
...༻✫༺...
Elena terhenyak. Kini Ranti dan Andi tahu kalau dia dan Vino sudah tiga kali berciuman. Kedua temannya itu tampak menunjukkan ekspresi berbeda.
"Wah, gue nggak salah dengar kan, El?" ujar Andi yang tak berhenti cengengesan. Sedangkan Ranti terlihat memberikan tatapan begitu serius. Cewek itu seolah tidak bisa lagi menyembunyikan ketertarikannya terhadap Vino.
"Udah! Jangan dibahas. Mending langsung aja kasih tahu Elena tujuan kita datang ke sini." Vino sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Meskipun begitu, dia tidak bisa menahan senyuman. Mengingat sikap Elena yang tidak sengaja keceplosan terasa begitu menggemaskan dimatanya.
"Apaan?" Elena sontak penasaran.
"Lo sudah dengar berita tentang Iyan nggak? Kami sekarang mau ngajakin lo ngumpul. Kita mau ketemu sama Iyan sekarang," jelas Vino.
"Iya, gue baru aja lihat berita tentang Iyan di televisi," tutur Elena.
"Mungkin itulah alasan dia nggak ke sekolah hari ini. Dia pasti malu banget," kata Andi. Dia melirik ke arah Ranti. Pacarnya itu sejak tadi hanya diam. Seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ya udah kalau begitu lebih baik lo siap-siap. Kita akan ke rumah Iyan sekarang," ajak Vino pada Elena.
"Tapi gue..." Elena tidak tahu harus bagaimana. Mengingat dia sedang dihukum sekarang.
Vino memutar bola mata jengah. "Lo takut dihukum sama bokap dan nyokap lagi?" tanyanya.
"Dihukum? Kita cuman pergi sebentar doang kok," ucap Andi yang tak tahu apa-apa tentang kehidupan Elena.
"Lo nggak tahu kalau pas perayaan ulang tahun Iyan kemarin, Elena jadi kena hukuman sama bokap dan nyokapnya." Akhirnya Ranti bicara. Sebagai teman dekat, dia tentu tahu masalah yang menimpa Elena.
"Yang benar? Padahal itu nggak lama-lama amat loh." Andi merasa tak percaya.
"Elena dihukum nggak boleh pergi dari rumah untuk sementara. Ponsel dia juga disita tiga hari katanya," ungkap Vino.
"Lo tahu?" Ranti mengerutkan dahi. Mengetahui Vino tahu sampai sedetail itu, dia jadi semakin curiga terhadap hubungan cowok tersebut dengan Elena.
"Iya, Elena yang kasih tahu." Vino menjawab sambil membuang muka.
"Jadi lo mau ikut atau nggak? Kalau nggak bisa, jangan dipaksakan," cetus Ranti. Ia sebenarnya senang jika Elena tidak ikut.
"Gimana ya... Gue pengen ikut padahal, tapi juga nggak berani tinggalin rumah begitu aja. Nanti hukuman gue malah tambah parah," imbuh Elena seraya mendengus kasar.
__ADS_1
"Gue punya ide!" cetus Vino. Atensi semua orang sontak tertuju kepadanya.
"Awas aja kalau ide yang aneh," tukas Andi.
Vino menarik sudut bibirnya ke atas."Kita suruh Iyan ke sini. Dengan begitu, lo nggak perlu keluar rumah. Gimana?" ucapnya sembari merangkul pundak Elena.
Ranti menghela nafas kesal. Dia mengalihkan pandangan dari Elena dan Vino.
"Ide lo bagus juga," komentar Andi.
Elena memiringkan kepala. Dia tidak bisa membantah bahwa ide yang diberikan Vino bagus.
"Tapi masalahnya, Iyan bisa nggak datang ke sini?" Elena meragu.
"Ah! Dia malah senang bisa pergi dari rumahnya sekarang," sahut Vino.
"Iya, El. Iyan sejak tadi sudah nungguin kita juga," ungkap Andi memberitahu.
Vino lantas menghubungi Iyan. Dia menyuruh temannya itu datang ke rumah Elena. Selanjutnya mereka segera dipersilahkan masuk ke kediaman Elena.
...***...
Vino melangkah melewati pintu menuju kolam renang. Dia berdiri di sana dan menyalakan rokok.
Bersamaan dengan itu, Ranti baru keluar dari toilet. Dari sana dia bisa menyaksikan Vino yang berdiri di dekat kolam renang. Mata Ranti tertuju ke arah cowok tersebut. Ia bisa memandanginya lewat dinding kaca rumah Elena yang bersih.
