan hadiah, Ranti lebih dulu pergi ke UKS. Dia melihat keadaan Vino di sana.


"Vino!" panggil Ranti yang langsung mendekat. Ia menatap Vino yang terlihat memejamkan mata.


"Dia kayaknya tidur deh," celetuk Adnan. Ketua ekstrakulikuler Palang Merah di sekolah.


"Emang bisa ya ketiduran pas berdiri?" tanggap Ranti.


"Ya bisalah kalau capek," balas Adnan. "Lo mau tetap di sini jagain Vino?" tanyanya.


"Iya." Ranti mengangguk.


"Ya sudah. Gue keluar kalau begitu." Adnan segera keluar dari UKS. Di sana Ranti duduk di sebelah Vino. Ia menopang dagu dan memanfaatkan waktu untuk memandangi wajah tampan Vino.


"Gue nggak akan pernah puas lihat muka tampan lo ini," gumam Ranti. Atensinya perlahan tertuju ke bibir Vino. Keinginan untuk mencium cowok tersebut terlintas.


Ranti berdiri ke depan jendela. Memastikan tidak ada orang yang datang. Ia juga tak lupa menoleh ke arah pintu. Setelah yakin keadaan aman, Ranti duduk kembali ke dekat Vino. Ia mengaitkan rambut panjangnya ke daun telinga terlebih dahulu. Lalu mengatup dan membuka bibir berulang kali.


Hembusan nafas dikeluarkan Ranti dari mulut. Dia mulai bergerak mendekati Vino. Menyipitkan mata sambil membidik bibir Vino yang tampak berwarna merah muda alami. Mulut Ranti perlahan memagut bibir Vino.


"Ya ampun, bukankah itu bisa dibilang pelecehan?" suara cewek terdengar dari ambang pintu. Menyebabkan Ranti sontak menoleh. Ternyata cewek yang sukses memergokinya mencium Vino adalah Tias.


"Apa lo?!" timpal Ranti sambil berkacak pinggang.


"Sudah gue duga. Lo pasti suka sama Vino. Tapi nasib lo lebih nyesek dari gue. Sampai cium bibir Vino aja harus diam-diam," ucap Tias seraya terkekeh.


"Sialan! Pergi lo!" hardik Ranti.


"Pasti hati lo semakin kesal pas lihat Vino malah dekat sama Elena. Hahaha!" ejekan Tias malah menjadi-jadi.


Ranti yang kesal, langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Tias. Hal itu membuat Tias sontak terkejut. Dia memegangi pipi dengan raut wajah meringis kesakitan.


"Gue akan aduin ini ke guru!" ancam Tias. Dia akhirnya merengek.


"Aduin aja. Gue nggak takut. Lagian semua guru pasti berpihak sama gue. Cuman murid beasiswa, banyak tingkahnya lo! Ngaca dong! Vino deketin lo cuman mau badan lo doang!" balas Ranti.


Tias menangis. Dia berlari dan meninggalkan UKS. Sedangkan Ranti mendengus lega. Ia ingin melanjutkan kedekatannya dengan Vino lagi.

__ADS_1


Namun belum sempat melakukan apapun, suara derap langkah kaki mengejutkannya. Ranti buru-buru menjauh dari Vino. Ia menoleh ke arah pintu.


"Vino?" ternyata sosok yang datang adalah Elena.


Ranti membuang muka. Menyembunyikan ekspresi tidak suka.


Elena menghampiri Vino. Dia memeriksa keadaan cowok itu. Selanjutnya, Elena menatap Ranti.


"Vino kenapa katanya?" tanya Elena.


"Kata Adnan tadi sih kecapekan," jawab Ranti.


"Kecapekan?" Elena mendekati Vino. Membuat Ranti terpaksa menyingkir untuknya. Di belakang Ranti diam-diam mengarahkan tinju pada Elena. Ia tentu kesal dengan kedatangan cewek tersebut.


"Katanya lo nggak mau dekat sama Vino lagi," cetus Ranti sambil melihat kuku-kukunya yang berhiaskan kotek berwarna pink.


"Iya, tapi bukan berarti gue nggak peduli kalau dia jatuh sakit," sahut Elena. Dia meletakkan hadiah dan piala ke atas meja. Kemudian menyentuh dahi Vino. Mencoba mencari tahu suhu tubuh cowok itu. Namun tidak ada hawa panas tertentu yang Elena rasakan. Suhu tubuh Vino terbilang normal.


"Oh iya, Andi dan Iyan mana?" tanya Elena.


Ranti mengangkat dua bahunya. "Nggak tahu. Mereka nggak terlihat sejak tadi," sahutnya.


Elena berinisiatif menghubungi Iyan. Jika Vino memang kelelahan, maka dia pasti melakukan sesuatu yang menguras energi. Kemungkinan besar Iyan dan Andi tahu. Mengingat keduanya belum pergi dari rumah Vino saat Elena dan Ranti pulang.


Suara dering terdengar. Iyan awalnya tidak mengangkat telepon. Tetapi ketika panggilan kedua dilakukan Elena, barulah Iyan mengangkat.


