
...༻✫༺...
Istirahat pertama tiba. Vino dan Andi sudah di kantin. Keduanya berusaha menjaga Iyan yang memilih bersekolah. Mereka bertekad tidak akan tinggal diam jika mendengar ada murid yang menyindir perihal ayah Iyan. Mengingat ayah cowok itu terlibat kasus yang berat.
"Harusnya kita tetap di kelas aja," cetus Iyan.
"Udah, Yan. Lo sebaiknya fokus jalanin hidup. Kan lo sama bokap lo beda," ujar Vino.
Iyan tersenyum tenang. "Thanks ya, Vin. Kalau bukan lo, gue mungkin lebih memilih berhenti sekolah aja," ungkapnya.
"Terus pisah sama kita? Nggak banget deh, Yan." Andi merangkul akrab pundak Iyan.
"Iya, maka dari itu gue tetap sekolah," tanggap Iyan.
Tak lama kemudian Ranti datang. Dahi Vino berkerut ketika tidak melihat Elena bersamanya.
"Loh, kok sendiri? Elena mana?" tanya Iyan.
"Dia nggak mau ikut. Katanya dia nggak mau lagi temenan sama cowok," jawab Ranti. Dia jelas memanipulasi kebenaran.
"Elena ngomong gitu?" Andi memastikan.
Ranti lantas menjawab dengan anggukan. "Iya, Elena cuman mau temenan sama gue. Lagian kayaknya dia mau fokus belajar. Kan udah masuk hari ulangan," jelasnya sembari duduk ke sebelah Vino. Padahal Andi sudah mengosongkan kursi di sampingnya.
"Loh, kok duduk di situ," tegur Andi.
Ranti memutar bola mata jengah. "Sekali-kali nggak apa-apa kan? Kita kan udah hampir setiap hari duduk sebelahan terus," sahutnya seraya melirik Vino. Cowok itu terlihat menunjukkan raut wajah serius. Sementara tangannya sibuk mengaduk minuman dengan sedotan.
"Yang benar Elena nggak mau temenan sama kami lagi?" tanya Vino.
"Iya, jahat banget dia kalau beneran ngomong gitu." Padahal pas di rumahnya kemarin kita nggak berbuat sesuatu yang salah," papar Iyan yang merasa kecewa pada Elena.
"Sudah, biarin aja. Itu bukan gangguan juga buat kita kan? Bagi gue yang penting itu Ranti Calista selalu ada," ungkap Andi sambil menatap lekat ke arah Ranti.
"Ish! Geli gue lihatnya," kritik Iyan.
__ADS_1
Vino membuang muka. "Kalian bisa nggak mesra-mesraannya jangan depan kami?" tukasnya.
"Udah deh, Di!" Ranti yang kesal, segera memukul bahu Andi. Menegur pacarnya untuk berhenti menggoda di depan umum.
Vino mendengus kasar. Dia merasa ada yang kurang saat Elena tidak ada. Sepertinya cewek tersebut memang bersungguh-sungguh memutuskan tali pertemanan dengan Vino.
'Sialan! Ngapain gue pedulikan dia? Lagian cewek baperan kayak Elena bukan tipe gue,' batin Vino dalam hati. Dia segera membuang segala kekhawatirannya terhadap ketidakhadiran Elena.
...***...
Bel pertanda pulang berbunyi. Ranti terlihat lebih dulu keluar dari kelas.
"Gue duluan ya, El!" seru Ranti. Dia segera berlalu pergi.
Elena hanya mengangguk. Ia tampak santai memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas.
"Hei!" suara seorang cowok menyapa. Dia adalah Rendi. Elena cukup akrab dengannya. Mengingat Rendi juga salah satu murid berprestasi di bidang akademik. Elena dan Rendi sering pergi bersama untuk mengikuti olimpiade.
"Eh, Ren." Elena balas menyapa.
"Gue lihat hari ini lo nggak gabung bareng Vino dan teman-temannya di kantin," kata Rendi.
"Gue yakin bukan karena malas. Tapi karena lo pengen fokus belajar. Gue tahu lo nggak akan biarin gue mengambil alih posisi juara umum di sekolah. Iyakan?" tebak Rendi.
"Itu juga sih," balas Elena. Dia dan Rendi terkekeh. Meski merupakan rival dalam meraih prestasi akademik, keduanya tidak pernah bertengkar secara serius. Persaingan mereka justru bisa dibilang begitu sehat.