"Dia cowok brengsek. Tapi bikin ngiler," gumam Ranti. Jujur saja, dia nyaris putus asa untuk mendekati Vino. Apalagi setelah melihat kenyataan bagaimana kedekatan Vino dan Elena akhir-akhir ini.
Tanpa disangka, Vino menoleh ke arah Ranti berada. Cewek itu langsung merubah ekspresinya. Dia reflek melambaikan tangan dan tersenyum. Lalu berjalan untuk bergabung bersama Vino.
Ranti menggigit bibir bawahnya. Dia sangat malu karena sudah ketahuan memandangi Vino secara gamblang dari jauh.
Vino hanya tersenyum masam untuk membalas senyuman Ranti. Dia terkadang merasa aneh dengan sikap kekasih temannya tersebut. Namun Vino tak peduli. Ia duduk dan menikmati rokoknya kembali.
Elena menjadi orang yang lebih dulu menghampiri Vino. Dia merampas rokok cowok itu. Membuangnya ke tanah dan tak lupa di injak-injak sampai mati.
"Apaan sih lo!" protes Vino tak terima. Dia kembali mengambil sebungkus rokok dari saku celana. Mencoba mengambil satu batang lagi.
__ADS_1
"Ini rumah gue! Jadi lo harus turutin aturannya. Nggak boleh merokok!" tegas Elena. Dia berusaha merampas rokok Vino lagi. Akan tetapi cowok itu sigap menjauhkan rokoknya dari jangkauan Elena.
"Ini kebiasaan gue. Lo harusnya tahu," balas Vino sembari mendekatkan wajah.
"Pokoknya nggak boleh!" Elena bersikeras. Dia sekali lagi melakukan percobaan untuk mengambil rokok Vino. Cowok yang ahli bermain basket tersebut, jelas bisa mempermainkan jangkauan Elena dengan lihai. Vino bahkan tergelak.
"Malah ketawa lagi lo. Nggak lucu!" geram Elena.
Karena Elena terus berusaha meraih rokoknya, Vino melayangkan senjata pamungkas yang langsung berhasil membuat cewek itu terdiam. Yaitu sebuah kecupan di pipi.
Elena membeku. Dia tentu tidak menduga dengan ciuman Vino. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia juga kembali merasa desiran aneh yang dirasakannya saat berciuman dengan Vino tempo hari.
Vino menang. Dia bisa menyalakan rokoknya kembali.
"Lo kayaknya jatuh cinta sama gue," celetuk Vino. "Itu bahaya sih," sambungnya.
Elena menatap tak percaya. Ia tidak tahu kenapa? Tetapi dirinya sama sekali tidak menepis pernyataan Vino tersebut. Tanpa sadar hal itu membuktikan kalau Elena memang sudah jatuh cinta pada Vino.
"Terus gimana sama lo?" pertanyaan itu lantas keluar begitu saja dari mulut Elena.
Vino mengeluarkan kepulan asap rokok terlebih dahulu dari mulutnya. Kemudian menatap Elena. "Gue nggak pernah berminat pacaran. Apalagi jatuh cinta," ungkapnya.
Jleb!
Perkataan Vino sangat menusuk hati Elena. Ungkapan cowok itu bagaikan sebilah pisau yang menghujam dalam ke perasaan Elena. Jadi pendekatan yang dilakukan Vino selama ini apa? Mungkinkah dia juga berbuat begitu pada semua gadis? Kemungkinan besar itulah alasannya. Tidak heran gadis baik seperti Tias sampai rela telanjang untuknya.
Kedua tangan Elena mengepal erat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Terus... Ciuman lo selama ini apa? Lo juga ngajakin gue melakukan itu." Elena menuntut jawaban. Dia juga menyindir ajakan Vino mengenai berhubungan intim.
"Gue sudah bilang. Gue nggak tahu. Masalah itu, gue pilih lo karena gue tahu lo masih perawan. Nggak worth it kalau gue begitu sama cewek yang pernah begituan," jawab Vino. Dia memperhatikan Elena. Menyadari ada air yang hampir keluar dari mata gadis itu. "Jangan tangisin cowok kayak gue," ujarnya.
Sesak! Itulah perasaan yang dirasakan Elena. Vino sudah tidak bisa disebut bajingan, tapi lelaki berhati iblis yang tak kenal dengan sesuatu bernama hati perempuan.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Jangan marah ya guys. Tapi begitulah cara aku membangun karakter Vino agar karakter populer dan super badboynya terasa sampai ke hati kalian. Tapi Vino punya alasan memilih hidupnya jadi begitu. Aku yakin kalian juga pasti bisa nebak. Apakah Elena berhasil bikin Vino oleng? Tunggu terus kelanjutannya ya...
Love you guys... 😆😘