Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 50 - Menemui Vino Ke Rumah


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena tak punya pilihan. Dia nekat membuka pintu saat mobil masih berjalan.


"Elena!" panggil Rika yang kaget. Dia langsung meraih tangan Elena. Agar putrinya tersebut tidak jatuh.


Angin kencang otomatis masuk ke dalam mobil. Elena kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan ponsel. Untung saja usaha Rika berhasil memegang tangan Elena.


Alan yang tahu mengenai tindakan nekat Elena, langsung menghentikan mobil. Kini yang tersisa hanya deru nafas.


Hening menyelimuti suasana. Elena dan keluarganya sama-sama menenangkan diri. Elena juga segera menutup pintu kembali. Dia tak lupa mengambil ponselnya yang terjatuh.


Alan melotot ke arah Elena melalui kaca spion. Dia marah besar atas tindakan Elena tadi.


"Kita akan bicarakan saat di rumah nanti!" tegas Alan seraya menjalankan mobil.


Elena mendengus kasar. Dia siap mendapat omelan dari kedua orang tuanya. Elena bertambah sedih ketika mendapati ponselnya rusak. Benda gepeng itu tidak bisa dinyalakan lagi.


Sesampainya di rumah, Elena dimarahi Rika dan Alan habis-habisan. Keduanya memastikan Elena tidak akan pernah melakukan perlawanan lagi.


"Kau nekat melakukan itu demi ponsel. Jadi mulai sekarang jangan harap kami membiarkan kau memiliki ponsel!" ujar Alan. Dia merebut ponsel dari genggaman Elena.


"Kita juga harus memblokir segala kartu yang dimilikinya, Pah. Jangan sampai dia beli sendiri secara diam-diam," saran Rika yang sekongkol dengan sang suami.


"Itu sudah pasti. Kau hanya akan mendapat uang jajan dua puluh ribu sehari! Dan itu akan terjadi sampai kamu lulus!" kata Alan.


Elena merasa sakit hati mendengar hukuman yang didapatnya. Dia tidak menyangka Alan dan Rika melakukan itu kepadanya. Bagi Elena mereka sangat kejam.


Perlahan air mata berderai di wajah Elena. Dia yang tadinya duduk manis di sofa, langsung berdiri. "Papah sama Mamah tega!" ucapnya. Kemudian berlari kecil menuju kamar.


Rika menatap nanar kepergian Elena. Entah kenapa setelah melihat tangisan Elena, dia merasa ada sesuatu yang salah.

__ADS_1


"Pah, kita tidak berlebihan kan?" tanya Rika meragu.


"Anak itu harus diperlakukan begitu agar mau nurut. Lagi pula kita melakukannya demi kebaikan Elena juga," sahut Alan yang terkesan santai. "Kau lihat sendiri Rangga. Dia bisa kuliah di Harvard sekarang. Salah satu Universitas terbaik di dunia," sambungnya. Membuat keraguan Rika jadi memudar.


Di sisi lain, Elena menangis tersedu-sedu sambil tengkurap di ranjang. Bantal yang dipeluknya jadi basah karena terkena deraian air mata.


Elena merasa kalau tekanan kedua orang tuanya sudah keterlaluan. Dirinya bahkan sempat ragu, apakah dia memang benar anak kandung Rika dan Alan?


Jika terus begini, Elena merasa hubungannya dengan kedua orang tuanya semakin berjarak. Dia jadi tidak bisa menaruh kepercayaan baik kepada Alan dan Rika.


"Vino..." isak Elena. Dia merasa hanya Vino-lah yang akan selalu berada di pihaknya.


Malam semakin larut. Elena sudah puas menangis. Yang tertinggal hanya wajah sembabnya.


Sekarang waktu menunjukkan jam 12.10 malam. Elena tidak bisa tidur. Ia beranjak dari kasur dan mengenakan jaket.


Hal yang paling Elena inginkan sekarang adalah menemui Vino. Ia berharap cowok itu datang. Tetapi saat satu jam berlalu, Vino tak kunjung muncul.


Alhasil Elena nekat melompat dari jendela kamar. Lalu berjalan dengan hati-hati untuk menghindari kamera pengawas.


Kini Elena telah berjalan menyusuri pinggiran jalan. Dia melangkah sampai tiba di jalanan besar.


