
...༻✫༺...
Liburan sudah berselang dua hari. Vino merasa bosan karena sendirian. Mengingat semua teman-temannya memiliki kegiatan bersama keluarga dibanding dirinya.
Kini Vino duduk di sofa. Ia memainkan gitarnya dengan asal. Jujur saja, dirinya masih penasaran dimana Elena berada.
Vino mendengus. Ia memejamkan mata rapat-rapat karena tidak bisa menampik perasaannya lagi terhadap Elena.
'Apa gue jatuh cinta sama Elena? Gue nggak bisa berhenti mikirin dia,' batin Vino sambil mengacak-acak rambutnya. Setelah kepikiran begitu, dia langsung menggeleng. Menepis dugaan yang menurutnya tidak seharusnya terjadi. Namun tetap saja Vino tidak bisa berhenti memikirkan Elena.
Lagi-lagi Vino tak mau percaya pada perasaannya sendiri. Hingga satu hari berlalu. Keinginan untuk bertemu Elena semakin menjadi-jadi. Ia tambah menggila saat nomor telepon cewek itu tidak aktif.
"Arrgh! Elena sialan!" Vino menggeram kesal. Dia bergegas mengambil jaket dan kunci mobil. Dirinya langsung berkendara menuju rumah Elena.
Vino mungkin tidak tahu kalau dirinya sedang mengidap penyakit rindu. Dia bahkan nekat mendatangi rumah Elena secara langsung. Vino berpikir orang di rumah Elena pasti tahu dimana Elena berada.
Bel pintu dipencet oleh Vino. Ia sudah menyiapkan alasan terkait tujuan kedatangannya.
Tak lama kemudian, Bi Arni membuka pintu. Dia menyambut Vino dengan senyuman.
"Elena-nya ada? Kebetulan aku mau mengambil sesuatu. Dia kemarin pinjam sesuatu punyaku," ujar Vino. Jelas dia berkilah.
"Adik teman sekolahnya Elena?" Bi Arni memastikan.
"Iya. Aku Vino." Vino lekas mengangguk.
"Maaf, Dek Vino. Nona Elena kebetulan sedang tidak di rumah. Dia pergi ke tempat tantenya yang ada di desa," ungkap Bi Arni.
"Benarkah? Pantesan teleponnya nggak aktif." Vino tersenyum sambil memegangi tengkuk. Dia meneruskan, "Elena pergi sama kedua orang tuanya ya Bi?"
"Enggak. Elena sendiri. Dia disuruh tinggal di panti asuhan bersama tantenya. Kedua orang tua Elena melakukan itu agar Elena bisa belajar tentang kehidupan katanya," tutur Bi Arni.
"Belajar kehidupan?" Jackpot! Vino setidaknya berhasil mendapatkan setengah informasi. Meskipun begitu, dia hampir tertawa karena merasa lucu dengan tujuan dikirimnya Elena ke panti asuhan.
"Iya. Menurutku itu ide yang sangat bagus. Non Elena memang perlu suasana pedesaan untuk menyegarkan pikiran. Apalagi desa Asri Seroja dekat pegunungan. Jadi udaranya cukup bagus." Tanpa sadar Bi Arni membeberkan nama desa tempat Elena berada. Hati Vino tersenyum senang. Dia hanya perlu pamit.
"Ya sudah, Bi. Aku pulang saja. Mungkin aku akan kembali kalau Elena sudah pulang," ucap Vino.
"Nanti kalau Non Elenanya datang aku akan beritahu tentang kedatanganmu," ujar Bi Arni.
"Nggak usah, Bi. Aku bisa menghubungi Elena langsung lewat ponsel." Vino menolak baik-baik. Ia segera beranjak.
__ADS_1
Vino mencari posisi desa Asri Seroja. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung pergi tanpa persiapan terlebih dahulu. Itu Vino lakukan karena tidak sabar ingin bertemu Elena.
...***...
Di panti asuhan, Elena melakukan kegiatan monoton dan melelahkan. Seperti bersih-bersih, menjaga anak kecil yang bermain, dan membantu tantenya memasak.
Winda juga sama sekali tidak ragu untuk menyuruh Elena. Mengingat itulah yang disuruh Rika dan Alan kepadanya. Kedua orang tua Elena itu ingin putri mereka melakukan hal berguna di panti asuhan.
Meskipun begitu, Elena sama sekali tidak jijik atau apa. Saat kecil dia juga sudah sering dengan suasana desa yang fasilitasnya tidak memadai. Seperti mandi menggunakan gayung misalnya.
Dari sudut pandang Elena sendiri, dia justru merasa lelah. Suasana pedesaan memang segar, namun karena tidak memiliki teman dirinya jadi sangat bosan.
Memang ada sekitar lima anak yang mempunyai usia sepantaran Elena. Dari kelima remaja tersebut hanya satu yang cukup dekat dengan Elena. Itupun karena Elena satu kamar dengannya. Nama dia adalah Nia. Gadis yang selalu mengepang dua rambut, serta mengenakan kacamata tebal.
Nia adalah gadis pendiam. Itulah alasan kenapa Elena tidak bisa terlalu dekat dengannya. Nia seringkali sibuk membaca buku.
Sementara ke-empat remaja lain yang seumuran Elena adalah lelaki. Mereka seakan enggan mengajak Elena bicara. Entah karena malu atau merasa tidak percaya diri karena Elena terlalu cantik, kaya, dan dikenal sebagai anak dari pemilik panti asuhan.
