Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 33 - Melakukan Hal Seperti Papah


__ADS_3

...༻✫༺...


Bibir Elena dan Vino tak berhenti saling berpagutan. Kedua tangan Elena mengalung ke atas pundak Vino. Cowok itu sigap mengangkat Elena. Hingga kaki gadis tersebut mengunci erat ke pinggulnya. Sesekali mereka memiringkan kepala agar bisa berciuman dengan leluasa.


Nafas mulai memburu. Memberikan hawa panas saat berhembus. Terlebih suara kecup-mengecup tak berhenti menghantui ruang billiard yang hening.


Vino mendudukkan Elena ke atas meja billiard. Dia semakin bergairah. Memberikan ciuman liar yang membuat Elena nyaris kewalahan. Cewek itu berusaha mengimbangi.


Tangan Vino mulai menjelajah tubuh Elena. Berhenti di resleting yang terletak di punggung cewek itu. Perlahan ia tarik resleting tersebut ke bawah. Sampai gaun Elena melonggar.


Vino menurunkan gaun Elena ke bawah. Mulutnya segera bergumul ke ceruk leher cewek itu.


Elena mendongak. Ia reflek memejamkan mata dan mengangakan mulut. Desiran di sekujur badannya dapat dia rasakan lagi.


"Ah..." suara lirih Elena terdengar. Pertanda dia begitu menikmati sentuhan Vino.


Sementara itu, Vino memperdengarkan suara terengah-engah yang jelas. Desisan nafasnya membuat Elena mulai berkeringat.


Mulut Vino tak berhenti mengecup setiap jengkal leher serta dada Elena. Dia sesekali menenggak salivanya sendiri.


"Mmph..." Vino juga memperdengarkan gumaman nikmatnya. Terutama saat wajahnya dibenamkan ke belahan dada Elena. Buah dada gadis tersebut masih berbalut bra.


Elena mengerutkan dahi. Perlahan dia mendorong Vino. Sepertinya Elena mencoba melawan keinginan hati yang terasa salah.


Vino lantas terdorong. Sekarang dia berada di posisi yang jauh dari Elena. Menatap cewek itu dengan mata sayu.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Elena dan Vino. Keduanya saling bertukar pandang dalam kesunyian. Hanya ada deru nafas yang terdengar.


Vino masih tidak terima kemesraannya berakhir. Dia mengusap kasar wajahnya terlebih dahulu. Lalu kembali mendekati Elena. Memegang kuat kepala cewek itu hingga sedikit mendongak. Dilanjutkan dengan melumaat intens bibir Elena.


Elena yang tadinya ingin berhenti, otomatis berubah pikiran. Ia memang selalu kesulitan menolak sentuhan Vino.


Setelah hampir satu menit berciuman, Vino melepas tautan ciumannya dari Elena. Mulut mereka terlihat dalam keadaan menganga. Keduanya sama-sama memancarkan tatapan lekat.


"Mau ke kamar gue?..." tanya Vino lirih.


Elena menenggak ludahnya terlebih dahulu. Dia juga membasuh bibirnya dengan lidah. Seakan hal tersebut memberinya waktu untuk berpikir. Elena tentu mengerti maksud dari ajakan Vino. Cowok itu pasti ingin meneruskan kegiatan intim ke kamar.


Elena menganggukkan kepala. Tanpa pikir panjang, Vino menarik tangannya. Dia membawa cewek itu keluar dari ruang billiard.

__ADS_1


"Tunggu, Vin." Elena menahan Vino. Dia melepas genggaman cowok itu. Dirinya memperbaiki gaun dahulu sebelum keluar ruangan.


Elena tampa tergesak-gesak ingin memperbaiki pakaian. Tetapi tangannya kesulitan menarik resleting ke atas.


Vino menggelengkan kepala. Dia segera membantu Elena. Menarikkan resleting cewek tersebut ke atas. Gaun Elena terpakai rapi kembali.


"Ayo!" Vino tidak lupa dengan niatnya untuk mengajak Elena ke kamar. Mereka melangkah cepat ke sana seakan sedang dikejar waktu. Nafas keduanya bahkan masih bergerak cepat. Tersengal-sengal dalam perjalanan menuju lokasi utama.


Karena kamarnya ada di lantai dua, Vino mengajak Elena menaiki lift. Mengingat di ruangan dekat tangga adalah tempat acara utama dilaksanakan.


"Parah, sejak kapan lo punya lift?" tanya Elena. Dia baru tahu Vino memiliki lift di rumah mewahnya.


"Udah lama kali. Lo aja yang baru tahu. Kemarin juga lo cuman sebentar main ke sini," sahut Vino.


Lift berjalan. Elena dan Vino keluar saat telah tiba di lantai tujuan. Keduanya berjalan menuju kamar. Vino membiarkan Elena masuk lebih dulu.


"Lo tunggu di sini. Gue mau ambil sesuatu," ujar Vino.


"Lo mau--" perkataan Elena terhenti ketika Vino terlanjur menutup pintu. Dia lantas tak punya pilihan selain menunggu.


