Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 47 - Diary Elena


__ADS_3

...༻✫༺...


'Semuanya berubah semenjak gue kenal Vino. Di awal hubungan kami memang tidak jelas, tetapi hubungan itulah yang membuat kami semakin terikat. Sekarang gue dan Vino sudah resmi berpacaran. Gue nggak tahu kenapa, tapi gue benar-benar merasa dua kali lipat bahagia.' Elena menulis di buku diary. Ia memang hanya menulis kejadian berkesan dalam hidupnya ke dalam buku tersebut.


Sebelumnya nama Vino tak pernah ditulis Elena ke dalam buku diary. Namun karena cowok itu sudah resmi menjadi bagian orang terpenting dalam hidupnya, maka Elena tidak ragu lagi untuk menuliskan. Ranti yang juga sudah dianggap Elena sebagai sahabat, namanya telah tercantum di buku diary.


Guru les Bahasa Indonesia Elena sendiri yang menyarankan Elena untuk menulis buku diary sejak SMP. Semua itu juga memiliki tujuan untuk melatih kemampuan menulis serta menyimpan kenangan yang mungkin akan dilupa.


'Setelah gue dan Vino pacaran, gue merasa kami semakin hilang kendali. Yang kami lakukan hanyalah sekss, sekss, dan sekss. Di sepanjang liburan, Vino selalu berusaha melakukan apapun untuk bertemu sama gue. Dia tidak peduli dengan yang namanya siang dan malam. Bercinta setelah adanya pengakuan cinta terasa sangat berbeda. Hubungan gue dan Vino menjadi semakin intim dari sebelumnya. Gue selalu berharap hubungan ini bisa bertahan selamanya.'


Waktu menunjukkan jam sebelas malam. Elena baru selesai menulis di buku diary. Bersamaan dengan itu, ada suara ketukan dari jendela.


Tanpa pikir panjang, Elena segera menyimpan buku diary. Lalu membuka jendela. Dia tahu orang yang datang adalah kekasihnya.


"Belum tidur?" tanya Vino. Dia bertukar tatapan lekat dengan Elena.


"Bukannya udah jelas?" tanggap Elena.

__ADS_1


"Nungguin gue?" goda Vino. Salah satu alisnya terangkat. Ia mengembangkan senyuman tipis.


Elena balas tersenyum. Dia menoleh ke belakang sejenak. Memastikan teman sekamarnya masih tertidur. Setelah itu, Elena keluar dari jendela.


Vino langsung menggendong Elena. Hingga kaki Elena melingkar erat ke pinggulnya. Cewek itu disandarkan ke dinding. Mereka tergelak kecil bersama. Kemudian saling menautkan bibir satu sama lain.


Suara kecupan memecah kesunyian malam. Elena dan Vino tenggelam dalam debaran jantung dan sentuhan yang membara. Lama-kelamaan paru-paru mereka yang harus bekerja lebih keras. Keduanya berciuman panas dengan nafas tersengal-sengal.


Vino menurunkan Elena sejenak. Dia melepas kancing baju cewek tersebut. Selanjutnya, Vino mencumbu dada Elena.


"Akh!" Elena kelepasan ketika Vino mengulum salah satu buah dada sambil bermain jari di organ intimnya. Dia langsung menutup mulut rapat-rapat dengan tangan. Vino juga reflek berhenti mencumbu. Cowok tersebut mentertawakan Elena.


"Ketawa ya," timpal Elena. Dia menarik kemeja motif kotak yang dikenakan Vino. Lalu memaksa cowok itu mengambil posisinya. Kini Vino yang bersandar ke depan dinding.


Elena melepas kancing kemeja Vino. Sekarang Elena yang mencumbu bagian atas badan cowok tersebut.


Vino memejamkan mata. Menikmati sentuhan bibir dan lidah Elena yang panas. Ia beberapa kali harus membasuh bibirnya dengan lidah. Menyaksikan pemandangan Elena yang asyik mencumbunya membuat Vino tambah bergairah. Dia lantas memaksa Elena berhenti.

__ADS_1


"Gue rasa udah cukup," ujar Vino.


"Apa?" Elena tidak sempat berucap karena Vino menarik dan menyudutkan ke dinding. Sekarang Elena kembali ke posisinya pertama kali.


"Maksud gue, cium menciumnya yang cukup!" ucap Vino seraya melepas seluruh celana Elena. Selepas itu, barulah dia melepas resleting celana. Vino hanya perlu menurunkan sedikit celananya. Lalu segera melakukan penyatuan.


Sambil melenguh, Elena sesekali memindai sekitar. Memastikan tidak ada yang melihat kegiatan gilanya dan Vino.


Kedua kaki Elena sekarang mengunci erat ke pinggul Vino. Membiarkan cowok tersebut memberikan hentakan pada dirinya.


Satu tangan Elena berpegang erat ke atas. Dia menahan tubuhnya ke dinding. Sementara satu tangan Elena yang lain mencengkeram bahu Vino.


Semuanya berlangsung sampai Elena dan Vino merasa saling terpuaskan. Vino segera membawa Elena pergi setelah selesai bercinta.


Hingga hari kelima liburan, Vino tidak pernah absen menemui Elena di panti asuhan. Keduanya juga selalu tidak lupa untuk bermesraan. Mereka juga sudah berhubungan intim di mobil, kamar Vino, kamar mandi, bahkan kamar Elena. Vino juga tak pernah lupa menggunakan pengaman dalam melakukan kegiatan intim. Semuanya tentu dilakukan secara diam-diam. Untungnya tidak ada orang yang tahu perihal kesibukan Elena tersebut saat liburan.


Bukannya belajar tentang kehidupan, Elena justru belajar tentang hal lain selama liburan. Namun setidaknya hal tersebut membuatnya merasakan kebahagiaan luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2