"Lo dimana?" tanya Elena.


"Gue..." Iyan menjeda ucapannya sejenak. "Di rumah.... Rumah Vino kayaknya deh..." sambungnya. Jelas Iyan masih merasa sempoyongan. Meski efek obat yang dikonsumsinya tidak sekuat kemarin malam.


"Hah? Lo nggak sekolah? Hari ini bagi rapor loh," ucap Elena.


"Apa?" Iyan terdengar kaget. Ada suara keributan seperti benda jatuh yang juga dibuat olehnya. "Di, bangun! Kita harus ke sekolah," ucapnya yang dapat didengar oleh Elena.


"Parah. Kalian lupa kalau hari ini bagi rapor? Emang kalian semalaman ngapain aja sih?" timpal Elena merasa tak percaya.


"Kami cuman minum-minun doang. Udah dulu, El. Gue sama Andi mau siap-siap."


"Minum-minum? Maksud lo--" perkataan Elena terhenti karena Iyan mematikan telepon lebih dulu.


"Minum-minum? Jadi semalaman Vino, Andi, dan Iyan mabuk?" tebak Ranti.


"Kayaknya gitu." Elena mendelik ke arah Vino yang masih terlelap. Dia semakin kesal pada cowok itu. Selain menggantung hubungan, Vino juga pemabuk.


"Ayo kita ke kelas! Biarin dia sendiri di sini," ajak Elena sembari mengambil piala dan hadiah dari meja. Ia berjalan lebih dulu ke pintu. Namun Ranti tidak mengikuti.

__ADS_1


"Lo aja. Gue tetap di sini," kata Ranti.


"Apa?" Elena terheran.


"Gue setia kawan, El. Gue juga selalu menganggap Vino sebagai sahabat kayak lo. Apapun perbuatan buruk yang dia lakukan gue nggak peduli," tutur Ranti dengan mimik wajah penuh ketulusan.


Elena mendengus kasar. "Terserah lo," ucapnya. Dia tetap memilih pergi.


"Oh iya, El. Ambilkan rapor gue ya!" seru Ranti. Sebelum Elena benar-benar beranjak. Cewek itu lantas mengangguk dari kejauhan.


Ranti kesenangan bisa kembali berduaan dengan Vino. Ia memanfaatkan momen itu sebaik mungkin. Entah berapa kali Ranti menghamburkan ciuman ke wajah Vino. Dia juga membelai kepala Vino dengan lembut. Ranti tak berhenti tersenyum.


Setelah satu jam terlewat, Andi dan Iyan datang. Keduanya mendatangi UKS ketika mendengar kabar bahwa Vino pingsan. Saat itulah mereka memergoki apa yang dilakukan Ranti terhadap Vino.


Iyan menatap nanar Andi. Dia mengerti bagaimana perasaan temannya itu ketika melihat cewek yang disuka memperhatikan cowok lain.


"Lo ngapain?" tanya Andi dengan ekspresi cemberut.


Ranti kaget sampai berjengit. Dia berhenti membelai Vino dan berbalik. Membelalakkan mata tak percaya.


"Gu-gue jagain Vino," dalih Ranti.


"Dengan cara elus-elus kepalanya gitu? Pas pacaran aja lo nggak pernah memperlakukan gue begitu," timpal Andi.


"Udahlah, Di. Kita fokus sama Vino aja." Iyan mencoba meredakan amarah Andi.


"Ayo kita bicara serius!" ajak Andi pada Ranti. Mengabaikan perkataan Iyan barusan.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan." Ranti menolak. "Oh iya, karena kalian sudah di sini, gue pergi aja. Gue belum ambil rapor soalnya," ucapnya. Sengaja melarikan diri dari Andi.


Andi menatap nanar kepergian Ranti. Ia ingin marah tetapi tidak tahu pada siapa. Kepada Ranti atau dirinya sendiri.


Kala para murid sudah diperbolehkan pulang, Vino sadar. Dia memegangi kepala sambil merubah posisi jadi duduk.


"Lo nggak apa-apa, Vin?" tanya Iyan.


Vino tak menjawab. Dia justru sibuk mengedarkan pandangan. Sampai dia teringat dengan pengumuman saat di lapangan tadi.


"Elena meraih juara tiga!" ungkap Vino.


"Kami sudah tahu. Nih rapor lo." Andi menyerahkan rapor Vino.


"Lo mending siap-siap. Kita sudah dibolehkan pulang. Besok kita sudah liburan," imbuh Iyan.


Vino mengangguk. Dia ingin menemui Elena, namun ditahan. Vino menggaruk kasar kepalanya. Ia baru sadar kalau kedatangannya ke sekolah benar-benar dalam kendali mabuk. Sekarang Vino merasa malu. Apalagi ketika mendengar kalau dirinya pingsan di lapangan.

__ADS_1


'Semuanya gara-gara Elena,' batin Vino. Menyalahkan segalanya pada Elena.


__ADS_2