Vino pergi ke kamar Arya. Tanpa permisi, dia langsung membuka pintu. Vino berhasil memergoki ayahnya berciuman dengan seorang wanita. Karena kedatangan Vino, mereka sontak saling melepaskan.


"Kenapa, Pah? Lanjutin aja. Aku sudah biasa," ucap Vino sembari melangkah maju menghampiri nakas. Di sana dia membuka salah satu laci.


"Apa yang kau lakukan?!" timpal Arya dengan mata menyalang.


"Aku akan melakukan hal yang seperti Papah dan Mamah sering lakukan," jawab Vino. Dia mengambil beberapa bungkus kond-om yang tersimpan di laci. Selanjutnya, Vino berjalan tenang keluar kamar. Ia juga tak lupa menutup pintu.


"Vino!" Arya hendak mengejar. Namun wanita yang bersamanya menghentikan.


"Kau ingin lanjut atau tidak?" tanya wanita itu. Dia tersenyum seraya melepas gaunnya dari badan.


"Sialan! Aku akan mengurusnya nanti," kata Arya. Dia lebih memilih meladeni selingkuhannya dibanding putra semata wayang.


"Ya, lagi pula Vino anak yang patuh. Dia akan selalu mendengarkan perkataanmu," imbuh wanita bernama Rima itu. Dia lanjut bermesraan dengan Arya.


Di luar, Vino berhenti melangkah. Kemudian menoleh ke kamar sang ayah berada. Dia menatap nanar kamar tersebut.


'Dia tak peduli?' batin Vino. Ini sudah kesekian kalinya dia menguji kepedulian Arya. Tetapi ayahnya itu selalu saja mementingkan hal lain dibanding Vino.

__ADS_1


Kedua tangan Vino terkepal erat. Dia justru heran kepada dirinya yang terus memberi kesempatan untuk peduli pada Arya dan Lina. Semua yang Vino lakukan untuk mendapat perhatian selalu berakhir sia-sia. Bahkan saat Vino memenangkan pertandingan taekwondo bulan lalu, tak ada satu pun dari mereka yang datang untuk menemani. Kedua orang tuanya selalu memberi hadiah berupa materi. Ya, Vino memiliki segalanya. Kalau dia menginginkan sebuah pulau, maka Arya dan Lina akan membelikannya. Sayangnya, dia minim mendapat kasih sayang.


Di waktu yang sama, Elena menunggu Vino dengan perasaan gelisah. Dia juga dihantui perasaan bersalah. Sebab dirinya tahu apa yang akan dilakukannya dengan Vino salah. Elena memainkan jari-jemari sambil menggigit bibir bawah.


Pintu tiba-tiba terbuka. Vino datang. Ia langsung membuka kancing kemejanya satu per satu.


"Vin, gue rasa ini salah. Gue..."


"Jadi lo nggak mau?" Vino memastikan.


Elena mendengus kasar. Dia bingung harus menjawab apa. Elena sebenarnya bersedia bercinta dengan Vino, namun di sisi lain dirinya juga memikirkan konsekuensi.


"Ya udah. Gue nggak maksa. Gue akan cari cewek lain kalau begitu," kata Vino. Dia kembali menyematkan kancing kemejanya.


"Cewek lain?" Elena tercengang. "Gue nggak melakukannya bukan cuman buat kebaikan diri sendiri. Tapi lo juga! Dan lo malah berpikir mau melakukannya sama cewek lain?"


"Apa? Kebaikan lo bilang?" Vino berseringai sambil memutar bola mata jengah. "Gue sudah muak percaya sama kebaikan, El! Muak!" pungkasnya.


Vino menghampiri Elena. Mengaitkan rambut gadis itu ke daun telinga. "Lo lihat sendiri kan bagaimana kehidupan gue? Nggak ada sedikit pun kebaikan!" ucapnya.


"Vin..." Elena merasa kasihan. Cowok yang selalu terlihat sok hebat, kali ini terasa rapuh dimatanya.


"Biar gue tanya untuk yang terakhir. Lo mau nggak berhubungan intim sama gue sekarang?" tanya Vino. Ia menempelkan dahinya ke jidat Elena. Memandang lamat-lamat wajah cantik cewek itu.


Elena terdiam. Dia tidak menolak atau mengiyakan. Elena hanya membalas tatapan lekat Vino.


"Gue tahu lo mau." Vino menyimpulkan sendiri. Ia menyingkap bagian bawah gaun Elena. Memasukkan tangan ke dalam alat vital cewek tersebut. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Elena reflek terpejam serta berpegang erat ke bahunya.


Saat itulah Vino mendorong Elena sampai telentang ke ranjang. Lalu melepas celana dallam cewek tersebut. Tanpa diduga, Vino memasukkan kepalanya ke dalam bawahan gaun Elena.


"Lo mau ap--" Ucapan Elena terhenti tatkala sudah bisa merasakan bibir dan lidah Vino di bawah sana. "Akh..." lenguhnya yang tak dapat menahan diri.


Vino yang sudah paham Elena sangat mudah terpancing gairah, tahu harus berbuat apa untuk membuat gadis itu berubah pikiran.


..._____...


Catatan Author :


Ini ceritanya bakalan semakin dark ya guys. Siap-siap 😅

__ADS_1


__ADS_2