Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 52 - Rencana Pemberontakan


__ADS_3

...༻✫༺...


Vino masuk ke kamar. Kali ini dia tidak lupa mengunci pintu. Lalu berjalan menghampiri Elena yang duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana?" tanya Vino. Dia sepertinya bermaksud bertanya apakah kegiatan intim lanjut atau tidak.


"Gue perlu istirahat. Rasanya gue syok banget." Elena memegang dadanya.


"Udahlah. Lagian itu cuman Iyan. Katanya dia baru aja masuk kan?" tanggap Vino yang terkesan tenang.


"Gimana kalau sejak awal dia lihat kita begitu? Dari tadi kita sama-sama nggak lihat ke pintu kan?"


Vino duduk ke sebelah Elena. Cowok itu masih bertelanjang dada dan mengenakan celana jeans.


"Gue percaya sama Iyan. Lagian ngapain dia nonton kita begitu? Kalau gue jadi dia, gue pasti jijik lihat orang bercinta secara langsung. Apalagi teman sendiri. Iyakan?" Vino merangkul Elena. Dia berusaha meyakinkan cewek tersebut agar berhenti berpikir berlebihan.


"Lo benar juga sih," tanggap Elena yang akhirnya setuju dengan pendapat Vino. "Lagian Iyan kenapa sih nginap di rumah lo?" tanyanya. Vino lantas memberitahu masalah Iyan kepada Elena.


"Btw, lo kabur dari rumah karena hanya pengen ketemu gue?" tanya Vino. Merubah topik pembicaraan.


"Ih! Kepedean." Elena berdalih. Dia membuang muka. Meskipun begitu dirinya tidak menampik sama sekali.


Vino terkekeh. Dia memeluk Elena dan meletakkan dagunya ke pundak cewek tersebut. "Jadi lo malam ini mau nginap di kamar gue?" bisiknya.


"Antarkan gue pulang jam empat pagi," sahut Elena. Secara tidak langsung dia mengiyakan pertanyaan Vino.


"Oke." Vino tentu setuju. "Terus sekarang kita ngapain?" sambungnya dengan lirikan menggoda.


Elena terkekeh. Dia mendorong Vino sampai telentang di ranjang. Keduanya melanjutkan kegiatan intim yang sempat terjeda.


Selepas puas bercinta, Elena meletakkan kepalanya ke dada Vino. Dia memeluk cowok itu dari samping.


"Gue rasanya pengen melakukan sesuatu yang bikin bokap dan nyokap gue nggak bisa berkutik," celetuk Elena. Dia dan Vino sedang menikmati satu batang rokok. Mereka menghisapnya secara bergantian.


"Maksudnya sejenis pemberontakan?" terka Vino.


"Ya, bisa dibilang begitu. Gue juga sudah capek terus jadi anak baik." Elena mendengus kasar.


"Gue punya ide," ucap Vino yang diteruskan dengan menghisap rokok.


"Apa?" Elena menuntut jawaban.

__ADS_1


"Gimana kalau kita warnai rambut kita? Kalau lo melakukan itu, gue yakin bokap dan nyokap lo nggak bakalan bisa apa-apa. Mereka nggak mungkin potong rambut kalau lo nggak mau," cetus Vino.


Elena berpikir sejenak. Tak lama kemudian dia tersenyum miring. "Ide bagus," ujarnya.


"Jadi lo setuju?" Vino memastikan.


"Kapan kita akan warnai rambut kita?" tanggap Elena yang jelas setuju.


"Besok setelah pulang sekolah. Sekalian kita beli handphone," kata Vino.


Mata Elena berbinar-binar saat menatap Vino. Sungguh, dia merasa semakin dibuat tergila-gila oleh cowok itu.


Elena memegangi wajah Vino. Ia memposisikan diri berada di atas badan cowok tersebut. "I love you!" ungkapnya. Lalu memberikan ciuman dalam ke bibir Vino.


Ketika jam empat pagi, alarm di ponsel Vino berbunyi. Elena yang asyik tertidur sambil memeluk Vino terbangun lebih dulu. Mereka kebetulan sedang tidak mengenakan sehelai benang pun dari balik selimut.


Elena menjangkau ponsel Vino. Dia melihat waktu sudah menunjukkan jam empat pagi. Cewek itu segera membangunkan Vino.


"Bangun, Vin! Antarkan gue pulang sekarang!" seru Elena sembari mengguncang tubuh Vino.


"Emang sudah jam empat?" Vino terbangun. Dia bertanya dengan nada malas. Cowok itu masih mengantuk.


Vino menyibak selimutnya. Kemudian segera menggunakan pakaian. Tak lupa Vino mengambil kunci mobil. Dia dan Elena segera pergi.


