Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 65 - Pengakuan Palsu


__ADS_3

...༻✫༺...


"Sorry, Vin! Gue tadi sebenarnya mau minta izin sama lo. Tapi lo kan tadi mandi," ujar Iyan sembari mengenakan celana dallam.


"Jangan bilang ini bukan pertama kalinya lo pakai cd gue!" timpal Vino.


"Ini pertama kalinya kok! Dan gue janji ini yang terakhir. Nanti gue ambil cd gue ke rumah. Gue kehabisan stok soalnya. Sorry ya, Vin." Iyan menggaruk tengkuknya. Dia berdiri menghadap Vino. Dalam keadaan hanya mengenakan celana dallamnya.


"Ya udah, pergi sana! Jijik kali gue." Vino memaksa Iyan keluar dari walk in closet. Dia segera bersiap untuk sekolah.


Di luar Iyan tersenyum. Ia senang Vino tidak begitu marah dengan perbuatannya. Tak lama kemudian Vino keluar. Dia terlihat sudah siap pergi ke sekolah.


"Nanti setelah dicuci, gue balikin cd lo, Vin!" ucap Iyan seraya mengenakan seragam.


"Nggak usah! Buat lo aja. Awas aja kalau lo berani ngambil cd gue lagi! Seenggaknya ngomonglah kalau kehabisan stok. Kan gue bisa kasih lo uang buat beli," omel Vino dengan dahi yang berkerut dalam.


"Iya deh, sorry..." sahut Iyan. Dia dan Vino segera berangkat ke sekolah.


Di waktu yang sama, Ranti dan Andi sudah di sekolah. Dua sejoli itu berada di belakang sekolah. Mereka sengaja memilih tempat sepi karena ingin bermesraan.


Ranti mengalungkan tangan ke leher Andi. Keduanya sudah saling memagut bibir satu sama lain sekitar tiga menit lebih.


Perlahan tangan Andi, menjamah buah dada Ranti. Namun cewek itu justru melepaskan tautan bibirnya dari Andi.


"Udah ah!" ucap Ranti seraya menjaga jarak dari Andi.


"Lo yang udah. Gue enggak," sahut Andi dengan mata mendelik. Tanpa sepengetahuannya dan Ranti, Alam sejak tadi bersembunyi dari balik dinding. Dia kebetulan disuruh membuang sampah. Jalan yang harus dirinya lewati adalah tempat dimana Ranti dan Andi berada sekarang. Alhasil Alam terpaksa bersembunyi dahulu sampai dua sejoli itu pergi.


"Bentar lagi bel masuk kelas bunyi. Jangan macam-macam. Hari ini kita harus siap-siap sama pengakuan Tias."


"Benar juga. Tapi gimana sama Alam? Kita nggak akan paksa dia buat ngaku juga?"


"Tias aja kayaknya cukup. Lagian gue kasihan sama Alam. Dia udah sering dibuli soalnya."


"Justru yang sering itu tahan banting, Sayang." Andi mengusap puncak kepala Ranti.

__ADS_1


"Biarin. Tapi kita tetap bawa dia ke hadapan Vino," cetus Ranti.


"Gimana kalau suatu hari nanti Vino tahu kalau kitalah pelaku sebenarnya," celetuk Andi.


"Hush! Jangan bicarain itu di sini!" tegas Ranti sambil menengok ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada yang melihat.


"Tempatnya sepi begini kok. Nggak ada yang dengar," tanggap Andi.


"Udah ah! Ayo kita ke kelas," ajak Ranti sembari menarik tangan Andi.


Alam yang sejak tadi bersembunyi, mendengar semuanya. Dia sekarang tahu kalau Andi dan Ranti yang menyebarkan video ciuman Vino dan Elena.


...***...


Saat istirahat kedua, Tias dan Alam kembali dibawa ke aula lama sekolah untuk menghadap Vino.


Vino tampak memegang sebotol air. Dia memandangi Alam dan Tias secara bergantian. Dirinya memilih menanyai Alam terlebih dahulu.


"Gue akan mulai dari lo lebih dulu," ujar Vino. "Lo sebaiknya ngaku sebelum gue melakukan hal gila," ancamnya seraya menyiram kepala Alam dengan air dari botol.


