
...༻✫༺...
Elena hanya memasang ekspresi datar. Lalu kembali berjalan meninggalkan Vino. "Gue rasanya udah sulit mau percaya lagi sama lo," ungkapnya sembari berjalan menjauh.
"El! Lo mau kemana? Bukannya lo juga sayang sama gue?!" Vino bergegas mengikuti. Dia berlari kecil bahkan saat melewati jalanan becek.
Tanpa diduga, Vino terpeleset. Bunyi tubuhnya yang terhempas ke tanah dapat terdengar jelas. Bagian belakang pakaian Vino sontak kotor dan basah.
"Arrghh... Ini menjijikan," keluh Vino sambil memperhatikan kedua tangannya yang telah dipenuhi lumpur.
Mendengar keluhan Vino, Elena menengok. Bukannya cemas, dia justru memecahkan tawa. Bahkan sampai memegangi perut.
Vino mendelik. Dia tentu kesal dirinya ditertawakan.
"Puas lo?!" timpal Vino. Dia perlahan mencoba berdiri. Tetapi tidak berhasil, sebab tanah yang begitu licin membuatnya harus terpeleset untuk kali kedua. Vino semakin terperangah. "Sialan!" umpatnya.
Elena mendengus kasar. Dia segera mendekati Vino. Mengulurkan tangan untuk membantu cowok itu.
"Dari tadi kek," tukas Vino. Dia meraih tangan Elena. Namun cewek tersebut dengan sengaja melepas pegangannya untuk membuat Vino jatuh lagi.
Bruk!
Kulit putih dan pakaian Vino sudah terkontaminasi dengan lumpur. Elena lantas tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat wajah Vino yang tampak begitu cemberut.
Vino mendelik. Senyuman miring terukir di wajahnya. Dia terpikir untuk balas mengerjai Elena. Mumpung cewek itu belum beranjak jauh darinya.
Tanpa pikir panjang, Vino menarik tangan Elena. Hingga cewek itu kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh ke lumpur. Kini Vino yang mentertawakan. Dia puas bisa balas dendam.
"Eh, lo nggak seharusnya balas ngerjain gue!" Elena mencelupkan tangannya ke tanah berlumpur. Lalu menempelkannya ke pipi Vino.
"Ya harus dibalas lah biar adil." Vino balas menempelkan lumpur ke pipi Elena.
Perang lumpur terjadi. Secara alami hubungan Vino dan Elena kembali membaik.
Elena berusaha memberi lumpur lebih banyak ke wajah Vino. Tanpa sadar dia duduk ke pangkuan cowok itu. Sedangkan Vino berusaha keras menahan tangan Elena agar wajahnya tidak terkena lumpur lebih banyak.
__ADS_1
Saat itulah Vino dan Elena saling terpaku menatap satu sama lain. Sampai Vino perlahan bergerak dan mendekatkan mulutnya ke bibir Elena.
"Jangan coba-coba!" ujar Elena. Dia menempelkan lumpur kedua pipi Vino secara bersamaan. Tepat sebelum cowok tersebut menciumnya.
Elena segera berdiri. Vino lantas melakukan hal serupa.
"Lo sekarang harus tanggung jawab. Gue perlu mandi dan pakaian ganti," ujar Vino. Dia merasa pakaiannya menjadi lebih berat karena basah dan berlumpur.
Elena terperangah dan menoleh. "Apa? Gue tanggung jawab? Lagian siapa yang suruh buat datang ke sini. Mandi aja sana di sungai!" tukasnya. Lalu segera meninggalkan Vino.
"El! Elena! Terus gimana sama hubungan kita?lo sama sekali belum jawab!" ujar Vino. Namun cewek yang dipanggilnya enggan menoleh lagi. Elena buru-buru kembali ke panti asuhan. Ia membersihkan badannya di sana.
Sementara itu, Vino hanya bisa kesal sendiri. Ia terpaksa mencari penginapan terdekat. Dirinya merasa terlalu jauh untuk pulang. Vino bahkan terpaksa harus membeli beberapa pakaian baru. Sebab dia nekat pergi tanpa membawa apapun.
Vino bisa menemukan fasilitas mewah seperti di rumahnya karena menginap di hotel cukup bagus. Untung saja lokasi panti asuhan dimana Elena berada tidak begitu jauh dari perbatasan kota.
Semenjak masuk ke kamar hotel wajah Vino terus cemberut. Dia ingin marah pada Elena. Tetapi di sisi lain Vino ingin hubungannya dan cewek itu membaik. Itulah alasan Vino terpaksa harus menahan amarah.
"Apa dia sengaja nggak jawab karena pengen balas gue?" Vino menduga. Karena dia ingat bagaimana sikapnya saat Elena mengungkapkan perasaan tempo hari.