"Lo mau ngapain?" tanya Elena. Heran dengan tujuan Rendi yang mendadak menemuinya.
"Nggak apa-apa. Gue cuman pengen tahu seberapa keras lo belajar buat ulangan akhir semester ini," jawab Rendi berdalih. Dia sebenarnya diam-diam menyukai Elena. Tetapi hingga sekarang hubungannya dengan cewek tersebut begitu-begitu saja. Tidak ada perkembangan sama sekali. Ditambah Rendi juga tahu kalau cewek seperti Elena tidak tertarik berpacaran. Ia tahu gadis itu hanya ingin fokus belajar. Sebagai murid yang pintar, Rendi tentu bisa memahami.
"Kayaknya gue harus berhati-hati." Elena menanggapi.
"Gue akan coba kalahin lo semester ini," tukas Rendi seraya menyenggol Elena dengan bahu.
"Maaf, Ren. Sepertinya semester ini gue akan tetap jadi juara umum," sahut Elena tak ingin kalah.
__ADS_1
"Mending semester ini lo ngalah deh! Sekali-kali biarin gue yang jadi juara umum. Orang-orang di sekolah pada bosan lihat lo terus yang ngambil piala juara umum." Rendi bicara sambil melangkah senada dengan Elena.
"Gue nggak bosan tuh. Lo harus terima kenyataan kalau gue ini lebih pintar dari lo," imbuh Elena. Bermaksud bercanda. Jika dengan Rendi, topik pembahasan mereka adalah pelajaran dan persaingan.
"Idih! Sombong banget lo." Rendi mengacak-acak puncak rambut Elena. Keduanya terkekeh bersama. Mereka tampak begitu akrab.
Dari belakang, sejak tadi ada Vino yang memperhatikan. Ia menyandar ke dinding dengan raut wajah cemberut. Kedua tangannya terlipat di dada.
Vino berusaha mengabaikan Elena. Seperti cewek itu mengabaikannya. Namun entah kenapa Vino tidak bisa. Sosok Elena seperti magnet yang selalu membuat hati dan matanya penasaran. Hingga keakraban Elena dan Rendi berhasil Vino lihat. Anehnya dia merasa kesal dengan kedekatan Elena dan Rendi.
"Vin! Ayo kita latihan!" seru Galih. Salah satu rekan Vino di tim basket. Dia mengajak Vino latihan ke lapangan.
Lamunan Vino seketika buyar. Dia membuang segala pikiran dari Elena dan memilih berlatih.
Dua jam berselang. Vino telah menyelesaikan latihan basket. Dia dan timnya terpaksa berlatih karena sebelum liburan nanti ada pertandingan basket antar sekolah.
Kini Vino berada di ruang ganti. Sejak tadi dia berdiri di depan loker seraya berkutat dengan ponsel.
Vino menerima banyak sekali pesan dari cewek-cewek. Mereka semua masing-masing mengajaknya untuk bertemu.
"Yang mana lagi nih, Vin?" ujar Candra yang tiba-tiba mendekat. Dia dapat melihat deretan pesan yang ada di layar ponsel Vino.
Vino diam. Ia hanya berdecak kesal. "Pegangin," suruhnya sembari menyerahkan ponsel kepada Candra. Teman satu tim basketnya itu menurut saja.
"Lo kenapa? Kusut banget muka lo," tukas Candra.
"Capek gue," sahut Vino.
"Tumben. Biasanya habis latihan main cewek. Apa semua cewek di sekolah sudah lo embat? Jadinya lo kayak bosan gini." Candra geleng-geleng kepala.
Bersamaan dengan itu, ada pesan yang baru saja masuk ke ponsel Vino. Candra yang memegang ponsel, langsung memeriksa.
"Dari Elena nih," ungkap Candra.
Pupil mata Vino membesar. Dia segera mengambil ponselnya dari Candra. Lalu membuka pesan dari Elena.
__ADS_1
'Jaket lo gue balikin. Ambil di tempat jaga Pak Adi.' Begitulah bunyi pesan dari Elena. Pesannya disertai foto jaket Vino yang kemarin sempat dipinjam Elena.
Vino berdecak kembali. Sebab pesan dari Elena tidak sesuai dengan ekspetasinya.