
...༻◎༺...
Terlintas dalam benak Ranti untuk melaporkan apa yang dilakukan Elena dan Vino ke guru. Tetapi dia sangat tahu betul bagaimana pengaruh Vino sebagai putra pemilik sekolah. Selain itu, Ranti tidak mau Vino kena masalah.
"Gue harus mikirin rencananya baik-baik. Gue juga nggak mau dilihat Vino sebagai cewek buruk," gumam Ranti sambil berjalan menjauh dari laboratorium.
Di waktu yang sama, Vino dan Elena baru saja mengakhiri kegiatan intim. Kini yang tersisa hanyalah deru nafas dan keringat.
Elena tumbang ke atas meja. Dia merebahkan diri di sana. Sedangkan Vino menyandarkan dirinya ke dinding sambil memperbaiki celana. Mereka sama-sama memejamkan mata karena berusaha mengatur nafas.
Tangan Elena memegangi jidat. Setelah merasa lebih tenang, dia baru menyadari kalau dirinya masih belum mengenakan apapun di balik rok abu-abu.
"Vin, CD gue mana?" tanya Elena sembari merubah posisi menjadi duduk. Lalu mengedarkan pandangan ke segala arah.
Vino tertawa kecil. Dia mengambil celana Ellena yang tersangkut di meja. Untung saja barang pribadi tersebut tidak jatuh ke lantai.
"Nih!" ujar Vino seraya menunjukkan benda yang dipegangnya ke depan wajah Elena.
Elena segera mengambil apa yang menjadi miliknya. Akan tetapi Vino menjauhkan benda tersebut dari jangkauan Elena.
"Vino!" protes Elena dengan wajah memasam.
"Udah. Lo diam aja." Vino berinisiatif memakaikan Elena celana dallam itu. Wajah Elena seketika memerah.
"Gue bisa sendiri." Elena mencoba menolak.
"Nggak usah malu-malu lagi kali, El." Vino terkekeh. Elena lantas membiarkannya memakaikan celana dallam. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Hingga sebuah ciuman keduanya lakukan untuk yang kesekian kali.
Hari demi hari berlalu. Hubungan Vino dan Elena semakin bergairah. Mereka juga tidak malu menunjukkan kedekatan di depan publik. Beberapa murid di sekolah sudah ada yang menganggap keduanya berpacaran.
Sekarang Elena dan Ranti berada di kantin. Meski sudah mengetahui bagaimana dekatnya hubungan Elena dan Vino, Ranti berusaha bersikap normal seperti biasa. Semuanya demi kelancaran rencananya.
Ranti berharap apa yang dilakukan Vino pada Elena hanyalah main-main belaka. Sebelum melakukan rencana buruk, dia tentu mencoba berpikir positif.
Sayangnya harapan Ranti harus pupus. Sebab saat Vino datang, dia memilih duduk di sebelah Elena. Merangkul cewek itu dengan mesra.
__ADS_1
"Kalian itu pacaran atau apa sih? Dari kemarin mesra banget?" tanya Andi.
Mendengar pertanyaan Andi, Elena sengaja diam. Ia menunggu Vino menjawab lebih dulu. Namun Vino juga diam. Cowok itu justru memanggil Alam.
"Beliin bakso lima mangkok. Jangan sampai bikin kami nunggu lebih dari lima menit!" perintah Vino. Dia duduk seperti seorang bos. Melipat salah satu kaki ke atas sambil merangkul Elena.
Alam yang takut, bergegas melakukan suruhan Vino. Dia masuk ke dalam antrian murid yang ingin membeli bakso.
"Lo masih aja gangguin alam?" timpal Elena dengan dahi berkerut. Karena tidak suka terhadap sikap Vino yang seenaknya pada Alam, ia jadi melupakan pertanyaan Andi tadi.
"Gue nggak gangguin, cuman nyuruh doang," kilah Vino santai.
"Itu sama aja kali," balas Elena.
"Ini yang terakhir deh." Vino tersenyum manis agar bisa membuat Elena luluh.
"Benar ya. Gue pegang janji lo," sahut Elena.
