Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 76 - Kabar Tentang Tias


__ADS_3

...༻✫༺...


"Apa-apaan! Berani-beraninya kalian menerobos masuk rumahku!" geram Arya yang kaget dengan kedatangan Elena dan keluarganya.


Satpam rumah Vino tampak gelagapan di belakang. Dia tadi sudah berusaha menghentikan Elena dan keluarganya. Namun tidak bisa.


"Kami punya alasan melakukan ini!" ujar Alan.


"Anak lelakimu itu sudah menghamili putri kami!" ungkap Rika sambil menunjuk ke arah Vino.


"Enak saja kalian asal tuduh! Apa kalian sudah pastikan putri kalian hanya tidur dengan putraku? Mungkin saja dia juga tidur dengan lelaki lain!" Arya melakukan pembelaan. Semua orang terkejut mendengarnya. Termasuk Vino sendiri.


"Kurang ajar!!" Alan semakin kesal mendengar ucapan Arya. Dia langsung menarik kerah baju Arya. Terjadi perseteruan sengit di antara mereka berdua.


Bersaman dengan itu, Elena dan Vino saling bertukar pandang dari kejauhan. Elena menunggu Vino melakukan sesuatu. Seperti mengakui kesalahannya misalnya. Akan tetapi cowok tersebut hanya diam.


Karena tidak ingin ayahnya terus bertengkar, Elena segera angkat suara. "Sudah, Pah! Mah! Kita pergi saja. Vino dan keluarganya pasti menolak untuk bertanggung jawab. Lagi pula masih banyak cara untuk mencari solusi atas kehamilanku," ujarnya.


Alan lantas berhenti bertengkar dengan Arya. Kini atensi semua orang tertuju ke arah Elena.


"Ya, itu benar. Lagi pula perutnya masih belum besar. Jadi tingkat keberhasilan untuk menggugurkannya semakin mudah," cetus Arya. Dia sepertinya tidak sudi Vino menikah di usia muda.


"Keparat!!! Pantas saja kau punya putra yang sama buruknya denganmu!" pekik Rika.


"Enggak, Mah. Dia benar! Aku juga tidak mau melahirkan anak ini. Dia pasti menderita jika mengetahui ayahnya seorang pengecut!" ungkap Elena sambil menatap tajam Vino.


"El..." Vino berjalan lebih dekat ke arah Elena.

__ADS_1


"Jangan dekati putriku!" kata Alan dengan mata yang menyalang. Langkah Vino sontak terhenti.


Vino menatap nanar Elena. Setelah mendengar betapa kurang ajarnya perkataan sang ayah, dia merasa tersadar. Bahwa sikap tidak bertanggung jawabnya selama ini berasal dari didikan Arya. Vino sadar kalau ayahnya akan selalu melakukan pembelaan walau dirinya berbuat salah.


Kesalahan Vino memang sudah sering di atasi dengan baik oleh Arya. Itulah alasan dia sangat ditakuti di sekolah. Tetapi masalah sekarang terasa sangat sulit bagi Vino. Alkohol serta obat-obatan terlarang bahkan tidak bisa mengatasi.


"Papah tadi bertanya siapa perempuan yang aku hamili kan? Dia Elena, Pah..." ucap Vino.


"Vino!!" teriak Arya. Tak terima dengan pengakuan Vino.


"Aku tahu Papah akan melakukan apapun untukku. Termasuk menutupi masalah ini. Tapi sepertinya sekarang aku harus tanggung jawab sendiri, Pah..." Vino menghampiri Elena. Dia menggenggam salah satu tangan cewek tersebut.


"Mungkin kali ini Papah harus biarkan aku mengurus masalahku sendiri." Vino berucap dengan tatapan kosong. Meski dalam pengaruh mabuk, dia sadar dengan yang di ucapkannya.


Vino sadar saat membiarkan Elena pergi dari villa kemarin, dia lebih menderita. Rasa bersalah, sakit hati, dan tertekan bercampur jadi satu.


"Vino... Lo yakin?" Elena menatap Vino. Matanya tampak berembun karena merasa terenyuh.


Elena menghamburkan pelukan sambil menangis. Alan dan Rika merupakan dua orang yang merasa senang melihatnya.


Berbanding terbalik dengan Arya. Dia terlihat sangat kesal sekali.


"Putramu jadi lebih baik darimu karena dia dekat dengan putriku," ucap Alan. Sengaja mengatakan itu untuk Arya yang cemberut.


Sejak tadi Andi melihat dari pintu masuk. Namun dia tidak menampakkan diri. Andi memilih pulang saat melihat suasana tegang terjadi.


Ketika masuk ke mobil, ponsel Andi berdering. Dia mendapat telepon dari Ranti. Dirinya memang masih bertengkar dengan cewek itu. Bahkan saat Ranti datang ke rumahnya tempo hari, Andi enggan bertemu. Mengingat Andi merasa yakin kalau Ranti masih belum melupakan Vino.

__ADS_1


...***...


Di tengah masalah yang melanda Vino dan Elena, sekolah baru saja mendapatkan kabar buruk mengenai salah satu siswi. Diketahui seorang murid bernama Tias telah meninggal karena bunuh diri.


Semua orang juga heboh dengan isi surat terakhir yang ditulis oleh Tias. Dia menyebutkan dalam suratnya kalau dirinya dipaksa telanjang demi video yang telah tersebar. Meskipun begitu, Tias tetap tidak menyebutkan nama orang yang telah memaksanya telanjang itu.


"Kasihan ya Tias. Semoga aja orang yang membuli dia digentayangi kayak di film-film."


"Iya. Jahat banget! Ngebuli sampai bikin orang mati itu juga bisa dibilang pembunuh loh."


Langkah kaki Ranti terhenti saat mendengar pembicaraan dua siswi. Dia bersembunyi di balik dinding. Ranti gemetar ketakutan saat mendengar kabar kematian Tias.


Dari kejauhan Ranti dapat melihat Andi. Mata mereka saling bertemu. Andi tampak melangkah cepat menghampiri Ranti. Lalu membawa cewek itu ke tempat sepi.


"Lepasin!" Ranti menarik tangannya dari genggaman Andi.


"Lo udah dengar kabar tentang Tias?" timpal Andi.


"Iya. Dan pastinya lo juga terlibat!" sahut Ranti sembari mengarahkan jari telunjuk ke dada Andi.


"Tapi lo yang punya ide, Ran! Lo yang nyuruh Tias buat buka baju!" bantah Andi.


"Gue tahu..." Ranti memecahkan tangis sambil gemetaran. Dia sangat ketakutan. "Gue harus gimana sekarang?..." lirihnya.


Kemarahan Andi seketika berubah jadi empati. Ia tidak tega melihat Ranti menangis. Andi lantas memeluk Ranti.


"Lo tenang aja dulu... Kita pikirkan semuanya baik-baik. Belum tentu kematian Tias semuanya karena lo," ucap Andi.

__ADS_1


"Karena kita. Lo juga bantu gue merekam video Tias saat itu," ralat Ranti seraya terisak.


Andi lantas mendengus kasar. Dia sebenarnya merasa takut. Namun merasa segala kesalahan yang dilakukannya karena pengaruh Ranti.


__ADS_2