Sejak datang tadi Tias tidak berhenti menangis. Sepertinya dia sedang bersiap dengan pengakuannya.


"Anjjiing!!!" Vino geram. Dia langsung mencengkeram kerah baju Alam. Menghempaskan cowok itu ke lantai dan memukulinya. "Sekarang gue tambah yakin kalau lo pelakunya!" pekiknya.


"Vino!"


"Jangan begini, Vin!"


Iyan, Andi, dan Ranti panik. Mereka segera menghentikan Vino.


Sedangkan Tias yang melihat, semakin ketakutan. Dia juga tidak tega melihat derita Alam.


"Vino! Gue yang melakukannya! Bukan Alam!" ungkap Tias. Semua orang sontak terdiam. Vino bahkan berhenti memukuli Alam. Dia kini menatap Tias.


"Gu-gue nggak tahan lihat kedekatan lo sama Elena. Ja-jadi gue melakukan itu," gagapnya terpaksa berbohong.

__ADS_1


"Tias... Apa yang lo lakukan?" Alam menatap nanar Tias. Mengingat dia juga tahu siapa pelaku sebenarnya.


"Maafin gue, Vin... Itu karena gue sayang sama lo..." lirih Tias.


Vino segera menghampiri Tias. Dia mencengkeram kuat lengan cewek tersebut. "Lo harus dapat pelajaran karena perbuatan lo itu!" timpalnya dengan mata melotot.


"Pelakunya bukan Tias..." ucap Alam sembari duduk. Bola matanya menatap ke arah Ranti dan Andi secara bergantian. "Lo harusnya lebih teliti, Vin. Gue--"


"Bacot! Lo nggak ada kapok-kapoknya ya!" Vino kembali menyerang Alam. Dia memberikan tendangan beberapa kali ke tubuh cowok berbadan berisi tersebut.


Mata Alam berkaca-kaca. Dia dan Tias benar-benar tersakiti.


Puas memberi pelajaran pada Alam, Vino berdiri ke hadapan Tias lagi. "Pulang sekolah ini lo harus ikut kami. Gue pastikan Elena juga kasih pelajaran sama lo!" tukasnya. Lalu pergi begitu saja. Di iringi Ranti, Andi dan Iyan.


"Sabar ya," ucap Ranti sambil menepuk pundak Tias. Tepat sebelum dia beranjak.


"Lo nggak apa-apa kan?" Tias segera bangkit untuk membantu Alam.


"Harusnya gue yang tanya begitu. Kenapa lo mengakui sesuatu hal yang nggak lo lakukan, hah?!" timpal Alam.


"Gue terpaksa, Lam..." sahut Tias.


"Kita harus lakukan sesuatu. Kita harus cari bukti!" kata Alam bertekad.


"Gue udah coba. Tapi gue nggak bisa menemukan apapun," ujar Tias. Dia sebenarnya berusaha mencari bukti atas perbuatan Ranti dan Andi. Itulah alasan Tias meminta waktu sebelum mengaku. Sayangnya selama mencari, Tias tidak bisa menemukan satu pun bukti.


"Gimana kalau kita rekam aja perundungan yang mereka lakukan ke lo nanti," usul Alam.


"Enggak, Lam. Mereka punya kartu AS milik gue. Lagian lo nggak pengen kan Elena kena hukuman juga. Kata Vino dia juga akan ikut pas pulang sekolah nanti."


Alam menundukkan kepala. "Gue kasihan sama Elena. Gue pengen banget tolongin dia. Elena benar-benar terjebak sama pertemanan toxic Vino," imbuhnya penuh empati.


"Kalau lo sayang sama Elena, kenapa lo nggak lakukan sesuatu untuk bantu dia?" balas Tias sambil menghapus air mata.


"Gue jelek. Elena nggak bakalan ngelirik atau dengerin perkataan cowok kayak gue," ungkap Alam pesimis.

__ADS_1


"Lo nggak akan pernah tahu kalau belum mencoba. Elena itu beda sama Vino. Gue yakin kalau pun dia menolak, dia tidak akan melakukan hal seburuk Vino," tanggap Tias. Mengingat pengakuan cintanya yang berakhir dengan disuruh telanjang.


Alam terdiam. Dia dan Tias segera pergi dari aula saat bel pertanda masuk kelas terdengar.


__ADS_2