Vino tergelak kecil. Tanpa diduga dia melayangkan ciuman ke pipi Elena. Banyak orang yang kaget menyaksikan hal tersebut. Terutama Ranti. Ia jelas semakin tersudut.
"Parah lo, Vin!" komentar Andi. Dia satu-satunya orang yang tidak merasa risih.
"Tahu! Malu-maluin banget." Elena yang merasa malu akan perbuatan Vino, segera memukul paha cowok itu.
"Tuh kan wajah lo merah lagi," goda Vino.
"Enggak ah." Elena membuang muka. Berupaya menyembunyikan wajahnya yang memang merah.
"Cie yang malu-malu." Godaan Vino semakin menjadi-jadi. Dia memeluk Elena dan mencubit pelan perut cewek tersebut. Ulahnya sukses membuat Elena tertawa. Keduanya benar-benar seperti pengantin baru.
Kemesraan Vino dan Elena terus berlanjut sampai bel pertanda pulang berbunyi. Jam pulang jadi lebih cepat karena tidak ada jadwal belajar. Mengingat ulangan semester akhir telah selesai. Seluruh murid sengaja disuruh pergi ke sekolah untuk memastikan apakah mereka harus meremedial atau tidak.
"Bakso lo belum datang, Vin!" imbuh Andi seraya melirik ke arah Alam yang berdiri dengan gelisah.
"Udah, nggak usah aja. Kita mending pulang sekarang," saran Ranti.
__ADS_1
"Iya, biarin aja, Vin. Kasihan juga Alam," ucap Elena yang sependapat dengan Ranti.
'Dih! Ngikut-ngikut aja dia. Pengen gue pites mulutnya. Sok cantik,' sinis Ranti dalam hati. Dia tentu sangat memendam amarah terhadap Elena. Apalagi setelah menyaksikan kemesraan cewek itu dengan Vino.
"Lo sama Ranti duluan aja. Nanti kita nyusul," kata Vino. Ia melepaskan rangkulannya dari pundak Elena.
"Lo nggak bakal apa-apain Alam kan?" selidik Elena.
"Enggak. Lo tenang aja," tanggap Vino tenang.
Elena dan Ranti otomatis meninggalkan kantin lebih dulu. Kini Vino, Andi, dan Iyan sama-sama berdiri. Saat itulah Iyan memberanikan diri bertanya mengenai sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Vin, lo sama Elena pacaran?" tanya Iyan.
Vino mendelik ke arah Andi dan Iyan secara bergantian. Dia mendengus kasar. Lalu berbalik menghadap dua temannya tersebut.
"Bukannya gue udah pernah kasih peringatan sama kalian ya?" tukas Vino serius.
"Apa, Vin?" Andi menggeleng lemah sembari mengernyitkan kening.
Vino berdecak kesal. Dia menarik kerah baju Iyan dan Andi sekaligus.
"Jangan pernah ikut campur sama privasi gue. Mengerti?" ucap Vino dengan tatapan mengancam. "Sekali lagi kalian bertanya mengenai itu, apalagi pas di depan Elena, awas aja. Gue nggak akan tinggal diam!" lanjutnya penuh penekanan.
Iyan dan Andi lekas mengangguk. Vino segera melepas kerah baju Andi dan Iyan.
"Bawa Alam ke aula lama sekolah!" titah Vino.
Tanpa pikir panjang, Andi dan Iyan segera melakukan perintah Vino. Mereka memaksa Alam beranjak dari kantin.
"Tapi baksonya lagi disiapkan," ujar Alam yang sudah merasa tertekan. Apalagi saat Iyan dan Andi merangkulnya dari kiri dan kanan.
"Kasih baksonya ke para guru aja, Bi. Nih uangnya!" Vino melempar uang tiga ratus ribu pada Bibi Mira. Penjual bakso yang ada di kantin. Uang yang dilempar Vino berjatuhan ke lantai.
Setelah menyerahkan uang, Vino dan kawan-kawan segera pergi dari kantin. Mereka tentu tidak lupa untuk membawa Alam ikut.
__ADS_1
Bibi Mira geleng-geleng kepala melihat kelakuan Vino. Meskipun begitu, dia tersenyum dan buru-buru memungut uang ratusan ribu yang ada di lantai.