
Guys, bab ini agak dark ya. Pokoknya buat pembaca yang berada di bawah 18 tahun, harap untuk tidak membaca!
...༻✫༺...
Vino membiarkan Elena tenang terlebih dahulu. Mereka sekarang berduaan di dalam kamar. Dalam pendengaran Iyan yang diam-diam menguping di depan pintu.
"Baru aja gue mau ke rumah lo. Eh, lo datang duluan," celetuk Vino. Ucapannya sukses membuat tangisan Elena memudar. Cewek tersebut melepas pelukan. Ia buru-buru menghapus air mata yang ada di wajah.
"Yang benar?" tanya Elena dengan suara parau.
"Iya. Lo nggak lihat gue pakai jaket hody gini? Gue selalu pakai jaket ini kan pas ke rumah lo?" tanggap Vino. Tangannya perlahan menghapus bekas air mata yang terlihat jelas di wajah Elena. "Pasti ada sesuatu terjadi. Gue juga nggak bisa telepon lo," tuturnya.
Elena mendengus. Ia melangkah mundur dan duduk ke tepi ranjang. "Bokap dan nyokap gue semakin keterlaluan, Vin. Gue udah berada di titik nggak tahan. Mereka bahkan nggak biarin gue megang handphone!" ungkapnya.
"Sampai kapan?" tanya Vino.
"Kata mereka sampai lulus... Mereka juga menyita kartu debit gue. Selain itu gue akan dikasih uang jajan dua puluh ribu sehari mulai sekarang," jawab Elena lirih. Mimik wajahnya menunjukkan kekesalan yang jelas.
"Cih! Lo nggak usah cemaskan itu. Kan lo punya gue," sahut Vino sembari duduk ke sebelah Elena. Cewek itu sontak mengerutkan dahi. Menatap penuh tanya.
"Besok kita beli handphone bareng. Lo juga nggak perlu khawatir masalah uang jajan," ujar Vino.
Elena terkesiap. "Beneran?" tanyanya meragu.
"Ngapain gue bohong! Lo aja baru lihat sisi baik gue. Iyan aja gue izinin tinggal di sini sampai dia bisa balik lagi ke rumahnya," kata Vino.
Elena memukul bahu Vino. Meskipun begitu, dia tersenyum tipis. "Iya, iya, gue akui kalau gue baru aja lihat sisi baik lo," ucapnya.
"Akhirnya lo senyum juga. Lo mau sesuatu? Minum gitu?" tawar Vino sambil berdiri. Dia siap mengambilkan apapun untuk Elena. Akan tetapi cewek itu justru terpaku menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa tatapannya begitu?" tukas Vino. Menarik sudut bibirnya ke atas.
"Yang gue mau sekarang elo..." ungkap Elena sembari berdiri ke hadapan Vino. Lalu memagut bibir cowok itu dengan lembut.
Vino tentu tak menolak. Kedua tangannya otomatis melingkar ke pinggul Elena. Mereka saling memejamkan mata. Menikmati ciuman bibir yang terjadi.
Elena melepas tautan bibirnya dari mulut Vino sejenak. Ia mengambil nafas untuk sesaat.
"El, gue--" belum sempat Vino selesai bicara, Elena kembali melumaat bibirnya. Pergerakan yang di lakukan cewek tersebut membuat Vino terdorong ke belakang. Bahkan sampai tersudut ke depan nakas. Benda itu sampai bergetar karena ciuman yang mulai memanas. Nafas Vino dan Elena mulai memburu.
Tak terima dirinya tersudut, Vino memegang tengkuk dan tangan Elena dengan erat. Lalu melakukan ciuman terhebatnya. Sehingga cewek itu tak bisa berkutik dan melangkah mundur. Alhasil Elena terjatuh ke atas ranjang.
Sementara itu di depan pintu kamar, Iyan sejak tadi bingung. Terutama ketika dia tidak mendengar Vino dan Elena bicara. Entah kenapa dirinya malah mendengar suara barang yang ditabrak. Walaupun begitu, Iyan tak bisa mendengar suara dari hasil kegiatan intim yang dilakukan Vino dan Elena.
Iyan menggaruk kasar kepalanya. Dia teramat penasaran.
"Apa mereka bercinta lagi seperti tempo hari?" gumam Iyan menduga. Ia menenggak salivanya sendiri. Alhasil Iyan mencoba membuka pintu kamar Vino. Dia cukup kaget karena pintunya tidak dikunci.
Setelah sedikit terbuka, barulah Iyan bisa mendengar suara lenguhan Elena. Cewek itu terlihat menggeliat tidak karuan di atas ranjang. Tampilannya hanya berbalutkan bra yang tampak melonggar dan memperlihatkan jelas salah satu buah dadanya.