Elena menyuruh Vino memarkirkan mobil di tempat biasa cowok itu. Terutama ketika menyelinap ke kamar Elena.


Vino menatap Elena dengan sudut matanya. "Tunggu, jangan bilang lo pergi dari rumah dengan cara yang sama kayak gue masuk ke kamar lo?" tebaknya.


"Emang benar. Lo kan gurunya." Elena menepuk bahu Vino. Dia langsung keluar dari mobil dan berlari menuju rumahnya.


Vino yang melihat tersenyum. Dia keluar dari mobil karena ingin memastikan keadaan Elena. Saat cewek itu sudah berhasil masuk ke kamar, barulah Vino pergi. Dia tak lupa membalas lambaian tangan Elena yang tampak berdiri di depan jendela kamar. Sepasang kekasih itu segera berpisah.


...***...


Elena keluar dari kamar dengan seragam sekolah. Dia sudah siap pergi ke sekolah. Cewek itu berjalan menghampiri Rika dan Alan yang sedang ada di meja makan. Elena berpamitan kepada mereka.


"Loh, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Rika.


"Aku sarapan di sekolah aja," jawab Elena dengan ekspresi sendu. Ia bahkan tidak menatap ke arah Rika maupun Alan.


"Masih marah tentang hukumanmu kemarin? Kami melakukan itu demi--"

__ADS_1


"Masa depanku. Aku tahu, Pah. Papah sudah ngomong begitu ratusan kali," potong Elena. Ia segera beranjak dari hadapan kedua orang tuanya.


Rika tercengang. Sikap Elena terasa lebih dingin dibanding biasanya.


"Pah, sebaiknya mengenai hukuman yang kemarin kita jadikan seminggu saja," saran Rika.


"Kamu kok takut begitu? Sudahlah, Elena pasti akan terbiasa," tanggap Alan santai. Rika lantas tidak bersikeras.


Kini Elena sudah dalam perjalanan ke sekolah. Dia di antar sopirnya seperti biasa.


"Pak Diman! Nanti pulang sekolah nggak usah jemput. Aku ada kegiatan sama teman-temanku. Ini terkait lomba sains yang akan aku ikuti nanti," cetus Elena berbohong.


"Iya, Non Elena." Pak Diman selaku sopir Elena, setuju saja.


Tak lama kemudian, tibalah Elena di sekolah. Dia melihat Vino berdiri dekat gerbang sekolah. Cowok tersebut tidak sendirian. Ada Andi, Iyan, dan juga Ranti bersamanya.


Elena tersenyum lebar. Dia senang melihat orang-orang yang dianggapnya berharga berkumpul. Menurutnya Ranti, Vino dan kawan-kawan adalah keluarga sebenarnya. Setidaknya begitulah anggapan Elena untuk sekarang.


Elena segera bergabung bersama Vino dan kawan-kawan. Vino menyambutnya dengan pelukan. Lalu mengangkat Elena dan memutarnya seratus delapan puluh derajat.


Ranti terperangah. Dia bingung kenapa Elena dan Vino bersikap seperti orang berpacaran lagi.


"Mesra banget kalian? Emang sepanjang liburan ini kalian barengan terus?" timpal Andi. Dia hanya asal bicara. Padahal apa yang dibicarakannya benar seratus persen.


Vino dan Elena berhenti berpelukan. Keduanya saling bertukar pandang sejenak. Jujur saja, Vino dan Elena belum berdiskusi apakah hubungan mereka akan dirahasiakan atau tidak.


"Gue dan--"


"Iya! Gue sama Elena memang bersama sepanjang liburan." Vino memotong perkataan Elena.


"Yang benar?" Andi kaget. "Ngapain?" tanyanya penasaran.


"Rahasia," sahut Vino. Sedangkan Elena tampak mendelik. Cewek itu menyenggol Vino dengan siku.


"Ngapain pakai ngomong tentang liburan kita segala sih," bisik Elena yang merasa malu.


"Itu kan momen berkesan buat kita." Vino merangkul pundak Elena. Kemudian menatap wajah ketiga temannya secara bergantian. Dia berucap, "Sekarang gue sama Elena pacaran."


Andi terlihat sumringah. Namun tidak untuk Iyan dan Ranti. Keduanya menunjukkan raut wajah datar yang sulit dibaca. Satu hal yang pasti, Ranti kini benar-benar dibuat cemburu.


"Bukannya katanya lo nggak mau pacaran, Vin? Lo juga kan, El? Bokap dan nyokap lo melarang lo pacaran kan?" tukas Iyan. Ranti yang berdiri di sebelahnya langsung menoleh. Sebab pertanyaan Iyan adalah sesuatu yang juga ingin dirinya tanyakan.

__ADS_1


__ADS_2