Di tengah malam, suasana jalanan tentu sangat sepi. Entah keberuntungan atau apa, sebuah taksi lewat. Tanpa pikir panjang, Elena menghentikan taksi tersebut. Ia lantas pergi mendatangi rumah Vino.


Sesampainya di rumah Vino, Elena langsung meminta dibukakan gerbang oleh satpam yang berjaga. Mengingat sekarang sedang malam, penjagaan rumah Vino jadi lebih ketat.


"Ikut aku!" ujar satpam yang menjaga rumah Vino. Dia terlihat cemberut. Sebab Elena datang di tengah malam. Kedatangan cewek itu mengganggu waktu istirahatnya.


Elena mengikuti sang satpam sampai depan pintu rumah Vino. Bel segera dipencet. Orang yang membukakan pintu adalah Iyan. Cowok itu tampak mengerjapkan mata berulang kali. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"El-elena? Lo ngapain ke sini tengah malam?" tanya Iyan sampai tergagap.

__ADS_1


"Vino ada, Yan?" tanya Elena. Raut wajahnya terlihat muram sekali. Dia bahkan enggan menjawab pertanyaan Iyan.


"Ayo masuk, El. Vino ada di kamar," sahut Iyan. Dia menyuruh satpam untuk kembali berjaga. Meyakinkan lelaki paruh baya itu kalau Elena memang kenalan Vino.


Satpam bernama Toni tersebut beranjak. "Bapak, Ibu, dan anak semuanya sama. Nggak ada yang benar. Aku nggak mau ikut campur," gerutunya. Kebetulan Aryo dan para pembantu lain mendapat banyak bayaran lebih dari Vino dan keluarganya. Baik itu, Arya, Lina, maupun Vino, ketiganya memiliki rahasia masing-masing. Jadi mereka juga sama-sama memberikan bayaran lebih untuk satpam dan para pembantu di rumah. Semuanya dilakukan demi rahasia gelap mereka tetap terjaga. Termasuk kebiasaan Vino yang mulai sering pesta miras di rumah.


Ketika tiba di depan kamar Vino, pintu mendadak terbuka. Sang pemilik kamar tampak berpakaian lengkap seakan hendak pergi.


"Elena!" atensi Vino langsung tertuju pada Elena. Ia langsung mendapat pelukan dari cewek itu. Elena bahkan tiba-tiba menangis.


"Lo nggak apa-apa, El?" Iyan yang melihat, merasa ikut cemas.


"Tinggalin kami berdua. Lo tidur di kamar tamu aja!" perintah Vino sambil memeluk erat Elena. Kemudian membawa cewek tersebut berjalan masuk ke kamar. Ia juga tak lupa menutup pintu.


Iyan mematung di tempat. Wajahnya memasam saat melihat Vino dan Elena kembali dekat.


Iyan mengepalkan tinju di kedua tangan. "Gue akan tetap di sini!" ucapnya seraya menempelkan telinga ke depan pintu. Berusaha menguping apa yang terjadi di dalam kamar.


..._____...


Guys, aku mau promosi novel teen terbaru. Cek it!



Sinopsis :


Jika sekarang banyak para remaja yang mengagumi boyband Korea, maka lain halnya dengan Alana. Baginya idolanya adalah Admon, tetangganya yang super kaya.


Alana menyimpan rasa sukanya terhadap Admon. Ia bahkan tak pernah punya kesempatan bicara dengan cowok itu. Meskipun begitu, Alana tahu segalanya tentang Admon. Dari mulai gadis yang pernah didekati, warna kesukaan, jam tidur, kebiasaan, bahkan tanda lahir di tubuh Admon. Alana bahkan memiliki buku sejenis jurnal khusus tentang Admon. Entahlah apakah dia bisa disebut penguntit atau tidak. Yang jelas Alana tak pernah mengintip Admon mandi.


Tidak jarang Alana mengamati kamar Admon dengan menggunakan teropong. Mengingat jendela kamarnya dan jendela kamar Admon berseberangan. Ya, begitulah besarnya obsesi Alana terhadap Admon.

__ADS_1


Sampai suatu hari kedok Alana ketahuan oleh Admon. Dari sanalah Alana juga mengetahui obsesi Admon.


*Temanya sama kayak novel ini. Yaitu tentang kenakalan remaja. Setting dan karakter jelas akan beda.


__ADS_2