Iyan memicingkan mata, sebab dia tidak melihat Vino ada di atas badan Elena. Iyan terpaksa membuka pintu lebih lebar. Sampai dia akhirnya bisa melihat Vino. Cowok itu asyik memberikan oral di antara dua kaki Elena yang terbuka lebar. Kepala Vino jelas berada di dalam rok Elena.
Bukannya marah atau cemburu, Iyan justru mematung. Responnya sangat berbeda dari Ranti saat melihat Vino dan Elena bercinta.
Beberapa kali Iyan menenggak ludahnya sendiri. Apalagi saat mendengar Elena tak berhenti mengerang.
Elena begitu tenggelam dengan suguhan yang diberikan Vino. Mulutnya terus menganga. Fokus Elena juga selalu tertuju ke arah dimana Vino berada.
"Akh!" Desaahan Elena kian menjadi-jadi. Dia gelagapan sendiri. Bahkan tidak kunjung menyadari Iyan yang menonton di ambang pintu.
__ADS_1
Elena merasa tubuhnya semakin memanas. Dia sampai mencengkeram rambut sendiri karena kewalahan. Hingga puncak kenikmatan dapat dirinya rasakan. Tubuh Elena kini merasa lemas. Ia mengontrol nafas sedemikian rupa.
Tahu Elena sudah mencapai klimakss, Vino berhenti. Dia mengeluarkan kepalanya dari rok Elena.
"Basah banget di sana," komentar Vino seraya mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Dia segera melepas jaket dan bajunya.
Elena terkekeh. Dia merubah posisi menjadi duduk dan langsung menyambar bibir Vino dengan ciuman. Bra dilepaskan oleh Elena. Selanjutnya, dia mencumbu leher Vino.
Mata Vino reflek terpejam. Darah disekujur badannya berdesir hebat karena lidah dan mulut panas Elena yang bergumul dikulitnya.
Elena mendorong Vino hingga telentang. Mulut Elena menganga. Sengaja memberikan uap panas ke kulit sang kekasih. Dia menggerakkannya sampai ke perut Vino yang berotot itu. Di akhir, Elena berhenti. Dia segera melepas resleting celana Vino.
"Lo yakin mau melakukan ini? Nanti muntah loh," ujar Vino. Memberi peringatan. Tepat sebelum Elena membalas perlakuan oral yang dilakukan Vino tadi. Cowok tersebut tahu ini adalah pengalaman pertama Elena.
"Biarin gue coba dulu," tanggap Elena. Saat itulah Vino tak sengaja menoleh ke arah pintu.
"Sial!" umpat Vino. "Sejak kapan lo disitu?!" timpalnya. Tatkala memergoki Iyan berdiri di depan pintu.
Elena ikut kaget. Dia sontak menoleh ke arah yang sama dengan Vino. Benar saja, dirinya bisa melihat Iyan di sana. Tanpa pikir panjang Elena segera mengambil pakaian dari lantai. Dia merasa malu bukan kepalang. Elena buru-buru mengenakan bajunya.
Sementara Vino, dia melompat dari ranjang dengan ekspresi marah. Berjalan laju ke arah Iyan.
"So-sorry, Vin. Gue baru aja masuk. Beneran!" Iyan mencoba melakukan pembelaan sebelum mendapat tonjokan dari Vino. Namun cowok itu sudah terlanjur mencengkeram kerah bajunya.
"Terus apa tujuan lo buka pintu kamar gue?! Bukankah harusnya lo bisa nebak apa yang gue dan Elena lakukan?!" timpal Vino dengan gigi yang menggertak kesal.
"Sorry, Vin. Gue nggak sengaja. Maafin gue. Tadi gue cuman mau tanya dimana kamar tamu. Lo kan belum kasih tahu gue kamarnya dimana?" ujar Iyan berkilah. Rumah Vino yang terlampau besar, dijadikan alasan olehnya.
Cengkeraman Vino melemah. Dia akhirnya melepaskan Iyan. "Pilih aja kamar yang lo mau. Kalau mau tidur di kamar kotor bokap dan nyokap gue aja sekalian!" ucapnya. Lalu kembali masuk ke kamar dengan bantingan pintu.
__ADS_1
Sebelum pintu tertutup, Iyan menyempatkan diri menatap Elena yang tampak takut. Selepas pintu tertutup, Iyan berjalan sampai menemukan sebuah kamar.
Satu tangan Iyan memegangi organ intimnya. Itu sudah menegang semenjak melihat pemandangan intim yang dilakukan kedua temannya tadi. Dia merasa bergairah karena melihat orang yang disukainya bercumbu dalam keadaan setengah telanjang.