Elena mendengus kasar. Waktu sekarang menunjukkan jam dua siang. Sebagian besar penghuni panti asuhan sedang tidur. Elena malah berjalan ke depan panti asuhan. Ia mendatangi sebuah warung untuk membeli sesuatu.
Lidah Elena berdecak kesal. Karena uang sakunya dibatasi, jadi dia tidak bisa belanja sesuka hati. Selain itu, ponsel Elena juga disita oleh Rika.
"Bi, buatkan aku teh es pakai plastik," pesan Elena pada pemilik warung.
Pupil mata Elena membesar. Dia mengucek matanya berulang kali. Lalu menoleh kembali ke arah mobil. Jelas dirinya tidak berhalusinasi. Elena semakin dirundung perasaan gelisah ketika mobil Vino berhenti di depan panti asuhan.
"Dasar sinting!" umpat Elena. Dia berlari laju untuk menghampiri Vino.
"Eh, Dek! Minumannya gimana?!" seru pemilik warung yang telah selesai membuat teh es Elena.
"Nggak jadi, Bi!" sahut Elena. Hal terpenting sekarang adalah mencegah Vino.
Saat nyaris menghampiri, Vino sudah keluar dari mobil. Elena bersiap mengumpulkan kara-kata omelan untuk cowok tersebut. Namun sebelum itu, dia perlu membawa Vino ke tempat jauh terlebih dahulu.
"Gue punya alasan datang ke sini!" ungkap Vino.
Elena meraih lengan Vino. Menyeret cowok itu ke tempat dimana penghuni panti asuhan tidak bisa menemukan.
"Kita mau kemana?" tanya Vino. Dia senang Elena menggenggam tangannya. Jujur saja, Vino ingin lebih dari itu.
Elena tidak menanggapi. Dia membawa Vino menyusuri jalanan setapak dimana di sisi kiri dan kanan terdapat rumput lebat nan tinggi.
__ADS_1
Saat hendak melalui jalan berlumpur, Elena melepas tangan Vino. Ia menyuruh cowok itu berjalan melewatinya sendiri.
"Kita mau kemana? Kalau cari tempat aman, ini sudah aman kok!" seru Vino yang sepertinya enggan melewati jalan berlumpur.
"Mau ngomong sama gue atau nggak?!" tanggap Elena. Dia sudah berhasil melewati jalan becek. Berjalan lebih dulu tanpa menoleh.
Vino lantas tak punya pilihan lain selain melewati jalan berlumpur. Walau merasa jijik, untung saja dia bisa melaluinya dengan baik.
Elena berhenti di depan hutan. Dia memilih tempat itu untuk bicara dengan Vino. Dirinya mengambil sebuah ranting kayu runcing berukuran besar.
"Lo mau apa? Kalau mau nyosor, gue pukul nih!" ancam Elena sembari mengacungkan ranting kayu runcing ke arah Vino.
Vino mengangkat dua tangan ke udara. Pertanda dia tidak akan melawan. "Gue cuman mau minta maaf. Gue nggak seharusnya memperlakukan lo begitu," ucapnya.
"Bisa ke intinya aja nggak? Gue nggak mau buang waktu," sahut Elena. Dia menurunkan ranting kayu runcingnya. Lalu memutar bola mata jengah.
"Gue ternyata nggak bisa pisah dari lo. Itu menyiksa banget," ungkap Vino.
"Terus?" Elena ingin Vino bicara lebih jelas.
"Gue pengen hubungan kita kembali menyenangkan."
"Maksud lo mesra-mesraan tanpa hubungan yang jelas?"
"Iya, bisa dibilang begitu. Tapi--"
"Parah ya lo! Jangan harap gue mau!" Elena tercengang. Ia memotong perkataan Vino dan bergegas meninggalkan cowok itu.
Vino gelagapan. Jujur saja, mengungkapkan perasaan tidaklah mudah. Apalagi untuk cowok seperti Vino yang gemar bermain-main.
Namun langkah Elena yang semakin jauh membuat Vino merasa terdesak. Alhasil kalimat yang seharusnya diucapkan sejak lama keluar dari mulutnya.
"Gue cinta sama lo! Itu kan yang pengen lo dengar?!" Vino bicara dengan nada lantang. Ucapannya itu sukses membuat langkah Elena terhenti. Meskipun begitu, dia belum sudi menoleh.
"Setelah lo pergi dari rumah gue tempo hari, gue merasa tersiksa! Gue nggak kuat nahan. Bahkan obat-obatan dari Andi juga nggak mempan untuk bikin gue lupa sama lo!" jelas Vino.
Elena mendengarkan. Dia memutar tubuhnya ke belakang dan menatap Vino.
"Apa? Lo bilang apa?" Elena berjalan mendekat dengan raut wajah serius.
Vino memejamkan mata. Dia membuang semua rasa gengsinya dan kembali mengatakan, "Gue cinta sama lo!"
__ADS_1
"Apa? Bisa diulang? Gue nggak dengar tadi." Elena merasa tak percaya bisa mendengar kalimat itu dari mulut Vino.
"Gue... Cinta... Sama lo!" Vino berucap lebih pelan dan hati-hati untuk pernyataan kali ketiga. Nafasnya tersengal-sengal. Menatap penuh harap.