
...༻✫༺...
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Ranti lantas memutuskan pergi ke rumah Andi. Lagi pula dia butuh seseorang untuk melewati rasa bersalahnya sekarang.
Ketika tiba di rumah Andi, Ranti langsung mengetuk pintu. Pembantu rumah yang berjaga lantas membukakan pintu. Dia yang sudah mengenal Ranti, memberitahu kalau Andi ada di kamar.
Ranti buru-buru pergi ke kamar Andi. Namun ketika membuka pintu, dia terkejut melihat keadaan Andi. Cowok tersebut tampak tidak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa.
"Aaarkhhh!!!" Ranti reflek berteriak.
Pembantu rumah Andi sontak bergegas menghampiri. Dia juga dibuat kaget dengan keadaan Andi. Kemudian segera menghubungi rumah sakit dan orang tuanya Andi.
Tak lama kemudian, ambulan datang. Andi langsung dibawa ke rumah sakit. Ranti yang cemas, juga menemani cowok itu.
Setelah melakukan pemeriksaan, Andi divonis overdosis. Hasil juga membuktikan kalau dia positif narkoba. Akibatnya, polisi harus turun tangan. Lalu mencari orang-orang yang terlibat.
Sebagai orang yang menemani Andi, Ranti tentu menjadi sasaran polisi untuk diberi banyak pertanyaan. Dia juga harus melakukan tes urin.
Ranti terpaksa menyebutkan nama teman-temannya yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Termasuk Vino dan Iyan. Dua orang itu langsung mendapat panggilan dari polisi.
Karena merasa sangat tertekan, Ranti jatuh pingsan. Tepat ketika kedua orang tuanya datang untuk menjemput. Ranti benar-benar menderita dengan rasa bersalah serta masalah yang sedang menimpanya sekarang.
...***...
Prang!
Arya membanting sebuah gelas kaca ke lantai. Gelas itu langsung pecah berkeping-keping. Dia sangat marah setelah mendapat panggilan kalau putranya terlibat masalah narkoba.
__ADS_1
Setelah harus menerima kenyataan Vino sudah menghamili anak orang, kini Arya harus mengetahui lagi bahwa sang putra terlibat narkoba.
"Beritahu aku! Adakah masalah lagi yang harus aku atasi setelah ini?" timpal Arya sembari mencengkeram kerah baju Vino.
"Vino... Kenapa kau lakukan ini sama kami?" Lina yang kebetulan sudah pulang ke rumah, telah mengetahui semuanya. Termasuk mengenai kehamilan Elena.
"Harusnya Papah dan Mamah memperhatikanku dengan baik," ucap Vino. Dia sama sekali tidak takut menghadapi masalahnya sekarang. Lagi pula, dirinya yakin Arya pasti akan melakukan segala cara untuk membantunya lepas dari ancaman penjara.
"Dasar anak kurang ajar!" geram Arya. Dia mendorong kasar Vino sampai terjatuh menabrak nakas. Kini cowok itu terduduk ke lantai sambil menahan sakit.
"Sudah, Pah. Vino masih sekolah. Paling dia akan menjalani rehab," ujar Lina. Mencoba menenangkan Arya.
"Tapi tetap aja bikin malu keluarga!" omel Arya kesal.
Vino mendengus kasar. Dia dan Arya segera pergi mendatangi kantor polisi. Kemudian melakukan beberapa pemeriksaan. Salah satunya adalah tes urin.
Beberapa hari terlewat, Elena datang untuk menemui semua teman-temannya. Terutama Vino. Elena tidak sendiri. Ada Alam yang juga menemaninya.
"Lo ngapain datang sama dia?" tukas Vino. Memandang sinis Alam. Entah karena cemburu atau memang benar-benar tidak suka dengan cowok berperawakan berisi tersebut.
"Lo kenapa ngomong gitu? Harusnya lo minta maaf kan sama Alam? Setelah apa yang lo lakukan ke dia? Alam udah cerita semuanya, Vin. Kalau lo nggak mau minta maaf, gue nggak mau nikah sama lo!" tegas Elena.
Alam langsung menatap Elena. Dia kaget cewek itu tiba-tiba membicarakan tentang pernikahan. Mengingat keadaan Elena masih belum diketahui banyak orang. Terutama orang-orang di sekolah lamanya.
"Ya udah!" Vino terpaksa setuju. Dia menatap ke arah Alam dan berucap, "Sorry ya, Lam. Gue benar-benar minta maaf sama segala perbuatan buruk gue selama ini sama lo."
"Gue maafin lo kalau lo janji nggak akan pernah buli orang lagi," sahut Alam serius.
__ADS_1
Vino berdecak kesal. Tetapi dia mencoba menahan amarah dan mengalah. "Gue akan coba," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Hening menyelimuti suasana. Entah kenapa hati Vino merasa lega. Seolah satu masalahnya sudah menghilang.
Elena tersenyum melihat Vino bersedia mengalah dengan lapang dada. Dia berharap cowok itu benar-benar berubah.
Tak lama kemudian Iyan datang. Vino hanya mendengus kesal saat melihat kehadirannya.
"Sorry, gue telat. Tadinya gue ke sini mau bareng sama Ranti. Tapi dia kena gangguan panik," kata Iyan sembari duduk ke sebelah Vino.
"Gangguan panik?" Elena menuntut penjelasan.
"Ranti kayaknya depresi berat, El. Di setiap malam dia teriak-teriak kayak orang kesurupan. Takut gue lihatnya," ungkap Vino. Iyan tampak mengiyakan dengan anggukan.
Karena keadaan Ranti tidak memungkinkan, Elena memilih tidak jadi bertemu. Dia takut pembicaraannya nanti akan memperburuk depresi Ranti.
"Ya udah gue sama Alam pulang dulu," pamit Elena seraya berdiri. Vino segera memeluknya.
"Gue nggak pernah nyesel dekat sama lo, El..." lirih Vino tulus. Dia merasa Elena lebih berharga dibanding kedua orang tuanya sendiri. Cewek itu bahkan akan setia menunggunya melewati proses rehabilitasi.
Melihat Vino dan Elena berpelukan mesra, Alam dan Iyan hanya bisa menundukkan kepala. Menyadari pasti bahwa cinta mereka hanya bertepuk sebelah tangan.
Puas berpelukan, Elena segera pulang bersama Alam. Vino lantas pergi dari ruang besuk bersama Iyan.
"Vin, gue minta maaf atas semua kesalahan gue. Lo tenang aja, gue akan buang perasaan gue jauh-jauh. Sebenarnya gue juga merasa nggak normal sama diri sendiri," ungkap Iyan.
"Gue harap lo ketemu sama kebahagiaan lo, Yan." Vino menepuk bahu Iyan. Dia segera memisah dari Iyan.
__ADS_1