Vino berpikir sejenak. Hingga dia menemukan cara lain untuk menemui Elena lagi. Vino akan melakukannya besok.
Elena baru selesai membersihkan diri. Ia tak berhenti tersenyum karena pernyataan cinta Vino terus diputar berulang-ulang di kepala. Elena bisa melihat sisi lucu Vino. Apalagi saat cowok itu terjatuh.
"Kita lihat sebesar apa cinta seorang playboy. Mana mungkin gue langsung terima cintanya kalau nggak pastikan keseriusannya," gumam Elena. "Memang sih kedatangannya ke sini sedikit cukup membuktikan keseriusan dia. Tapi buat gue masih belum cukup," sambungnya. Sepertinya Elena memang sengaja tidak langsung menerima Vino.
Satu hari berlalu. Sekarang waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Elena sudah bangun dan sibuk menemani beberapa anak panti bermain di taman.
Sebuah mobil datang dari pintu masuk. Elena langsung membulatkan mata. Karena dia sangat yakin kalau mobil yang datang adalah milik Vino.
"Vino benar-benar!" gigi Elena menggertak. Dua tangannya terkepal erat. Ia bergegas ingin menghentikan Vino. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah truck es krim datang.
Bersamaan dengan itu, Vino keluar. Dia tidak menghiraukan Elena dan memilih menyapa Winda sebagai pengelola panti asuhan.
Ternyata Vino menjadikan sumbangan yang diberikannya sebagai strategi untuk menemui Elena. Tak lama kemudian, seluruh anak panti langsung menyerbu truk es krim yang dibawa Vino.
__ADS_1
Setelah bicara secukupnya pada Winda, Vino menghampiri Elena. Dia berdiri tegak di sebelah cewek itu.
"Kebetulan hotel yang gue tempati berlangganan sama nih es krim. Jadi langsung gue bawa aja ke sini. Sekarang lo nggak bisa lari lagi," kata Vino sembari melirik Elena. Cewek tersebut langsung membuang muka.
Diam-diam Elena tersenyum. Dia sedikit luluh dengan apa yang dilakukan Vino sekarang. Tetapi dirinya merasa harus memastikan satu hal lagi.
"Oke, gue emang nggak bisa lari kalau sudah begini," sahut Elena.
Kini Vino yang tersenyum. Namun dia tak menyembunyikan senyuman tersebut.
"Tapi gue mau pastikan satu hal. Kalau kita pacaran, lo nggak bakalan berhubungan sama cewek lain lagi kan?" cetus Elena. Dia akhirnya sudi menatap Vino.
"Tentu saja. Gue bahkan tidak perlu berpikir buat jawab pertanyaan itu," balas Vino.
Kalimat Vino membuat Elena terpana. Jantungnya berdebar dan luluh lagi untuk cowok itu. Padahal awalnya dia berniat ingin menggantung jawaban untuk Vino setidaknya selama satu minggu. Akan tetapi Elena lagi-lagi tak bisa menolak pesona Vino.
"Mau gimana lagi. Gue nggak bisa bohong. Gue emang cinta sama lo," ungkap Elena. Wajahnya bersemu merah. Sekarang kalimatnya membuat jantung Vino berdetak kencang.
Diam-diam, tangan Vino memegang jari-jemari Elena. Meskipun begitu tatapan keduanya tertuju pada anak-anak panti yang menggeromboli truk es krim.
"Gue kangen pengen sentuh lo lagi," ucap Vino. Dia dan Elena kembali saling menatap. Atensi mereka tertuju ke bibir satu sama lain.
Elena memutuskan tatapan lebih dulu. Dia memperhatikan Winda. Wanita itu dan penghuni panti yang lain sedang begitu sibuk mengatur anak-anak berebut es krim.
"Ikut gue!" Elena memanfaatkan kesibukan semua orang untuk kabur bersama Vino. Keduanya berlari.
Elena berhenti di tempat yang jauh dan sepi. Dimana di sana hanya ada dirinya dan Vino.
Elena memutar tubuh menghadap Vino. Ia mengatur nafas sambil menyandar ke dinding.
Vino lantas mendekat. Ia mengerti kenapa Elena membawanya pergi ke tempat sepi.
Tanpa pikir panjang, Vino memegangi wajah Elena. Lalu berniat memberikan ciuman. Tetapi tangan Elena sigap menahan bibir cowok tersebut.
"Lo harus benar-benar janji. Gue nggak mau ketipu sama lo lagi," cicit Elena.
__ADS_1
"Gue harus janji bagaimana? Apa perlu gue potong jari kelingking?" balas Vino.
Elena terkekeh. Dia menarik kerah baju Vino dan malah mencium bibir cowok itu lebih dulu.